Showing posts with label berbagi ceria. Show all posts
Showing posts with label berbagi ceria. Show all posts

Feb 27, 2011

Bazaar Ramadhan 2011


Alhamdulillah...dengan respon yang didapat dalam bazaar sebelumnya yang luar biasa, tahun 2011 ini kami berupaya untuk menyelenggarakan kembali Bazaar Amal Ramadhan.

KONDISI TERKINI

Tahun 2011 ini adalah tahun ke tiga Bazaar Amal Ramadhan diselenggarakan. Di seluruh lokasi hasil yang diperoleh cukup memuaskan. Namun, jika di tahun sebelumnya, bazaar di selenggarakan di empat tempat yaitu Cilebut, Bojonggede, Parung, dan Pulau Untung Jawa, dengan berbagai pertimbangan, kami akan menghapus dua lokasi yaitu Bojonggede, dan Pulau Untung Jawa. Kedua lokasi tersebut akan di gantikan dengan satu lokasi di daerah di wilayah Kabupaten Jember. Tepatnya di Dusun Krangkongan, D esa Tegalwangi, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Sehingga akan terdapat tiga lokasi bazaar, antara lain:
- Cilebut, Bogor
- Parung, Bogor
- Tegalwangi, Jember
(Tetapi tidak menutup kemungkinan di buka di lokasi lain tergantung ketersediaan barang dan dana opersional).

TUJUAN BAZAAR AMAL 2011

- Menyambut dan mengisi Ramadhan dengan berbagi
- Peduli pada pendidikan

SASARAN KEGIATAN

1. Di Cilebut dan Parung, kami masih memprioritaskan dana yang diperoleh disumbangkan pada anak yatim dan keluarga miskin lain.
2. Sedangkan di Jember kami akan menyumbangkan untuk kegiatan pendidikan anak usia dini (PAUD)

Pemilihan lokasi di Desa Tegalwangi, Jember adalah dengan mempertimbangan faktor kemanfaatan yang lebih berfek jangka panjang. Di Dusun Krangkongan, Tegalwangi ini terdapat sebuah lembaga PAUD yang secara swadaya di dirikan oleh sekelompok orang yang peduli pendidikan. PAUD ini masih menumpang di sebuah rumah yang memiliki pendopo dengan fasilitas seadanya. Kami berharap, uang hasil bazaar setidaknya dapat digunakan untuk membeli beberapa perlengkapan atau fasilitas belajar mengajar, bahkan dukungan gaji untuk para guru yang masih minim.

Selain itu, di lokasi ini (Jember), kontak person kami telah bersedia membantu menyelenggarakan bazaar amal Ramadhan.

JENIS BARANG BAZAAR:

Berdasarkan pengalaman bazaar sebelumnya, kami menerima dan mengelola sumbangan pakaian dan barang bekas layak pakai antara lain:
- Pakaian dewasa (celana, baju muslim, baju koko, dll)
- Pakaian anak dan bayi,
- Selimut,
- Sarung,
- Mukena,
- Kerudung/jilbab
- Kain batik (jawa: jarit),
- Kebaya/ abaya
- Sprei (atau bed cover),
- Tas
- Sepatu
- Sandal
- Boneka,
- mainan anak-anak edukatif, dll

Catatan:
Selain barang tersebut di atas, kami juga menerima dan menyalurkan bantuan uang tunai dan SEMBAKO di lokasi bazaar.

URUTAN KEGIATAN
1. Periode penerimaan sumbangan: Sekarang – Ramadhan minggu ke-2
2. Sortir pakaian, termasuk didalamnya pengelompokkan berdasarkan jenis pakaian, kualitas, dan pelabelan harga.
3. Pembagian barang menjadi tiga (sesuai jumlah lokasi)
4. Packing dan pengiriman (ke Jember)
5. Penjualan – pengumpulan dana (hari H bazaar)
6. Penyerahan sumbangan (melalui amil zakat atau RT setempat)
7. Kepada penyumbang (melalui email, telpon, atau facebook) kami akan laporkan:
• Jumlah uang yang diperoleh dari penjualan per lokasi,
• Jumlah dan/atau jenis sumbangan
• Situasi dan kondisi selama bazaar

RINCIAN SUMBANGAN YANG DIPERLUKAN:
- Transportasi barang dari posko ke lokasi, dan sebaliknya
- Tenda dan perlengkapannya
- Dana untuk Ijin lokasi
- Dana untu PIC di lapangan, sorting pakaian dan SPG
- Konsumsi untuk panitia
- Cetak kupon dan flyer

KONTAK:

Jika ada yang hendak diketahui lebih lanjut, silahkan menghubungi kami :

Sudarno
Phone: 0815 8438 7292
Email: korpusfk3i@yahoo.co.id
Face book : pdrhinos@yahoo.co.id

Novi Kuspriyandari
Phone: 0251-8430767/ 08164290395
Email: novik24@yahoo.com
Facebook: novik24@yahoo.com

Terimakasih


CATATAN:
- Kami hanya menerima sumbangan yang tidak mengikat. Dalam arti, sumbangan yang kami terima diserahkan sepenuhnya untuk kelola seperti yang telah kami sampaikan di atas.
- Karena kami tak memiliki biaya operasional (transportasi), kami berharap dermawan mengirimkan barang sumbangan langsung ke alamat di bawah ini:
Perum Cilebut Bumi Pertiwi Blok AN 26 RT/RW 04/02 Cilebut Timur, Sukaraja, Kab. Bogor.
- Kecuali masih dalam jangkauan dan kemampuan kami untuk menjemput sumbangan dengan motor.

FAQ (FREQUENTLY ASKED QUESTION):

1. Q: Mengapa uang yang terkumpul tidak untuk membeli pakaian baru saja? Lebih menggembirakan jika yang kita berikan pakaian baru.
A: sudah dipikirkan. Saat itu pilihannya adalah: harga murah dengan kualitas buruk tetapi dapat banyak, atau kualitas lumayan tetapi jumlahnya sedikit? Setelah dihitung dan di konversikan dengan target yang kami beri sumbangan, ternyata tidak dapat meng-cover jumlah target.

2. Q: data penerima?
A: terus terang, pengelolaan bazaar I dan II memang masih apa adanya, karena kami hanya berpikir bagaimana bisa memberi sesuatu kepada orang lain sedangkan kami tidak memiliki banyak harta atau benda untuk dibagikan. Waktu itu, siapapun yang nampak butuh bantuan, langsung kami beri paket sembako atau uang.

3. Q: Coba kasih tahu kami sejak jauh hari...! Insyaallah lebih banyak lagi yang membantu.
A: benar, itulah yang hendak kami lakukan. Di bazaar sebelumnya, kami bahkan tidak menyangka akan direspon secepat itu sehingga persiapan kami apa adanya. Apalagi bazaar di gelar mendekati lebaran, sehingga banyak orang yang hendak kami mintakan bantuan telah memiliki kesibukan sendiri.

Dec 22, 2010

Berbagi Ceria

Perjalanan Tim Kecil ke Yogya, 29-21 Nopember 2010

Sudah lama memimpikan ini, membantu mereka yang tertimpa musibah dengan kemampuan yang aku punya. Meski sedikit, dan apa adanya, akan sangat membahagiakan.

Ketika seorang teman menawarkan "tumpangan" menuju Yogya, serta merta aku menyanggupi. Meski, harus berdesakan dengan barang-barang, sumbangan untuk korban bencana di posko di wilayah Sleman yang dikelola kawan.

Capek, tapi terbayar oleh kebahagiaan yang amat dalam.

Posko Warak, Sumberadi Mlati, Sleman

Menu makan siang untuk pengungsi


Di mulai dengan bermain dengan sains


Hadiah buku

Bermain Ular tangga


Bermain games


Dongeng dari teman I Love Indonesia

..dan masih banyak lagi yang lain. Semangat berbagi makin menggelora. Semoga diberikan kesempatan lain waktu.

AMIN..!

Oct 23, 2010

Catatan di balik Bazaar Ramadhan 2010



Parung
Jumat, 20 Agustus 2010

Hari pertama bazaar.

Sedikit deg-degan. Kami belum tahu respon warga sekitar RT 4 Desa Waru Jaya ini. Ramadhan tahun lalu memang sudah pernah digelar bazaar sejenis, namun dengan jumlah pakain yang terbatas, dan hanya sedikit tetangga yang mengetahuinya. Namun, kami tetap berharap yang terbaik.

Waktu sudah menunjukkan pukul 14.45 wib, itu berarti masih tersisa lima belas menit untuk membuka bazaar secara resmi. Namun, belum sempat kami mengambil napas panjang sehabis menata kursi dan meja untuk memajang pakaian, pembeli sudah banyak berdatangan. Bahkan, saat bungkus pakaian belum sempat seluruhnya dibuka, dan di tata sesuai kategori, serbuan ibu-ibu sudah tak tertahankan. Berulang kali saya harus bilang,”sebentar lagi ya, bu..!” tetapi dengan santai mereka menjawab,”iya, Cuma lihat-lihat aja, kok!” sambil tetap membolak-balikkan pakaian di depan mereka, dan menggenggam erat-erat pakain yang mereka suka. Makin lama pengunjung makin banyak. Kami jadi “terdesak” untuk segera membuka bazaar tanpa perlu basa-basi lagi.
Seseorang sempat menjadi perhatian kami. Sekantung didapatkan, pulang, bawa teman, dan belanja lagi. Sempat terlitas di pikiran bahwa dia bukan semata-mata berbelanja untuk dirinya sendiri, melainkan untuk di jual kembali. Tapi, kami tak mungkin memeriksa tujuan dia berbelanja, atau melarangnya berbelanja. Kami sudah cukup senang pakaian yang kami tawarkan diterima dengan baik. Apalagi setelah kami konfirmasikan kepada PIC, dia memang memiliki banyak anggota keluarga. Bazaar seperti ini sangat membantu mereka.

Dan, seperti ikan piranha, “hidangan” berupa pakaian di meja, segera tuntas dalam waktu dua jam. Meskipun masih ada pakaian tersisa, lebih banyak yang berjenis rok pendek, atau celana yang berukuran besar.

Setetes embun.

Saat persiapan, kami berkoordinasi dengan PIC (merupakan mertua adik) untuk meminta tolong menyediakan takjil. Namun, kami harus kecewa hal itu tak dapat dipenuhi karena alasan kesehatan. Akhirnya setelah berdiskusi, PIC menyarankan untuk meminta bantuan kepada seorang ibu sebut saja A, tetangga depan rumah mereka untuk membuatkan takjil. Kami setuju. Apalagi setelah mengetahui bahwa si ibu A ini memang dalam kondisi kekurangan, sementara menurut PIC beliau memiliki ketrampilan membuat kue dan makanan lain.

Raut wajah gembira, dan tangan yang bergetar ibu A menerima uang yang kami sodorkan. Tak henti beliau berterimakasih, sampai kami beranjak pulang. Mudah-mudahan, ini menjadi awal untuk ibu A mendapatkan rizki dengan berwira usaha setelah kami mengenalkan takjil yang dibuat kepada para pengunjung bazaar. Pun, menjadi penyemangat kami untuk melakukan yang lebih baik lagi. Amin.

Akhir bazaar pukul 17.30 wib, kami memperoleh dana untuk disumbangkan sebesar Rp. 410.000,- seluruhnya kami sumbangkan kepada kaum dhuafa (prioritas anak yatim) melalui PIC.

Bojonggede
Minggu, 22 Agustus 2010

Hari ke-2.

Lokasi ini sangat familiar untuk kami. Maklum, di sinilah dulu orang tua kami bertempat tinggal. Sekarang tinggal adik, dan ponakan. Karena merasa dekat dari rumah dan mengenal kondisi di Kampung pulo, Bojonggede, kami sedikit merasa santai. Adik, sebagai PIC, pun sangat membantu meskipun dalam keadaan hamil besar.

Alert!

Namun, di sini kami temukan hal-hal yang sebelumnya bahkan tak terpikirkan. Banyak pembeli dengan sengaja melepaskan label harga untuk kemudian menanyakan lagi harga kepada SPG kami. Atau, bahkan ada yang berani berbohong dengan mengatakan kepada SPG 1 (konfirmasi harga) bahwa harga baju yang dia pegang menurut SPG 2 berharga Rp.3000, padahal kami tahu baju itu seharga Rp.4000. Kami juga mendapati ada yang setelah bayar, dia kembali ke meja bazaar dan memilih pakaian tetapi tidak untuk di beli melainkan dimasukkan ke dalam kantong plastik di pergi begitu saja.
Sebenarnya, wilayah Bojonggede menjadi perhatian khusus (dalam anggapan kami, mereka membutuhkan banyak bantuan pakaian layak pakai) karena banyak penduduknya berprofesi sebagai pedagang asongan, pengamen, kerja serabutan, bahkan penganggur. Namun, di luar dugaan hal itu tidaklah sepenuhnya berlaku. Perlombaan mempertunjukkan kemewahan (agar dianggap kaya) dalam setiap hajat yang mereka buat rupanya telah mendarah daging. Bahkan sebagian dari mereka banyak yang tidak mau berbelanja pakaian karena malu diketahui oleh tetangga mereka menggunakan pakaian bekas.Pembelanja pakaian rata-rata bukan dari dimana lokasi bazaar bertempat, melainkan dari RT sekitarnya. Peryataan ini kami dapatkan dari PIC yang memang telah lama tinggal di lingkungan tersebut dan mengenal baik karakter masyarakat Bojonggede, terutama setempat.

Namun demikian, kami memperoleh Rp.490.000, ditambah pembelanja yang datang belakangan (ke rumah PIC), total mencapai Rp.501.000.
Syukurlah!

Cilebut
28 Agustus 2010

Menyelenggarakan kegiatan di lingkungan RT sendiri gampang-gampang susah. Disebut gampang karena urusan birokrasi lebih mudah, meski dalam urusan ijin tetap harus ada uang administrasi yang tidak berbeda dengan RT wilayah lain. Di sebut susah, sejak sosialisasi dilakukan “permintaan ikutan” juga berdatangan. Namun satu saja yang bisa kami setujui, yaitu menggunakan tenda untuk acara buka puasa bersama seluruh warga RT 04 setelah kegiatan bazaar berakhir. Tantangan lainnya, ketika beberapa ibu berusaha membeli pakaian langsung ke rumah PIC karena takut tidak mendapatkan barang yang diinginkan, pun malas berebut dengan orang lain. Setengah memaksa mereka meminta kami memperbolehkan membeli saat pakaian masih dalam proses sortir meskipun tetap tidak kami ijinkan. Tapi itu kami anggap sebagai respon positif, bahwa program bazaar ini memang sangat mereka butuhkan.

Di hari H, karena melihat situasi yang telah cukup ramai meski acara belum dimulai, seluruh tim memutuskan untuk terlebih dulu sholat Ashar karena takut tidak akan sempat nantinya. Dan, benar adanya. Pengunjung sangat melimpah, sampai banyak orang tidak mendapatkan celah kehadapan meja bazaar. Sampai menjelang Maghrib, masih saja ada pengunjung yang berbelanja. Di akhir waktu, kami mendapatkan dana total sebesar satu juta rupiah (termasuk hasil malam hari dan keesokan paginya) setelah dikurangi untuk pembayaran SP. Dan, karena di RT 04 ini memiliki panitia zakat, kami memutuskan untuk membagi dana menjadi dua. Satu bagian (Rp.500.000) kami serahkan kepada panitia zakat, sedangkan Rp.500.000 lagi kami kelola sendiri.

Pulau Untung Jawa
29 Agustus 2010

Ada badak di Untung Jawa!

Di Pulau Untung Jawa, yang merupakan tujuan terakhir dari bazaar, kami membawa hampir seluruh persediaan pakaian (kecuali yang cacat - untuk kami bagi gratis). Kami juga membawa tim dari Forum Badak Indonesia untuk membantu kami menyelenggarakan permainan edukatif untuk anak-anak berupa ular tangga bertema konservasi badak. Pemikiran ini kami dapatkan dari sebuah pengamatan terhadap perilaku anak-anak ketika orang tua mereka sibuk berbelanja. Ketimbang mendapatkan dampratan dari orang tua yang kesal anaknya tak bisa diam, alangkah lebih baiknya jika mereka tak meninggalkan lokasi bazaar-agar orangtua merasa aman, sekaligus mendapat kegembiraan yang mendidik.

Jam pelaksanaan kegiatan yang sedianya hendak dilakukan pukul 14.00 terancam molor, karena pejabat RT ngotot meminta kami menemui pejabat Kelurahan dan pihak keamanan setempat terlebih dahulu. Namun dengan jaminan PIC dan tokoh masyarakat yang kami kenal pula, akhirnya kegiatan segera dapat dilakukan. Jika tidak, mungkin situasi akan sulit dikendalikan karena para ibu calon pembeli mengeluh akan sulit membagi waktu untuk belanja pakaina dan mempersiapkan makanan untuk berbuka.

Seafood...aha!

Cuaca panas dan kering sangat menantang daya tahan kami. Air wudhu yang kami harapkan jadi penyejuk, juga tak bersahabat. Asinn...! Wajah dan bibir yang telah kering, menjadi semakin perih. Senyum, jadi sebuah usaha yang menyakitkan dalam arti sebenarnya. Tapi, ini belum seberapa. Ketika tubuh sudah dalam kondisi lampu kuning, di sekitar pukul 15.00, kami tetap harus mengajak anak-anak untuk tertawa bergembira bermain ular tangga. Apa daya? Kami yang mulai, kami juga yang harus menjawab tantangan ini. Sungguh tak kuasa menolak antusiasme anak-anak untuk mengikuti permainan itu. Yang sedikit menghibur, kegembiraan ini akhirnya menular kepada orang tua mereka. Antrian pemain jadi makin panjang, padahal hanya bisa menampung empat higga enam orang dalam sekali putaran. Belum lagi sebagian dari anak-anak itu belum bisa membaca sehingga tim FBI harus sangat bersabar.

Sudah pukul 17.45 wib. Sedikit lega. Bergegas kami berkemas, dan menuju warung yang telah menyediakan makanan untuk kami. Es kelapa, air kemasan, teh hangat, buah pisang, udang asam manis, cumi goreng tepung, dan kakap bakar telah rapi berderet. Asap yang mengepul memenuhi rongga dada, menggelitik lambung. Asam lambungku langsung megucur deras. Perih...!

Kumandang azan Maghrib terasa terlalu lama untuk di tunggu. Kami curiga, di pantai
siang jadi lebih lama dibandingkan di Bogor. Kerongkongan sudah kerontang. Ludah saja hampir tak bisa di telan. Berkali-kali kami melirik jam di tangan. Belum juga azan berkumandang.

Entah siapa yang mulai, sepakat saja kami berbuka tanpa menunggu azan maghrib. Jam di tangan sudah lebih lima menit ketimbang waktu berbuka di bogor. Satu, dua, tiga, empat, lima, dan enam gelas air dan es kelapa masuk sekaligus di perut! Rehidrasi, yang bikin susah respirasi. Haha!
Tak sabar menunggu menyebarnya air ke seluruh tubuh, hanya lima menit berselang, tahap selanjutnya adalah: makan!

Sore itu, nasi bukan lah pilihan utama. Kami sibuk menyiangi daging ikan dari duri, menuang udang dengan bumbu, dan cumi untuk di colek dengan sambal kecap. Sesekai mengambil tumis kangkung untuk mencegah sumbatan kolesterol. Kesimpulan: KALAP!
Pengalaman yang luar biasa! Meski sudah sering berkunjung ke Untung Jawa, baru sekali ini menantang panas udara, dan keringnya kerongkongan selama berpuasa. Apakah berani melakukan lagi? Kita lihat aja nanti. Kalau boleh, malam aja kali ya?
Hiburan kami juga bertambah.Total dana yang didapatkan adalah Rp.618.000. Dana yang didapatkan ini kami serahkan kepada dua RT di sekitar lokasi bazaar sebanyak Rp.500.000. Sedangkan sisanya, kami serahkan kepada PIC untuk di kelola (dibagikan kepada masyarakat sekitar rumahnya yang membutuhkan).

Pekerjaan belum selesai. Sampai di Tanjung pasir, kami menunaikan amanat dari kawan yang menitipkan sumbangan uang tunai untuk disumbangkan kepada kaum dhuafa. Karena hari telah lewat waktu isya’, banyak orang bergerombol di jalan membuat kami harus ekstra hati-hati. Kami tak boleh terlihat menyolok, apalagi diketahui akan memberikan sumbangan. Kami takut terjadi kekacauan. Margin eror sangat mungkin jadi besar karena kami memilih “hanya” dengan melihat kondisi rumah tinggal sasaran. Meski kami mengenal baik di wilayah sasaran, nyatanya, banyak rumah yang dulu kami kenal penghuninya, telah berpindah tangan. Mudah-mudahan sumbangan tadi tidak sia-sia, dan terjadi hanya karena Allah yang menuntun kami. Amin.

Terimakasih atas bantuan kawan semua. Sampai jumpa di bazaar tahun depan!

Lampiran
Daftar penyumbang pakaian layak pakai:
1. Bakrie Telecom, Jakarta
2. Nurlaila – Cibitung, Bekasi
3. Depnina Kencana, Bogor
4. Irma Dana dan kawan-kawan, Bogor
5. Hariati Ruchmono, Jakarta
6. Lukman Hardian- SMP Madina Islamic School, Jakarta
7. Sherlina Tambunan, Bekasi
8. GC (Green Community) - UI, Depok, Jawa barat
9. Rani, Jakarta/Malang
10. Siswa-siswi YMIK 1 Manggarai, Jakarta
11. Desi Hartanto, Bogor
12. Luluk, Jakarta
13. Novi Kuspriyandari dan Sudarno, Cilebut- Bogor.
14. Dian, dan Reni, Bojonggede – Bogor.
(mohon konfirmasi bagi yang belum tercantum di daftar).
Daftar penyumbang dana tunai:
1. Tutik Setyowati, Bekasi
2. Tini Martiyana, Slipi - Jakarta Barat.

May 15, 2010

sebuah harapan yang kembali terukir..

RANCANGAN BAZAAR RAMADHAN 2010

Sejarah Bazaar

Waktu itu, Ramadhan sudah setengah jalan. Dengan rizki yang – alhamdulillah – cukup untuk berdua, kami ingin berbagi lebih dari yang kami telah lakukan. Mumpung bulan baik sedang bersama kita semua. Tapi, rizki belum bertambah. Kami terus memutar otak untuk mencari jalan berbagi.

Lalu, inspirasi itu datang dari sebuat status teman di facebook. Status itu menyatakan bahwa beliau hendak membuat garage sale dengan menjual benda-benda yang hanya menumpuk di lemari tanpa pernah, atau satu-dua kali terpakai. Status itu ternyata ditanggapi oleh beberapa teman yang menyatakan hal yang sama. Lalu, kami berpikiran jika barang-barang itu dikumpulkan, tentu hasilnya tidak sedikit. Sangat mungkin banyak teman atau orang lain yang mengalami hal yang sama. Bagi yang sudah tidak ingin memanfaatkan, barang-barang tersebut hanya jadi sampah. Sedangkan di lain pihak,di sekeliling kita, masih banyak sekali orang yang membutuhkan bantuan meski itu hanya sehelai selimut, atau segenggam beras. Kami terus mencoba menguatkan rasa optimis bahwa ide tersebut akan menjadi jalan yang baik untuk berbagi.
Tanpa pikir panjang lagi, kami meminta sisa pakaian atau barang yang tidak terjual di garage sale nya itu untuk disumbangkan kepada tetangga, atau siapapun yang membutukan. Meskipun saat itu kami lupa, teman kami ini adalah seorang pekerja kantoran, sedangkan tetangga yang hendak kami sumbang adalah janda tua, keluarga miskin dengan profesi sebagai pengemis, kerja serabutan, atau pengumpul sampah. Sangat mungkin tidak “matching” antara benda yang ada dan yang disumbangkan. Tapi, siapa yang menyangka? Dengan ridlo Allah, ternyata kami mendapatkan empat kardus besar berisi bermacam barang layak pakai. Mulai dari pakaian dewasa, anak, selimut, sarung, sprei, mukena, bahkan pakaian bayi yang masih sangat layak. Subhanallah...!
Malam itu, selesai sholat tarawih, kami sibuk menyortir pakaian untuk di sesuaikan dengan golongan yang hendak kami sumbang. Satu masalah timbul. Jumlah pakaian kerja jumlahnya berlebih, sedang kami tahu tak banyak orang di kampung yang bekerja kantoran. Sekedar informasi, kami tinggal di perumahan sederhana di Cilebut Timur dan berdempetan dengan kampung yang cukup padat. Akhirnya, kami memutuskan untuk menjual sebagian pakaian kerja itu pada warga perumahan yang pekerja kantoran, atau setidaknya pakaian itu masih memenuhi selera para ibu muda.

Lelang pakaian

Sehari sebelum dilakukan bazaar, kami mengadakan buka puasa bersama teman mahasiswa yang pernah bekerjasama dengan kami dalam hal pendidikan anak. Karena beberapa teman menginap, selesai sholat tarawih, kami membuka lelang beberapa pakaian yang kami anggap masih sangat layak untuk mereka pakai. Kami sengaja melakukan lelang (“menodong”) mereka dengan harga cukup tinggi untuk sebuah jaket atau celana jins bekas, karena kami yakin mereka bukan menghargai pakaian itu saja, tetapi pada niat di balik lelang tersebut.

Bazaar sesi I

Masih dengan bantuan teman yang menginap, sekitar pukul tujuh pagi bazaar digelar. Banyak yang mengira kami menggelar bazaar sembako karena salah informasi. Padahal selebaran sudah di bagi-bagikan sehari sebelumnya, dan titip pesan pada beberapa RT setempat. Banyak yang hendak berbalik arah, apalagi mengetahui barang yang kami gelar semuanya barang bekas. Tetapi, ketika menyaksikan bahwa pakaian yang kami jual masih bagus dan harganya sangat murah (Rp 500 – 5000), mereka kemudian menyerbu dengan antusias. Bahkan banyak yang kembali lagi dengan membawa tetangga atau teman. Dalam waktu satu jam, separuh dagangan telah habis terjual! Uang yang terkumpul sebanyak Rp500.000, kami belikan beberapa paket sembako dan dibagikan kepada tetangga yang kami prioritaskan untuk menerima bantuan. Di antara mereka yang kami bagi sembako, ada janda tua, keluarga pengemis buta, pemulung, penjaga lintasan kereta, penjaga kebun, pencari rumput, pengumpul sampah, dan lain-lain.

Bazaar sesi II

Ketika hasil bazaar I kami laporkan, teman kami/penyumbang merespon dengan memberikan lagi empat dus besar pakaian dan banyak lainnya. Plus, uang sejumlah satu juta rupiah untuk dibelikan takjil buka puasa pada pengunjung bazaar. Hasil bazaar sebanyak Rp.550.000. Kali ini, uang hasil penjualan kami berikan pada yang berhak tetap dalam rupiah agar bisa membeli keperluan selain sembako. Kali ini, kami bagikan pada janda tua, pemulung, anak yatim, dan beberapa pembantu rumah tangga di sekitar rumah tinggal kami.

Bazaar estafet

Pakaian yang masih ada kami bawa ke Kampung Pulo Bojonggede, Parung, dan Bukit Duri-Tebet. Dengan bantuan keluarga, untuk di Bojonggede dan Parung, kami melakukan pola yang sama dengan di Cilebut. Kami membuka bazaar di sore hari menjelang berbuka, dan mendapati respon yang baik. Uang yang diperoleh, kami bagikan kepada beberapa janda tua, dan anak yatim. Sedang untuk di Bukit Duri-Tebet, kami membagikan pakaian kepada para perantau (penarik bajaj, dll) yang hendak pulang kampung.

Tujuan:
- Menyambut dan mengisi ramadhan dengan berbagi
Berdasarkan pengalaman bazaar sebelumnya, kami menerima dan mengelola sumbangan pakaian dan barang bekas layak pakai antara lain:
- Pakaian dewasa (celana, baju muslim, baju koko, dll)
- Pakaian anak dan bayi,
- Selimut,
- Sarung,
- Mukena,
- Kerudung/jilbab
- Kain batik (jawa: jarit),
- Kebaya/ abaya
- Sprei (atau bed cover),
- dll

untuk disumbangkan dengan mekanisme pengelolaan sebagai berikut:
1. Sortir pakaian/barang menjadi 3 kategori A,B,C:
a. Kategori A: sumbang langsung, adalah pakaian yang langsung kami pilih untuk disumbangkan sesuai dengan target. Misalnya pakaian muslim untuk para janda, atau sarung dan baju koko untuk laki-laki, pakaian anak untuk anak yatim dan seterusnya.
b. Kategori B: kategori jual, adalah pakaian atau barang lain yang tidak sesuai dengan target, misalnya pakaian kerja sedang target kami adalah janda, dan seterusnya. Hasil penjualan untuk dibelikan sembako atau diberikan dalam bentuk uang.
c. Kategori C: bonus pengunjung/pembeli, adalah pakaian yang kami berikan secara Cuma-cuma sebagai bonus pembelian. Biasanya pakaian ini karena tidak layak jual ataupun disumbangkan (cacat).

2. Rencana titik lokasi bazaar: Perum Cilebut Bumi Pertiwi – Cilebut, Kampung pulo – Bojonggede, Parung, dan Citayam. Pemilihan titik lokasi tersebut berdasarkan kesanggupan sumberdaya yang rela membantu terlaksananya kegiatan tanpa di bayar.

3. Berdasarkan pengalaman sebelumnya juga, di satu titik lokasi bazaar sudah mencapai “kejenuhan” dalam waktu 2 hari. Kejenuhan ini bisa diartikan sebagai: “tak ada lagi barang yang menarik untuk dibeli”, atau “hanya sedikit kebutuhan yang dapat dipenuhi”. Hal ini tentu terkait dengan beragamnya konsumen, mulai dari anak-anak sampai orang tua, bahkan pedagang keliling yang berharap mendapatkan beragam kebutuhan di bazaar. Padahal jenis dan jumlah pakaian memang sangat terbatas, tergantung dari sumbangan saja.

Untuk mengatasi menumpuknya sisa pakaian/barang yang tak terjual atau menemukan penerima, bazaar dilakukan secara estafet.
• Di lokasi 1 (Cilebut), bazaar digelar maksimal 2 hari. Uang yang terkumpul, di sumbangkan pada masyarakat sekitar Cilebut. Baik berbentuk sembako maupun uang tunai.
• Jika tersisa, bazaar digelar di lokasi 2 (Kampung pulo- Bojonggede), uang yang diperoleh di sumbangkan di masyarakat sekitar Bojonggede. Dan seterusnya.
Penerima sumbangan kami prioritaskan kepada:
• Janda tua,
• Anak yatim
• Keluarga miskin (memiliki kepala keluarga tetapi tidak berpenghasilan atau tak memadai)
Kepada penyumbang (melalui email, telpon, atau facebook) hal-hal yang akan kami laporkan antara lain:
• Jumlah uang yang diperoleh dari penjualan,
• Jumlah penerima sumbangan
• Jumlah dan/atau macam sumbangan


Kontak:
Jika ada yang hendak diketahui lebih lanjut, silahkan menghubungi kami di:
Phone: 0341-8430767/ 08164290395
Email: novik24@yahoo.com
Facebook: Novi Kuspriyandari

Terimakasih

Catatan:
- Kami hanya menerima sumbangan yang tidak mengikat. Dalam arti, sumbangan yang kami terima diserahkan sepenuhnya untuk kelola seperti yang telah kami sampaikan di atas.
- Karena kami tak memiliki biaya operasional (transportasi), kami berharap dermawan mengirimkan barang sumbangan langsung ke alamat di bawah ini:
Perum Cilebut Bumi Pertiwi Blok AN 26 RT/RW 04/02 Cilebut Timur, Sukaraja, Kab. Bogor.
- Kecuali masih dalam jangkauan dan kemampuan kami untuk menjemput sumbangan dengan motor.

FAQ (frequently asked question):
1. Q: Mengapa uang yang terkumpul tidak untuk membeli pakaian baru saja? Lebih menggembirakan jika yang kita berikan pakaian baru.
A: sudah dipikirkan. Saat itu pilihannya adalah: harga murah dengan kualitas buruk tetapi dapat banyak, atau kualitas lumayan tetapi jumlahnya sedikit? Setelah dihitung dan di konversikan dengan target yang kami beri sumbangan, ternyata tidak dapat meng-cover jumlah target.

2. Q: data penerima?
A: terus terang, pengelolaan bazaar I dan II memang masih apa adanya, karena kami hanya berpikir bagaimana bisa memberi sesuatu kepada orang lain sedangkan kami tidak memiliki banyak harta atau benda untuk dibagikan. Waktu itu, siapapun yang nampak butuh bantuan, langsung kami beri paket sembako atau uang.

3. Q: Coba kasih tahu kami sejak jauh hari...! Insyaallah lebih banyak lagi yang membantu.
A: benar, itulah yang hendak kami lakukan. Di bazaar sebelumnya, kami bahkan tidak menyangka akan direspon secepat itu sehingga persiapan kami apa adanya. Apalagi bazaar di gelar mendekati lebaran, sehingga banyak orang yang hendak kami mintakan bantuan telah memiliki kesibukan sendiri.