Hidup ini indah. Aku percaya kehadiran teman melengkapi, dan renungan menjadi rambu-rambunya. Selamat menikmati hidup!
About Me
- Novi Kuspriyandari
- Bogor, Jawa Barat, Indonesia
- Anda Pengacara? Sama seperti saya. Tapi saya adalah penganggur yang berusaha mencari banyak acara dan cara. Cara bersenang-senang, dan berbuat baik. Gitu, deh...
Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts
Feb 18, 2013
Belanja Online Seru di Alfamart Kota Tua
Emak, kalau kehabisan bahan makanan atau keperluan rumah tangga lainnya, apa yang kepikir? Belanja.lah...! Kallau minta sama tetangga kan hampir mustahil...hehee..! Tapi, belanja kemana? Pasar? Boleh..pasar pagi, pasar malam, atau pasar kaget? Tapi, kan itu kalau ada waktu luang. Belum lagi jalan macet-macetan. Kalau musti buru-buru, gemana dong?
Seperti aku yang punya balita, dan nggak punya asisten rumah tangga, kebayang ribetnya kalau musti belanja jauh, macet pula.
Kata emak di sebelahku, "ke alfamat aja, ribet amat!"
Iya..bener,tuh, kataku dalam hati. Tapi,anakku gak bisa diam kalau diajak tempat terang gitu..belum ngantrinya.
"Yeilah...ribet banget hidup loe!Ya udah, buka aja sono www.alfaonline.com? Puas-puasin dah, belanja..! "
Pake apaan bayarnya?"tanyaku oon.
"Pake daun..! Ya pake duit lah..loe punya rekening bank mandiri, bca, atau pake XL tunai, Telkomsel T-cash juga bisa..!"
"Ya Allah..canggih banget! Tahu darimana"tanyaku lagi. Penasaran..
"Makanya gaul...punya hape... bagus jangan cuma buat pesbukan..!"
"Iye...bawel. Ribet nggak? Ajarin, yak?"
"Mau tahu banget? Coba aja..! Gampang kok..!"
"Di seluruh Alfamart bisa?"aku masih penasaran.
"Nah, ntu die masalahnye, untuk sementara loe cuma bisa dilayani di wilayah Jabodetabek"
"Lama nggak nganterinnya? Ntar ditungguin seharian nggak nongol?"
"Ehm...janjinye sih, maksimal 8 jam.."sahut die lirih.
Maaakkk...bisa kering tenggorokan anakku nungguin susunya!
Jun 3, 2011
Menatap Indahnya Indonesia
Akhir bulan Mei 2011, di tutup dengan memori indah. Bisa di katakan sedang beruntung. Beberapa waktu lalu, Bromo sedang terbatuk, memuntahkan debu vulkanik dan menjadikan penyedia jasa mobil dan kuda harus berhenti mencari nafkah. Tetapi, saat kami tiba cuaca sedang cerah dan Bromo sedang ramah. Kami bisa menatapnya dari jauh, lalu mendekat hingga ke kaki kawah. Belum didaki kembali memang. Selain masih dalam status siaga, jalur menuju bibir kawah tertutup abu sehingga tak mungkin di lalui.
Dan, inilah yang bisa aku abadikan dalam kamera. Tuhan Maha Indah, sehingga ciptaanNya pun sungguh memesona.
Pukul 06.00 pagi.
Sepasang kekasih
Bromo dari dekat
Pasukan kuda yang siap mengantar anda
Kabut pagi hari
Rasanya, ingin segera ke sana lagi. Menatap lebih banyak keindahan!
Dan, inilah yang bisa aku abadikan dalam kamera. Tuhan Maha Indah, sehingga ciptaanNya pun sungguh memesona.
Pukul 06.00 pagi.
Sepasang kekasih
Bromo dari dekat
Pasukan kuda yang siap mengantar anda
Kabut pagi hari
Rasanya, ingin segera ke sana lagi. Menatap lebih banyak keindahan!
Mar 30, 2011
Permen Buah Pidada
Bahan:
- Daging buah dari 10 buah pidada
- 1/2 kg gula pasir
- 1 bungkus agar-agar
Cara membuat:
- daging buah pidada, gula, dan agar-agar dicampur dan di masak sambil di aduk-aduk sampai mengental.
- biarkan dingin, dan cetak sesuai selera.
- bungkus dengan kertas minyak
Selamta mencoba!
- Daging buah dari 10 buah pidada
- 1/2 kg gula pasir
- 1 bungkus agar-agar
Cara membuat:
- daging buah pidada, gula, dan agar-agar dicampur dan di masak sambil di aduk-aduk sampai mengental.
- biarkan dingin, dan cetak sesuai selera.
- bungkus dengan kertas minyak
Selamta mencoba!
Tanam bakau, yuk..!
Menyelamatkan hutan bakau (mangrove) akan menjamin masa depan makanan kita terutama dalam hal ketersediaan protein dari ikan dan kawan-kawannya. So, jangan hanya memanfaatkan, yuk kita lestarikan. Yang gundul, kita tanami lagi. Okeh?
Foto ini diambil saat aksi penanaman bakau di Suaka Margasatwa Pulau Rambut, Kepulauan Seribu, bulan Juni 2010, dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup.
Sirup Buah Pidada- Sonneria caseolaris, S. alba (tanaman bakau)
Bahan:
300 g daging buah pidada
500 g gula pasir
garam secukupnya
1 liter air
Cara membuat:
Masak semua bahan sampai warnanya agak kekuningan dan airnya menyusut menjadi 1/2 liter.
Cara menyajikan:
Campur dengan air matang secukupnya. Lebih segar disajikan dingin. Rasanya yang asam manis, segar di minum siang hari. Selamat mencoba.
Sumber: Green Community Universitas Indonesia
Mar 3, 2011
36 Jam di Yogya
Pagi buta
Hari masih begitu dini. Dengan dua taxi yang kami (aku, suamiku, dan dua orang teman) pesan semalam, menyusuri jalanan dan tol menuju Bandara Soekarno Hatta. Pesawat yang membawa kami ke Yogya akan berangkat pukul 8 pagi. Sedang perjalanan Bogor hingga Bandara Soekarno Hatta akan memakan waktu sekitar dua jam. Dengan pemandangan yang membosankan, kami memilih tidur, lumayan untuk melanjutkan mimpi yang terpenggal.

Di bandara, kami bertemu dengan dua teman lain Mbak Manda dan Mbak Mora yang akan menjadi host kami selama di Yogya. Sebenarnya Yogya bukanlah tempat yang asing lagi. Sangat mungkin jika ada waktu kami akan menyempatkan waktu berplesiran tanpa sang host. Tapi karena mereka membeli jasa kami, jadwal tentu mereka yang punya dan kami harus siap kapanpun mereka memerlukan.
Tapi tak apa. Mereka takkan mengikat kami seperti bocah yang sedang dihukum. Malah, seringkali mereka yang menawarkan kami untuk memilih kemana kami ingin pergi.
Pukul 9 pagi kami sampai di Bandara Adi Sucipto. Masih ada waktu tiga jam lagi untuk bertemu sang klien. Waktu luang ini tentu tak boleh disia-siakan. Besok selepas Ashar kami sudah harus kembali ke Jakarta. Sementara pagi hingga siang hari kami harus menjadi fasilitator kegiatan pembelajaran sains di sekolah yang akan kami kunjungi jam 12 nanti.
Jet lag? No way..!
Dan pucuk dicinta, ulam pun tiba. Alih-alih menuju hotel untuk check in, host kami mengajak langsung menuju Malioboro untuk mencari oleh-oleh. Kebayang kan, betapa waktu begitu berharga? Kami baru saja tiba dari Jakarta, bahkan baru saja kami tinggalkan satu jam yang lalu. Sekarang, kami berburu oleh-oleh untuk di bawa pulang! Seperti tidak ada waktu lagi? Memang! Kami tak ingin melewatkan waktu yang cuma beberapa waktu dengan berdiam diri di hotel. Rugi banget!
Selesai belanja pernak-pernik unik di Mirota, aku dan suamiku mengalihkan perhatian ke Pasar Beringharjo. Berharap mendapatkan baju batik murah untuk oleh-oleh. Tapi, baru sampai di pintu gerbang, kami tertarik dengan jejeran penjual pecel. Sayuran hijau nan segar itu menyihir mata dan mempengaruhi otak yang mengirim sinyal lapar ke perut. Tak ingin mendengar perut yang berisik, kami segera mencari bangku yang kosong dan memesan dua porsi pecel dengan lontong dan teh manis hangat. Hmmm…yummy!
Anda pasti berpikir, pecel di mana-mana ya sama! Anda benar, tapi juga salah! Bumbu boleh sama, tapi yang membedakan pecel Beringharjo dengan yang lainnya itu adalah sayurnya. Tidak kurang dari tujuh jenis sayuran siap menggoyang lidah. Ada bunga turi, selada air, kecipir, kenikir, daun singkong, kacang panjang dan kecambah (tauge pendek). Ditambah dengan pilihan lauk yang beragam. Ada tahu dan tempe bacem, ayam goreng, dan berbagai macam gorengan lain. Hanya dengan Rp. 7500, kami hampir tak kuat lagi berjalan karena kekenyangan. Akhirnya hanya sedikit waktu yang dapat kami luangkan untuk memburu baju batik. Dan, tak satupun baju kami dapatkan karena harus tawar menawar dan ngantri lama. Sementara dua host kami telah selesai belanja dan mengajak kami untuk segera bertemu dengan kepala sekolah, sang klien kami.
Dengan perut kenyang, percaya diri kembali menjulang. Bahkan tak terpikir di benak kami bahwa dua host kami ternyata kelaparan karena terlalu asyik bebelanja. Keegoisan kami langsung tertohok ketika setelah selesai urusan dengan klien mereka mengajak kami makan di warung gudheg yang amat terkenal di seputaran wilayah Kampus UGM. Lho, kok? Bagaimana tidak, mereka saja tidak segan mengajak makan lagi meski mereka tahu kita telah kenyang.

Tapi, tetap saja keserakahan berkuasa. Meski perut kenyang, kami tetap mau makan meski dengan separo porsi. Yang ini, tak kalah enak. Pantas, warungnya begitu ramai. Apalagi, di balik jendela kami bisa menikmati alunan lagu keroncong mendayu-dayu.
Ah kantuk, janganlah kau terlalu cepat datang! Momen ini terlalu sayang untuk dilewatkan.Tapi sungguh, kantuk begitu ganas menyerang. Karenanya, kami segera menuju hotel dan beristirahat sebentar.
Prambanan
Sebentar? Yup! Karena dua jam kemudian kami sudah berada di jalan menuju Candi Prambanan. Kami hendak menjemput malam di sana. Meski sebagian rusak karena gempa beberapa waktu lalu, dengan bermandi cahaya temaram keemasan, sore di candi Prambanan sangat eksotis.


Di gerbang keluar, banyak gadis menawarkan souvenir berupa gelang-gelang cantik dari kulit dan sangat murah. Tak ada tempat lain yang menawarkan souvenir dengan harga seribu bahkan kurang, selain di Yogya.
Dan, perjalanan yang asyik menjadi sempurna ketika petualangan hari ini di tutup dengan makan malam di Warung Cak Koting. Emm…seperti bukan panggilan nama orang Yogya, ya? Tapi tak apalah, ayam bakarnya memang enak. Sambalnya membuat kami seperti naga yang siap menyemburkan api dari mulut. Pedas!
Baiklah, sekarang tiba giliran tubuh mendapatkan istirahat dan kesegaran. Besok, masih ada tugas menunggu. Dan, juga petualangan lainnya…!
Tamansari
Hari telah berganti. Pukul delapan pagi kami bertugas hingga pukul satu siang. Lagi-lagi, demi menghemat waktu, kami langsung membawa seluruh barang yang kami punya ke dalam mobil. Kami tak perlu lagi membuang waktu kembali ke hotel, karena sisa waktu yang kami punya harus kami manfaatkan dengan baik. Kemana lagi sebaiknya pergi? Pukul 4 sore nanti, pesawat yang membawa kami ke Jakarta akan lepas landas.
Yang harus dipikirkan adalah, kami tak boleh memilih lokasi wisata yang jauh hingga membuang waktu di jalan. Akhirnya, pilihan kami jatuh pada Taman Sari yang masih dalam lingkup keraton.
Semangat! Meski Yogya panas menyengat, kami coba menikmati perjalanan ini. Menyusuri lorong-lorong yang pernah dinikmati oleh raja-raja di tanah Yogya ratusan tahun lalu. Membayangkan menjadi puteri yang cantik jelita, bersanding dengan pangeran yang gagah perkasa. Menikmati kesejukan kolam indah dengan air jernih mengalir deras. Membasuh dan membasahi kaki yang penat, mendinginkan kepala yang terpapar panas mentari. Di bagian lain, para seniman telah siap menyuguhkan tarian yang indah.


Ah, pandai sekali sang pemandu kami bertutur. Indah rangkaian katanya, mengukir imajinasi. Begitu cantikkah di masa lalu?
Yogya nan mempesona. Rasa-rasanya, berkali-kali pun kita kunjungi, Yogya tetap memikat. Mengikat hati untuk berjanji bahwa lain kali kita akan bersua kembali.
Pukul 16.30 (karena pesawat di delay) kami kembali ke Jakarta, untuk selanjutnya langsung ke Bogor.
36 jam di Yogya, seperti gerilya singkat sebuah perjuangan membuka gerbang kejayaan masa lalu. Tak mungkin kita kembali ke masa lalu. Tapi, tawaran mengecap sisa-sisa keindahan itu bukanlah sia-sia, karena akan terus membekas dalam ingatan.
Hari masih begitu dini. Dengan dua taxi yang kami (aku, suamiku, dan dua orang teman) pesan semalam, menyusuri jalanan dan tol menuju Bandara Soekarno Hatta. Pesawat yang membawa kami ke Yogya akan berangkat pukul 8 pagi. Sedang perjalanan Bogor hingga Bandara Soekarno Hatta akan memakan waktu sekitar dua jam. Dengan pemandangan yang membosankan, kami memilih tidur, lumayan untuk melanjutkan mimpi yang terpenggal.

Di bandara, kami bertemu dengan dua teman lain Mbak Manda dan Mbak Mora yang akan menjadi host kami selama di Yogya. Sebenarnya Yogya bukanlah tempat yang asing lagi. Sangat mungkin jika ada waktu kami akan menyempatkan waktu berplesiran tanpa sang host. Tapi karena mereka membeli jasa kami, jadwal tentu mereka yang punya dan kami harus siap kapanpun mereka memerlukan.
Tapi tak apa. Mereka takkan mengikat kami seperti bocah yang sedang dihukum. Malah, seringkali mereka yang menawarkan kami untuk memilih kemana kami ingin pergi.
Pukul 9 pagi kami sampai di Bandara Adi Sucipto. Masih ada waktu tiga jam lagi untuk bertemu sang klien. Waktu luang ini tentu tak boleh disia-siakan. Besok selepas Ashar kami sudah harus kembali ke Jakarta. Sementara pagi hingga siang hari kami harus menjadi fasilitator kegiatan pembelajaran sains di sekolah yang akan kami kunjungi jam 12 nanti.
Jet lag? No way..!
Dan pucuk dicinta, ulam pun tiba. Alih-alih menuju hotel untuk check in, host kami mengajak langsung menuju Malioboro untuk mencari oleh-oleh. Kebayang kan, betapa waktu begitu berharga? Kami baru saja tiba dari Jakarta, bahkan baru saja kami tinggalkan satu jam yang lalu. Sekarang, kami berburu oleh-oleh untuk di bawa pulang! Seperti tidak ada waktu lagi? Memang! Kami tak ingin melewatkan waktu yang cuma beberapa waktu dengan berdiam diri di hotel. Rugi banget!
Selesai belanja pernak-pernik unik di Mirota, aku dan suamiku mengalihkan perhatian ke Pasar Beringharjo. Berharap mendapatkan baju batik murah untuk oleh-oleh. Tapi, baru sampai di pintu gerbang, kami tertarik dengan jejeran penjual pecel. Sayuran hijau nan segar itu menyihir mata dan mempengaruhi otak yang mengirim sinyal lapar ke perut. Tak ingin mendengar perut yang berisik, kami segera mencari bangku yang kosong dan memesan dua porsi pecel dengan lontong dan teh manis hangat. Hmmm…yummy!
Anda pasti berpikir, pecel di mana-mana ya sama! Anda benar, tapi juga salah! Bumbu boleh sama, tapi yang membedakan pecel Beringharjo dengan yang lainnya itu adalah sayurnya. Tidak kurang dari tujuh jenis sayuran siap menggoyang lidah. Ada bunga turi, selada air, kecipir, kenikir, daun singkong, kacang panjang dan kecambah (tauge pendek). Ditambah dengan pilihan lauk yang beragam. Ada tahu dan tempe bacem, ayam goreng, dan berbagai macam gorengan lain. Hanya dengan Rp. 7500, kami hampir tak kuat lagi berjalan karena kekenyangan. Akhirnya hanya sedikit waktu yang dapat kami luangkan untuk memburu baju batik. Dan, tak satupun baju kami dapatkan karena harus tawar menawar dan ngantri lama. Sementara dua host kami telah selesai belanja dan mengajak kami untuk segera bertemu dengan kepala sekolah, sang klien kami.
Dengan perut kenyang, percaya diri kembali menjulang. Bahkan tak terpikir di benak kami bahwa dua host kami ternyata kelaparan karena terlalu asyik bebelanja. Keegoisan kami langsung tertohok ketika setelah selesai urusan dengan klien mereka mengajak kami makan di warung gudheg yang amat terkenal di seputaran wilayah Kampus UGM. Lho, kok? Bagaimana tidak, mereka saja tidak segan mengajak makan lagi meski mereka tahu kita telah kenyang.

Tapi, tetap saja keserakahan berkuasa. Meski perut kenyang, kami tetap mau makan meski dengan separo porsi. Yang ini, tak kalah enak. Pantas, warungnya begitu ramai. Apalagi, di balik jendela kami bisa menikmati alunan lagu keroncong mendayu-dayu.
Ah kantuk, janganlah kau terlalu cepat datang! Momen ini terlalu sayang untuk dilewatkan.Tapi sungguh, kantuk begitu ganas menyerang. Karenanya, kami segera menuju hotel dan beristirahat sebentar.
Prambanan
Sebentar? Yup! Karena dua jam kemudian kami sudah berada di jalan menuju Candi Prambanan. Kami hendak menjemput malam di sana. Meski sebagian rusak karena gempa beberapa waktu lalu, dengan bermandi cahaya temaram keemasan, sore di candi Prambanan sangat eksotis.


Di gerbang keluar, banyak gadis menawarkan souvenir berupa gelang-gelang cantik dari kulit dan sangat murah. Tak ada tempat lain yang menawarkan souvenir dengan harga seribu bahkan kurang, selain di Yogya.
Dan, perjalanan yang asyik menjadi sempurna ketika petualangan hari ini di tutup dengan makan malam di Warung Cak Koting. Emm…seperti bukan panggilan nama orang Yogya, ya? Tapi tak apalah, ayam bakarnya memang enak. Sambalnya membuat kami seperti naga yang siap menyemburkan api dari mulut. Pedas!
Baiklah, sekarang tiba giliran tubuh mendapatkan istirahat dan kesegaran. Besok, masih ada tugas menunggu. Dan, juga petualangan lainnya…!
Tamansari
Hari telah berganti. Pukul delapan pagi kami bertugas hingga pukul satu siang. Lagi-lagi, demi menghemat waktu, kami langsung membawa seluruh barang yang kami punya ke dalam mobil. Kami tak perlu lagi membuang waktu kembali ke hotel, karena sisa waktu yang kami punya harus kami manfaatkan dengan baik. Kemana lagi sebaiknya pergi? Pukul 4 sore nanti, pesawat yang membawa kami ke Jakarta akan lepas landas.
Yang harus dipikirkan adalah, kami tak boleh memilih lokasi wisata yang jauh hingga membuang waktu di jalan. Akhirnya, pilihan kami jatuh pada Taman Sari yang masih dalam lingkup keraton.
Semangat! Meski Yogya panas menyengat, kami coba menikmati perjalanan ini. Menyusuri lorong-lorong yang pernah dinikmati oleh raja-raja di tanah Yogya ratusan tahun lalu. Membayangkan menjadi puteri yang cantik jelita, bersanding dengan pangeran yang gagah perkasa. Menikmati kesejukan kolam indah dengan air jernih mengalir deras. Membasuh dan membasahi kaki yang penat, mendinginkan kepala yang terpapar panas mentari. Di bagian lain, para seniman telah siap menyuguhkan tarian yang indah.


Ah, pandai sekali sang pemandu kami bertutur. Indah rangkaian katanya, mengukir imajinasi. Begitu cantikkah di masa lalu?
Yogya nan mempesona. Rasa-rasanya, berkali-kali pun kita kunjungi, Yogya tetap memikat. Mengikat hati untuk berjanji bahwa lain kali kita akan bersua kembali.
Pukul 16.30 (karena pesawat di delay) kami kembali ke Jakarta, untuk selanjutnya langsung ke Bogor.
36 jam di Yogya, seperti gerilya singkat sebuah perjuangan membuka gerbang kejayaan masa lalu. Tak mungkin kita kembali ke masa lalu. Tapi, tawaran mengecap sisa-sisa keindahan itu bukanlah sia-sia, karena akan terus membekas dalam ingatan.
Feb 3, 2009
Menjelang sore di Sungai Musi
Siang masih menyengat ketika kami tiba di tepian Sungai Musi. Hembusan angin sedikit menyusutkan keringat yang mulai menetes. Jembatan Ampera masih menyilaukan mata dengan merahnya. Memang terlihat megah.Seorang teman mengatakan akan lebih indah di malam hari. Aku cuma mengangguk tak menyangkal. Aku juga sering melihatnya di televisi ataupun majalah. Tapi aku hanya bilang padanya,”mudah-mudahan nanti malam ada waktu!”. Ya, aku hanya bisa berharap karena tidak yakin akan ada waktu lagi. Malam nanti, pasti aku dan beberapa kawan akan disibukkan dengan persiapan untuk event besok pagi.
Untuk menikmati sore ini saja, harus berbatas waktu hingga pukul 18.00, dan harus mengorbankan waktu istirahat. Sebenarnya mataku sudah tak tahan ingin terpejam. Sebelum subuh tadi sudah harus menyusuri tol Bogor menuju bandara Soekarno Hatta, karena harus mengejar pesawat yang paling pagi. Tapi, demi memenuhi “undangan” Visit Musi 2008- yang sempat aku baca di salah satu board di Bandara Soekarno Hatta, aku harus bisa menahannya.
Tiba-tiba pikiranku menggugat,”ini sudah di tepi Sungai Musi, Jembatan Ampera telah di depan mata. Terus mau apa?”
Jawabku,” berfoto-foto tentu!”

Setelah setengah jam berlalu, puluhan pun foto telah tersimpan dalam memori. Lalu?
Tak tahu apa lagi yang harus dilakukan, kami memilih berjalan menyusuri tepi sungai yang telah rapi berpagar tembok. Mengamati perahu-perahu kecil berlalu lalang memecah riak gelombang yang tercipta saat perahu besar melaju melewatinya.
Beberapa penjaja minuman menawarkan kesegaran air bersoda. Aku terpaksa menggeleng. Perutku tak lagi boleh bersentuhan dengan air itu sejak sakit maag mencengkeram lambungku.
Sore makin temaram. Tepian sungai Musi semakin semarak. Mereka yang berpasangan semakin tenggelam dalam kesyahduan. Rombongan keluargapun tak kalah seru, mereka asyik bermain dan bercengkrama.

Aku mengalihkan perhatian pada kapal yang cukup besar yang tengah bersandar. Jadi terbayang indahnya menyusuri sungai ini. Sayang, perahu besar itu hanya melayani pelayaran jarak jauh. Tentu tak mungkin kami tumpangi karena hanya memiliki waktu beberapa jam saja.
Tak boleh kekurangan cara, kami akhirnya menerima tawaran untuk menyewa perahu kecil yang sedang banting harga karena sepi penumpang. Hanya berdiri di tepian sungai tentu tak asyik. Merasakan sedikit goncangan perahu mungkin bisa sedikit menghilangkan kantuk dan jenuh.
Sedikit tawar menawar, dan jadilah. Walaupun harga tak bergeser sedikitpun, karena hati sudah kepincut, tiba-tiba saja kami melompat ke atas perahu. Si bapak hanya tersenyum lebar menyadari bahwa sore ini dia bisa memberi nafkah pada keluarga.

Perahu dijalankan pelan-pelan. Suara mesinnya bersaingan dengan teriakan-teriakan kami yang berebut angle foto. Kami harus cepat, tak mungkin meminta perahunya mundur untuk mengulangi momen yang terlewatkan karena perahu yang terus berjalan.
Setelah beberapa menit, ledakan kegembiraan sedikit berkurang. Jembatan Ampera sudah terlewati, kini ada di belakang kami. Sambil berbincang dengan si bapak, kami asyik mengabadikan setiap momen yang cukup menarik. Perahu memang selalu bergoncang ketika kami berpapasan dengan kapal yang lebih besar, tapi ternyata itu tak mengganggu. Kami malah asyik berlomba mengabadikan keindahan di kamera yang kami bawa. Bak fotografer, kami tak ragu memotret setiap sudut tepian sungai.
Rumah-rumah berdinding papan bercat warna-warni berjajar di tepian. Perahu-perahu bersandar di depannya menjadi penghias utama. Atap bebentuk limas masih menampakkan cirri khas Melayu. Cahaya keemasan sore turut memberi warna, menyuguhkan pemandangan menakjubkan. Batang bamboo dan kayu yang menyangga rumah dengan kokoh, seperti tak lelah menyangga kehidupan.

Tapi, batang-batang bamboo itu juga mengingatkan aku pada rumah-rumah yang berdiri di sepanjang bantaran Sungai Ciliwung. Lengkap dengan bocah yang berenang-renang di bawahnya. Tapi, tentu ada satu yang membedakannya. Meski kecoklatan dan keruh, Sungai Musi tanpa sampah berserakan, yang menjadikannya lebih nyaman. Mudah-mudahan saja, Sungai Musi takkan seperti sungai-sungai yang ada di Jakarta. Menjadi tempat pembuangan segala macam sampah, tetapi masih juga dipergunakan untuk memenuhi hajat sehari-hari.
Beberapa rumah makan juga telah bersolek, siap menerima kunjungan tamu. Masih terlihat sepi. Kata si bapak rumah makan itu akan ramai di malam hari, ketika lampu-lampu telah dinyalakan dan kerlipnya melukisi malam.


Ya, malam masih beberapa jam lagi. Tapi kami cukup beruntung, sore ini adalah waktu yang tepat mengabadikan Jembatan Ampera dalam siraman cahaya keemasan. Panasnya tak lagi menyengat. Malah, kilau mentari yang memantul di permukaan sungai seperti menggugah perasaan romantis. Hmm…mungkin ini yang menjadikan pasangan-pasangan itu tak lagi risih bermesraan, meski di bawah tatapan banyak pasang mata.
Tak terasa perahu telah kembali menepi. Sudah hampir satu jam kami menyusuri Sungai Musi. Untuk meredakan pusing (mungkin karena jet lag dan di tambah goncangan perahu), kami memutuskan beristirahat sejenak sebelum kembali ke hotel dan mempersiapkan diri untuk event besok. Ketika padangan mata kami tertumbuk pada sebuah warung terapung, serempak kami bergegas menghampiri. Menikmati waktu yang tersisa.

Sajian khas Kota Palembang segera menyambut. Mpek-mpek berbagai jenis dalam wadah plastic siap di santap. Bau cuka menyeruak diantara harum bumbu yang berwarna kehitaman itu. Kami sempat kebingungan memilih karena ingin mencicipi semua tapi tak mau kekenyangan. Satu keluarga kecil yang berada di hadapan kami dengan senang hati menjadi guide dadakan. Dengan telaten mereka menjelaskan satu persatu jenis makanan yang ada dan cara memakannya. Tapi, ada satu jenis makanan yang tidak di letakkan di meja karena dia harus tetap panas. Makanan itu adalah tekwan. Akhirnya pilihanku jatuh pada makanan yang mirip bakso itu. Kuah yang hangat dan harum udang menjadi alasan utamaku. Pilihan yang tepat. Kelezatannya tidak mengenyangkan, tetapi dapat mengusir kantuk dan sedikit pusing di kepalaku.
Sore yang sempurna di tepian sungai Musi. Kami kembali ke hotel dengan perut kenyang dan hati dipenuhi keindahan. Kami bahkan tak sempat mengunjungi Benteng Kuto Besak yang hanya berjarak puluhan meter dari Jembatan Ampera. Mudah-mudahan suatu saat nanti akan ada kesempatan untuk kembali ke Bumi Sriwijaya ini.


Subscribe to:
Posts (Atom)




