Awalnya, fesbuklah yang mempertemukan kami. Saling bertukar kabar, foto, dan celotehan di komentar status, rupanya ada perasaan tak puas. Kami ingin bertemu, lalu bersepakat bertemu di rumah teman yang terdekat. Mungkin bukan yang terdekat, tetapi dia yang mengundang lebih dulu, kami menghormatinya. Mumpung seorang dari kami yang sebenarnya tinggal di luar Jawa sedang bersekolah belum mendekati masa akhir. Begitulah akhirnya, setelah sekitar sepuluh tahun tak bertemu selepas kuliah, kami bertemu untuk melepas rindu. Tak ada perjamuan istimewa. Hanya perasaan senang setelah penasaran akan rupa kami masing-masing terjawab.
Celoteh lucu kami disaksikan anak-anak dari kawanku. Mungkin ada perasaan jengah dari anak-anak mereka, kok emak-emakku rame sekali, ya? hehehe..
Tak sampai satu jam kami pamit pulang. Ini lantaran satu dari kawanku (yang dari dulu tetep mungil tetapi anaknya telah 5!), adalah business woman, sehingga waktu sangatlah penting. Banyak deal yang harus dilakukan. Dengan perut buncit (waktu itu masih mengandung anak ke-5), setiap hari dia mondar-mandir Bekasi-Jakarta, bahkan sampai Bandung. Wuah..salut berat aku jadinya.
Satu kawanku, yang sedang menempuh pendidikan S2 membookingku untuk menjadi fotografernya saat wisuda nanti. Mudah-mudahan aku bisa. Maklum, kameraku masih apa adanya. Dan, meski sebagian teman memuji hasil jepretanku, aku masih belum pede benar. Kami berpisah di jalan, dan berjanji bertemu kembali suatu hari di toko baju anak milik temanku yang pebisnis itu. Diam-diam, aku kepincut juga dengan tawaran kerjasama (menjual baju branded) dengannya. Apa salahnya aku coba.
Ketika sampai dirumah, aku tiba-tiba teringat kembali akan percakapanku dengan kawan-kawan lamaku itu. Ada dunia yang sedang terbalik. Aku dulu mengagumi teman yang rumahnya jadi tempat reuni kilat itu. Di angkatanku, dialah dulu yang paling cemerlang. Cantik, pandai pula. Indeks prestasinya tak pernah mengecewakan. Berbeda denganku yang apa adanya, segala-galanya. Ku pikir, betapa cerah masa depannya. Dia akan menjadi wanita karier yang sukses. Tetapi, ada rasa kecewa di sutu hati. Yang kujumpai adalah berbeda seratus delapan puluh derajat dengan apa yang kubyangkan. Apa pasal? Pertama, dia tidak bertahan di tempat kerja hanya karena konflik kecil, dan dia tidak terlibat langsung di dalamnya. Dua, ketika hendak melanjutkan kuliah ke jenjang S2 dia memutuskan tidak melanjutkannya karena harus melakukan penelitian di hutan. Tiga, memilih menjadi ibu rumah tangga tanpa ingin beraktifitas lain yang mengayakan dirinya. Setiap kali ku baca statusnya atau komentarnya di fesbuk, semakin kecewa ku rasakan. Kemanakah kepandaiannya masa lalu?
Dan, aku tak sendiri. Temanku yang berjumpa dengannya pun demikian. Dengan rasa menyesal akhirnya kami mengakui, bahwa kepandaian di sekolah formal dengan nilai mata pelajaran yang bagus tidaklah menjadi ukuran mutlak kesuksesan masa depan. Tapi, apa sebenarnya ukuran sukses? Jika dia merasa baik-baik saja dengan hidupnya, kurasa dia telah merasa sukses. Sukses membesarkan anak-anaknya.
Bagaimanapun, itu adalah keputusannya sendiri. Dibuatnya secara sadar. Dan, dia nampak bahagia dengan keputusannya itu. Kenapa kami yang begitu keberatan? Seakan tak rela kepandaiannya hilang lenyap. Tapi, mungkin saja kami keliru. Bisa saja kepandaiannya itu hanya berubah bentuk. Yang lebih baik, lebih mulia. Kami cuma tak tahu saja.Lagi pula, aku juga memilih hal yang sama, menjadi ibu rumah tangga. Tentu saja aku tak boleh kecewa. Seperti halnya pada dirinya.
Hidup ini indah. Aku percaya kehadiran teman melengkapi, dan renungan menjadi rambu-rambunya. Selamat menikmati hidup!
About Me
- Novi Kuspriyandari
- Bogor, Jawa Barat, Indonesia
- Anda Pengacara? Sama seperti saya. Tapi saya adalah penganggur yang berusaha mencari banyak acara dan cara. Cara bersenang-senang, dan berbuat baik. Gitu, deh...
Showing posts with label humaniora. Show all posts
Showing posts with label humaniora. Show all posts
Apr 27, 2011
Apr 19, 2011
Blog untuk berbagi dan berkawan
Nge-blog = curhat?
Bisa-bisa saja, alias boleh-boleh saja.
denaihati.com
Bisa-bisa saja, alias boleh-boleh saja.
Sejak awal memiliki blog, memang diniatkan sebagai ajang tumpahan uneg-uneg layaknya diary (atau tempat sampah?). Entahlah! Setiap orang punya maksud tersendiri. Yang jelas, bagiku yang namanya uneg-uneg biasanya tak menyenangkan, apalagi jika disimpan berlama-lama. Seperti bahan organik yang menumpuk dalam wadah tertutup, lama-lama dia akan membusuk dan mengeluarkan gas rumah kaca (NH4). Selain berbau busuk, gas ini sungguh tak baik untuk daya tahan bumi terhadap gempuran sinar matahari. Panas matahari akan lebih banyak tersimpan dalam atmosfir ketimbang dipantulkan kembali ke luar angkasa. Akibatnya, bumi semakin panas, meradang. Cuaca jadi tak menentu. Kadang panas berkepanjangan, kadang hujan keterusan. Jadi, kalau tidak kekeringan, ya kebanjiran.
Beda jika tumpukan “sampah” organik itu di kelola dengan baik, di udara terbuka. Dia akan menjadi pupuk (kompos), pun tak menyebabkan timbulnya gas berbahaya untuk ozon itu.
Nah, nge-blog ini bisa jadi bagian pengelolaan hati. Di blog ini hati di buka, biar kena angin. Ibarat bumi adalah tubuh kita, hati yang terus menerus menyimpan panas menyebabkan kita bisa “panas dalam”. Lihat tabiat kita, seperti apa jadinya? Tak tentu juga kan, “cuacanya”? Kalau nggak murung bae, ya nangis melulu. Bahasa gaulnya: nge-bete-in!
Curhat kan juga tak melulu soal pribadi. Banyak hal yang menjadi perhatian kita bisa kita bagi. Misalnya soal kemiskinan di sekitar kita. (Ini bahas kemiskinan harta aja ya? Karena kalau soal kemiskinan yang lain, jangan-jangan aku termasuk di dalamnya? Hehehe....)
Karena melihat sekeliling kita itulah, ada hal-hal memprihatinkan yang sangat mungkin kita bisa berbuat untuk itu. Alhamdulillah, dengan membuka mata (dan mata hati) sudah dua kali Ramadhan, aku dan dibantu banyak kawan menyelenggarakan kegiatan Bazaar Amal Ramadhan. Awalnya sih, banyak keraguan mengganggu pikiran. Tetapi kemudian, dengan prinsip: untuk kebaikan tak boleh mundur, terjadilah kegiatan itu (Baca Bazaar Amal Ramadhan 2011).
Berbagi hal yang menyenangkan, apalagi..! Pasti sangat boleh. Dari kejadian lucu, foto-foto cantik, resep makanan favorit, syukuran kawan yang telah menerbitkan dua novel, berbagi ceria dengan para pengungsi di Yogya (baca: Berbagi Ceria) dan Garut (tapi kayaknya ini belum masuk blog-ku, deh..hehehe..), dan lain-lain.
Lebih dari itu, nge-blog membuat orang saling mengenal melalui tulisan, atau sharing ide/ gagasan. Minimal, mereka membaca apa yang akan atau ingin kita lakukan, lalu memberikan support. Apapun bentuknya, akan membuat berbagi semakin menyenangkan. Bisa jadi, hal yang menurut kita kecil, bisa berarti banyak untuk orang lain. Pengalaman terbaikku adalah bersama Kegiatan Bazaar Ramadhan. Karena orang yang belum mengenalku (secara pribadi) sekalipun, mau memberikan dukungan. Dan, kelihatannya berbagi pakain bekas layak pakai sesuatu yang sepele. Kita bisa jadi menganggapnya sepele, seperti membuang sampah semata. Namun, bagi orang lain ternyata bisa memberikan kegembiraan yang amat sangat. Rasa syukur itu membuatku ingin melakukannya kembali. Terus...dan, terusss..! Juga berharap, tulisan pengalamanku bisa membuat orang lain terdorong untuk melakukan hal yang sama.
Informasinya bisa kita sebar via link FB, twitter, dan e-mail. Bahkan melalui pesan pendek.
Pendek kata: blog tempat asyik untuk berbagi, dan berkawan.
Stay connected!
denaihati.com
Mar 3, 2011
Banjir Tomat
Berbagai aksi penjual tomat di seputar Stasiun Cilebut, dan dalam kereta. Dengan Rp. 2000 per kantong, laba yang di dapat tak seberapa. Pembeli pun tak banyak. Sekarang beli sekantong, mungkin seminggu kemudian baru beli lagi. Mungkin pasar telah jenuh.
Tetapi, dengan sedikit kreasi, tomat bisa berbentuk lain (salah satunya saus tomat), yang bisa diawetkan dan digunakan lain hari ketika harga tomat telah kembali normal atau bahkan mahal.
Kalau tomat bisa diolah, setidaknya daya serap menjadi tinggi dan harga bisa lebih baik. Pedagang untung, Petani pun tak merugi lagi.
Feb 24, 2011
Uler, Ular, Ula, dan Ulat
Sebenarnya cerita ini sudah terjadi tahun lalu. Tapi, karena status teman yang terkecoh oleh teriakan seorang ibu yang meneriakkan "ularr..!" padahal cuma ulat, aku jadi ingat cerita ini lagi. Kurang lebih sama.
Begini ceritanya:
Sepulang dari bepergian (ke Malang kalau tidak salah), aku dan suami dapat laporan dari tetangga bahwa tanaman di halaman kami jadi sarang ular.
Wow..! Mendapat laporan itu, tentu seketika membuat kami tak enak hati. Apalagi yang engeluhkan itu punya anak kecil yang suka bermain di sekitar tanaman itu.
Tanaman yang dimaksud adalah kembang sepatu yang daunnya memang sedang rimbun. Meski berat hati, kami harus "mengurus" tanaman itu agar tak jadi sarang ular. Meski, sebenarnya kami belum pernah lihat ada ular di tanaman perdu itu. Kalau di pohon jambu malah pernah. Bahkan sampai masuk ke dalam rumah.
Ya sudah, kami mengalah. Tanaman kami babat habis, biar tak ada korban.
Selepas itu, hening..tak ada kabar apapun. Sampai...suamiku yang tengah merawat tanaman di sapa oleh kerabat tetangga yang dari logatnya kami tahu dia dari jawa.
Suami menyempatkan berbincang dengannya.
"Kemarin banyak deh, pak..ularnya!" kata tetangga.
Banyak? Suamiku langsung disergap rasa tak nyaman. Tetapi, suamiku juga penasaran, apa iya banyak ular di tanaman itu (yang sudah di babat habis)?
"Gede-gede bu, ularnya?" suamiku menimpali.
"Iya..segini nih..!"sahut tetangga sambil menunjukkan jari telunjuknya.
"Panjangnya kira-kira semana?"tanya suamiku lagi antusias. Mengingat kami juga pernah menemukan ular sebesar telunjuk dan panjang 25 cm-an melilit di dahan pohon jambu. Mungkin itu sama jenis dan ukurannya.
"Kira-kira segini lah, pak..!" jelas tetangga sambil menunjukkan lagi telunjuknya.
Dahi suamiku langsung berkerut. Ular kok ukurannya segitu? Bantet amat?
"Ah,masa ular segitu ukurannya?"tanya suamiku tak percaya.
"Iya, pak...wong dia gede banget, item, terus jalannya begini.." sahutnya lagi sambil memperagakan telunjuknya.
Dari gerakannya itu suami melihat ada yang tak cocok.
"Kepalanya gimana, bu?"
"Kepalanya ada sungutnya. Hii..geli, deh ngeliatnya..!"
Kepalanya ada sungutnya? Waduh...jangan-jangan....?
"Ulat kali bu, itu..bukan ular..!"sahut suamiku setelah membuat kesimpulan. Dulu, ketika masih banyak tanaman pacar air banyak sekali ulat hitam yang besar dan ayam pun tak mau memakannya.
"Ular..! itu ular..!" tegas tetangga."kalau ula sih, saya tahu..! kalau ini bisa bikin gatel-gatel gitu lho, pak..!"
Oh...! Jadi tahu deh sekarang. Sambil tersenyum kecut, suamiku pamit masuk ke rumah. Sampai di depanku, suami menumpahkan uneg2nya padaku.
"Vi, yang diributkan sama tetangga soal ular kemarin itu ternyata ulat! Bukan ular..!"
"Kok, bisa gitu?" tanyaku heran. Lalu suamiku menjelaskan soal perbincangan tadi.
Jadi, mungkin yang terjadi adalah kesalahan penggunaan dan penerjemahan dari bahasa jawa ke bahasa Indonesia.
Orang Jawa menyebut "ulat" adalah "uler", mungkin oleh si tetangga tadi "uler" di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi "ular". Dan, bahasa Jawa-nya "ular" adalah "ulo" yang diterjemahkan-nya menjadi "ula". Sama saja dengan bahasa Jawa "gulo" menjadi "gula".
Huft, hantam kromo ini bikin PUSING!
Begini ceritanya:
Sepulang dari bepergian (ke Malang kalau tidak salah), aku dan suami dapat laporan dari tetangga bahwa tanaman di halaman kami jadi sarang ular.
Wow..! Mendapat laporan itu, tentu seketika membuat kami tak enak hati. Apalagi yang engeluhkan itu punya anak kecil yang suka bermain di sekitar tanaman itu.
Tanaman yang dimaksud adalah kembang sepatu yang daunnya memang sedang rimbun. Meski berat hati, kami harus "mengurus" tanaman itu agar tak jadi sarang ular. Meski, sebenarnya kami belum pernah lihat ada ular di tanaman perdu itu. Kalau di pohon jambu malah pernah. Bahkan sampai masuk ke dalam rumah.
Ya sudah, kami mengalah. Tanaman kami babat habis, biar tak ada korban.
Selepas itu, hening..tak ada kabar apapun. Sampai...suamiku yang tengah merawat tanaman di sapa oleh kerabat tetangga yang dari logatnya kami tahu dia dari jawa.
Suami menyempatkan berbincang dengannya.
"Kemarin banyak deh, pak..ularnya!" kata tetangga.
Banyak? Suamiku langsung disergap rasa tak nyaman. Tetapi, suamiku juga penasaran, apa iya banyak ular di tanaman itu (yang sudah di babat habis)?
"Gede-gede bu, ularnya?" suamiku menimpali.
"Iya..segini nih..!"sahut tetangga sambil menunjukkan jari telunjuknya.
"Panjangnya kira-kira semana?"tanya suamiku lagi antusias. Mengingat kami juga pernah menemukan ular sebesar telunjuk dan panjang 25 cm-an melilit di dahan pohon jambu. Mungkin itu sama jenis dan ukurannya.
"Kira-kira segini lah, pak..!" jelas tetangga sambil menunjukkan lagi telunjuknya.
Dahi suamiku langsung berkerut. Ular kok ukurannya segitu? Bantet amat?
"Ah,masa ular segitu ukurannya?"tanya suamiku tak percaya.
"Iya, pak...wong dia gede banget, item, terus jalannya begini.." sahutnya lagi sambil memperagakan telunjuknya.
Dari gerakannya itu suami melihat ada yang tak cocok.
"Kepalanya gimana, bu?"
"Kepalanya ada sungutnya. Hii..geli, deh ngeliatnya..!"
Kepalanya ada sungutnya? Waduh...jangan-jangan....?
"Ulat kali bu, itu..bukan ular..!"sahut suamiku setelah membuat kesimpulan. Dulu, ketika masih banyak tanaman pacar air banyak sekali ulat hitam yang besar dan ayam pun tak mau memakannya.
"Ular..! itu ular..!" tegas tetangga."kalau ula sih, saya tahu..! kalau ini bisa bikin gatel-gatel gitu lho, pak..!"
Oh...! Jadi tahu deh sekarang. Sambil tersenyum kecut, suamiku pamit masuk ke rumah. Sampai di depanku, suami menumpahkan uneg2nya padaku.
"Vi, yang diributkan sama tetangga soal ular kemarin itu ternyata ulat! Bukan ular..!"
"Kok, bisa gitu?" tanyaku heran. Lalu suamiku menjelaskan soal perbincangan tadi.
Jadi, mungkin yang terjadi adalah kesalahan penggunaan dan penerjemahan dari bahasa jawa ke bahasa Indonesia.
Orang Jawa menyebut "ulat" adalah "uler", mungkin oleh si tetangga tadi "uler" di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi "ular". Dan, bahasa Jawa-nya "ular" adalah "ulo" yang diterjemahkan-nya menjadi "ula". Sama saja dengan bahasa Jawa "gulo" menjadi "gula".
Huft, hantam kromo ini bikin PUSING!
Serba Tomat
Menyedihkan.
Seringkali seperti itu nasib petani di negeriku Indonesia ini. Setelah tak lama menikmati harga tomat yang sedikit lumayan (di pedagang sayur keliling Rp. 500 perbuah), sekarang harganya anjlok sampai hampir tak berharga. Rp. 200/kg! Dari mana petani bisa menghidupi keluarganya dengan penghasilan yang jauh...sekali dari layak? Sementara, pemerintah sepertinya tak bisa memberikan solusi apapun. Semuanya di serahkan pada mekanisme pasar.
Ah, malangnya petani kecil.
Terisnpirasi dari kerja keras petani, dan melimpahnya tomat, aku membuat masakan dan makanan serba tomat. Supaya tomat laku dipasaran, dan harganya tidak terlalu murah. Entah usaha ini berdampak baik atau tidak pada petani (walau jelas pada pedagangnya), setidaknya tomat bisa diolah menjadi saus yang bisa diawetkan. Dampaknya masih tetap baik untuk keuanganku.
Bayangkan saja, dari 1/2 kg tomat segar bisa jadi 250ml saus yang jika dibeli di pasar harganya jauh lebih mahal. Apalagi saus buatan sendiri sudah pasti lebih segar, dan enak! Dijamin tanpa bahan pengawet kimia pula. Dari saus ini, bisa dibuat berbagai macam bumbu. Mulai dari bumbu ayam bakar, sampai spaghetti. Hmm...yummy!
Yuk, berkreasi makanan dari tomat? Tak perlu khawatir bosan. Banyak pilihan yang bisa di buat. Kita buat bahan utamanya dulu: SAUS TOMAT
SAUS TOMAT
Bahan:
- Tomat segar
- Gula
- Garam
- Jeruk nipis/ lemon
Cara membuat:
- rebus tomat sampai merekah (kira-kira 5 menit).
- buang kulit tomat, lalu blender sampai halus. Saring.
- rebus kembali tomat yang sudah di saring sampai mengental. Kekentalan bisa disesuaikan dengan selera. Jika ingin lebih kental bisa di beri satu sendok makan maizena yang dilarutkan dengan air.
- jangan lupa selama merebus berikan gula, dan garam secukupnya, serta air jeruk lemon/nipis. selain membantu mengawetkan, ari jeruk membuat rasa saus lebih segar.
Jika ingin sedikit berbumbu, boleh ditambahkan bawang putih bubuk, dan lada.
Selamat mencoba!
Seringkali seperti itu nasib petani di negeriku Indonesia ini. Setelah tak lama menikmati harga tomat yang sedikit lumayan (di pedagang sayur keliling Rp. 500 perbuah), sekarang harganya anjlok sampai hampir tak berharga. Rp. 200/kg! Dari mana petani bisa menghidupi keluarganya dengan penghasilan yang jauh...sekali dari layak? Sementara, pemerintah sepertinya tak bisa memberikan solusi apapun. Semuanya di serahkan pada mekanisme pasar.
Ah, malangnya petani kecil.
Terisnpirasi dari kerja keras petani, dan melimpahnya tomat, aku membuat masakan dan makanan serba tomat. Supaya tomat laku dipasaran, dan harganya tidak terlalu murah. Entah usaha ini berdampak baik atau tidak pada petani (walau jelas pada pedagangnya), setidaknya tomat bisa diolah menjadi saus yang bisa diawetkan. Dampaknya masih tetap baik untuk keuanganku.
Bayangkan saja, dari 1/2 kg tomat segar bisa jadi 250ml saus yang jika dibeli di pasar harganya jauh lebih mahal. Apalagi saus buatan sendiri sudah pasti lebih segar, dan enak! Dijamin tanpa bahan pengawet kimia pula. Dari saus ini, bisa dibuat berbagai macam bumbu. Mulai dari bumbu ayam bakar, sampai spaghetti. Hmm...yummy!
Yuk, berkreasi makanan dari tomat? Tak perlu khawatir bosan. Banyak pilihan yang bisa di buat. Kita buat bahan utamanya dulu: SAUS TOMAT
SAUS TOMAT
Bahan:
- Tomat segar
- Gula
- Garam
- Jeruk nipis/ lemon
Cara membuat:
- rebus tomat sampai merekah (kira-kira 5 menit).
- buang kulit tomat, lalu blender sampai halus. Saring.
- rebus kembali tomat yang sudah di saring sampai mengental. Kekentalan bisa disesuaikan dengan selera. Jika ingin lebih kental bisa di beri satu sendok makan maizena yang dilarutkan dengan air.
- jangan lupa selama merebus berikan gula, dan garam secukupnya, serta air jeruk lemon/nipis. selain membantu mengawetkan, ari jeruk membuat rasa saus lebih segar.
Jika ingin sedikit berbumbu, boleh ditambahkan bawang putih bubuk, dan lada.
Selamat mencoba!
Feb 15, 2011
Ekonomif berlabel Eksekutif
Setelah menemani Bintang Kecilku selama dua minggu di rumah neneknya, dan urusan akte kelahiran selesai, aku segera kembali ke Bogor untuk menyelesaikan berbagai hal. Apalagi aku belum membenahi rumah ataupun menyiapkan istana untuknya. Duh, beratnya kaki melangkah. Tapi, harus kulakukan juga.
Dengan segala keribetan administrasi untuk akte, jadwal kepulanganku terus tertunda. Akhirnya aku tak berani memesan tiket pesawat untuk pulang, meski suami terus memberikan jadwal penerbangan yang mungkin bisa aku pilih. Lagipula, untuk mencapai bandara terdekat, Malang atau Surabaya, aku masih harus berkendara minimal empat jam. Dengan tentengan tak sedikit, sendirian, otomatis pilihan ini aku eliminasi.
Akhirnya, pilihanku jatuh pada bus malam eksekutif merk L yang sebenarnya sudah sekitar sepuluh tahun tak lagi jadi pilihan. Pasalnya, bus ini pernah mengecewakanku amat sangat sebanyak tiga kali.
Pertama, saat perjalanan menuju Bogor dan baru mencapai tol Gresik mendadak bus berhenti, dan harus menunggu lama untuk bisa jalan kembali. Apa sebab? Tak ada yang memberitahukan. Tapi, selidik-punya selidik, ternyata BENSIN HABIS! Bus eksekutif kehabisan bensin? Hampir seluruh penumpang bergumam:"kok bisa?"
Sebelum bisa jalan kembali, si kenek harus membawa jerigen dan menumpang bis lain untuk mendapatkan bensin di pom terdekat. Meski menahan kesal, kami tak punya pilihan. Ini di tengah jalan tol!
Kedua, di lain kesempatan, dalam perjalananku dari Jakarta menuju Bogor (setelah perjalanan lancar dari Jember ke Jakarta), entah ada masalah apa dengan menejemen perusahaan, dari telepon genggam kru yang lewat aku mendengar pembicaraan bahwa seluruh kru perusahaan bus L yang aku tumpangi ini akan demo. Tapi, tak terpikir olehku bahwa caranya akan demikian: kru bus MENURUNKAN seluruh PENUMPANG yang hendak menuju Bogor (pool bus) di JALAN TOL!
Apa yang harus kami lakukan? Ini gila!
Di tengah kebingunganku, datang satu bus trayek Jakarta- Bogor berhenti dekat kami dan bergegas menarik kami naik ke dalam bus yang telah penuh sesak. Dan, ketika aku masih bingung dengan kejadian yang baru lewat, kenek bus sudah menagih ongkos.
Tentu aku marah dibuatnya.
Dengan kesal ku katakan padanya:"kenapa tak minta pada kru bus L tadi?"
Tapi yang terjadi adalah, si kenek balik memarahiku:"kalau mbak nggak mau bayar, silahkan turun saja. Sudah untung kami mau angkut ke Bogor. Asal tahu aja, di tol tak boleh menurunkan atau menaikkan penumpang!"
Maksudnya mungkin: dia sudah berani ambil resiko di tilang hanya untuk "menolong" kami yang terlantar di tengah jalan tol tapi kami tak mau bayar, tentu marahlah dia. Di lain pihak - aku dan penumpang lain- masih berhak menikmati layanan sampai tujuan-Bogor. Kami tak mau bayar lagi. Tapi, situasi tak mengijinkan kami untuk bernego. Kami kalah posisi!
Aarrghhh...!
Marah, kesal, bertanya-tanya, dongkol..semua menyesaki dada dan pikiran. Kurang ajar betul! Sama sekali tak cocok dengan labelnya!
Ketiga, saat dari Bogor hendak kembali ke kampung, tanpa sebab aku harus menunggu lama di pool selama kurang lebih tiga jam. Setelah dinyatakan bus telah siap, dan aku naik, yang kurasakan tak lebih seperti naik bajaj berpendingin. Bus berguncang hebat, bahkan di jalan tol yang mulus! Perasaan tak enak kembali menyergap.
Dan...benar adanya, memasuki sebuah gerbang tol menuju luar kota, bus berhenti mendadak. Eh, bukan..dengan terbatuk-batuk. Kami, penumpang menunggu lama di atas bus. Belum pupus penasaran kami, tiba-tiba kru bus meminta penumpang untuk turun dan bantuan kami untuk...MENDORONG bus agar mesinnya menyala kembali! What a day!
Dari tiga pengalaman ini aku memutuskan untuk menyudahi petualangan ala bus eksekutif tapi rasa ekonomi persembahan bus merk L.
Tapi, tentu anda heran kenapa aku harus menunggu sampai tiga kali dikecewakan? Tidakkah cukup sekali saja? Tak lain adalah karena bus L, satu-satunya akses langsung menuju Bogor tempat adikku kuliah dan tempat orang tua calon suamiku (dulu) tinggal. Belum ada pesaing bus lain. Baru beberapa waktu kemudian muncul beberapa bus lain, dan menjadi pilihan meski hanya sampai Jakarta. Setidaknya, dengan bus pesaing ini, aku belum pernah di kecewakan.
Lalu, kenapa aku kembali memilih bus ini? Padahal, kru menaikkan penumpang dari jalan (meski hanya sampai Surabaya), sopir merokok di bawah papan yang jelas-jelas menerangkan larangan merokok dalam bus, servis makan malam yang tak manusiawi (karena aku merasa diperlakukan seperti bebek). Dengan hanya berlauk sepotong kecil ayam goreng tanpa daging, kering kentang dan kuah soto bercita rasa air payau, tentu jauh lebih enak makanan di warteg! Bahkan kalah dibandingkan persembahan bus lain.
Setelah ku cari-cari alasan, ini dia yang ku dapat:
Tapi, harapanku tak berbalas setimpal.
Di tengah kantuk yang menyergap, sayup kudengar sang sopir membanggakan PO yang dia hormati (karena memberinya nafkah) pada seorang penumpang karena telah berstandard nasional (berlisensi). Beda dengan bus lain yang tidak berlisensi.
Dalam hati aku bergumam.."ya, pak..bus ini memang beda! Tapi, tak oke!"
Sambil menahan dongkol dan kaki yang bengkak..
Dengan segala keribetan administrasi untuk akte, jadwal kepulanganku terus tertunda. Akhirnya aku tak berani memesan tiket pesawat untuk pulang, meski suami terus memberikan jadwal penerbangan yang mungkin bisa aku pilih. Lagipula, untuk mencapai bandara terdekat, Malang atau Surabaya, aku masih harus berkendara minimal empat jam. Dengan tentengan tak sedikit, sendirian, otomatis pilihan ini aku eliminasi.
Akhirnya, pilihanku jatuh pada bus malam eksekutif merk L yang sebenarnya sudah sekitar sepuluh tahun tak lagi jadi pilihan. Pasalnya, bus ini pernah mengecewakanku amat sangat sebanyak tiga kali.
Pertama, saat perjalanan menuju Bogor dan baru mencapai tol Gresik mendadak bus berhenti, dan harus menunggu lama untuk bisa jalan kembali. Apa sebab? Tak ada yang memberitahukan. Tapi, selidik-punya selidik, ternyata BENSIN HABIS! Bus eksekutif kehabisan bensin? Hampir seluruh penumpang bergumam:"kok bisa?"
Sebelum bisa jalan kembali, si kenek harus membawa jerigen dan menumpang bis lain untuk mendapatkan bensin di pom terdekat. Meski menahan kesal, kami tak punya pilihan. Ini di tengah jalan tol!
Kedua, di lain kesempatan, dalam perjalananku dari Jakarta menuju Bogor (setelah perjalanan lancar dari Jember ke Jakarta), entah ada masalah apa dengan menejemen perusahaan, dari telepon genggam kru yang lewat aku mendengar pembicaraan bahwa seluruh kru perusahaan bus L yang aku tumpangi ini akan demo. Tapi, tak terpikir olehku bahwa caranya akan demikian: kru bus MENURUNKAN seluruh PENUMPANG yang hendak menuju Bogor (pool bus) di JALAN TOL!
Apa yang harus kami lakukan? Ini gila!
Di tengah kebingunganku, datang satu bus trayek Jakarta- Bogor berhenti dekat kami dan bergegas menarik kami naik ke dalam bus yang telah penuh sesak. Dan, ketika aku masih bingung dengan kejadian yang baru lewat, kenek bus sudah menagih ongkos.
Tentu aku marah dibuatnya.
Dengan kesal ku katakan padanya:"kenapa tak minta pada kru bus L tadi?"
Tapi yang terjadi adalah, si kenek balik memarahiku:"kalau mbak nggak mau bayar, silahkan turun saja. Sudah untung kami mau angkut ke Bogor. Asal tahu aja, di tol tak boleh menurunkan atau menaikkan penumpang!"
Maksudnya mungkin: dia sudah berani ambil resiko di tilang hanya untuk "menolong" kami yang terlantar di tengah jalan tol tapi kami tak mau bayar, tentu marahlah dia. Di lain pihak - aku dan penumpang lain- masih berhak menikmati layanan sampai tujuan-Bogor. Kami tak mau bayar lagi. Tapi, situasi tak mengijinkan kami untuk bernego. Kami kalah posisi!
Aarrghhh...!
Marah, kesal, bertanya-tanya, dongkol..semua menyesaki dada dan pikiran. Kurang ajar betul! Sama sekali tak cocok dengan labelnya!
Ketiga, saat dari Bogor hendak kembali ke kampung, tanpa sebab aku harus menunggu lama di pool selama kurang lebih tiga jam. Setelah dinyatakan bus telah siap, dan aku naik, yang kurasakan tak lebih seperti naik bajaj berpendingin. Bus berguncang hebat, bahkan di jalan tol yang mulus! Perasaan tak enak kembali menyergap.
Dan...benar adanya, memasuki sebuah gerbang tol menuju luar kota, bus berhenti mendadak. Eh, bukan..dengan terbatuk-batuk. Kami, penumpang menunggu lama di atas bus. Belum pupus penasaran kami, tiba-tiba kru bus meminta penumpang untuk turun dan bantuan kami untuk...MENDORONG bus agar mesinnya menyala kembali! What a day!
Dari tiga pengalaman ini aku memutuskan untuk menyudahi petualangan ala bus eksekutif tapi rasa ekonomi persembahan bus merk L.
Tapi, tentu anda heran kenapa aku harus menunggu sampai tiga kali dikecewakan? Tidakkah cukup sekali saja? Tak lain adalah karena bus L, satu-satunya akses langsung menuju Bogor tempat adikku kuliah dan tempat orang tua calon suamiku (dulu) tinggal. Belum ada pesaing bus lain. Baru beberapa waktu kemudian muncul beberapa bus lain, dan menjadi pilihan meski hanya sampai Jakarta. Setidaknya, dengan bus pesaing ini, aku belum pernah di kecewakan.
Lalu, kenapa aku kembali memilih bus ini? Padahal, kru menaikkan penumpang dari jalan (meski hanya sampai Surabaya), sopir merokok di bawah papan yang jelas-jelas menerangkan larangan merokok dalam bus, servis makan malam yang tak manusiawi (karena aku merasa diperlakukan seperti bebek). Dengan hanya berlauk sepotong kecil ayam goreng tanpa daging, kering kentang dan kuah soto bercita rasa air payau, tentu jauh lebih enak makanan di warteg! Bahkan kalah dibandingkan persembahan bus lain.
Setelah ku cari-cari alasan, ini dia yang ku dapat:
- Satu, berharap pelayanannya lebih baik dari sepuluh tahun lalu (meski ternyata tidak).
- Dua, aku sedang lelah sehingga malas jika harus turun di Jakarta dan menyambung sendiri dengan kendaraan lain.
Tapi, harapanku tak berbalas setimpal.
Di tengah kantuk yang menyergap, sayup kudengar sang sopir membanggakan PO yang dia hormati (karena memberinya nafkah) pada seorang penumpang karena telah berstandard nasional (berlisensi). Beda dengan bus lain yang tidak berlisensi.
Dalam hati aku bergumam.."ya, pak..bus ini memang beda! Tapi, tak oke!"
Sambil menahan dongkol dan kaki yang bengkak..
Jan 16, 2011
Awas Tertipu Penampilan!
"Iso masak tah, sampean?"
Tanya seseorang padaku, ketika melihatku sibuk menyiapkan kompor dan peralatan masak lain yang kupinjam dari teman se-kamar. (Dulu, untuk menghemat uang kost, aku memilih mengisi satu kamar dengan teman yang juga baru jadi mahasiswi. Jadi uang sewa di tanggung berdua).
Suaranya yang melengking dengan logat jawa timuran yang kental, mau-tak mau membuatku berpaling padanya. Sekilas, ku tangkap matanya menyelidik dari ujung kakiku hingga ujung rambut. Ah, padangan macam itu sudah sering menimpaku. Sebel, sih..tapi sudah terbiasa. Dan, nampaknya aku juga harus terbiasa bertemu dengannya karena dia teman kost-ku, tapi bisa dikatakan senior, karena aku baru masuk, dan dia telah menjelang skripsi. Justeru, aku akan punya waktu untuk menjawab pertanyaannya itu.
Aku sadar, penampilanku memang apa adanya. Celana jins, kaos oblong, dan rambut pendek. Plus badan yang sedikit kekar. Ku coba memahami apa yang ada dipikirannya, dan meredam kesal. Mungkin dia bermaksud bercanda, kataku sendiri dalam hati. Dan, ku lupakan saja hari itu. Tak ada waktu untuk memikirkan lagi. Hari-hari sibuk menjadi mahasiswa baru sangat menyita waktu dan perhatian. Maklum, banyak sekali hal-hal yang harus di sesuaikan. Dari kebiasaan bersekolah yang masuk dan pulang secara teratur, hingga belajar mandiri dalam segala hal. Beberapa kali masak menu biasa saja, sesempatnya. Selain harus belajar ngirit, belajar pula mengatur waktu. Dan Si Mbak yang mau skripsi, tak memperhatikan lagi apakah aku bisa masak atau tidak? Jangan-jangan, aku-nya saja yang pendendam....
Waktu terus bergulir. Buatku kuliah berjalan dengan menyenangkan. Banyak hal mengejutkan, tapi segera bisa menyesuaikan diri. Aku juga mulai banyak teman dan kegiatan di luar kampus.
Setelah beberapa waktu berlalu...
Dengan uang bulanan yang sangat pas-pasan, aku tak sempat memperhatikan perlengkapan untuk kamar tidur. Aku dan kawan se kamar masing-masing hanya puya satu. Termasuk sprei dan sarung bantalnya. Aku tak berpikir untuk mencari atau membeli sprei baru hingga suatu waktu aku menyadari, spreiku satu-satunya itu robek. Ah, apa hendak di kata. Untuk meminta ibu mengirimkan sprei baru, terlalu tanggung waktunya. Seminggu lagi aku akan pulang kampung. Nanti saja, saat aku pulang skalian ku bawa. Nah, supaya robeknya tak makin melebar, aku harus menjahit atau setidaknya menyulami dengan benang. Untung, ibu selalu mengingatkan aku untuk selalu menyiapkannya. Ku simpan rapi di laci dalam lemari pakaian.
Ketika sedang asyik mengulur benang, tiba-tiba kakak yang hendak skripsi masuk ke kamarku hendak menawari oleh-oleh dari kota asalnya.
"Buat apa, dik?" tanya si kakak melihatku mengulur benang.
"Buat jahit itu lho, mbak...spreiku robek" sahutku sambil menunjukkan sprei yang robek padanya.
"Oh...gitu? Kok bisa robek, sih?"
"Hehehe..iya, mbak..keseringan di cuci dan pakai kali...jadi kainnya aus"sahutku setengah malu.
"Terus, sekarang mau di jahit tangan?"
Aku mengangguk.
"Iso tah?"
Deg!. Pertanyaan itu lagi?
"Hehehe..ya di coba, mbak. Kenapa memangnya?"tanyaku, mencoba menengahi kesalku yang mulai timbul.
"Halah..sampean iku kan tomboy, iso tah nyulam?"
Aku memandang langsung ke wajahnya, ingin tahu mengapa dia terus-terusan menanyakan itu. Tapi dia lebih asyik memperhatikan spreiku yang robek.
"Sini, aku bantu jahitin...nanti kalau sampean yang jahit malah gak karuan...!"katanya lagi, sambil mengambil jarum yang sudah 'berisi" benang dari tanganku. Tanpa memperhatikan lagi mukaku yang mulai manyun.
Untuk menghilangkan kesal, aku memilih ke dapur, mengambil air minum. Sekembalinya dari minum, ternyata, Si Mbak sudah selesai menjahit spreiku. Cepat sekali!
Aku perhatikan jahitannya lumayan rapi. Si Mbak pergi ke kamarnya sendiri, sambil bilang," itu kuenya, jangan lupa di makan."
"Ya, mbak. Terimakasih,"jawabku singkat.
Hari itu, aku menerima pertanyaan yang cukup menyengat harga diri, tetapi aku mencoba menerima maksud baiknya. Ku pikir-pikir, mungkin saja Si Mbak memang hanya ketakutan aku tak bisa masak lalu kelaparan (meski warung makanan murah juga banyak), dan tak ingin aku direpotkan hal-hal yang membuatku tak nyaman sementara dia bisa membereskannya dalam sekejap!
Kejadian hari itu, kubiarkan saja berlalu lagi. Buat apa diingat, toh aku beruntung telah dibantu. Sampai suatu hari, aku berganti pasangan (teman sekamar) yang tak begitu pintar memasak tetapi karena tuntutan keuangan harus sering memasak. Beda dengan teman sekamarku sebelumnya yang lebih suka membeli makanan di warung atau di kampus. Akhirnya, kami sepakat untuk bergantian atau bersama-sama memasak makanan yang kami sepakati jenisnya. Karena berbeda asal daerah, selera kami sering berbeda. Tetapi, justeru karena itu kami sering bereksperimen. Memadukan masing-masing karakter. Karakter pengennya makanan asal jadi (asal enak, gak perlu jenis macam2), dan karakter jenis terbatas (karena jangkauan keuangan yang terbatas pula) tetapi ingin menu makanan yang bervariasi.
Akhirnya, terjadi sebuah "keajaiban" ketika hendak memasak ayam goreng ala kentucky (waktu itu ayam goreng jenis ini baru nge-trend), memutuskan untuk bereksperimen (walaupun alasan sebenarnya gak tahu cara yang benar), dan berhasil! Ya..dikatakan berhasil itu ketika enampuluh persen penampilan mirip, dan tujuh puluh lima persen rasa sama. Bangganya luar biasa...! Dan, imbas dari itu adalah Si Mbak tak lagi bertanya:"iso masak tah?"
Tapi pertanyaan si Mbak gak penting lagi, yang paling penting adalah menemukan resep kebanggaan kami berdua. Ketika teman lain bertanya apa resepnya, dengan senang hati kami membaginya. Tak tahu apa itu hak cipta atau paten, dan sebagainya. Senang adalah nomor satu!
Setelah keberhasilan resep itu, keesokan harinya aku pulang ke kampung halaman. Sekitar empat jam perjalanan dari tempat kost-ku. Ketika di rumah, aku sempatkan mencari wadah surat gantung yang aku buat sewaktu SMP. Wadah itu sengaja aku bawa karena membutuhkan wadah untuk surat atau pesan yang di tempat kostku biasa di gantungkan depan pintu kamar. Maksudnya, tak perlu menunggu aku pulang baru surat akan disampaikan. Cukup dimasukkan dalam kotak surat, dan nati aku akan mengetahuinya sepulang kuliah atau bepergian. Kecuali, ketika teman sekamarku ada.
Tak lupa kuceritakan kisahku di tempat kost pada ibu. Dan ibu hanya tersenyum, beliau tahu kok anaknya pandai masak. Sejak SD aku sudah diajari ibu membuat kue. Dan aku juga senang bereksperimen dengan bahan yang ada.
Keesokan harinya aku sudah harus kembali ke kost. Sesampainya di sana, aku langsung membuka oleh-oleh dan membaginya ke seluruh kamar. Ritual itu tak boleh terlewat, karena adalah kesempatan mencicipi makanan khas dari banyak daerah. Kalau di pikir-pikir, anak kost justeru kaya pengalaman kuliner ya?
Selesai membongkar oleh-oleh, aku langsung memasang wadah surat di depan pintu kamar, dan istirahat karena sudah malam. Keesokan paginya, Si Mbak ada di depan kamar sedang mempertahikan wadah suratku.
"Bagus, tuh wadah suratnya. Beli ya, dik?"tanya si Mbak.
"Enggak, mbak. Aku sendiri yang buat ketika SMP," jawabku santai.
"O, ya?" tanyanya balik, terlihat tak percaya.
Yah..mulai lagi, deh..keluhku dalam hati.
"Dik Novi yang menyulam?"tanya si mbak masih tak percaya.
"Iya, mbak. Ibuku yang ngajari aku nyulam. Belum banyak sih, teknik yang aku kuasai, belum sampai belajar teknik menyulam dengan dua jarum atau lebih".
Si Mbak terdiam. Tapi, karena ku lihat Si Mbak tak melepaskan pandangannya dari wadah suratku, aku juga jadi memperhatikan wadah suratku.
Wadah itu hanya berupa selembar kain katun warna hitam yang dilipat dan dijahit sedemikian rupa sehingga menyerupai amplop. Bagian depannya berhiaskan sulaman dengan beberapa teknik, dan berbagai warna dan bentuk bunga. Cantik.
Ouw! Aku jadi mengerti sekarang. Kenapa Si Mbak tak percaya. Sepertinya kejadian sprei robek itu....
Ah, supaya tak terjebak dalam perasaan tak enak, aku bergegas pamit hendak ke kamar mandi, bersiap pergi ke kampus. Hari ini, aku akan pakai baju kotak bahan flanel, dan celana lapangan hijauku. tak lupa topi dan buku catatan kecil telah berada di tas ransel. Karena aku mau pergi ke Taman Hutan Rakyat Suryo di kaki Gunung Arjuno. Belajar teknik pengamatan burung.
(Eh, apa mauku cerita ngalor-ngidul begini? Simpulkan sendiri aja, deh..ya??)
Jan 2, 2011
Perayaan yang sederhana
Setiap orang bebas merayakan tahun baru dengan berbagai alasan. Meski tak sedikit pula yang tak mengerti mengapa tahun baru harus dirayakan. Mungkin, bukan tahun barunya yang istimewa, tetapi momen kebersamaan dengan keluarga yang sebelumnya terpisah jauh karena berbagi sebab, dengan ini bisa berkumpul kembali.
Bagi pelajar, sejenak bebas dari mata pelajaran yang tidak disukai, mungkin adalah hal yang patut dirayakan.
Bagi pekerja, tak ada salahnya mengendurkan seidikit urat syaraf, mengumpulkan energi untuk beraktifitas kembali esok hari.
Bagi petani, barangkali ini saatnya sedikit memperoleh uang lebih dengan banyaknya orang yang berlibur dan bersantai.
Bagi orang tua, saatnya memandang kembali wajah keluarga yang sehari-hari harus berebut dengan pekerjaan orang-orang yang dicintainya.
Bagi ibu rumah tangga? Aha, agak sedikit sulit, tapi berlibur di luar rumah, keluar dari rutinitas dapur-kasur-sumur sangatlah menyegarkan! Dunai kan memang tak selebar 30m2 (luas rumah RSSS...) saja.
Tak ketinggalan para tetangga yang tinggal diperkampungan, mereka juga turut merayakan tahun baru dengan cara mereka sendiri. Aku tak tahu alasan mereka. Tapi, kenapa harus ada alasan spesial? Toh, alasan bisa diciptakan. Yang penting, berkumpul dengan para tetangga yang jarang bertemu dalam keseharian menumbuhkan rasa gembira dan persaudaraan. Sesederhana apapun makanan, yang penting: KUMPUL dan BERGEMBIRA...!
Apalagi?
Tahun Baru lagi...!
SELAMAT TAHUN BARU...!
Meski tahun 2010 adalah tahun harapan tak seindah kenyataan, tak boleh ada kata menyesal. Selama hayat di kandung badan, pantang surut langkah kebelakang.
Mengambil inspirasi dari sebuah film kartun, waktu tak bisa terulang, dan dia akan: KEEP MOVING FORWARD!
Jadi, semangat harus dipompa kembali. Biar tetap sanggup membawa langkah ke depan. Sanggup menggapai cita-cita, yang mungkin saja sekedar tertunda, atau belu nampak sama sekali.
Semangaat!
Dec 30, 2010
Penjahat di Kampung SUKAMAJU



Coba simak ini:" saya tidak akan mundur hanya karena desakan sebagian orang (supporter-red). Bayangkan apa yang akan terjadi jika setiap ada demo desakan untuk mundur, lalu seorang seperti presiden langsung mundur? Apa tidak menambah ruwet? Saya yakin upaya politisasi saja!"
Merasa familiar dengan peryataan ini?
Yup! Ini adalah pernyataan (yang saya terjemahkan secara bebas) dari seorang yang telah menganggap dirinya presiden yang kebal upaya pemakzulan. Dengan wajah yang yakin (plus memuakkan- bagi saya), dia menegaskan sekali lagi: TAKKAN MUNDUR!
Ggrrhhhhh.....! Geram, gemas, kesal, muak...dan segala istilah yang tak mengenakkan perut dan hati rasanya semakin menggumpal dan mem-fusi menjadi energi luar biasa yang mungkin bisa menyebabkan seorang yang anti daging haram (seperti saya-wek!), bisa memakannya mentah-mentah!
Apa istilah yang tepat untuk menggambar seorang yang tak tahu malu ini? Ya..butuh banyak masukan untuk itu, karena istilah tak tahu malu rasanya masih kurang pas.
Lalu seorang teman masuk dalam FB dengan menyebutnya PENJAHAT!
Hmm...mungkin juga! Aku jadi ingat, perseteruan INA dan MAL ini sudah mengurat syaraf, bahkan sampai menyebutkan ini adalah perang antara UNYIL dan UPIN-IPIN. Dan, remaja atau anak di masa tahun '80-an pasti masih ingat ada satu tayangan yang ditunggu setiap minggu tak lain adalah seri Unyil dan kawan-kawan. Dan, di sana ada penjahat yang sering mengganggu kampungnya Unyil yang bernama SUKAMAJU itu. Kepala botak, suka pakai baju bergaris, wajahnya seram (yang sayangnya mirip gambaran Markus ya..hehehe-sori!)..dan suka menculik anak, atau nenek (jika tak dapat mangsa yang kakap). Itu dia...mirip bukan dengan seorang ini? Dia begitu menyiderai semangat anak bangsa yang sangat ingin maju, sementara Pak Lurah-nya malah sering kalah sama Pak Raden.
Aku lebih suka menyebutnya benda hidup (bukan makhuk hidup)! Karena -kata temanku-ini urusan perut sehingga dia menolak mundur. Tak ada kaitannya dengan kehormatan diri, apalagi kehormatan bangsa. Dia sebentuk benda primitif, dengan hanya berupa sel yang berisi mitokondria (otak sel), yang nanti akan mengintruksikan tubuhnya untuk membelah diri jika lingkungan mendukungnya. Jelaslah itu bukan otak sebenarnya..! Tak ada pula organ lain seperti hati, atau jantung! Hanya otak primitif, dan perut semata!
Oh, dunia...! Memang tak lebih dari panggung sandiwara...! Jika ingin cerita, selalu ada peran antagonis. Tapi, kemana pahlawan penyelamatnya?
Ah, yang ada barulah para cecunguk politik yang bisanya hanya membonceng ketenaran dan prestasi orang lain!
Apakah dia sang GARUDA?
Mudah2an memang dia, yang memberikan kembali rasa percaya diri rakyat yang terluka harga dirinya. Bersama prajurit gagah berani, menggebrak belenggu, mengepakkan sayap terbang tinggi di udara...!
(Wah, sudah mulai tak terkendali nih...!)
Semangat yang telah tersemat di dada, jangan runtuhkan oleh tingkah pecundang semata! Bersatulah kawan, kita sudah menemukan satu musuh bersama. HAJAARR...!!
Dec 29, 2010
GARUDA
h





Sejak kapan GARUDA ada lagi di dada banyak manusia Indonesia?
Kalau yang pernah mengalami yang namanya penataran P4 jaman Orde Baru dulu, tahu lah...! Tapi, setelah masa itu berlalu, banyak yang tak lagi hafal apa saja yang menempel di lambang negara itu. Termasuk saya...hehehe...
Sejak ada piala AFF?
Mungkin saja. Tapi, apakah itu gak akan jadi musiman saja?
Mungkin juga.
Sejak sedikit "melek" dengan kondisi bangsa, rasanya sulit menemukan kebanggaan dari sebuah negara bernama Indonesia, sekalipun itu negara tempat aku dilahirkan. Yah..kalau dinilai terlalu subyektif, sih..sah-sah saja. Tapi, itulah yang di rasakan banyak orang.
Berbangga pada prestasi para pemuda-nya, lalu perih mata dan hati memandang perilaku tetua dan pemegang kendali pemerintahan. Eksekutif, Yudikatif dan Legislatif...semuanya hopeless!
Korupsi..korupsi..korupsi...!
Bencana..bencana..bencana...!
Sedih..duka..lara..!
Dan, entah mengapa lara itu sedikit menguap ketika membicarakan final piala AFF. Seakan berubah, berganti berwujud medan laga yang akan jadi tumpuan kebanggaan, yang akan di bela hidup atau mati!
Bukankah luar biasa?
Bahkan, saya pun tertular semangat itu. Meski untuk beli atributnya mikir-mikir...MAHAL, bo! Yang penting kan apresiasi kita, bukan semata simbol!
(Hehe...ngeles!)
Kalau dulu cuma kenal BP, sekarang bisa tahu dan suka dengan perjuangan Nasuha, Arif Suyono, atau rfan Bachdim yang jadi idola remaja itu.
Weeh...seru nih!
Hari ini pertandingan final AFF leg II di stadion Gelora Bung Karno. Tanggal 26 Desember 2010 kemarin, timnas sudah lumat di gilas Harimau Malaya. Meski banyak nada minor untuk kemenangan ini, tetap saja di sebut KALAH!
Mau tak mau, kita harus menerimanya dengan lapang dada, dan segera fokus berjuang dengan mental pemenang. Tak mencari-cari alasan kekalahan. Lupakan itu Nurdin, lupakan itu Bakrie, lupakan politikus yang numpang nampang, bahkan lupakan saja 3 gol itu.
Garuda, bisa membawa kita terbang tinggi, tapi jangan patahkan sayap-sayapnya.
No excuse, No mercy!
Chayo..! Semangat!
(Meski sekarang dalam kondisi sakit).






Sejak kapan GARUDA ada lagi di dada banyak manusia Indonesia?Kalau yang pernah mengalami yang namanya penataran P4 jaman Orde Baru dulu, tahu lah...! Tapi, setelah masa itu berlalu, banyak yang tak lagi hafal apa saja yang menempel di lambang negara itu. Termasuk saya...hehehe...
Sejak ada piala AFF?
Mungkin saja. Tapi, apakah itu gak akan jadi musiman saja?
Mungkin juga.
Sejak sedikit "melek" dengan kondisi bangsa, rasanya sulit menemukan kebanggaan dari sebuah negara bernama Indonesia, sekalipun itu negara tempat aku dilahirkan. Yah..kalau dinilai terlalu subyektif, sih..sah-sah saja. Tapi, itulah yang di rasakan banyak orang.
Berbangga pada prestasi para pemuda-nya, lalu perih mata dan hati memandang perilaku tetua dan pemegang kendali pemerintahan. Eksekutif, Yudikatif dan Legislatif...semuanya hopeless!
Korupsi..korupsi..korupsi...!
Bencana..bencana..bencana...!
Sedih..duka..lara..!
Dan, entah mengapa lara itu sedikit menguap ketika membicarakan final piala AFF. Seakan berubah, berganti berwujud medan laga yang akan jadi tumpuan kebanggaan, yang akan di bela hidup atau mati!
Bukankah luar biasa?
Bahkan, saya pun tertular semangat itu. Meski untuk beli atributnya mikir-mikir...MAHAL, bo! Yang penting kan apresiasi kita, bukan semata simbol!
(Hehe...ngeles!)
Kalau dulu cuma kenal BP, sekarang bisa tahu dan suka dengan perjuangan Nasuha, Arif Suyono, atau rfan Bachdim yang jadi idola remaja itu.
Weeh...seru nih!
Hari ini pertandingan final AFF leg II di stadion Gelora Bung Karno. Tanggal 26 Desember 2010 kemarin, timnas sudah lumat di gilas Harimau Malaya. Meski banyak nada minor untuk kemenangan ini, tetap saja di sebut KALAH!
Mau tak mau, kita harus menerimanya dengan lapang dada, dan segera fokus berjuang dengan mental pemenang. Tak mencari-cari alasan kekalahan. Lupakan itu Nurdin, lupakan itu Bakrie, lupakan politikus yang numpang nampang, bahkan lupakan saja 3 gol itu.
Garuda, bisa membawa kita terbang tinggi, tapi jangan patahkan sayap-sayapnya.
No excuse, No mercy!
Chayo..! Semangat!
(Meski sekarang dalam kondisi sakit).
Dec 23, 2010
Hari Ibu
Apr 16, 2010
Buka Mata


Cilebut, malam hari.
Jam di tangan sudah menunjukkan pukul sembilan lebih lima belas menit, ketika kami (saya dan suami) sampai di pintu perlintasan kereta tak resmi menuju rumah. Jalan ini biasa kami pilih karena merupakan jalur terdekat meski, hanya berupa gang kecil yang hanya cukup untuk satu motor.Gang ini biasa di sebut gang Marhadi.
Melihat motor kami hendak melintas, sang penjaga pintu keluar dari pos berupa gubuk dan memberikan aba-aba dengan gerakan tangannya agar kami terus saja melintas. Dalam kepekatan malam yang mencoba ditembus lampu neon, padangan saya dengan segera menangkap sosok yang saya kenal.Penjaga pintu kereta itu adalah seorang nenek yang berpakaian sederhana, dengan rambut memutih yang tersembul dari kerudung yang diukel sekenanya.
Nenek Amah namanya. Rumahnya tak jauh dari pintu perlintasan ini. Kami sudah kenal sejak pindah rumah ke Cilebut. Seketika menimbulkan kembali niat untuk mengetahui lebih detil kehidupan sang nenek. Akhirnya, kami memutuskan untuk berhenti dan sedikit berbincang.
“Kok, sendirian nek?” tanyaku. Ini kutanyakan karena beberapa kali melihat nenek “beraksi” macam ini ditemani beberapa orang.
“Ah, siapa yang mau nemenin nenek?”tanya nenek balik.
“Lho, biasanya kan ada yang nemenin?”
“Nggak, nenek biasa sendiri. Gantiin Anim, kalau dia sudah pulang,”timpal Nenek lagi.
Aku tak melanjutkan pertanyaan lagi walaupun tahu beberapa kali melihat nenek tidak sendirian. Aku menduga, teman di pos jaga hanya ingin nongkrong, tidak untuk sengaja menemani nenek “bertugas”.Maklum, rumah kontrakan yang berderet dekat pos terjepit jalan raya dan rel kereta. Jadi, ketika ingin “ngadem” tapi tak punya beranda atau halaman belakang, ke pos jaga lah larinya. Bisajadi kan? Apalagi di siang hari banyak juga yang nogkrong di pos ini.
Yang aku tahu, meskimalam telah larut dan kereta yang membawa penumpang tinggal sisa, nenek tetap mau mengambil alih pekerjaan menantunya Ujang, dan tetangganya Anim, demi sekedar mengharapkan “sisa” kebaikan pelintas rel malam hari.Karenaesok, nenek harus tetap makan. Dia tak mau bergantung pada anak dan menantunya yang penghasilannya hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Di siang hari nenek tak tinggal diam.Nenek biasa mencari nafkah dengan cara mencari dan menjual daun pisang pada siapa saja yang memerlukan. Atau, menjual tenaganya dengan mengisikan kapuk pada kasur milik tetangga. Apapun, semampunya.
Hening terpecahkan oleh sorot lampu dari arah Selatan.Dari Stasiun Cilebut, kereta ekonomi bergerak menuju Stasiun Bogor.Beberapa motor yang tadinya tertahan palang pintu,kembali bisa melintas sambil memandangi kami yang tengah asyik memotret.Sayang, mereka lupa tak menaruh uang dalam kaleng yang diletakkan di pangkal palang pintu itu.Tapi, bukankah memang tak ada kewajiban atau aturan tertulis? Uang untuk penjaga hanya bergantung pada “kesadaran” pengguna gang dan perlintasan saja.
Cara nenek memperjuangan hidup, membuatku tertarik untuk menemui nenek di rumahnya besok pagi.
“Besok pagi ada di rumah, nek?”tanyaku ragu.
“Iya, ada!” jawab nenek lugas.Aku lega sekaligus tertegun. Tak terlihat di wajahnya sebuah keraguan, atau pertanyaan “untuk apa atau mau ngapain?”. Kalimat itu yang sering aku tanyakan kepada orang yang hendak silaturahmi ke rumahku. Maklum, sebagian besar orang tidak mengunjungi rumahku tanpa tujuan tertentu. Jadi, otomatis saja keluar dari pikiranku. Ah, aku jadi malu sendiri. Kalimat yang sudah aku siapkan untuk menjawab “pertanyaan” yang tidak ditanyakan oleh nenek seketika menjadi lenyap begitu saja dari otakku.
Sebagai tanda terimakasih, saat pamit kuselipkan sedikit uang ke tangan nenek. Nenek tersenyum dan berucap terimakasih.
Pagi
Dari deretan rumah sangat sederhana di pinggiran sungaiKalibaru yang curam di bibir jalan ruas Kebon Pedes – Cilebut – Bojonggede, “tergantunglah” rumah milik nenek.Mengapa tergantung? Betapa tidak, rumah nenek berada di atas tebing sungai yang sangat curam, bahkan bisa dikatakan tegak lurus. Sewaktu-waktu air hujan bisa menggerus dinding sungai, dan menghanyutkan apapun di atasnya. Bayangan buruk ini bukan tidak mustahil. Sepanjang jalan dari Jalan Baru hingga Bojonggede, banyak sisi jalan yang berbibir tebing sungai telah mengalami longsor dan sangat membahayakan pengguna jalan.Mungkin, rumah nenek sedikit “beruntung”, karena ditopang rumpun bambu dibelakangnya.
Tapi sesungguhnya, jika tak jeli, rumah nenek ini mungkin tak terlihat sebagai rumah karena lebih menyerupai bilik, dengan dinding campuran potongan triplek, seng dan bambu berukuran 3x 3 meter. Letaknya paling ujung dari deretan, dan menempel pada rumah anak bungsunya yang juga berdinding bambu. Rumah ini hanya terdiri dari dua ruangan saja. Satu ruang lagi diisi tempat tidur dan penampung air beserta sedikit perabotan, satu ruang kecil lain adalah dapur dengan tungkunya.
Saat aku kunjungi, Nenek tak terlihat sedang memasak apapun di dapur nan kecil itu. Tak ada asap dari tungku. Abu bekas kayu bakarpun nampak telah dingin. Hanya dua ekor anak ayam di cat warna –warni yang menjadi piaraannya, asyik bermandi abu dari tungku.
Di rumah nan mungil itu, hanya ada sarana yang sangat sederhana. Satu-satunya penerangan miliknya adalah bohlam yang ada tepat di tengah ruangan. Itupun hanya bisa dinyalakan dari rumah sang anak. Di atap rumah, ada talangberkarat yang diselipkan di bawah genting untuk menampung air hujan. Talang itu disambungkan dengan corong dan selang plastik untuk mengalirkan air ke dalam tampungan di dalam rumah. Airhujan yang tertampung digunakan untuk berbagai macam keperluan seperti mencuci perabotan dan membersihkan diri ketika malam hari. Jika sedang tidak turun hujan, nenek terpaksa meminta air kepada tetangga. Salah satunya mengambil dari sumur di dalam kebun jati. Sedangkan untuk MCK, nenek biasa mengandalkan sungai Ciliwung yang jaraknya sekitar seratus meter dari rumahnya.
Rumah nenek juga tak berjarak dari pinggir jalan raya. Keluar dari pintu rumah, nenek sudah berhadapan dengan lalu lalang kendaraan yang semakin hari semakin ramai. Bukan tidak mungkin, setiap saat bahaya bisa menghampiri. Tapi, nenek tidak punya pilihan. Kehidupan anak-anaknya yang lain juga tidak lebih baik darinya. Dia lebih suka dekat anak bungsunya, yang memberikan satu cucu buah perkawinannya dengan Ujang, yang juga penjaga pintu perlintasan kereta.
Apakah bantuan pemerintah sudah pernah menyentuhnya? Saya tidak melihat jejaknya.
Cilebut, April 2010
Mar 30, 2010
Kangen...
Jadi kangen sama kamu, Blog..? Lama tak kujumpai. tapi sebentar lagi mungkin aku akan rajin menemuimu. Sebenarnya calon isimu sudah banyak...tapi, susah OL-nya..! Maklum, modem yang pernah kubanggakan itu merusak komputerku..Si Hoki. Jadi, kuputuskan tidak menggunakan modem dulu. Dan, ke warnet dulu deh...hehe..!
okelah...segini dulu kehadiranku. sampai jumpa lain kali, ya?
love u!
okelah...segini dulu kehadiranku. sampai jumpa lain kali, ya?
love u!
Jan 9, 2010
Bersyukur...

Sesuai judul "hidup itu indah", seperti itulah hidupku tahun 2009 yang baru berlalu. pernuh warna. tak terlalu gemerlap, tetapi tetap indah.
keindahan yang sederhana. Pernikahan si bungsu, memberi warna "lega" dan bangga. Dan, telah lunasnya rumah yang sejak tahun 2004 kami tempati, memberi warna puas, pun bangga. Meski mungkin bagi sebagain orang "prestasi" ini biasa saja, tapi bagiku ini luar biasa. Mengingat perjuangan kami yang cukup berat, dan dari hasil yang bersih tanpa korupsi!
Semoga kesederhanaan hidup kami, memberi berkah pada kehiduoan kami seterusnya. Amiinn...
Jul 2, 2009
Salah...?
Apa yang dilakukan orang ketika merasa bersalah?
Meminta maaf.
Bisa dan harus.
Dimaafkan? Mungkin. Tapi itu biasanya bisa dilakukan setelah amarah sang ”korban” telah luruh. Karena ketika amarah masih membuncah, tidak mungkin dia memaafkan kita.
Bahkan hanyut dalam gemuruh murka.
Lumat oleh godam kebencian.
Apa yang paling penting untuk diungkapkan ketika meminta maaf?
Mengakui kesalahan dan berjanji tak akan mengulangi kesalahan.
Selesai? Mungkin.
Sebaiknya kita siap menerima caci maki.
Siap di usir dari hadapannya.
Apa yang membuat kita melakukan kesalahan lagi?
Kekhilafan?
Mungkin. Sepertinya lebih karena kebodohan.
Bagaimana dengan ketidaktahuan?
Itulah manusia. Jika tidak karena khilaf, maka dia akan melakukan kesalahan karena tidak tahu.
Aku manusia.
Aku salah.
Aku bodoh.
Aku khilaf.
Aku meminta maaf.
Caci maki aku.
Aku terima.
Aku telah belajar.
Mudah-mudahan aku tak melakukan kesalahan,
Padamu dan pada yang lainnya.
Tentangmu, dan tentang lainnya.
Lagi.
Meminta maaf.
Bisa dan harus.
Dimaafkan? Mungkin. Tapi itu biasanya bisa dilakukan setelah amarah sang ”korban” telah luruh. Karena ketika amarah masih membuncah, tidak mungkin dia memaafkan kita.
Bahkan hanyut dalam gemuruh murka.
Lumat oleh godam kebencian.
Apa yang paling penting untuk diungkapkan ketika meminta maaf?
Mengakui kesalahan dan berjanji tak akan mengulangi kesalahan.
Selesai? Mungkin.
Sebaiknya kita siap menerima caci maki.
Siap di usir dari hadapannya.
Apa yang membuat kita melakukan kesalahan lagi?
Kekhilafan?
Mungkin. Sepertinya lebih karena kebodohan.
Bagaimana dengan ketidaktahuan?
Itulah manusia. Jika tidak karena khilaf, maka dia akan melakukan kesalahan karena tidak tahu.
Aku manusia.
Aku salah.
Aku bodoh.
Aku khilaf.
Aku meminta maaf.
Caci maki aku.
Aku terima.
Aku telah belajar.
Mudah-mudahan aku tak melakukan kesalahan,
Padamu dan pada yang lainnya.
Tentangmu, dan tentang lainnya.
Lagi.
Apr 2, 2009
Dari sebuah kotak berjalan....
Hari Senin telah tiba kembali setelah enam hari menghilang. Aku memilih mengisinya dengan mencari sembuh.
Kotak yang aku naiki, mulai berjalan perlahan. Mereka bilang ini kereta. Mungkin. Tapi yang kurasakan ini hanyalah kotak yang tengah berjalan, berisi manusia-manusia egois. Tak mau memberi duduk pada mereka yang lebih membutuhkan. Sudah menjadi suratan kah ketika yang duduk itu para pemuda, dan yang berdiri di atas kaki yang gemetar adalah para sepuh? Huh! Aku mulai merasakan sebal. Mana para petugas itu? Tempat duduk prioritas untuk para sepuh dan hamil telah penuh dengan pemuda gagah, yang duduk nyaman terkantuk-kantuk... Di dalam kotak ini, aku tak merasakan hidup.
Kotak panjang yang aku naiki telah sampai di stasiun tujuanku. Aku turun, dan mulai bernapas lega. Kehidupan sudah nampak. Seorang penjual makanan tengah bercengkrama dengan pembelinya. Mereka tertawa. Aku merasa sedikit hidup..
Melangkah menapaki jalanan. Mencoba menemukan hidup yang lain.
Lelaki kurus itu tengah menengadahkan topinya yang lusuh, mengharap seseorang yang tengah melewatinya, sepertiku, memberinya sedikit uang. Untuk makan, mungkin.
Aku memandanginya sejenak. Wajahnya yang kuyu sedikit menggangguku. Tidak, aku tidak mau tertipu wajah memelas itu...
Aku memalingkan muka, dan kembali berjalan.
Tapi, sesuatu membuatku menoleh lagi padanya.
Apakah aku telah kehilangan hidup? Mungkin. Aku telah menolak merasa kasihan padanya.
Aku melangkah lebih jauh lagi darinya. Lebih cepat...!
Kotak lain telah menungguku. Tak perlu menunggu lama, kotak itu telah membawaku semakin pergi menjauh.
Tapi mengapa tubuhku terasa berlubang? Kosong...
dan dari benakku, wajah pengemis itu tak mau pergi.
Kotak yang kunaiki berhenti sebentar di persimpangan. Dua roda yang berjubelan dan saling serobot tak menarik perhatianku. BOsan...
Di sebuah sudut gang di seberang jalan, tiba-tiba muncul sesosok yang berjalan terseok. Di pundaknya menggantung tiga buah kasur lipat yang membuat langkahnya makin gemetar. Di dekat warung kecil langkahnya terhenti. Disandarkannya beban itu pada pagar tembok, lalu mengambil napas. Topi yang menutupi kepalanya lepas tertiup angin. Dug! Dadaku semakin berlubang. Wajah keriputnya nampak semakin nyata.
Napasnya yang memburu tak tertutupi oleh bajunya yang tipis.
Sejenak, matanya tertuju pada warung kecil reot di dekatnya. Dengan langkah tertatih, kakek tua itu mencoba menawarkan kasur dagangannya pada pengunjung warung. Sayang, dia menggeleng. Padahal aku sangat berharap dia bisa membantu mengurangi bebannya.
Si ibu pemilik warung menatapnya iba, dan mulai mendekati si kakek. Tapi, entah apa yang di bicarakannya, tapi yang aku lihat Si Ibu tak dapat membantunya.
Dia hanya bisa menawarinya minum segelas air putih. Tapi nampaknya itu cukup membuat kakek senang. Dengan wajah tersenyum, kakek melanjutkan langkahnya. Mungkin mencari pembeli di tempat lain.
Lubang di dadaku semakin lebar. Aku mengutuk kotak berjalan ini yang tak bisa berhenti di sembarang tempat seperti kotak yang lain. Kalau tidak, mungkin aku bisa berbuat sesuatu untuknya...
Perlahan, lubang itu terisi sesuatu yang membuatku merasa sakit. Dadaku terasa sesak dan berat. Aku tak lagi mampu berdiri.
Aku terpekur.
Apakah aku telah hidup? Apakah aku mampu hidup?
Apakah aku mampu membantu yang lain tetap hidup?
Tuhan, tolong hamba...!
Kotak yang aku naiki, mulai berjalan perlahan. Mereka bilang ini kereta. Mungkin. Tapi yang kurasakan ini hanyalah kotak yang tengah berjalan, berisi manusia-manusia egois. Tak mau memberi duduk pada mereka yang lebih membutuhkan. Sudah menjadi suratan kah ketika yang duduk itu para pemuda, dan yang berdiri di atas kaki yang gemetar adalah para sepuh? Huh! Aku mulai merasakan sebal. Mana para petugas itu? Tempat duduk prioritas untuk para sepuh dan hamil telah penuh dengan pemuda gagah, yang duduk nyaman terkantuk-kantuk... Di dalam kotak ini, aku tak merasakan hidup.
Kotak panjang yang aku naiki telah sampai di stasiun tujuanku. Aku turun, dan mulai bernapas lega. Kehidupan sudah nampak. Seorang penjual makanan tengah bercengkrama dengan pembelinya. Mereka tertawa. Aku merasa sedikit hidup..
Melangkah menapaki jalanan. Mencoba menemukan hidup yang lain.
Lelaki kurus itu tengah menengadahkan topinya yang lusuh, mengharap seseorang yang tengah melewatinya, sepertiku, memberinya sedikit uang. Untuk makan, mungkin.
Aku memandanginya sejenak. Wajahnya yang kuyu sedikit menggangguku. Tidak, aku tidak mau tertipu wajah memelas itu...
Aku memalingkan muka, dan kembali berjalan.
Tapi, sesuatu membuatku menoleh lagi padanya.
Apakah aku telah kehilangan hidup? Mungkin. Aku telah menolak merasa kasihan padanya.
Aku melangkah lebih jauh lagi darinya. Lebih cepat...!
Kotak lain telah menungguku. Tak perlu menunggu lama, kotak itu telah membawaku semakin pergi menjauh.
Tapi mengapa tubuhku terasa berlubang? Kosong...
dan dari benakku, wajah pengemis itu tak mau pergi.
Kotak yang kunaiki berhenti sebentar di persimpangan. Dua roda yang berjubelan dan saling serobot tak menarik perhatianku. BOsan...
Di sebuah sudut gang di seberang jalan, tiba-tiba muncul sesosok yang berjalan terseok. Di pundaknya menggantung tiga buah kasur lipat yang membuat langkahnya makin gemetar. Di dekat warung kecil langkahnya terhenti. Disandarkannya beban itu pada pagar tembok, lalu mengambil napas. Topi yang menutupi kepalanya lepas tertiup angin. Dug! Dadaku semakin berlubang. Wajah keriputnya nampak semakin nyata.
Napasnya yang memburu tak tertutupi oleh bajunya yang tipis.
Sejenak, matanya tertuju pada warung kecil reot di dekatnya. Dengan langkah tertatih, kakek tua itu mencoba menawarkan kasur dagangannya pada pengunjung warung. Sayang, dia menggeleng. Padahal aku sangat berharap dia bisa membantu mengurangi bebannya.
Si ibu pemilik warung menatapnya iba, dan mulai mendekati si kakek. Tapi, entah apa yang di bicarakannya, tapi yang aku lihat Si Ibu tak dapat membantunya.
Dia hanya bisa menawarinya minum segelas air putih. Tapi nampaknya itu cukup membuat kakek senang. Dengan wajah tersenyum, kakek melanjutkan langkahnya. Mungkin mencari pembeli di tempat lain.
Lubang di dadaku semakin lebar. Aku mengutuk kotak berjalan ini yang tak bisa berhenti di sembarang tempat seperti kotak yang lain. Kalau tidak, mungkin aku bisa berbuat sesuatu untuknya...
Perlahan, lubang itu terisi sesuatu yang membuatku merasa sakit. Dadaku terasa sesak dan berat. Aku tak lagi mampu berdiri.
Aku terpekur.
Apakah aku telah hidup? Apakah aku mampu hidup?
Apakah aku mampu membantu yang lain tetap hidup?
Tuhan, tolong hamba...!
Mar 28, 2009
Hari yang aneh...
Hari yang aneh…
Mata berkantung seperti tak tidur seminggu, kepala terasa berat, badan lemas dan cuaca teramat panas sanggup membuat kelabakan seperti cacing kepanasan...
Aku jadi tak sempat berpikir, apalagi yang bisa menambahi factor nelangsaku ini? Biar sekalian hidupku semakin terasa runyam. Kalimat bijak sih bilang “ingat mudamu sebelum tuamu”, tapi itu bukan menghibur, malah makin menyesaki dada. Ya..ya..ya! siapa yang akan mengatakan usia 34 itu tua? Mungkin untuk para atlet atau dunia modeling. Tapi, dengan kombinasi rasa tubuh yang seperti itu, rasanya tak percaya masih bisa mengaku muda. Loyo, tak bergairah, tak bertenaga…idih, seperti tukang jamu yang baru memulai promo khasiat jamu racikannya aja….
Eh, sepertinya ide minum jamu boleh juga. Sudah lama tidak mengkonsumsi macam-macam tanaman dengan bau menyengat itu. Siapa tahu gejala low bat-ku ini berkurang. Tapi jamu apa ya? Pegel linu, aku gak merasa pegel2 kok...apalagi encok. Penambah gairah...wih, enggak deh. Takut.efek yang enggak-enggak eh, yang iya-iya! Hi..hi hi..!
Atau, aku ini lagi kena sawan? Itu tuh, gejala sakit (seperti demam) yang tidak bisa di definisikan secara medis. Dan, hanya ”orang-orang pintar” yang bisa menyembuhkan! Seperti jaman kecilku dulu yang harus di “suwuk” supaya sakit “sawan”nya hilang.
Ya...maksudku bukan yang semacam profesor atau doktor itu, tapi orang pintar dengan definisi ”tidak semua orang bisa melakukannya”. (Dan, karena kita sebagai pem-butuh orang pintar tidak tahu apa yang harus dilakukan. He.he..)
Seperti apa orang pintar itu?
Di jaman kecilku dulu, ciri-ciri orang pintar ini biasanya bergelar ”mbah”, tak peduli umurnya masih muda atau benar-benar tua, laki-laki atau perempuan.
Si Embah datang dengan penampilan sangat ”manusiawi”. Tak membawa peralatan khusus macam stetoskop untuk menguping detak jantung, atau jarum berisi cairan pengusir kuman yang sering membuat anak kecil takut – termasuk aku. Embah perempuan, - sering bergelar tambahan ”nyai”- biasanya datang ke rumah pasien dengan kebaya kusam dan kain yang dililit sekenanya (atau karena bergelar embah tak menjamin kesejahteraan?). Di kepalanya terikat selendang yang berlepotan bercak merah bekas ludah sirih-pinang (nginang) yang dikunyah. Di sudut mulutnya terjejal segumpal tembakau yang berfungsi untuk menggosok gigi dan mengusap mulut bekas meng-inang. Sedikit aroma tengik segera mengganggu hidung ketika si embah mendekat. Tapi anehnya, aroma itu jauh lebih menenangkan ketimbang bau obat yang di bawa oleh dokter berbaju rapi.
Mungkin itu karena aku tahu, Si Embah tidak akan memberiku obat yang pahit. Kecuali aku nakal, pasti akan di cekoki ramuan temulawak dan kunyit. Biar doyan makan katanya. Lah, nyambung nggak?
Seingatku, begini cara kerja Embah. 1. Membuat ramuan pijat/urut: dua sendok makan minyak goreng buatan sendiri dari kelapa, dicampur irisan bawang merah. 2. membalur tubuhku dengan ramuan. 3. mulai mengurut badan sambil mulut komat-kamit (mengucap mantra/doa). 4. di goreng....eh, dikasih air yang telah di bei mantra (doa). 5. Embah meminum sisa air doa, lalu di sembur ke seluruh tubuhku. Burr....!
Sembuh? Alhamdulillah begitu. Langsung? Tentu tidak. Setelah serangkaian ritual itu, aku biasanya bisa tidur nyenyak bin tenang. Nanti sore atau keesokan harinya aku bangun dengan badan lebih segar.
Hebatkan, cara penyembuhan Si Embah? Jaman dulu semuanya terasa serba ajaib dan mistis. Si Embah benar-benar menjelma menjadi orang pintar dambaan para pesakitan. Tanpa usaha neko-neko, si sakit jadi sembuh.
Tapi, ketika jaman berganti, kepintaran Si Embah ternyata semua serba masuk akal. Sawan si kecil datang karena terlalu capek bermain, ingin di manja, dan di support oleh orang terdekatnya. Ketika sentuhan (pijat) itu datang, dan disertai doa (mantra/doa), secara berangsur tubuh menjadi lebih nyaman dan relax. Apalagi disertai aroma alami dari bawang, bahkan ”tengik” sekalipun. Bukankah seperti melakukan terapi pijat dan aroma di spa?
Bagaimana dengan air bermantra? Ilmuwan Jepang telah membuktikan. Air yang telah disertai doa atau kata-kata yang indah berubah wujud menjadi kristal yang indah, lalu menjadi obat yang mujarab bagi setiap penyakit.
Lalu, semburan itu?
Katanya untuk mengusir roh jahat yang hendak mengganggu kita. Tapi ah, percayalah....semburan itu tanda sayang dari orang-orang tua yang mengasihani kita..... Bukankah di sayangi itu menenangkan jiwa yang gersang (ciee...)?
Beres kan?
Lalu apa hubungan judul dan tulisan itu? Sepertinya nggak nyambung?
Memang! Tapi, Aku sendiri tidak memikirkan aneh tidaknya hari ini.... Jadi, apanya yang aneh?
Mata berkantung seperti tak tidur seminggu, kepala terasa berat, badan lemas dan cuaca teramat panas sanggup membuat kelabakan seperti cacing kepanasan...
Aku jadi tak sempat berpikir, apalagi yang bisa menambahi factor nelangsaku ini? Biar sekalian hidupku semakin terasa runyam. Kalimat bijak sih bilang “ingat mudamu sebelum tuamu”, tapi itu bukan menghibur, malah makin menyesaki dada. Ya..ya..ya! siapa yang akan mengatakan usia 34 itu tua? Mungkin untuk para atlet atau dunia modeling. Tapi, dengan kombinasi rasa tubuh yang seperti itu, rasanya tak percaya masih bisa mengaku muda. Loyo, tak bergairah, tak bertenaga…idih, seperti tukang jamu yang baru memulai promo khasiat jamu racikannya aja….
Eh, sepertinya ide minum jamu boleh juga. Sudah lama tidak mengkonsumsi macam-macam tanaman dengan bau menyengat itu. Siapa tahu gejala low bat-ku ini berkurang. Tapi jamu apa ya? Pegel linu, aku gak merasa pegel2 kok...apalagi encok. Penambah gairah...wih, enggak deh. Takut.efek yang enggak-enggak eh, yang iya-iya! Hi..hi hi..!
Atau, aku ini lagi kena sawan? Itu tuh, gejala sakit (seperti demam) yang tidak bisa di definisikan secara medis. Dan, hanya ”orang-orang pintar” yang bisa menyembuhkan! Seperti jaman kecilku dulu yang harus di “suwuk” supaya sakit “sawan”nya hilang.
Ya...maksudku bukan yang semacam profesor atau doktor itu, tapi orang pintar dengan definisi ”tidak semua orang bisa melakukannya”. (Dan, karena kita sebagai pem-butuh orang pintar tidak tahu apa yang harus dilakukan. He.he..)
Seperti apa orang pintar itu?
Di jaman kecilku dulu, ciri-ciri orang pintar ini biasanya bergelar ”mbah”, tak peduli umurnya masih muda atau benar-benar tua, laki-laki atau perempuan.
Si Embah datang dengan penampilan sangat ”manusiawi”. Tak membawa peralatan khusus macam stetoskop untuk menguping detak jantung, atau jarum berisi cairan pengusir kuman yang sering membuat anak kecil takut – termasuk aku. Embah perempuan, - sering bergelar tambahan ”nyai”- biasanya datang ke rumah pasien dengan kebaya kusam dan kain yang dililit sekenanya (atau karena bergelar embah tak menjamin kesejahteraan?). Di kepalanya terikat selendang yang berlepotan bercak merah bekas ludah sirih-pinang (nginang) yang dikunyah. Di sudut mulutnya terjejal segumpal tembakau yang berfungsi untuk menggosok gigi dan mengusap mulut bekas meng-inang. Sedikit aroma tengik segera mengganggu hidung ketika si embah mendekat. Tapi anehnya, aroma itu jauh lebih menenangkan ketimbang bau obat yang di bawa oleh dokter berbaju rapi.
Mungkin itu karena aku tahu, Si Embah tidak akan memberiku obat yang pahit. Kecuali aku nakal, pasti akan di cekoki ramuan temulawak dan kunyit. Biar doyan makan katanya. Lah, nyambung nggak?
Seingatku, begini cara kerja Embah. 1. Membuat ramuan pijat/urut: dua sendok makan minyak goreng buatan sendiri dari kelapa, dicampur irisan bawang merah. 2. membalur tubuhku dengan ramuan. 3. mulai mengurut badan sambil mulut komat-kamit (mengucap mantra/doa). 4. di goreng....eh, dikasih air yang telah di bei mantra (doa). 5. Embah meminum sisa air doa, lalu di sembur ke seluruh tubuhku. Burr....!
Sembuh? Alhamdulillah begitu. Langsung? Tentu tidak. Setelah serangkaian ritual itu, aku biasanya bisa tidur nyenyak bin tenang. Nanti sore atau keesokan harinya aku bangun dengan badan lebih segar.
Hebatkan, cara penyembuhan Si Embah? Jaman dulu semuanya terasa serba ajaib dan mistis. Si Embah benar-benar menjelma menjadi orang pintar dambaan para pesakitan. Tanpa usaha neko-neko, si sakit jadi sembuh.
Tapi, ketika jaman berganti, kepintaran Si Embah ternyata semua serba masuk akal. Sawan si kecil datang karena terlalu capek bermain, ingin di manja, dan di support oleh orang terdekatnya. Ketika sentuhan (pijat) itu datang, dan disertai doa (mantra/doa), secara berangsur tubuh menjadi lebih nyaman dan relax. Apalagi disertai aroma alami dari bawang, bahkan ”tengik” sekalipun. Bukankah seperti melakukan terapi pijat dan aroma di spa?
Bagaimana dengan air bermantra? Ilmuwan Jepang telah membuktikan. Air yang telah disertai doa atau kata-kata yang indah berubah wujud menjadi kristal yang indah, lalu menjadi obat yang mujarab bagi setiap penyakit.
Lalu, semburan itu?
Katanya untuk mengusir roh jahat yang hendak mengganggu kita. Tapi ah, percayalah....semburan itu tanda sayang dari orang-orang tua yang mengasihani kita..... Bukankah di sayangi itu menenangkan jiwa yang gersang (ciee...)?
Beres kan?
Lalu apa hubungan judul dan tulisan itu? Sepertinya nggak nyambung?
Memang! Tapi, Aku sendiri tidak memikirkan aneh tidaknya hari ini.... Jadi, apanya yang aneh?
Mar 23, 2009
Rush Hour (2)
Terlalu Serius….!
Semakin sore, mendung semakin gelap. Angin juga semakin kencang menerpa. Untung masih ada jaket yang sedikit menghalau dingin yang mulai menusuk kulit.
Sudah setengah jam menunggu kereta yang akan membawaku kembali ke Bogor. Tapi, nampaknya aku masih harus menunggu lebih lama. Belum ada kereta yang lewat ke arah Jakarta, berarti belum boleh berharap akan ada kereta yang kembali ke Bogor.
Well, ini lagu lama…!
Pengen ngomel, rasanya percuma. Sudah jadi rahasia umum, bahwa negeri ini adalah negeri langka. Langka transportasi yang baik. Semua orang harus belomba menyelamatkan diri sendiri tanpa boleh berharap pada pemerintah. Sudah untung jika kali ini aku masih bisa duduk di bangku tunggu yang terbuat dari besi bekas rel. Meski keras dan dingin, lumayan untuk menyangga badan yang mulai kelelahan. Ya, di bilang lumayan karena di stasiun lain belum tentu bisa menemukan tempat duduk. Kalau tidak rusak, ya terpakai oleh pedagang.
Stasiun yang bernuansa pasar ini semakin penuh. Bangku yang tadinya masih lowong kini tak lagi tersisa. Sebagian bahkan harus berdiri. Dari arah Bogor, kereta akan lewat di jalur 5 menuju Jakarta. Penumpang berdiri dan bersiap. Tapi karena yang muncul adalah kereta ekonomi AC, sebagian penumpang urung berdiri. Mereka hanya memiliki tiket ekonomi biasa (banget).
Dengan wajah kecewa, mereka menatap kepergian kereta itu menuju stasiun berikutnya.
Aku menatap jam tangan, dan mulai menghitung. Jika kereta AC ekonomi baru menuju Jakarta Kota, setidaknya akan butuh waktu 45 menit untuk sampai kembali di stasiun ini.
Padahal, jangankan empat puluh lima menit lagi, lima belas menit lagi pun penumpang tak akan tertampung. Entah, apakah kereta yang tiba nanti bisa menyapu semuanya. Seperti yang sudah-sudah, bisa-bisa mendapatkan tempat untuk satu kaki saja sulit. Satu-satunya penghibur adalah harapan. Harapan akan adanya kereta balik – sebutan untuk kereta kosong yang baru keluar dari kandang dan langsung mengangkut penumpang menuju Bogor.
Setelah setengah jam, aku mulai lelah menghitung waktu dan berharap.
Karena jenuh, aku mulai mencari-cari pemandangan atau hal baru. Walaupun aku tahu itu sulit. Hampir setiap sudut stasiun ini sudah aku hafal, bahkan tempat para copet mangkal.
Pusing memperhatikan sekian banyak manusia, perhatianku teralih pada seorang bapak dan dua orang ibu setengah baya yang sudah duduk manis menunggu kereta ke arah Jakarta. Sama sepertiku, mereka mulai hilang kesabaran. Berkali-kali mengangkat lengan kirinya untuk melihat jam tangan.
Tiba-tiba wajah mereka sedikit berbinar. Di jalur 5 kembali masuk kereta menuju Jakarta. Sayang, lagi-lagi kereta ekonomi AC. Sejenak mereka saling bertatapan. Sejurus kemudian, entah siapa yang memulai, tiba-tiba mereka sudah bangun dari duduk dan masuk ke dalam kereta.
Giliranku yang terbengong. Lho, bukannya mereka tadi beli tiket kereta ekonomi biasa? Nekad banget....apa mereka tidak tahu sedang ada penertiban penumpang?
Belum habis aku bergumam, mereka turun dan kembali duduk ke tempat semula. Sambil bersungut-sungut mereka saling melempar komentar pedas.
”Ah, mereka terlalu serius....!”rutuk si Bapak. Sambil mendekap tas di dada, si bapak menatap para petugas dengan mata nanar. Tapi setelah membanting tubuhnya kembali ke bangku yang keras, si bapak diam. Sadar tingkahnya di perhatikan orang, si bapak pura-pura mengelus rambut yang disisir rapi. Mungkin untuk menutupi malu.
”Terlalu dibuat serius...” omel si Bapak lagi mencoba mentralkan situasi.
Sedangkan dua ibu yang turut naik hanya bisa sibuk beralasan (meski tak ada yang bertanya) mengapa mereka nekad melakukan itu.
”Habis, lama banget sih....!” ucap mereka hampir bebarengan.
Suasana semakin ”memanas” ketika yang kembali berhenti di stasiun ini dan akan menuju Jakarta adalah kereta ekonomi AC. Penumpang mulai gerah dengan ”ketidakadilan” ini. Beberapa orang mulai menyoraki petugas yang berada di belakang corong pengumuman.
Apalagi kereta menuju Bogor belum satupun lewat.
Tiba-tiba si Bapak, bangun dari duduknya dan mulai mengawasi pintu kereta yang terbuka. Di terlihat celingukan, seperti ada yang di cari. Sedikit demi sedikit, langkahnya mulai mendekati pintu. Dan, hup! Kakinya melangkah masuk dan langsung duduk manis di satu sudut. Ketika menyadari tidak ada petugas yang memergoki tingkahnya, wajahnya nampak lega. Pelan-pelan pintu tertutup kembali. Kereta berjalan membawa si bapak.
Tinggalah dua ibu tadi ribut sendiri. Iri dengan keberuntungan si bapak, dan menyesali kekurangnekatannya. Meski tak ada yang tahu, apakah si bapak bisa sampai tujuan tanpa ketahuan di stasiun berikutnya.
Kembali ke ceritaku sendiri.
Masih belum beruntung, sampai sepuluh menit kemudian. Kereta yang aku tunggu akhirnya datang juga. Meski telah terisi setengah penuh, aku tak mau menunggu lagi.
Berdiri tak apa, asal tidak mogok.
Kali ini aku bisa dibilang cukup beruntung. Setengah jam berdiri, seorang bapak memberiku duduk. Lumayan, sekedar mengurangi pegal di kaki.
Tiba-tiba aku teringat ucapan si Bapak nekad tadi.
Si bapak jelas tidak suka keinginanya naik kereta ekonomi AC di tolak petugas, walaupun memang jelas petugas yang benar. Tapi mengapa dia mengatakan itu ya?
Di mana letak terlalu seriusnya? Kalau keseriusan petugas “mengusir” penumpang gelap, itu sih sudah sewajarnya.
Atau, hanya karena tadinya boleh (bisa) numpang tanpa tiket yang benar (karena penegakan disiplin yang tak serius), dan sekarang di larang si Bapak jadi marah-marah? Lalu, menyebut petugas terlalu serius?
Menurutku, justeru para petugas belum serius menangani masalah transportasi massa ini.
Lhat saja, penumpang masih saja terbengkalai meski kewajiban membayar tiket sudah di penuhi. Ditambah dengan jadwal tidak pasti, sering mogok, rel rusak, sinyal rusak, bla..bla...
Apanya yang serius?
Aku juga telah lama menunggu hingga kepalaran dan kedinginan. Hak-hak ku sebagai konsumen benar-benar dilecehkan. Apakah perbakan harus selalu menunggu class action?
Lho, kok aku jadi terlalu serius? Ketularan si bapak tadi, nih....!
Semakin sore, mendung semakin gelap. Angin juga semakin kencang menerpa. Untung masih ada jaket yang sedikit menghalau dingin yang mulai menusuk kulit.
Sudah setengah jam menunggu kereta yang akan membawaku kembali ke Bogor. Tapi, nampaknya aku masih harus menunggu lebih lama. Belum ada kereta yang lewat ke arah Jakarta, berarti belum boleh berharap akan ada kereta yang kembali ke Bogor.
Well, ini lagu lama…!
Pengen ngomel, rasanya percuma. Sudah jadi rahasia umum, bahwa negeri ini adalah negeri langka. Langka transportasi yang baik. Semua orang harus belomba menyelamatkan diri sendiri tanpa boleh berharap pada pemerintah. Sudah untung jika kali ini aku masih bisa duduk di bangku tunggu yang terbuat dari besi bekas rel. Meski keras dan dingin, lumayan untuk menyangga badan yang mulai kelelahan. Ya, di bilang lumayan karena di stasiun lain belum tentu bisa menemukan tempat duduk. Kalau tidak rusak, ya terpakai oleh pedagang.
Stasiun yang bernuansa pasar ini semakin penuh. Bangku yang tadinya masih lowong kini tak lagi tersisa. Sebagian bahkan harus berdiri. Dari arah Bogor, kereta akan lewat di jalur 5 menuju Jakarta. Penumpang berdiri dan bersiap. Tapi karena yang muncul adalah kereta ekonomi AC, sebagian penumpang urung berdiri. Mereka hanya memiliki tiket ekonomi biasa (banget).
Dengan wajah kecewa, mereka menatap kepergian kereta itu menuju stasiun berikutnya.
Aku menatap jam tangan, dan mulai menghitung. Jika kereta AC ekonomi baru menuju Jakarta Kota, setidaknya akan butuh waktu 45 menit untuk sampai kembali di stasiun ini.
Padahal, jangankan empat puluh lima menit lagi, lima belas menit lagi pun penumpang tak akan tertampung. Entah, apakah kereta yang tiba nanti bisa menyapu semuanya. Seperti yang sudah-sudah, bisa-bisa mendapatkan tempat untuk satu kaki saja sulit. Satu-satunya penghibur adalah harapan. Harapan akan adanya kereta balik – sebutan untuk kereta kosong yang baru keluar dari kandang dan langsung mengangkut penumpang menuju Bogor.
Setelah setengah jam, aku mulai lelah menghitung waktu dan berharap.
Karena jenuh, aku mulai mencari-cari pemandangan atau hal baru. Walaupun aku tahu itu sulit. Hampir setiap sudut stasiun ini sudah aku hafal, bahkan tempat para copet mangkal.
Pusing memperhatikan sekian banyak manusia, perhatianku teralih pada seorang bapak dan dua orang ibu setengah baya yang sudah duduk manis menunggu kereta ke arah Jakarta. Sama sepertiku, mereka mulai hilang kesabaran. Berkali-kali mengangkat lengan kirinya untuk melihat jam tangan.
Tiba-tiba wajah mereka sedikit berbinar. Di jalur 5 kembali masuk kereta menuju Jakarta. Sayang, lagi-lagi kereta ekonomi AC. Sejenak mereka saling bertatapan. Sejurus kemudian, entah siapa yang memulai, tiba-tiba mereka sudah bangun dari duduk dan masuk ke dalam kereta.
Giliranku yang terbengong. Lho, bukannya mereka tadi beli tiket kereta ekonomi biasa? Nekad banget....apa mereka tidak tahu sedang ada penertiban penumpang?
Belum habis aku bergumam, mereka turun dan kembali duduk ke tempat semula. Sambil bersungut-sungut mereka saling melempar komentar pedas.
”Ah, mereka terlalu serius....!”rutuk si Bapak. Sambil mendekap tas di dada, si bapak menatap para petugas dengan mata nanar. Tapi setelah membanting tubuhnya kembali ke bangku yang keras, si bapak diam. Sadar tingkahnya di perhatikan orang, si bapak pura-pura mengelus rambut yang disisir rapi. Mungkin untuk menutupi malu.
”Terlalu dibuat serius...” omel si Bapak lagi mencoba mentralkan situasi.
Sedangkan dua ibu yang turut naik hanya bisa sibuk beralasan (meski tak ada yang bertanya) mengapa mereka nekad melakukan itu.
”Habis, lama banget sih....!” ucap mereka hampir bebarengan.
Suasana semakin ”memanas” ketika yang kembali berhenti di stasiun ini dan akan menuju Jakarta adalah kereta ekonomi AC. Penumpang mulai gerah dengan ”ketidakadilan” ini. Beberapa orang mulai menyoraki petugas yang berada di belakang corong pengumuman.
Apalagi kereta menuju Bogor belum satupun lewat.
Tiba-tiba si Bapak, bangun dari duduknya dan mulai mengawasi pintu kereta yang terbuka. Di terlihat celingukan, seperti ada yang di cari. Sedikit demi sedikit, langkahnya mulai mendekati pintu. Dan, hup! Kakinya melangkah masuk dan langsung duduk manis di satu sudut. Ketika menyadari tidak ada petugas yang memergoki tingkahnya, wajahnya nampak lega. Pelan-pelan pintu tertutup kembali. Kereta berjalan membawa si bapak.
Tinggalah dua ibu tadi ribut sendiri. Iri dengan keberuntungan si bapak, dan menyesali kekurangnekatannya. Meski tak ada yang tahu, apakah si bapak bisa sampai tujuan tanpa ketahuan di stasiun berikutnya.
Kembali ke ceritaku sendiri.
Masih belum beruntung, sampai sepuluh menit kemudian. Kereta yang aku tunggu akhirnya datang juga. Meski telah terisi setengah penuh, aku tak mau menunggu lagi.
Berdiri tak apa, asal tidak mogok.
Kali ini aku bisa dibilang cukup beruntung. Setengah jam berdiri, seorang bapak memberiku duduk. Lumayan, sekedar mengurangi pegal di kaki.
Tiba-tiba aku teringat ucapan si Bapak nekad tadi.
Si bapak jelas tidak suka keinginanya naik kereta ekonomi AC di tolak petugas, walaupun memang jelas petugas yang benar. Tapi mengapa dia mengatakan itu ya?
Di mana letak terlalu seriusnya? Kalau keseriusan petugas “mengusir” penumpang gelap, itu sih sudah sewajarnya.
Atau, hanya karena tadinya boleh (bisa) numpang tanpa tiket yang benar (karena penegakan disiplin yang tak serius), dan sekarang di larang si Bapak jadi marah-marah? Lalu, menyebut petugas terlalu serius?
Menurutku, justeru para petugas belum serius menangani masalah transportasi massa ini.
Lhat saja, penumpang masih saja terbengkalai meski kewajiban membayar tiket sudah di penuhi. Ditambah dengan jadwal tidak pasti, sering mogok, rel rusak, sinyal rusak, bla..bla...
Apanya yang serius?
Aku juga telah lama menunggu hingga kepalaran dan kedinginan. Hak-hak ku sebagai konsumen benar-benar dilecehkan. Apakah perbakan harus selalu menunggu class action?
Lho, kok aku jadi terlalu serius? Ketularan si bapak tadi, nih....!
Mar 3, 2009
Rush Hour (1)

Pagi telah terbangun. Memanggil semua orang untuk meramaikan harinya. Meski setelah hujan semalaman menyisakan dingin, dan menawarkan kenikmatan bergelung di kasur, kewajiban telah memanggil.
Tak mau ketinggalan, kami juga bergegas mempersiapkan diri untuk beraktifitas seharian ini.Mandi, sarapan, dan berangkat. Kereta yang akan membawa kami ke Jakarta sebentar lagi lewat. Kami tak mau tertinggal. Meski kereta sering telat, kami tetap harus khawatir. Karena, jika tertinggal satu jadwal, sangat bisa jadi kereta berikutnya akan lebih telat dan penuh!
Sayang, karena terburu-buru, ponsel ku malah tertinggal. Apa boleh buat, setelah setengah jalan, motor kami putar balik menuju rumah.
Beberapa orang yang mengenal kami, menatap heran. Termasuk penjaga pintu kereta.
Kami cuma menjawab”biasa, ada yang tertinggal!”
Anehnya, meksi kami terburu-buru kami justeru lebih melihat orang lain lebih cemas. Ketika berpapasan, beberapa orang sudah menampakkan wajah bersungut. Berjalan cepat, tapi tak mau melihat ke depan. Mungkin karena jalanan yang becek dan licin, mereka takut terpeleset. Bisa makin telat nanti...
Satu yang menarik perhatianku. Seorang bapak yang berjalan tergesa, nampak sibuk dengan dagunya yang mulai ditumbuhi rambut kasar. Sambil melangkah, matanya awas menatap jalan yang akan dilalui. Tapi, tangannya sibuk menggerakkan alat pencukur rambut. Mulut dan pipinya nampak mencong sana-sini. Tanan kanan menggerakkan pencukur, tangan kiri meraba-raba kulit wajanya mencari bagian yang kasar.
Tadinya suamiku tak memperhatikan, karena cukup sibuk mengerem motor yang gamang menapaki jalanan licin. Tapi setelah aku bergumam”Ya, ampun....! Sampai segitunya....!” Dia jadi bertanya,”ada apa, sih?”
Dengan dagu yang aku gerakkan ke depan, aku menunjuk,”tuh!”
Senyum simpul segera tersembul dari bibir suamiku.
Dia menggeleng-nggelengkan kepala.
“Sesibuk apa sih pagi harinya? Sampai cukur jenggot saja tidak sempat! Kenapa tak menunggu sampai tiba di kantor? Di sana pasti kan ada toilet!”
Aku manggut-manggut saja mendengar komentar suamiku dan berpikir, iya ya....?
Aku memang tidak tahu seperti apa repotnya mencukur rambut di wajah, karena aku lebih sibuk membedakinya. Tapi, apa iya tidak bisa di tunda?
Tapi, mungkin juga mencukur rambut wajah itu jadi kebutuhan utama. Seperti halnya perempuan yang tidak rela pisah dari bedak dan lipstick. Bahkan mungkin rela sedikit terlambat daripada pergi kerja tanpa berdandan dulu.
Begitukah? Yah, namanya saja mengira-ngira....
Eh, tapi apa yang terjadi ya, jika sebelum sibuk berbedak kita harus lebih dulu mencukur rambut-rambut yang tumbuh di wajah?
Pasti akan butuh waktu yang lebih lama.
Bukan begitu, teman?
Subscribe to:
Posts (Atom)