Showing posts with label familia. Show all posts
Showing posts with label familia. Show all posts

Jul 3, 2011

Berhenti Sejenak


Karena dia, anak pertamaku aktifitas "keluh kesah" ini harus berenti sejenak. Bukan karena telah ke ain hati, tetapi belum bisa berbagi waktu. Tak apa, meski.telah banyak cerita di benak, kuperam saja dulu. Tak rugi sama sekali. Apalagi melihat senyum yang begitu menggemaskan. Rayi Lintang Prayoga namanya. Terus sehat ya, nak...biar dunia juga melihatmu tersenyum dan kembali tersenyum untukmu.

Apr 1, 2011

Sedang getol berburu...

.....pernak-pernik baby.

Aih, dibilang norak ya biarin!
Maklum lah, seperti jatuh cinta semasa jadi "monyet" (kan cintanya cinta monyet..hehehe..) dulu. Apa-apa untuk dia. Bangun tidur ingat dia. Lihat barang bagus, ingat dia.
Ah..pendek kata, hepi lah.....!
Sudah tidak sabar melihat dia mengenakan apapun yang kita belikan untuknya. Ya..mungkin bukan yang terbaik, tetapii aku telah mencarikan dan mendapatkan yang paling baik dari yangaku coba.
Baju..., sudah.
Alat mandi, dkk...sudah.
Buku cerita (soft book)..., sedang pesan.
Cloth diapers, sedang dipesan juga.
Apa yang belum?

Hiks...babynya belum ada!
Dia masih di sana, bersama ibunya.
Padahal aku sudah KANGEEENNN...!

Dua sisi mata koin


Dia, Panji ponakanku, masih sering salah.
Berlari mengejarku, lalu memelukku dari belakang.
Ups..ketika aku menoleh padanya, dia jadi malu.
Tapi, tetep memelukku.
"Lho, ibu mana budhe?"tanyanya malu-malu setelah tahu dia salah mengira aku ibunya.
"Itu, sama adik, lagi mimik..,"jawabku.
Aku dan adikku sekilas memang bersosok mirip, bahkan juga suara kami.
Dulu, ketika Panji sakit atau ibunya sedang lelah, dia hanya mau aku gendong.
Mungkin karena kemiripan itu pula, teman-teman adikku juga sering salah.
Padahal, sebenarnya mukaku jauh berbeda, dan usiaku terpaut tujuh tahun.

Dia, Panji sebenarnya anak cerdas dan aktif.
Tapi, sering tak mendapatkan jalan atau ekspresi yang benar.
Kesepian mungkin membuatnya sering menjahili adiknya yang masih bayi.
Ingin segera bermain dengannya, sehingga sering membuat adiknya terbangun dari tidur.

Ketika dia sangat nakal, seperti mecubit adiknya atau menggigit temannya,
kami sangat jengkel, sehingga kadang bertindak berlebihan termasuk mencubitnya.
Tetapi kemudian, kami sangat menyesalinya.
Wajahnya yang lucu, bermata memelas, membuat kami sangat merasa bersalah.
Cerdas, aktif, keras, sering kami artikan nakal.

Maafkan kami ya, nak.
Kami hanya harus membagi perhatian, tidak hanya padamu.
Sehingga kami tak sungguh memahamimu.

Tapi, kami tetap menyayangimu kok.
Buktinya, kalau budhe sudha di Bogor, kamu di Jember,
sering...sekali kangen sama kamu.
Panji kangen budhe nggak?

Waktu ibumu bilang, "nanti adik Lintang mau ikut budhe ke Bogor, lho? Panji di sini saja ya, sama ibu?"
Kamu malah menjawab:"Panji ikut..!"
Budhe senang, Panji juga sayang sama budhe.
Tapi, kalau Panji juga ikut budhe, kasihan ibu.
Jadi, Panji temenin ibu aja ya?
Nanti budhe akan sering berkunjung. Oke?

Love you..!

Feb 19, 2011

Kakak Panji Bagaskara


Jika melihat matanya, sorotnya sayu. Tapi, rambutnya dan kemauan kakak Panji sangat tegak berdiri. Sulit di nego, apalagi ditolak. Jika sudah menginginkan sesuatu, dia dengan keras meminta. Semakin di tolak, semakin keras berteriak. Tetapi, di suatu saat dia bisa berlaku lembut dan sayang pada adik. Meski kadang rasa sayangnya membuat ibu khawatir karena mencium atau memeluk adik bayi terlalu erat. Huft...!

Suatu waktu, ketika aku pulang kampung, Sang ibu, yang juga adikku melapor bahwa Panji sering menggigit teman yang tidak menuruti apa katanya atau kemauannya. Anak lelaki, ataupun perempuan. Dan, biasanya yang berusia lebih kecil.

Sebenarnya sih, aku juga gak tahu cara menasehatkan bahwa menggigit itu tak boleh. Tapi, ada satu cara yang aku bisa lakukan untuk menasehati dia, yaitu dengan dongeng yang mengunakan tokoh kesukaan dia: KODOK!

Dan, mulailah aku menceritakan kisah Seekor Kodok yang bernyanyi sendirian di pinggir danau. Terus, Kodok itu bertemu kawanan kura-kura yang baru pulang dari bermain.

Si Kura-kura menyapa kodok:"Hai, Kodok, kenapa bernyanyi sendirian..?"

Dengan malas Kodok menjawab,"iya, aku gak punya teman. Mereka tidak mau bermain denganku."

"Lho, kenapa?" tanya Kura-kura heran.

"Ibuku bilang karena aku tadi menggigit si Kodi karena tidak mau meminjamkan mainan padaku." jawab Kodok sambil menunduk. Kodok merasa malu.

"Oh, gitu..? Ibuku juga bilang begitu. Aku tidak boleh menggigit teman, kan sakit..!"

Di tengah cerita, aku mengamati perubahan pada wajah si Kakak. Dia seperti tidak lagi menyimak dongengku. Padahal, biasanya dia selalu aktif meminta menambahkan tokoh yang hendak dijumpai Kodok. Lalu, dia memperhatikan kaos yang kukenakan. Di bagian tengah kaosku ada gambar bintang.

"Budhe, itu gambar bintang, ya?" tanya kakak tiba-tiba", aku juga suka bintang...!" lanjutnya. Wajahnya seperti tersipu malu.

Sedetik kemudian aku mengerti, kakak merasa tersindir! Bocah umur 3 tahun 5 bulan sudah bisa menyadari bahwa dirinya disindir?
Lalu mencoba mengalihkan perhatianku dengan mengalihkan cerita dari kodok menjadi bintang?

Ah..kakak! Aku hanya bisa memandanginya dengan gemas.

Feb 14, 2011

My Little Star

Selasa, 25 Januari 2011

Saat pertama melihatmu, aku langsung jatuh cinta.
My baby boy, my Little Star.

My Rayi Lintang Prayoga.

Semoga kehadiranmu, terus memberikan cahaya untuk selalu menuju jalan yang lebih baik. Amin.

I Love You..!

Jan 4, 2011

Bercanda dengan Si Bebek..


Lucu, menggemaskan....! Begitu selalu kesan ketika memandang maklhuk mungil yang baru pintar tengkurap ini. Dia begitu bersemangat "bicara" ketika seorang teman (boneka) bernama Bebek mengajaknya bercanda.

Lihat wajahnya yang bersemangat, dan gembira, kami semakin mengagumi bocah yang baru berumur tiga bulan ini.

Jadilah anak pintar ya, Rasya! Senantiasa ingat akan Tuhanmu, dan bahwa kedamaian adalah impian semua orang di dunia.

Dec 28, 2010

Ponakan...!

Badannya yang gendut itu mulai berguling ke kanan, kaki kiri diangkat menyilang kaki kanan. Bahu mengikuti miring ke kanan. Bulir keringat mulai menetes di dahinya yang berkerut, berkeras hendak mengubah posisi terlentang menjadi tengkurap. Tapi, setelah sekian lama mencoba dan tak berhasil, dari mulutnya mulai keluar suara-suara yang aku anggap mengomel. Mendengar kami tertawa, 'omelannya' makin keras, bahkan sampai terbatuk-batuk! Ah, lebay deh...! hehehe...

Ayo, sayang..berusaha..!Aku terus menyemangati.

Tapi belu berhasil juga. Melihat wajahnya yang berpeluh, akhirnya aku jatuh kasihan. Ku tengkurapkan badannya. Ku lepas kaus kaki dan bungkus tangannya. Dan, lihat..senyumnya langsung mengembang! Matanya tajam memperhatikan kain batik alas tidurnya, kakinya sibuk menjejak lantai hendak meraih bantal bergambar beruang tedi yang disodorkan pakdenya. Menggemaskan sekali!


Rasya, masih terganggu dengan sarung tangannya. Pengen ngencit jari, sih..!

Lihat lenganku sehabis olah raga, kekar kan?


Mandi dulu..cibang-cibung..!


Bergaya sehabis mandi. Ganteng kan?


Sekarang, tinggal bobo' deh..!