RANCANGAN BAZAAR RAMADHAN 2010
Sejarah Bazaar
Waktu itu, Ramadhan sudah setengah jalan. Dengan rizki yang – alhamdulillah – cukup untuk berdua, kami ingin berbagi lebih dari yang kami telah lakukan. Mumpung bulan baik sedang bersama kita semua. Tapi, rizki belum bertambah. Kami terus memutar otak untuk mencari jalan berbagi.
Lalu, inspirasi itu datang dari sebuat status teman di facebook. Status itu menyatakan bahwa beliau hendak membuat garage sale dengan menjual benda-benda yang hanya menumpuk di lemari tanpa pernah, atau satu-dua kali terpakai. Status itu ternyata ditanggapi oleh beberapa teman yang menyatakan hal yang sama. Lalu, kami berpikiran jika barang-barang itu dikumpulkan, tentu hasilnya tidak sedikit. Sangat mungkin banyak teman atau orang lain yang mengalami hal yang sama. Bagi yang sudah tidak ingin memanfaatkan, barang-barang tersebut hanya jadi sampah. Sedangkan di lain pihak,di sekeliling kita, masih banyak sekali orang yang membutuhkan bantuan meski itu hanya sehelai selimut, atau segenggam beras. Kami terus mencoba menguatkan rasa optimis bahwa ide tersebut akan menjadi jalan yang baik untuk berbagi.
Tanpa pikir panjang lagi, kami meminta sisa pakaian atau barang yang tidak terjual di garage sale nya itu untuk disumbangkan kepada tetangga, atau siapapun yang membutukan. Meskipun saat itu kami lupa, teman kami ini adalah seorang pekerja kantoran, sedangkan tetangga yang hendak kami sumbang adalah janda tua, keluarga miskin dengan profesi sebagai pengemis, kerja serabutan, atau pengumpul sampah. Sangat mungkin tidak “matching” antara benda yang ada dan yang disumbangkan. Tapi, siapa yang menyangka? Dengan ridlo Allah, ternyata kami mendapatkan empat kardus besar berisi bermacam barang layak pakai. Mulai dari pakaian dewasa, anak, selimut, sarung, sprei, mukena, bahkan pakaian bayi yang masih sangat layak. Subhanallah...!
Malam itu, selesai sholat tarawih, kami sibuk menyortir pakaian untuk di sesuaikan dengan golongan yang hendak kami sumbang. Satu masalah timbul. Jumlah pakaian kerja jumlahnya berlebih, sedang kami tahu tak banyak orang di kampung yang bekerja kantoran. Sekedar informasi, kami tinggal di perumahan sederhana di Cilebut Timur dan berdempetan dengan kampung yang cukup padat. Akhirnya, kami memutuskan untuk menjual sebagian pakaian kerja itu pada warga perumahan yang pekerja kantoran, atau setidaknya pakaian itu masih memenuhi selera para ibu muda.
Lelang pakaian
Sehari sebelum dilakukan bazaar, kami mengadakan buka puasa bersama teman mahasiswa yang pernah bekerjasama dengan kami dalam hal pendidikan anak. Karena beberapa teman menginap, selesai sholat tarawih, kami membuka lelang beberapa pakaian yang kami anggap masih sangat layak untuk mereka pakai. Kami sengaja melakukan lelang (“menodong”) mereka dengan harga cukup tinggi untuk sebuah jaket atau celana jins bekas, karena kami yakin mereka bukan menghargai pakaian itu saja, tetapi pada niat di balik lelang tersebut.
Bazaar sesi I
Masih dengan bantuan teman yang menginap, sekitar pukul tujuh pagi bazaar digelar. Banyak yang mengira kami menggelar bazaar sembako karena salah informasi. Padahal selebaran sudah di bagi-bagikan sehari sebelumnya, dan titip pesan pada beberapa RT setempat. Banyak yang hendak berbalik arah, apalagi mengetahui barang yang kami gelar semuanya barang bekas. Tetapi, ketika menyaksikan bahwa pakaian yang kami jual masih bagus dan harganya sangat murah (Rp 500 – 5000), mereka kemudian menyerbu dengan antusias. Bahkan banyak yang kembali lagi dengan membawa tetangga atau teman. Dalam waktu satu jam, separuh dagangan telah habis terjual! Uang yang terkumpul sebanyak Rp500.000, kami belikan beberapa paket sembako dan dibagikan kepada tetangga yang kami prioritaskan untuk menerima bantuan. Di antara mereka yang kami bagi sembako, ada janda tua, keluarga pengemis buta, pemulung, penjaga lintasan kereta, penjaga kebun, pencari rumput, pengumpul sampah, dan lain-lain.
Bazaar sesi II
Ketika hasil bazaar I kami laporkan, teman kami/penyumbang merespon dengan memberikan lagi empat dus besar pakaian dan banyak lainnya. Plus, uang sejumlah satu juta rupiah untuk dibelikan takjil buka puasa pada pengunjung bazaar. Hasil bazaar sebanyak Rp.550.000. Kali ini, uang hasil penjualan kami berikan pada yang berhak tetap dalam rupiah agar bisa membeli keperluan selain sembako. Kali ini, kami bagikan pada janda tua, pemulung, anak yatim, dan beberapa pembantu rumah tangga di sekitar rumah tinggal kami.
Bazaar estafet
Pakaian yang masih ada kami bawa ke Kampung Pulo Bojonggede, Parung, dan Bukit Duri-Tebet. Dengan bantuan keluarga, untuk di Bojonggede dan Parung, kami melakukan pola yang sama dengan di Cilebut. Kami membuka bazaar di sore hari menjelang berbuka, dan mendapati respon yang baik. Uang yang diperoleh, kami bagikan kepada beberapa janda tua, dan anak yatim. Sedang untuk di Bukit Duri-Tebet, kami membagikan pakaian kepada para perantau (penarik bajaj, dll) yang hendak pulang kampung.
Tujuan:
- Menyambut dan mengisi ramadhan dengan berbagi
Berdasarkan pengalaman bazaar sebelumnya, kami menerima dan mengelola sumbangan pakaian dan barang bekas layak pakai antara lain:
- Pakaian dewasa (celana, baju muslim, baju koko, dll)
- Pakaian anak dan bayi,
- Selimut,
- Sarung,
- Mukena,
- Kerudung/jilbab
- Kain batik (jawa: jarit),
- Kebaya/ abaya
- Sprei (atau bed cover),
- dll
untuk disumbangkan dengan mekanisme pengelolaan sebagai berikut:
1. Sortir pakaian/barang menjadi 3 kategori A,B,C:
a. Kategori A: sumbang langsung, adalah pakaian yang langsung kami pilih untuk disumbangkan sesuai dengan target. Misalnya pakaian muslim untuk para janda, atau sarung dan baju koko untuk laki-laki, pakaian anak untuk anak yatim dan seterusnya.
b. Kategori B: kategori jual, adalah pakaian atau barang lain yang tidak sesuai dengan target, misalnya pakaian kerja sedang target kami adalah janda, dan seterusnya. Hasil penjualan untuk dibelikan sembako atau diberikan dalam bentuk uang.
c. Kategori C: bonus pengunjung/pembeli, adalah pakaian yang kami berikan secara Cuma-cuma sebagai bonus pembelian. Biasanya pakaian ini karena tidak layak jual ataupun disumbangkan (cacat).
2. Rencana titik lokasi bazaar: Perum Cilebut Bumi Pertiwi – Cilebut, Kampung pulo – Bojonggede, Parung, dan Citayam. Pemilihan titik lokasi tersebut berdasarkan kesanggupan sumberdaya yang rela membantu terlaksananya kegiatan tanpa di bayar.
3. Berdasarkan pengalaman sebelumnya juga, di satu titik lokasi bazaar sudah mencapai “kejenuhan” dalam waktu 2 hari. Kejenuhan ini bisa diartikan sebagai: “tak ada lagi barang yang menarik untuk dibeli”, atau “hanya sedikit kebutuhan yang dapat dipenuhi”. Hal ini tentu terkait dengan beragamnya konsumen, mulai dari anak-anak sampai orang tua, bahkan pedagang keliling yang berharap mendapatkan beragam kebutuhan di bazaar. Padahal jenis dan jumlah pakaian memang sangat terbatas, tergantung dari sumbangan saja.
Untuk mengatasi menumpuknya sisa pakaian/barang yang tak terjual atau menemukan penerima, bazaar dilakukan secara estafet.
• Di lokasi 1 (Cilebut), bazaar digelar maksimal 2 hari. Uang yang terkumpul, di sumbangkan pada masyarakat sekitar Cilebut. Baik berbentuk sembako maupun uang tunai.
• Jika tersisa, bazaar digelar di lokasi 2 (Kampung pulo- Bojonggede), uang yang diperoleh di sumbangkan di masyarakat sekitar Bojonggede. Dan seterusnya.
Penerima sumbangan kami prioritaskan kepada:
• Janda tua,
• Anak yatim
• Keluarga miskin (memiliki kepala keluarga tetapi tidak berpenghasilan atau tak memadai)
Kepada penyumbang (melalui email, telpon, atau facebook) hal-hal yang akan kami laporkan antara lain:
• Jumlah uang yang diperoleh dari penjualan,
• Jumlah penerima sumbangan
• Jumlah dan/atau macam sumbangan
Kontak:
Jika ada yang hendak diketahui lebih lanjut, silahkan menghubungi kami di:
Phone: 0341-8430767/ 08164290395
Email: novik24@yahoo.com
Facebook: Novi Kuspriyandari
Terimakasih
Catatan:
- Kami hanya menerima sumbangan yang tidak mengikat. Dalam arti, sumbangan yang kami terima diserahkan sepenuhnya untuk kelola seperti yang telah kami sampaikan di atas.
- Karena kami tak memiliki biaya operasional (transportasi), kami berharap dermawan mengirimkan barang sumbangan langsung ke alamat di bawah ini:
Perum Cilebut Bumi Pertiwi Blok AN 26 RT/RW 04/02 Cilebut Timur, Sukaraja, Kab. Bogor.
- Kecuali masih dalam jangkauan dan kemampuan kami untuk menjemput sumbangan dengan motor.
FAQ (frequently asked question):
1. Q: Mengapa uang yang terkumpul tidak untuk membeli pakaian baru saja? Lebih menggembirakan jika yang kita berikan pakaian baru.
A: sudah dipikirkan. Saat itu pilihannya adalah: harga murah dengan kualitas buruk tetapi dapat banyak, atau kualitas lumayan tetapi jumlahnya sedikit? Setelah dihitung dan di konversikan dengan target yang kami beri sumbangan, ternyata tidak dapat meng-cover jumlah target.
2. Q: data penerima?
A: terus terang, pengelolaan bazaar I dan II memang masih apa adanya, karena kami hanya berpikir bagaimana bisa memberi sesuatu kepada orang lain sedangkan kami tidak memiliki banyak harta atau benda untuk dibagikan. Waktu itu, siapapun yang nampak butuh bantuan, langsung kami beri paket sembako atau uang.
3. Q: Coba kasih tahu kami sejak jauh hari...! Insyaallah lebih banyak lagi yang membantu.
A: benar, itulah yang hendak kami lakukan. Di bazaar sebelumnya, kami bahkan tidak menyangka akan direspon secepat itu sehingga persiapan kami apa adanya. Apalagi bazaar di gelar mendekati lebaran, sehingga banyak orang yang hendak kami mintakan bantuan telah memiliki kesibukan sendiri.
Hidup ini indah. Aku percaya kehadiran teman melengkapi, dan renungan menjadi rambu-rambunya. Selamat menikmati hidup!
About Me
- Novi Kuspriyandari
- Bogor, Jawa Barat, Indonesia
- Anda Pengacara? Sama seperti saya. Tapi saya adalah penganggur yang berusaha mencari banyak acara dan cara. Cara bersenang-senang, dan berbuat baik. Gitu, deh...
May 15, 2010
Apr 16, 2010
Buka Mata


Cilebut, malam hari.
Jam di tangan sudah menunjukkan pukul sembilan lebih lima belas menit, ketika kami (saya dan suami) sampai di pintu perlintasan kereta tak resmi menuju rumah. Jalan ini biasa kami pilih karena merupakan jalur terdekat meski, hanya berupa gang kecil yang hanya cukup untuk satu motor.Gang ini biasa di sebut gang Marhadi.
Melihat motor kami hendak melintas, sang penjaga pintu keluar dari pos berupa gubuk dan memberikan aba-aba dengan gerakan tangannya agar kami terus saja melintas. Dalam kepekatan malam yang mencoba ditembus lampu neon, padangan saya dengan segera menangkap sosok yang saya kenal.Penjaga pintu kereta itu adalah seorang nenek yang berpakaian sederhana, dengan rambut memutih yang tersembul dari kerudung yang diukel sekenanya.
Nenek Amah namanya. Rumahnya tak jauh dari pintu perlintasan ini. Kami sudah kenal sejak pindah rumah ke Cilebut. Seketika menimbulkan kembali niat untuk mengetahui lebih detil kehidupan sang nenek. Akhirnya, kami memutuskan untuk berhenti dan sedikit berbincang.
“Kok, sendirian nek?” tanyaku. Ini kutanyakan karena beberapa kali melihat nenek “beraksi” macam ini ditemani beberapa orang.
“Ah, siapa yang mau nemenin nenek?”tanya nenek balik.
“Lho, biasanya kan ada yang nemenin?”
“Nggak, nenek biasa sendiri. Gantiin Anim, kalau dia sudah pulang,”timpal Nenek lagi.
Aku tak melanjutkan pertanyaan lagi walaupun tahu beberapa kali melihat nenek tidak sendirian. Aku menduga, teman di pos jaga hanya ingin nongkrong, tidak untuk sengaja menemani nenek “bertugas”.Maklum, rumah kontrakan yang berderet dekat pos terjepit jalan raya dan rel kereta. Jadi, ketika ingin “ngadem” tapi tak punya beranda atau halaman belakang, ke pos jaga lah larinya. Bisajadi kan? Apalagi di siang hari banyak juga yang nogkrong di pos ini.
Yang aku tahu, meskimalam telah larut dan kereta yang membawa penumpang tinggal sisa, nenek tetap mau mengambil alih pekerjaan menantunya Ujang, dan tetangganya Anim, demi sekedar mengharapkan “sisa” kebaikan pelintas rel malam hari.Karenaesok, nenek harus tetap makan. Dia tak mau bergantung pada anak dan menantunya yang penghasilannya hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Di siang hari nenek tak tinggal diam.Nenek biasa mencari nafkah dengan cara mencari dan menjual daun pisang pada siapa saja yang memerlukan. Atau, menjual tenaganya dengan mengisikan kapuk pada kasur milik tetangga. Apapun, semampunya.
Hening terpecahkan oleh sorot lampu dari arah Selatan.Dari Stasiun Cilebut, kereta ekonomi bergerak menuju Stasiun Bogor.Beberapa motor yang tadinya tertahan palang pintu,kembali bisa melintas sambil memandangi kami yang tengah asyik memotret.Sayang, mereka lupa tak menaruh uang dalam kaleng yang diletakkan di pangkal palang pintu itu.Tapi, bukankah memang tak ada kewajiban atau aturan tertulis? Uang untuk penjaga hanya bergantung pada “kesadaran” pengguna gang dan perlintasan saja.
Cara nenek memperjuangan hidup, membuatku tertarik untuk menemui nenek di rumahnya besok pagi.
“Besok pagi ada di rumah, nek?”tanyaku ragu.
“Iya, ada!” jawab nenek lugas.Aku lega sekaligus tertegun. Tak terlihat di wajahnya sebuah keraguan, atau pertanyaan “untuk apa atau mau ngapain?”. Kalimat itu yang sering aku tanyakan kepada orang yang hendak silaturahmi ke rumahku. Maklum, sebagian besar orang tidak mengunjungi rumahku tanpa tujuan tertentu. Jadi, otomatis saja keluar dari pikiranku. Ah, aku jadi malu sendiri. Kalimat yang sudah aku siapkan untuk menjawab “pertanyaan” yang tidak ditanyakan oleh nenek seketika menjadi lenyap begitu saja dari otakku.
Sebagai tanda terimakasih, saat pamit kuselipkan sedikit uang ke tangan nenek. Nenek tersenyum dan berucap terimakasih.
Pagi
Dari deretan rumah sangat sederhana di pinggiran sungaiKalibaru yang curam di bibir jalan ruas Kebon Pedes – Cilebut – Bojonggede, “tergantunglah” rumah milik nenek.Mengapa tergantung? Betapa tidak, rumah nenek berada di atas tebing sungai yang sangat curam, bahkan bisa dikatakan tegak lurus. Sewaktu-waktu air hujan bisa menggerus dinding sungai, dan menghanyutkan apapun di atasnya. Bayangan buruk ini bukan tidak mustahil. Sepanjang jalan dari Jalan Baru hingga Bojonggede, banyak sisi jalan yang berbibir tebing sungai telah mengalami longsor dan sangat membahayakan pengguna jalan.Mungkin, rumah nenek sedikit “beruntung”, karena ditopang rumpun bambu dibelakangnya.
Tapi sesungguhnya, jika tak jeli, rumah nenek ini mungkin tak terlihat sebagai rumah karena lebih menyerupai bilik, dengan dinding campuran potongan triplek, seng dan bambu berukuran 3x 3 meter. Letaknya paling ujung dari deretan, dan menempel pada rumah anak bungsunya yang juga berdinding bambu. Rumah ini hanya terdiri dari dua ruangan saja. Satu ruang lagi diisi tempat tidur dan penampung air beserta sedikit perabotan, satu ruang kecil lain adalah dapur dengan tungkunya.
Saat aku kunjungi, Nenek tak terlihat sedang memasak apapun di dapur nan kecil itu. Tak ada asap dari tungku. Abu bekas kayu bakarpun nampak telah dingin. Hanya dua ekor anak ayam di cat warna –warni yang menjadi piaraannya, asyik bermandi abu dari tungku.
Di rumah nan mungil itu, hanya ada sarana yang sangat sederhana. Satu-satunya penerangan miliknya adalah bohlam yang ada tepat di tengah ruangan. Itupun hanya bisa dinyalakan dari rumah sang anak. Di atap rumah, ada talangberkarat yang diselipkan di bawah genting untuk menampung air hujan. Talang itu disambungkan dengan corong dan selang plastik untuk mengalirkan air ke dalam tampungan di dalam rumah. Airhujan yang tertampung digunakan untuk berbagai macam keperluan seperti mencuci perabotan dan membersihkan diri ketika malam hari. Jika sedang tidak turun hujan, nenek terpaksa meminta air kepada tetangga. Salah satunya mengambil dari sumur di dalam kebun jati. Sedangkan untuk MCK, nenek biasa mengandalkan sungai Ciliwung yang jaraknya sekitar seratus meter dari rumahnya.
Rumah nenek juga tak berjarak dari pinggir jalan raya. Keluar dari pintu rumah, nenek sudah berhadapan dengan lalu lalang kendaraan yang semakin hari semakin ramai. Bukan tidak mungkin, setiap saat bahaya bisa menghampiri. Tapi, nenek tidak punya pilihan. Kehidupan anak-anaknya yang lain juga tidak lebih baik darinya. Dia lebih suka dekat anak bungsunya, yang memberikan satu cucu buah perkawinannya dengan Ujang, yang juga penjaga pintu perlintasan kereta.
Apakah bantuan pemerintah sudah pernah menyentuhnya? Saya tidak melihat jejaknya.
Cilebut, April 2010
Mar 30, 2010
Kangen...
Jadi kangen sama kamu, Blog..? Lama tak kujumpai. tapi sebentar lagi mungkin aku akan rajin menemuimu. Sebenarnya calon isimu sudah banyak...tapi, susah OL-nya..! Maklum, modem yang pernah kubanggakan itu merusak komputerku..Si Hoki. Jadi, kuputuskan tidak menggunakan modem dulu. Dan, ke warnet dulu deh...hehe..!
okelah...segini dulu kehadiranku. sampai jumpa lain kali, ya?
love u!
okelah...segini dulu kehadiranku. sampai jumpa lain kali, ya?
love u!
Jan 9, 2010
Bersyukur...

Sesuai judul "hidup itu indah", seperti itulah hidupku tahun 2009 yang baru berlalu. pernuh warna. tak terlalu gemerlap, tetapi tetap indah.
keindahan yang sederhana. Pernikahan si bungsu, memberi warna "lega" dan bangga. Dan, telah lunasnya rumah yang sejak tahun 2004 kami tempati, memberi warna puas, pun bangga. Meski mungkin bagi sebagain orang "prestasi" ini biasa saja, tapi bagiku ini luar biasa. Mengingat perjuangan kami yang cukup berat, dan dari hasil yang bersih tanpa korupsi!
Semoga kesederhanaan hidup kami, memberi berkah pada kehiduoan kami seterusnya. Amiinn...
Jul 2, 2009
Salah...?
Apa yang dilakukan orang ketika merasa bersalah?
Meminta maaf.
Bisa dan harus.
Dimaafkan? Mungkin. Tapi itu biasanya bisa dilakukan setelah amarah sang ”korban” telah luruh. Karena ketika amarah masih membuncah, tidak mungkin dia memaafkan kita.
Bahkan hanyut dalam gemuruh murka.
Lumat oleh godam kebencian.
Apa yang paling penting untuk diungkapkan ketika meminta maaf?
Mengakui kesalahan dan berjanji tak akan mengulangi kesalahan.
Selesai? Mungkin.
Sebaiknya kita siap menerima caci maki.
Siap di usir dari hadapannya.
Apa yang membuat kita melakukan kesalahan lagi?
Kekhilafan?
Mungkin. Sepertinya lebih karena kebodohan.
Bagaimana dengan ketidaktahuan?
Itulah manusia. Jika tidak karena khilaf, maka dia akan melakukan kesalahan karena tidak tahu.
Aku manusia.
Aku salah.
Aku bodoh.
Aku khilaf.
Aku meminta maaf.
Caci maki aku.
Aku terima.
Aku telah belajar.
Mudah-mudahan aku tak melakukan kesalahan,
Padamu dan pada yang lainnya.
Tentangmu, dan tentang lainnya.
Lagi.
Meminta maaf.
Bisa dan harus.
Dimaafkan? Mungkin. Tapi itu biasanya bisa dilakukan setelah amarah sang ”korban” telah luruh. Karena ketika amarah masih membuncah, tidak mungkin dia memaafkan kita.
Bahkan hanyut dalam gemuruh murka.
Lumat oleh godam kebencian.
Apa yang paling penting untuk diungkapkan ketika meminta maaf?
Mengakui kesalahan dan berjanji tak akan mengulangi kesalahan.
Selesai? Mungkin.
Sebaiknya kita siap menerima caci maki.
Siap di usir dari hadapannya.
Apa yang membuat kita melakukan kesalahan lagi?
Kekhilafan?
Mungkin. Sepertinya lebih karena kebodohan.
Bagaimana dengan ketidaktahuan?
Itulah manusia. Jika tidak karena khilaf, maka dia akan melakukan kesalahan karena tidak tahu.
Aku manusia.
Aku salah.
Aku bodoh.
Aku khilaf.
Aku meminta maaf.
Caci maki aku.
Aku terima.
Aku telah belajar.
Mudah-mudahan aku tak melakukan kesalahan,
Padamu dan pada yang lainnya.
Tentangmu, dan tentang lainnya.
Lagi.
Apr 2, 2009
Dari sebuah kotak berjalan....
Hari Senin telah tiba kembali setelah enam hari menghilang. Aku memilih mengisinya dengan mencari sembuh.
Kotak yang aku naiki, mulai berjalan perlahan. Mereka bilang ini kereta. Mungkin. Tapi yang kurasakan ini hanyalah kotak yang tengah berjalan, berisi manusia-manusia egois. Tak mau memberi duduk pada mereka yang lebih membutuhkan. Sudah menjadi suratan kah ketika yang duduk itu para pemuda, dan yang berdiri di atas kaki yang gemetar adalah para sepuh? Huh! Aku mulai merasakan sebal. Mana para petugas itu? Tempat duduk prioritas untuk para sepuh dan hamil telah penuh dengan pemuda gagah, yang duduk nyaman terkantuk-kantuk... Di dalam kotak ini, aku tak merasakan hidup.
Kotak panjang yang aku naiki telah sampai di stasiun tujuanku. Aku turun, dan mulai bernapas lega. Kehidupan sudah nampak. Seorang penjual makanan tengah bercengkrama dengan pembelinya. Mereka tertawa. Aku merasa sedikit hidup..
Melangkah menapaki jalanan. Mencoba menemukan hidup yang lain.
Lelaki kurus itu tengah menengadahkan topinya yang lusuh, mengharap seseorang yang tengah melewatinya, sepertiku, memberinya sedikit uang. Untuk makan, mungkin.
Aku memandanginya sejenak. Wajahnya yang kuyu sedikit menggangguku. Tidak, aku tidak mau tertipu wajah memelas itu...
Aku memalingkan muka, dan kembali berjalan.
Tapi, sesuatu membuatku menoleh lagi padanya.
Apakah aku telah kehilangan hidup? Mungkin. Aku telah menolak merasa kasihan padanya.
Aku melangkah lebih jauh lagi darinya. Lebih cepat...!
Kotak lain telah menungguku. Tak perlu menunggu lama, kotak itu telah membawaku semakin pergi menjauh.
Tapi mengapa tubuhku terasa berlubang? Kosong...
dan dari benakku, wajah pengemis itu tak mau pergi.
Kotak yang kunaiki berhenti sebentar di persimpangan. Dua roda yang berjubelan dan saling serobot tak menarik perhatianku. BOsan...
Di sebuah sudut gang di seberang jalan, tiba-tiba muncul sesosok yang berjalan terseok. Di pundaknya menggantung tiga buah kasur lipat yang membuat langkahnya makin gemetar. Di dekat warung kecil langkahnya terhenti. Disandarkannya beban itu pada pagar tembok, lalu mengambil napas. Topi yang menutupi kepalanya lepas tertiup angin. Dug! Dadaku semakin berlubang. Wajah keriputnya nampak semakin nyata.
Napasnya yang memburu tak tertutupi oleh bajunya yang tipis.
Sejenak, matanya tertuju pada warung kecil reot di dekatnya. Dengan langkah tertatih, kakek tua itu mencoba menawarkan kasur dagangannya pada pengunjung warung. Sayang, dia menggeleng. Padahal aku sangat berharap dia bisa membantu mengurangi bebannya.
Si ibu pemilik warung menatapnya iba, dan mulai mendekati si kakek. Tapi, entah apa yang di bicarakannya, tapi yang aku lihat Si Ibu tak dapat membantunya.
Dia hanya bisa menawarinya minum segelas air putih. Tapi nampaknya itu cukup membuat kakek senang. Dengan wajah tersenyum, kakek melanjutkan langkahnya. Mungkin mencari pembeli di tempat lain.
Lubang di dadaku semakin lebar. Aku mengutuk kotak berjalan ini yang tak bisa berhenti di sembarang tempat seperti kotak yang lain. Kalau tidak, mungkin aku bisa berbuat sesuatu untuknya...
Perlahan, lubang itu terisi sesuatu yang membuatku merasa sakit. Dadaku terasa sesak dan berat. Aku tak lagi mampu berdiri.
Aku terpekur.
Apakah aku telah hidup? Apakah aku mampu hidup?
Apakah aku mampu membantu yang lain tetap hidup?
Tuhan, tolong hamba...!
Kotak yang aku naiki, mulai berjalan perlahan. Mereka bilang ini kereta. Mungkin. Tapi yang kurasakan ini hanyalah kotak yang tengah berjalan, berisi manusia-manusia egois. Tak mau memberi duduk pada mereka yang lebih membutuhkan. Sudah menjadi suratan kah ketika yang duduk itu para pemuda, dan yang berdiri di atas kaki yang gemetar adalah para sepuh? Huh! Aku mulai merasakan sebal. Mana para petugas itu? Tempat duduk prioritas untuk para sepuh dan hamil telah penuh dengan pemuda gagah, yang duduk nyaman terkantuk-kantuk... Di dalam kotak ini, aku tak merasakan hidup.
Kotak panjang yang aku naiki telah sampai di stasiun tujuanku. Aku turun, dan mulai bernapas lega. Kehidupan sudah nampak. Seorang penjual makanan tengah bercengkrama dengan pembelinya. Mereka tertawa. Aku merasa sedikit hidup..
Melangkah menapaki jalanan. Mencoba menemukan hidup yang lain.
Lelaki kurus itu tengah menengadahkan topinya yang lusuh, mengharap seseorang yang tengah melewatinya, sepertiku, memberinya sedikit uang. Untuk makan, mungkin.
Aku memandanginya sejenak. Wajahnya yang kuyu sedikit menggangguku. Tidak, aku tidak mau tertipu wajah memelas itu...
Aku memalingkan muka, dan kembali berjalan.
Tapi, sesuatu membuatku menoleh lagi padanya.
Apakah aku telah kehilangan hidup? Mungkin. Aku telah menolak merasa kasihan padanya.
Aku melangkah lebih jauh lagi darinya. Lebih cepat...!
Kotak lain telah menungguku. Tak perlu menunggu lama, kotak itu telah membawaku semakin pergi menjauh.
Tapi mengapa tubuhku terasa berlubang? Kosong...
dan dari benakku, wajah pengemis itu tak mau pergi.
Kotak yang kunaiki berhenti sebentar di persimpangan. Dua roda yang berjubelan dan saling serobot tak menarik perhatianku. BOsan...
Di sebuah sudut gang di seberang jalan, tiba-tiba muncul sesosok yang berjalan terseok. Di pundaknya menggantung tiga buah kasur lipat yang membuat langkahnya makin gemetar. Di dekat warung kecil langkahnya terhenti. Disandarkannya beban itu pada pagar tembok, lalu mengambil napas. Topi yang menutupi kepalanya lepas tertiup angin. Dug! Dadaku semakin berlubang. Wajah keriputnya nampak semakin nyata.
Napasnya yang memburu tak tertutupi oleh bajunya yang tipis.
Sejenak, matanya tertuju pada warung kecil reot di dekatnya. Dengan langkah tertatih, kakek tua itu mencoba menawarkan kasur dagangannya pada pengunjung warung. Sayang, dia menggeleng. Padahal aku sangat berharap dia bisa membantu mengurangi bebannya.
Si ibu pemilik warung menatapnya iba, dan mulai mendekati si kakek. Tapi, entah apa yang di bicarakannya, tapi yang aku lihat Si Ibu tak dapat membantunya.
Dia hanya bisa menawarinya minum segelas air putih. Tapi nampaknya itu cukup membuat kakek senang. Dengan wajah tersenyum, kakek melanjutkan langkahnya. Mungkin mencari pembeli di tempat lain.
Lubang di dadaku semakin lebar. Aku mengutuk kotak berjalan ini yang tak bisa berhenti di sembarang tempat seperti kotak yang lain. Kalau tidak, mungkin aku bisa berbuat sesuatu untuknya...
Perlahan, lubang itu terisi sesuatu yang membuatku merasa sakit. Dadaku terasa sesak dan berat. Aku tak lagi mampu berdiri.
Aku terpekur.
Apakah aku telah hidup? Apakah aku mampu hidup?
Apakah aku mampu membantu yang lain tetap hidup?
Tuhan, tolong hamba...!
Subscribe to:
Posts (Atom)
