Mar 28, 2009

Hari yang aneh...

Hari yang aneh…

Mata berkantung seperti tak tidur seminggu, kepala terasa berat, badan lemas dan cuaca teramat panas sanggup membuat kelabakan seperti cacing kepanasan...
Aku jadi tak sempat berpikir, apalagi yang bisa menambahi factor nelangsaku ini? Biar sekalian hidupku semakin terasa runyam. Kalimat bijak sih bilang “ingat mudamu sebelum tuamu”, tapi itu bukan menghibur, malah makin menyesaki dada. Ya..ya..ya! siapa yang akan mengatakan usia 34 itu tua? Mungkin untuk para atlet atau dunia modeling. Tapi, dengan kombinasi rasa tubuh yang seperti itu, rasanya tak percaya masih bisa mengaku muda. Loyo, tak bergairah, tak bertenaga…idih, seperti tukang jamu yang baru memulai promo khasiat jamu racikannya aja….

Eh, sepertinya ide minum jamu boleh juga. Sudah lama tidak mengkonsumsi macam-macam tanaman dengan bau menyengat itu. Siapa tahu gejala low bat-ku ini berkurang. Tapi jamu apa ya? Pegel linu, aku gak merasa pegel2 kok...apalagi encok. Penambah gairah...wih, enggak deh. Takut.efek yang enggak-enggak eh, yang iya-iya! Hi..hi hi..!

Atau, aku ini lagi kena sawan? Itu tuh, gejala sakit (seperti demam) yang tidak bisa di definisikan secara medis. Dan, hanya ”orang-orang pintar” yang bisa menyembuhkan! Seperti jaman kecilku dulu yang harus di “suwuk” supaya sakit “sawan”nya hilang.

Ya...maksudku bukan yang semacam profesor atau doktor itu, tapi orang pintar dengan definisi ”tidak semua orang bisa melakukannya”. (Dan, karena kita sebagai pem-butuh orang pintar tidak tahu apa yang harus dilakukan. He.he..)

Seperti apa orang pintar itu?

Di jaman kecilku dulu, ciri-ciri orang pintar ini biasanya bergelar ”mbah”, tak peduli umurnya masih muda atau benar-benar tua, laki-laki atau perempuan.
Si Embah datang dengan penampilan sangat ”manusiawi”. Tak membawa peralatan khusus macam stetoskop untuk menguping detak jantung, atau jarum berisi cairan pengusir kuman yang sering membuat anak kecil takut – termasuk aku. Embah perempuan, - sering bergelar tambahan ”nyai”- biasanya datang ke rumah pasien dengan kebaya kusam dan kain yang dililit sekenanya (atau karena bergelar embah tak menjamin kesejahteraan?). Di kepalanya terikat selendang yang berlepotan bercak merah bekas ludah sirih-pinang (nginang) yang dikunyah. Di sudut mulutnya terjejal segumpal tembakau yang berfungsi untuk menggosok gigi dan mengusap mulut bekas meng-inang. Sedikit aroma tengik segera mengganggu hidung ketika si embah mendekat. Tapi anehnya, aroma itu jauh lebih menenangkan ketimbang bau obat yang di bawa oleh dokter berbaju rapi.
Mungkin itu karena aku tahu, Si Embah tidak akan memberiku obat yang pahit. Kecuali aku nakal, pasti akan di cekoki ramuan temulawak dan kunyit. Biar doyan makan katanya. Lah, nyambung nggak?

Seingatku, begini cara kerja Embah. 1. Membuat ramuan pijat/urut: dua sendok makan minyak goreng buatan sendiri dari kelapa, dicampur irisan bawang merah. 2. membalur tubuhku dengan ramuan. 3. mulai mengurut badan sambil mulut komat-kamit (mengucap mantra/doa). 4. di goreng....eh, dikasih air yang telah di bei mantra (doa). 5. Embah meminum sisa air doa, lalu di sembur ke seluruh tubuhku. Burr....!

Sembuh? Alhamdulillah begitu. Langsung? Tentu tidak. Setelah serangkaian ritual itu, aku biasanya bisa tidur nyenyak bin tenang. Nanti sore atau keesokan harinya aku bangun dengan badan lebih segar.

Hebatkan, cara penyembuhan Si Embah? Jaman dulu semuanya terasa serba ajaib dan mistis. Si Embah benar-benar menjelma menjadi orang pintar dambaan para pesakitan. Tanpa usaha neko-neko, si sakit jadi sembuh.

Tapi, ketika jaman berganti, kepintaran Si Embah ternyata semua serba masuk akal. Sawan si kecil datang karena terlalu capek bermain, ingin di manja, dan di support oleh orang terdekatnya. Ketika sentuhan (pijat) itu datang, dan disertai doa (mantra/doa), secara berangsur tubuh menjadi lebih nyaman dan relax. Apalagi disertai aroma alami dari bawang, bahkan ”tengik” sekalipun. Bukankah seperti melakukan terapi pijat dan aroma di spa?

Bagaimana dengan air bermantra? Ilmuwan Jepang telah membuktikan. Air yang telah disertai doa atau kata-kata yang indah berubah wujud menjadi kristal yang indah, lalu menjadi obat yang mujarab bagi setiap penyakit.

Lalu, semburan itu?
Katanya untuk mengusir roh jahat yang hendak mengganggu kita. Tapi ah, percayalah....semburan itu tanda sayang dari orang-orang tua yang mengasihani kita..... Bukankah di sayangi itu menenangkan jiwa yang gersang (ciee...)?
Beres kan?

Lalu apa hubungan judul dan tulisan itu? Sepertinya nggak nyambung?

Memang! Tapi, Aku sendiri tidak memikirkan aneh tidaknya hari ini.... Jadi, apanya yang aneh?

Mar 23, 2009

Rush Hour (2)

Terlalu Serius….!

Semakin sore, mendung semakin gelap. Angin juga semakin kencang menerpa. Untung masih ada jaket yang sedikit menghalau dingin yang mulai menusuk kulit.
Sudah setengah jam menunggu kereta yang akan membawaku kembali ke Bogor. Tapi, nampaknya aku masih harus menunggu lebih lama. Belum ada kereta yang lewat ke arah Jakarta, berarti belum boleh berharap akan ada kereta yang kembali ke Bogor.
Well, ini lagu lama…!

Pengen ngomel, rasanya percuma. Sudah jadi rahasia umum, bahwa negeri ini adalah negeri langka. Langka transportasi yang baik. Semua orang harus belomba menyelamatkan diri sendiri tanpa boleh berharap pada pemerintah. Sudah untung jika kali ini aku masih bisa duduk di bangku tunggu yang terbuat dari besi bekas rel. Meski keras dan dingin, lumayan untuk menyangga badan yang mulai kelelahan. Ya, di bilang lumayan karena di stasiun lain belum tentu bisa menemukan tempat duduk. Kalau tidak rusak, ya terpakai oleh pedagang.

Stasiun yang bernuansa pasar ini semakin penuh. Bangku yang tadinya masih lowong kini tak lagi tersisa. Sebagian bahkan harus berdiri. Dari arah Bogor, kereta akan lewat di jalur 5 menuju Jakarta. Penumpang berdiri dan bersiap. Tapi karena yang muncul adalah kereta ekonomi AC, sebagian penumpang urung berdiri. Mereka hanya memiliki tiket ekonomi biasa (banget).

Dengan wajah kecewa, mereka menatap kepergian kereta itu menuju stasiun berikutnya.
Aku menatap jam tangan, dan mulai menghitung. Jika kereta AC ekonomi baru menuju Jakarta Kota, setidaknya akan butuh waktu 45 menit untuk sampai kembali di stasiun ini.
Padahal, jangankan empat puluh lima menit lagi, lima belas menit lagi pun penumpang tak akan tertampung. Entah, apakah kereta yang tiba nanti bisa menyapu semuanya. Seperti yang sudah-sudah, bisa-bisa mendapatkan tempat untuk satu kaki saja sulit. Satu-satunya penghibur adalah harapan. Harapan akan adanya kereta balik – sebutan untuk kereta kosong yang baru keluar dari kandang dan langsung mengangkut penumpang menuju Bogor.

Setelah setengah jam, aku mulai lelah menghitung waktu dan berharap.
Karena jenuh, aku mulai mencari-cari pemandangan atau hal baru. Walaupun aku tahu itu sulit. Hampir setiap sudut stasiun ini sudah aku hafal, bahkan tempat para copet mangkal.
Pusing memperhatikan sekian banyak manusia, perhatianku teralih pada seorang bapak dan dua orang ibu setengah baya yang sudah duduk manis menunggu kereta ke arah Jakarta. Sama sepertiku, mereka mulai hilang kesabaran. Berkali-kali mengangkat lengan kirinya untuk melihat jam tangan.

Tiba-tiba wajah mereka sedikit berbinar. Di jalur 5 kembali masuk kereta menuju Jakarta. Sayang, lagi-lagi kereta ekonomi AC. Sejenak mereka saling bertatapan. Sejurus kemudian, entah siapa yang memulai, tiba-tiba mereka sudah bangun dari duduk dan masuk ke dalam kereta.

Giliranku yang terbengong. Lho, bukannya mereka tadi beli tiket kereta ekonomi biasa? Nekad banget....apa mereka tidak tahu sedang ada penertiban penumpang?
Belum habis aku bergumam, mereka turun dan kembali duduk ke tempat semula. Sambil bersungut-sungut mereka saling melempar komentar pedas.
”Ah, mereka terlalu serius....!”rutuk si Bapak. Sambil mendekap tas di dada, si bapak menatap para petugas dengan mata nanar. Tapi setelah membanting tubuhnya kembali ke bangku yang keras, si bapak diam. Sadar tingkahnya di perhatikan orang, si bapak pura-pura mengelus rambut yang disisir rapi. Mungkin untuk menutupi malu.
”Terlalu dibuat serius...” omel si Bapak lagi mencoba mentralkan situasi.
Sedangkan dua ibu yang turut naik hanya bisa sibuk beralasan (meski tak ada yang bertanya) mengapa mereka nekad melakukan itu.
”Habis, lama banget sih....!” ucap mereka hampir bebarengan.

Suasana semakin ”memanas” ketika yang kembali berhenti di stasiun ini dan akan menuju Jakarta adalah kereta ekonomi AC. Penumpang mulai gerah dengan ”ketidakadilan” ini. Beberapa orang mulai menyoraki petugas yang berada di belakang corong pengumuman.
Apalagi kereta menuju Bogor belum satupun lewat.

Tiba-tiba si Bapak, bangun dari duduknya dan mulai mengawasi pintu kereta yang terbuka. Di terlihat celingukan, seperti ada yang di cari. Sedikit demi sedikit, langkahnya mulai mendekati pintu. Dan, hup! Kakinya melangkah masuk dan langsung duduk manis di satu sudut. Ketika menyadari tidak ada petugas yang memergoki tingkahnya, wajahnya nampak lega. Pelan-pelan pintu tertutup kembali. Kereta berjalan membawa si bapak.
Tinggalah dua ibu tadi ribut sendiri. Iri dengan keberuntungan si bapak, dan menyesali kekurangnekatannya. Meski tak ada yang tahu, apakah si bapak bisa sampai tujuan tanpa ketahuan di stasiun berikutnya.

Kembali ke ceritaku sendiri.
Masih belum beruntung, sampai sepuluh menit kemudian. Kereta yang aku tunggu akhirnya datang juga. Meski telah terisi setengah penuh, aku tak mau menunggu lagi.
Berdiri tak apa, asal tidak mogok.

Kali ini aku bisa dibilang cukup beruntung. Setengah jam berdiri, seorang bapak memberiku duduk. Lumayan, sekedar mengurangi pegal di kaki.

Tiba-tiba aku teringat ucapan si Bapak nekad tadi.
Si bapak jelas tidak suka keinginanya naik kereta ekonomi AC di tolak petugas, walaupun memang jelas petugas yang benar. Tapi mengapa dia mengatakan itu ya?
Di mana letak terlalu seriusnya? Kalau keseriusan petugas “mengusir” penumpang gelap, itu sih sudah sewajarnya.
Atau, hanya karena tadinya boleh (bisa) numpang tanpa tiket yang benar (karena penegakan disiplin yang tak serius), dan sekarang di larang si Bapak jadi marah-marah? Lalu, menyebut petugas terlalu serius?

Menurutku, justeru para petugas belum serius menangani masalah transportasi massa ini.
Lhat saja, penumpang masih saja terbengkalai meski kewajiban membayar tiket sudah di penuhi. Ditambah dengan jadwal tidak pasti, sering mogok, rel rusak, sinyal rusak, bla..bla...
Apanya yang serius?

Aku juga telah lama menunggu hingga kepalaran dan kedinginan. Hak-hak ku sebagai konsumen benar-benar dilecehkan. Apakah perbakan harus selalu menunggu class action?

Lho, kok aku jadi terlalu serius? Ketularan si bapak tadi, nih....!

Mar 3, 2009

Rush Hour (1)


Pagi telah terbangun. Memanggil semua orang untuk meramaikan harinya. Meski setelah hujan semalaman menyisakan dingin, dan menawarkan kenikmatan bergelung di kasur, kewajiban telah memanggil.

Tak mau ketinggalan, kami juga bergegas mempersiapkan diri untuk beraktifitas seharian ini.Mandi, sarapan, dan berangkat. Kereta yang akan membawa kami ke Jakarta sebentar lagi lewat. Kami tak mau tertinggal. Meski kereta sering telat, kami tetap harus khawatir. Karena, jika tertinggal satu jadwal, sangat bisa jadi kereta berikutnya akan lebih telat dan penuh!

Sayang, karena terburu-buru, ponsel ku malah tertinggal. Apa boleh buat, setelah setengah jalan, motor kami putar balik menuju rumah.
Beberapa orang yang mengenal kami, menatap heran. Termasuk penjaga pintu kereta.
Kami cuma menjawab”biasa, ada yang tertinggal!”

Anehnya, meksi kami terburu-buru kami justeru lebih melihat orang lain lebih cemas. Ketika berpapasan, beberapa orang sudah menampakkan wajah bersungut. Berjalan cepat, tapi tak mau melihat ke depan. Mungkin karena jalanan yang becek dan licin, mereka takut terpeleset. Bisa makin telat nanti...

Satu yang menarik perhatianku. Seorang bapak yang berjalan tergesa, nampak sibuk dengan dagunya yang mulai ditumbuhi rambut kasar. Sambil melangkah, matanya awas menatap jalan yang akan dilalui. Tapi, tangannya sibuk menggerakkan alat pencukur rambut. Mulut dan pipinya nampak mencong sana-sini. Tanan kanan menggerakkan pencukur, tangan kiri meraba-raba kulit wajanya mencari bagian yang kasar.

Tadinya suamiku tak memperhatikan, karena cukup sibuk mengerem motor yang gamang menapaki jalanan licin. Tapi setelah aku bergumam”Ya, ampun....! Sampai segitunya....!” Dia jadi bertanya,”ada apa, sih?”
Dengan dagu yang aku gerakkan ke depan, aku menunjuk,”tuh!”
Senyum simpul segera tersembul dari bibir suamiku.
Dia menggeleng-nggelengkan kepala.
“Sesibuk apa sih pagi harinya? Sampai cukur jenggot saja tidak sempat! Kenapa tak menunggu sampai tiba di kantor? Di sana pasti kan ada toilet!”

Aku manggut-manggut saja mendengar komentar suamiku dan berpikir, iya ya....?
Aku memang tidak tahu seperti apa repotnya mencukur rambut di wajah, karena aku lebih sibuk membedakinya. Tapi, apa iya tidak bisa di tunda?

Tapi, mungkin juga mencukur rambut wajah itu jadi kebutuhan utama. Seperti halnya perempuan yang tidak rela pisah dari bedak dan lipstick. Bahkan mungkin rela sedikit terlambat daripada pergi kerja tanpa berdandan dulu.

Begitukah? Yah, namanya saja mengira-ngira....

Eh, tapi apa yang terjadi ya, jika sebelum sibuk berbedak kita harus lebih dulu mencukur rambut-rambut yang tumbuh di wajah?
Pasti akan butuh waktu yang lebih lama.
Bukan begitu, teman?

Feb 10, 2009

Dibalik Keindahan Cidahu


Selamat pagi dunia…! Pagi ini cukup cerah. Setelah malam cukup beku dan kelam karena kehadiran sang penguasa malam…
Meski matahari tak bisa menembus kabut tebal yang melingkupi, kami harus tetap bersemangat. Hari ini kami kembali pulang ke rumah masing-masing. Besok, para mahasiswa juga harus kembali belajar.

Tenda-tenda kami lipat. Berbagai perlengkapan kami bongkar kembali. Setelah alam memberi kami begitu banyak kebaikan, kami harus membiarkan alam kembali menemukan hidupnya sendiri tanpa gangguan kami.

Kami akan membawa sampah-sampah ini pulang. Tak mau lagi menambah beban alam.

Nasi yang semalam kami masak belum habis. Untuk sarapanpun masih sisa banyak. Kami harus mencari cara untuk menghabiskannya tanpa membuangnya sia-sia. Tak mungkin sisa nasi ini kami bawa pulang.

Tanpa kami sadari, dari arah belakang tenda muncul beberapa orang anak yang beragam usiannya. Laki-laki dan perempuan. Mereka datang mendekat dan meminta sedikit uang pada kami.

Serentak kami menoleh ke arah mereka. Mata kami menelusuri satu persatu anak-anak itu. Darimana mereka datang? Mengapa mereka mendatangi kami? Meminta uang pula. Apakah di mata mereka kami lebih makmur? Apakah mereka selalu begini, meminta uang kepada setiap pendatang? Aku melayangkan pandangan ke sekeliling, berharap menemukan jawaban.

Kami menggeleng. Tak ada uang untuk kami berikan. Semua yang kami miliki hanya cukup untuk perjalanan pulang.

Wajah-wajah yang terlihat tak terurus itu seketika layu. Tapi rupanya mereka tak kenal menyerah. Mereka datang kembali dan meminta sampah plastik kami untuk dikumpulkan.
Kami jadi terdiam.Apakah sampah plastik pun tidak akan kami berikan? Tentu boleh. Tapi tidak, masalahnya bukan itu. Sampah plastik itu mungkin cukup bernilai bagi mereka untuk menjadikan uang yang berarti jumlahnya. Kami harusnya bisa memberi lebih.

Mata kami beralih kepada makanan yang masih tersisa. Ya, mungkin sedikit makanan itu bisa menghibur mereka. Nasi, mie goreng, sambal, dan ikan asin kami taruh dalam satu wadah lebar. Tangan kami yang terulur segera mereka sambut dengan gembira.

Menakjubkan! Makanan itu habis dalam hitungan detik. Tidak percaya? Kami pun begitu.
Aku jadi berpikir, apakah mereka sedemikian laparnya? Hingga makanan yang berlauk apa adanya itu tandas tak tersisa sebutir nasi pun. Seperti hendak membalas budi, mereka tak mau berpangku tangan dengan menyerahkan wadah makanan tadi dalam keadaan kotor. Anak-anak itu berebut mencucikan wadahnya.

Perilaku mereka mengetuk welas asih kami. Suamiku bergegas ke dapur umum mencari ”sisa” makanan yang ternyata tidak bisa dikatakan sebagai sisa karena masih banyak menumpuk. Tanpa banyak pikir lagi, kami memberi mereka makan sampai mereka sendiri bilang kenyang!

Sekarang, kesejukan alam Cidahu tidak hanya menyentuh kulit kami, tapi juga hati kami. Sedikit kebaikan yang bisa kami bagi mampu menyejukkan hati yang sempat terbakar kesal karena beberapa mahasiswa kehilangan tas yang mereka simpan dalam tenda.
Meski kehadiran anak-anak yang berkeliaran di sekitar tenda itu memang mengundang kecurigaan, apalagi ketika pertama bersentuhan mereka tak segan meminta uang. Tapi tanpa bukti apapun, kami tak bisa menuduh mereka.

Ada apa dengan Cidahu? Mengapa mereka sampai mengemis?

Dalam perjalanan pulang menuju Bogor, dan menyusuri jalanan kampung segalanya menjadi jelas. Banyak gubuk reot terselip di antara villa yang berdiri megah. Jalanan rusak penuh kubangan tergerus truk pengangkut air minum kemasan galon. Truk itu keluar dari mulut raksasa yang berdiri kukuh dan rakus menghisap isi perut bumi Cidahu.

Apakah raksasa itu tak punya mata dan hati? Lihatlah, kemiskinan terserak di sana-sini.
Jika tidak punya mata dan hati, mungkin mereka tidak punya program tanggung jawab sosial yang berada nun jauh di sebuah tempat di Indonesia Timur. Tapi jika punya, mengapa sang raksasa tak peduli dengan kemiskinan di sekelilingnya?
Ataukah ada raksasa lain yang lebih berkuasa tengah menjadi pelindung raksasa itu? Yang korup, yang hidupnya hanya untuk memperkaya diri....?

Feb 3, 2009

Menjelang sore di Sungai Musi








Siang masih menyengat ketika kami tiba di tepian Sungai Musi. Hembusan angin sedikit menyusutkan keringat yang mulai menetes. Jembatan Ampera masih menyilaukan mata dengan merahnya. Memang terlihat megah.

Seorang teman mengatakan akan lebih indah di malam hari. Aku cuma mengangguk tak menyangkal. Aku juga sering melihatnya di televisi ataupun majalah. Tapi aku hanya bilang padanya,”mudah-mudahan nanti malam ada waktu!”. Ya, aku hanya bisa berharap karena tidak yakin akan ada waktu lagi. Malam nanti, pasti aku dan beberapa kawan akan disibukkan dengan persiapan untuk event besok pagi.

Untuk menikmati sore ini saja, harus berbatas waktu hingga pukul 18.00, dan harus mengorbankan waktu istirahat. Sebenarnya mataku sudah tak tahan ingin terpejam. Sebelum subuh tadi sudah harus menyusuri tol Bogor menuju bandara Soekarno Hatta, karena harus mengejar pesawat yang paling pagi. Tapi, demi memenuhi “undangan” Visit Musi 2008- yang sempat aku baca di salah satu board di Bandara Soekarno Hatta, aku harus bisa menahannya.

Tiba-tiba pikiranku menggugat,”ini sudah di tepi Sungai Musi, Jembatan Ampera telah di depan mata. Terus mau apa?”

Jawabku,” berfoto-foto tentu!”


Setelah setengah jam berlalu, puluhan pun foto telah tersimpan dalam memori. Lalu?

Tak tahu apa lagi yang harus dilakukan, kami memilih berjalan menyusuri tepi sungai yang telah rapi berpagar tembok. Mengamati perahu-perahu kecil berlalu lalang memecah riak gelombang yang tercipta saat perahu besar melaju melewatinya.

Beberapa penjaja minuman menawarkan kesegaran air bersoda. Aku terpaksa menggeleng. Perutku tak lagi boleh bersentuhan dengan air itu sejak sakit maag mencengkeram lambungku.
Sore makin temaram. Tepian sungai Musi semakin semarak. Mereka yang berpasangan semakin tenggelam dalam kesyahduan. Rombongan keluargapun tak kalah seru, mereka asyik bermain dan bercengkrama.




Aku mengalihkan perhatian pada kapal yang cukup besar yang tengah bersandar. Jadi terbayang indahnya menyusuri sungai ini. Sayang, perahu besar itu hanya melayani pelayaran jarak jauh. Tentu tak mungkin kami tumpangi karena hanya memiliki waktu beberapa jam saja.
Tak boleh kekurangan cara, kami akhirnya menerima tawaran untuk menyewa perahu kecil yang sedang banting harga karena sepi penumpang. Hanya berdiri di tepian sungai tentu tak asyik. Merasakan sedikit goncangan perahu mungkin bisa sedikit menghilangkan kantuk dan jenuh.

Sedikit tawar menawar, dan jadilah. Walaupun harga tak bergeser sedikitpun, karena hati sudah kepincut, tiba-tiba saja kami melompat ke atas perahu. Si bapak hanya tersenyum lebar menyadari bahwa sore ini dia bisa memberi nafkah pada keluarga.


Perahu dijalankan pelan-pelan. Suara mesinnya bersaingan dengan teriakan-teriakan kami yang berebut angle foto. Kami harus cepat, tak mungkin meminta perahunya mundur untuk mengulangi momen yang terlewatkan karena perahu yang terus berjalan.
Setelah beberapa menit, ledakan kegembiraan sedikit berkurang. Jembatan Ampera sudah terlewati, kini ada di belakang kami. Sambil berbincang dengan si bapak, kami asyik mengabadikan setiap momen yang cukup menarik. Perahu memang selalu bergoncang ketika kami berpapasan dengan kapal yang lebih besar, tapi ternyata itu tak mengganggu. Kami malah asyik berlomba mengabadikan keindahan di kamera yang kami bawa. Bak fotografer, kami tak ragu memotret setiap sudut tepian sungai.

Rumah-rumah berdinding papan bercat warna-warni berjajar di tepian. Perahu-perahu bersandar di depannya menjadi penghias utama. Atap bebentuk limas masih menampakkan cirri khas Melayu. Cahaya keemasan sore turut memberi warna, menyuguhkan pemandangan menakjubkan. Batang bamboo dan kayu yang menyangga rumah dengan kokoh, seperti tak lelah menyangga kehidupan.

Tapi, batang-batang bamboo itu juga mengingatkan aku pada rumah-rumah yang berdiri di sepanjang bantaran Sungai Ciliwung. Lengkap dengan bocah yang berenang-renang di bawahnya. Tapi, tentu ada satu yang membedakannya. Meski kecoklatan dan keruh, Sungai Musi tanpa sampah berserakan, yang menjadikannya lebih nyaman. Mudah-mudahan saja, Sungai Musi takkan seperti sungai-sungai yang ada di Jakarta. Menjadi tempat pembuangan segala macam sampah, tetapi masih juga dipergunakan untuk memenuhi hajat sehari-hari.
Beberapa rumah makan juga telah bersolek, siap menerima kunjungan tamu. Masih terlihat sepi. Kata si bapak rumah makan itu akan ramai di malam hari, ketika lampu-lampu telah dinyalakan dan kerlipnya melukisi malam.

Ya, malam masih beberapa jam lagi. Tapi kami cukup beruntung, sore ini adalah waktu yang tepat mengabadikan Jembatan Ampera dalam siraman cahaya keemasan. Panasnya tak lagi menyengat. Malah, kilau mentari yang memantul di permukaan sungai seperti menggugah perasaan romantis. Hmm…mungkin ini yang menjadikan pasangan-pasangan itu tak lagi risih bermesraan, meski di bawah tatapan banyak pasang mata.

Tak terasa perahu telah kembali menepi. Sudah hampir satu jam kami menyusuri Sungai Musi. Untuk meredakan pusing (mungkin karena jet lag dan di tambah goncangan perahu), kami memutuskan beristirahat sejenak sebelum kembali ke hotel dan mempersiapkan diri untuk event besok. Ketika padangan mata kami tertumbuk pada sebuah warung terapung, serempak kami bergegas menghampiri. Menikmati waktu yang tersisa.


Sajian khas Kota Palembang segera menyambut. Mpek-mpek berbagai jenis dalam wadah plastic siap di santap. Bau cuka menyeruak diantara harum bumbu yang berwarna kehitaman itu. Kami sempat kebingungan memilih karena ingin mencicipi semua tapi tak mau kekenyangan. Satu keluarga kecil yang berada di hadapan kami dengan senang hati menjadi guide dadakan. Dengan telaten mereka menjelaskan satu persatu jenis makanan yang ada dan cara memakannya. Tapi, ada satu jenis makanan yang tidak di letakkan di meja karena dia harus tetap panas. Makanan itu adalah tekwan. Akhirnya pilihanku jatuh pada makanan yang mirip bakso itu. Kuah yang hangat dan harum udang menjadi alasan utamaku. Pilihan yang tepat. Kelezatannya tidak mengenyangkan, tetapi dapat mengusir kantuk dan sedikit pusing di kepalaku.

Sore yang sempurna di tepian sungai Musi. Kami kembali ke hotel dengan perut kenyang dan hati dipenuhi keindahan. Kami bahkan tak sempat mengunjungi Benteng Kuto Besak yang hanya berjarak puluhan meter dari Jembatan Ampera. Mudah-mudahan suatu saat nanti akan ada kesempatan untuk kembali ke Bumi Sriwijaya ini.

Benteng Kuto Besak

Jan 7, 2009

Tha D-day (puisi)

Tiga murid lamaku (Syfa, Icha dan Sherly) dengan bangga menunjukkan hasil karyanya. Masing-masing telah siap dengan tiga puisi. Yang paling antusias membacakan puisi karyanya tentu Syfa. Selain bermodal puisi yang bagus (menurutnya), dia memang sering terlihat ingin menjadi contoh bagi yang lain. Meskipun, itu selalu dibarengi dengan ledekan pada sang adik. Untungnya, Sherly tak pernah sakit hati. Malah dengan tangkas membalas ledekan sang kakak. Dua kakak beradik ini, selalu berebut siapa yang maju lebih dulu. Sementara Icha, masih membutuhkan dorongan. Tapi, lama-lama dia terprovokasi juga.

Sementara tiga murid lamaku bersaingan menulis puisi, dua murid baruku lebih banyak diam. Mungkin mereka berpikir keras untuk membuat puisi, atau malah tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sesekali mereka bertanya padaku apa tema yang boleh di tulis? Atau, beradu mulut karena merasa ide atau tema pusinya di curi. Saat Icha menulis puisi tentang boneka, tiba-tiba Sherly ”membacakan” puisi dikepalanya yang muncul tiba-tiba setelah membaca judul puisi Icha. Tentu tingkahnya mengundang protes, karena menurut Icha sangat mengganggu.

Sherly memang spontaitasnya tinggi. Apa yang dia pikirkan, itulah yag dia katakan.

Lucunya, mereka menuliskan puisi yang kata-katanya menurut mereka ”logis/nyata”. Misalnya kalimat yang di tulis Sherly ”kupu-kupu berterbangan di malam hari”, kakaknya langsung membantahnya dengan mengatakan ”mana ada kupu-kupu terbang malam?”.

Demi menengahi perdebatan itu, aku terpaksa ”melogiskan” kalimat itu dengan memberitahukan tentang kupu-kupu yang terbang malam yaitu ngengat. Yang membuat jantungku sedikit berdebar adalah aku ”takut” bahwa ternyata mereka telah mengetahui makna simbolis dari kupu-kupu malam. Ah, bisa panjang nanti urusan. Maksudku, apa yang harus aku katakan jika sebuah pertanyaan muncul tentang kupu-kupu malam ala anak-anak (polos dan sulit menjawabnya)?

Tapi, yang paling membuat takjub, tak terasa mereka telah dengan senang hati mencoba menuangkan semua ide-ide tentang banyak hal di sekeliling mereka sepanjang dua jam.

Karena begitu banyak puisi yang mereka tulis, aku menyalin beberapa saja yang sore itu aku puji sebagai yang terbaik, dan terfavorit.

Ini dia puisi-puisi itu...

1. Karya Sherly
(Sebelum membaca puisi, Sherly meminta audience/teman-temannya menjawab pertanyaan yang terlontar- di baris ke-3)

Jangan Takut Gelap

Kau tak boleh takut gelap,
Di dunia tidak ada yang namanya setan.
Memang kalau ada setan di dunia, kalian takut?
Kalau kalian takut, berarti kalian tak takut Allah.

Cerita di balik puisi:
Sebelum mereka menuliskan puisi, mereka punya ritual buang air kecil di toilet bebarengan (sekali masuk 2-3 anak). Karena toilet rumahku kecil, mereka menggunakannya dengan dua kloter. Kebetulan Icha tak bersama Sherly. Ketika Sherly dengan iseng mematikan lampu toilet, Icha menjerit ketakutan. Jerit Icha ternyata menjadi inspirasi buat Sherly.


Jangan menyerah Tata!

Tata...
Kau jangan menyerah!
Aku tidak suka kau menyerah.
Apalagi merasa malas untuk hal yang berguna.
Janganlah kau menyerah Tata.
Maju terus Tata.
Hiduplah Tata!

Cerita di balik puisi:
Puisi ini muncul ketika Sherly telah membacakan puisinya beberapa kali, sementara Tata belum sekalipun. Sherly terlihat kesal, meskipun dia juga tetap memberi semangat dengan ”omelan” dan komentar nakalnya. Tiba-tiba, omelan-omelannya pada Tata menjadi inspirasi untuknya, apalagi setelah beberapa puisinya (dengan tema bunga, sepeda, dan hujan) gagal tersusun. Dengan semangat dia menuliskan puisinya. Dan jadilah...puisi favoritku!


2. Karya Syfa

Ayah

Ayah...
Ku tahu kau lelah
Bekerja untuk keluarga
Bagimu, tiada yang berarti selain keluarga

Tanganmu,
Kakimu,
Matamu,
Bekerja untuk kami.

Terima kasih ayah....


Secangkir kopi untukmu Ayah

Ku tahu kau lelah,
Dari caramu menghela napas

Namun, harus kuhargai jasamu

Secangkir kopi untukmu
Itulah tanda baktiku untukmu

Terimakasih atas usahamu
Aku berjanji
Aku akan menggapai cita-cita setinggi langit
Demi mu, Ayah....


3. Karya Icha

Rumah

Dindingnya berwarna biru
Terbuat dari bambu
Rumah....kau adalah istanaku

Tempat aku berteduh,
Tempat aku berbagi cerita
Dan, tempat aku tinggal

Rumah, oh...rumahku

4. Karya Prita

Boneka

Aku senang bermain boneka dengan temanku
Bonekaku cantik, dan aku dandani

Tapi sayang, bonekaku rusak
Di rusak oleh temanku
Dan aku menangis,
Aku marah padanya....

5. Karya Tata

Ayam

Ayam yang berkokok di pagi hari,
Suara itu nyaring da kencang sekali,
Pasti itu tanda kalau sudah pagi.

hari ini, aku telah menepati janjiku pada murid-muirdku bahwa aku akan menyimpan karya mereka dan memberi tahu semua orang bahwa mereka telah berkarya.

Mendadak Guru 3

Entah memang si anak butuh, atau sekedar pengen karena teman-teman sebayanya les privat di rumahku, dia sampai menangis mengiba pada ibunya minta turut serta.

Aku ingin tersanjung, tapi tak jadi. Aku yang selalu terlihat menganggur di mata tetanggaku, dan karenanya aku di kecam (karena tidak pernah main ke tetangga), pasti akan makin kehilangan waktu untuk menyalurkan hobi menonton TV. Sepertinya memang ini resiko yang harus aku ambil. Tapi, sepadan nggak ya? He he he maklum, penganggur memang sering berteman TV.

Dan benar saja, sore itu muncul empat anak yang datang bersamaan. Mereka Syifa (kelas 6), Icha (kelas 5), Sherly adik Syfa (kelas 3) dan, Prita (kelas 4). Prita ini yang menangis minta les. Lima belas menit ”kelas” dimulai, ada seorang anak yang mengintip dibalik pagar. Dia Tata teman sekelas Prita. Karena mendengar semua temannya pergi untuk les, dia mendatangi rumahku. Ketika aku panggil, dia terlihat gembira. Apalagi teman-temannya meneriakinya agar masuk..
”Les apa, sih?” tanya Tata.
”Apa aja...!” teman-temannya serentak menjawab.

Tak bertanya lebih banyak, Tata berlari pulang ke rumahnya dan mengambil buku. Tak sampai lima menit dia sudah sampai kembali. Napasnya memburu. Dia terlihat kehausan. Ah iya, Aku harus menambah dua gelas lagi untuk Prita dan Tata. Seperti yang biasa aku sediakan untuk murid les-ku yang sebelumnya.

Rumahku jadi penuh, dan berisik. Mereka membicarakan ujian yang baru lewat, dan soal-soal yang keluar dalam ujian. Apalagi mereka berbeda sekolah.

Untuk sedikit menenangkan suasana, aku bertanya:”sekarang mau les apa?”
Ah, sebuah pertanyaan yang kemudian aku sesali.
Mengapa?

Karena:
Syfa dan Sherly, menjawab Bahasa Indonesia. Icha menjawab IPA, dan Prita serta Tata menjawab matematika.

Astaga....! Otakku bisa pecah nanti.... Tidak mungkin aku bisa mengatasi serbuan pertanyaan mereka. Aku bukan gurunya Toto-chan (meskipun aku sedang berusaha menirunya), dan terlebih karena semua anak punya tugas dan keinginan berbeda.

Tugas? Ya, tugas. Tidak perlu heran, meskipun telah memasuki masa jeda (menjelang penerimaan raport dan libur), sang guru belum lelah memberikan tugas. Misalnya berupa PR matimatika, merangkum materi IPS, dll. Terutama untuk kelas 6. Katanya itu sekaligus untuk remedial (ujian ulangan), plus persiapan menjelang ujian nasional.

Setengah menghiba aku menatap wajah mereka satu persatu. Mereka terlihat bersemangat. Sementara aku kewalahan menampung seluruh energi itu.
Aku ternyata tidak siap....!

Untung Syfa mengingatkan aku semalam mereka punya ”pe-er” dariku yaitu membuat puisi. Sebenarnya sih itu bukan pe-er, sebenar-benarnya pe-er. Awalnya, karena telah jenuh dengan tugas IPA dan matematika, mereka minta kesempatan untuk refreshing.

Tentu aku dengan senang hati memberikannya, karena aku juga membutuhkannya.

Aku menawarkan buku-buku cerita untuk di baca, untuk kemudian mereka menceritakan kembali isi buku itu. Tapi mereka malah menginginkan sesuatu yang belum terpikir olehku, yaitu membuat puisi. Ya sudah, aku sepakat saja. Tapi, karena waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 dan mereka harus mengaji, aku meminta mereka membuat puisinya di rumah saja. Besok (hari ini), puisi mereka akan dibacakan.