Nov 17, 2011

Apa kabar?


Sekedar mengobati rindu. Lintangku sudah tertarik pada gadget, meski duduk pun masih suka terguling. Sayang, tulisan yang terperam belum bisa dikemas. Emak Lintang masih keberatan punggung dan mata karena beraktifitas seharian bersamanya. Mungkin besok, atau lusa.

Zzzz.....zzzz...!

Jul 3, 2011

Berhenti Sejenak


Karena dia, anak pertamaku aktifitas "keluh kesah" ini harus berenti sejenak. Bukan karena telah ke ain hati, tetapi belum bisa berbagi waktu. Tak apa, meski.telah banyak cerita di benak, kuperam saja dulu. Tak rugi sama sekali. Apalagi melihat senyum yang begitu menggemaskan. Rayi Lintang Prayoga namanya. Terus sehat ya, nak...biar dunia juga melihatmu tersenyum dan kembali tersenyum untukmu.

Jun 5, 2011

Apa Yang Kau Cari?

Setiap mendengar, melihat, dan membaca berita tentang korupsi, apalagi yang dilakukan oleh penegak hukum, selalu ada satu pertanyaan yang terus berputar di kepalaku: APA YANG KAU CARI dalam hidupmu di dunia ini?
Jika tak tahan dengan profesi sebagai hakim yang mungkin jauh dari harapan tentang UANG, mengapa tak kau lepaskan? Lalu beralih menjadi pengusaha yang memang berorientasi pada profit? Ah, kurasa aku akan menemukan jawaban klise. Atau, alasan panjang dan berbelit tentang sebuah keadaan yang membuatmu terjepit, lalu berpaling.
Atau, ini soal ketenaran? Aha..! Kini sudah kau dapatkan itu. Kau hanya memikirkan ketenarann kan, bukan soal apa yang membuatmu tenar? Toh, kau tak sendirian. Lalu kau tak perlu merasa malu. Sudah umum...di negeri ini! Untuk apa di herankan? Kalau tak begitu, matilah kita..! Begitu kan pikirmu?

Ah...! Sudahlah! Omong kosong di negeri ini memang lebih laku ketimbang kejujuran. Makan tuh, jujur! Lalu hidupmu akan sengsara. Sekolah tak bisa, sakit pun tak beroleh obat. Yang jujur, pasti miskin! Yang jujur pasti hancur..!

KehadiratMU Ya Allaah...hamba berserah. Tolong pegang hati hamba, dan pikiran hamba agar tetap di jalanMU. Amin.

Jun 3, 2011

Penghuni Halaman Rumahku

Dia hanya muncul di malam hari. Mungkin karena dia amat pemalu. Katak, aku suka kok kamu ada di halaman rumahku. Gunakan saja seluruh pohon dan tanaman untuk rumahmu. Aku tak akan mengganggu.

Menatap Indahnya Indonesia

Akhir bulan Mei 2011, di tutup dengan memori indah. Bisa di katakan sedang beruntung. Beberapa waktu lalu, Bromo sedang terbatuk, memuntahkan debu vulkanik dan menjadikan penyedia jasa mobil dan kuda harus berhenti mencari nafkah. Tetapi, saat kami tiba cuaca sedang cerah dan Bromo sedang ramah. Kami bisa menatapnya dari jauh, lalu mendekat hingga ke kaki kawah. Belum didaki kembali memang. Selain masih dalam status siaga, jalur menuju bibir kawah tertutup abu sehingga tak mungkin di lalui.

Dan, inilah yang bisa aku abadikan dalam kamera. Tuhan Maha Indah, sehingga ciptaanNya pun sungguh memesona.
                                                                      Pukul 06.00 pagi.

                                                                        Sepasang kekasih




                                                                         Bromo dari dekat

 
                                                      Pasukan kuda yang siap mengantar anda


                                                                   Kabut pagi hari

Rasanya, ingin segera ke sana lagi. Menatap lebih banyak keindahan!

Apr 27, 2011

Tak berhak kecewa..

Awalnya, fesbuklah yang mempertemukan kami. Saling bertukar kabar, foto, dan celotehan di komentar status, rupanya ada perasaan tak puas. Kami ingin bertemu, lalu bersepakat bertemu di rumah teman yang terdekat. Mungkin bukan yang terdekat, tetapi dia yang mengundang lebih dulu, kami menghormatinya. Mumpung seorang dari kami yang sebenarnya tinggal di luar Jawa sedang bersekolah belum mendekati masa akhir. Begitulah akhirnya, setelah sekitar sepuluh tahun tak bertemu selepas kuliah, kami bertemu untuk melepas rindu. Tak ada perjamuan  istimewa. Hanya perasaan senang setelah penasaran akan rupa kami masing-masing terjawab.

Celoteh lucu kami disaksikan anak-anak dari kawanku. Mungkin ada perasaan jengah dari anak-anak mereka, kok emak-emakku rame sekali, ya? hehehe..

Tak sampai satu jam kami pamit pulang. Ini lantaran satu dari kawanku (yang dari dulu tetep mungil tetapi anaknya telah 5!), adalah business woman, sehingga waktu sangatlah penting. Banyak deal yang harus dilakukan. Dengan perut buncit (waktu itu masih mengandung anak ke-5), setiap hari dia mondar-mandir Bekasi-Jakarta, bahkan sampai Bandung. Wuah..salut berat aku jadinya.

Satu kawanku, yang sedang menempuh pendidikan S2 membookingku untuk menjadi fotografernya saat wisuda nanti. Mudah-mudahan aku bisa. Maklum, kameraku masih apa adanya. Dan, meski sebagian teman memuji hasil jepretanku, aku masih belum pede benar. Kami berpisah di jalan, dan berjanji bertemu kembali suatu hari di toko baju anak milik temanku yang pebisnis itu. Diam-diam, aku kepincut juga dengan tawaran kerjasama (menjual baju branded) dengannya. Apa salahnya aku coba.

Ketika sampai dirumah, aku tiba-tiba teringat kembali akan percakapanku dengan kawan-kawan lamaku itu. Ada dunia yang sedang terbalik. Aku dulu mengagumi teman yang rumahnya jadi tempat reuni kilat itu. Di angkatanku, dialah dulu yang paling cemerlang. Cantik, pandai pula. Indeks prestasinya tak pernah mengecewakan. Berbeda denganku yang apa adanya, segala-galanya. Ku pikir, betapa cerah masa depannya. Dia akan menjadi wanita karier yang sukses. Tetapi, ada rasa kecewa di sutu hati. Yang kujumpai adalah berbeda seratus delapan puluh derajat dengan apa yang kubyangkan. Apa pasal? Pertama, dia tidak bertahan di tempat kerja hanya karena konflik kecil, dan dia tidak terlibat langsung di dalamnya. Dua, ketika hendak melanjutkan kuliah ke jenjang S2 dia memutuskan tidak melanjutkannya karena harus melakukan penelitian di hutan. Tiga, memilih menjadi ibu rumah tangga tanpa ingin beraktifitas lain yang mengayakan dirinya. Setiap kali ku baca statusnya atau komentarnya di fesbuk, semakin kecewa ku rasakan. Kemanakah kepandaiannya masa lalu?

Dan, aku tak sendiri. Temanku yang berjumpa dengannya pun demikian. Dengan rasa menyesal akhirnya kami mengakui, bahwa kepandaian di sekolah formal dengan nilai mata pelajaran yang bagus tidaklah menjadi ukuran mutlak kesuksesan masa depan. Tapi, apa sebenarnya ukuran sukses? Jika dia merasa baik-baik saja dengan hidupnya, kurasa dia telah merasa sukses. Sukses membesarkan anak-anaknya.

Bagaimanapun, itu adalah keputusannya sendiri. Dibuatnya secara sadar. Dan, dia nampak bahagia dengan keputusannya itu. Kenapa kami yang begitu keberatan? Seakan tak rela kepandaiannya hilang lenyap. Tapi, mungkin saja kami keliru. Bisa saja kepandaiannya itu hanya berubah bentuk. Yang lebih baik, lebih mulia. Kami cuma tak tahu saja.Lagi pula, aku juga memilih hal yang sama, menjadi ibu rumah tangga. Tentu saja aku tak boleh kecewa. Seperti halnya pada dirinya.