Assalaamualaikum….!
Suara melengking dari seorang bocah sudah amat aku kenal. Sudah hampir tiga bulan ini dia jadi muridku. Aku yang hampir tertidur di depan televisi sedikit kaget. O iya, aku hampir lupa! Sekarang kan hari rabu, jadwalku memberikan les. Mata pelajaran yang akan di bahas bisa apa saja, jadi aku tak mempersiapkan diri secara khusus. Kalau selasa kemarin sang murid minta les IPS dan Bahasa Inggris, hari ini pun mungkin tak beda. Sudah beberapa kali dia mengeluhkan IPS dan Bahasa Inggris yang selalu banyak tugas. Saking banyaknya, dia selalu datang dengan wajah panic. Sampai-sampai kamus yang seharusnya selalu dibawa untuk belajar selalu tertinggal di rumah. Begitu juga dengan peta dunia yang harus sering dia pelototi untuk menemukan sebuah selat atau pulau yang aku sendiri jarang atau tak pernah mendengarnya.
Syifa, muridku, sudah berdiri di depan pagar, menunggu aku persilakan masuk. Dia anak yang sopan, tidak pernah mau masuk sebelum aku membukakan pintu. Tapi itu juga karena dia tidak mau kucing peliharaannya ikutan masuk.
Pernah suatu ketika dia belajar dan si kucing ikutan masuk ke ruang tengah tempat belajar. Mungkin si kucing mengira diajak bermain ke tempat baru sehingga terus-terusan keluar masuk kamarku yang kebetulan terbuka...Aku jadi tak bisa konsentrasi karena khawatir barang-barangku berjatuhan. Sebentar-sebentar harus memburu si kucing untuk ditangkap dan di keluarkan. Aku tidak mungkin menutup pintu karena ruangan akan jadi pengap. Maklum, rumahku kecil.
Hari ini dia membawa tugas (PR) yang lagi-lagi teramat banyak. IPS dan bahasa Inggris lagi! Yang mengejutkanku, mata pelajaran IPS ini membahas peta dunia berserta Negara-negara yang ada di lima benua, pembagian wilayah Negara menjadi beberapa propinsi, batas territorial, Zona Ekonomi Eksklusif dan banyak lagi seperti tentang pemilu dengan tahap-tahapnya, fungsi tahapan dan lain-lain. Dan, sedikit sisipan tentang pelestarian kekayaan hayati (yang lagi-lagi tidak dimengerti artinya). Aku jadi tidak mengerti, untuk apa anak sekolah dasar harus mempelajari ini semua? Sementara pulau-pulau di Indonesia sudah teramat banyak untuk dipelajari. Belum lagi istilah-istilah yang terlalu banyak untuk dihafalkan. Dihafalkan? Ya, karena hal ini muridku jadi sering stress, dan uring-uringan. Rupanya sang guru tidak memberitahukan makna dari istilah-istilah itu, atau tidak sempat karena begitu banyaknya materi yang harus diberikan sebelum mereka menghadapi ujian nasional yang bersistem multiple choice.
Contohnya: pemilu terdiri atas beberapa tahap. Tahap pertama adalah pemilu legislatif. Apa itu legislative? Syifa hanya menggeleng. Katanya itu tidak pernah di bahas sama bu guru! Kenapa? Kata bu guru itu untuk dihafalkan saja.
Selesai? Mungkin selesai untuk tugas bu guru (di sekolah), tetapi sebuah perjuangan panjang untuk sang murid untuk mengerti tentang hal-hal yang diajarkan. Dengan dorongan semangat yang tak boleh berhenti, akhirnya tugas Syifa selesai. Untuk hari ini…besok? Tak tahu lagi…
Beralih ke bahasa Inggris. Entah aku yang terlalu bodoh, atau pembuat soalnya (soal latihan) yang terlalu canggih, beberapa kali aku sempat kesulitan menemukan jawaban dari soal multiple choice. Jika dalam bab-bab sebelumnya telah diajarkan grammar tentang present tense, past tense, dan banyak lagi, dalam soal latihan hal tersebut tidak bisa sepenuhnya di terapkan. Menurutku, soal-soal latihan itu terlalu disederhanakan sehingga menjadi ambigu.
Apalagi ketika minggu berikutnya Syifa datang dengan PR baru, tetapi PR yang sebelumnya belum di bahas. Aku jadi sering kesal sendiri.
Tapi, sebagai guru (les) yang bijak, maklum harus membesarkan harapanku sendiri, aku tidak mau menunjukkan kekesalanku. Aku berusaha mengeluarkan kata-kata yang positif yang bisa memompa semangatnya belajar. Bagaimanapun, tugasnya di masa kini adalah belajar. Tetapi, dengan beban yang teramat banyak, lingkungan yang dia miliki harus pula memberi dukungan yang maksimal.
Padahal, sesekali aku ingin memberikan materi lain seperti perilaku yang positif terhadap lingkungan tanpa harus membuatnya terbebani. Tapi, niatku sering aku urungkan. Setelah seharian dia belajar (catatan: dia juga mendapatkan pelajaran tambahan sepulang sekolah selain hari selasa dan rabu), tentu membutuhkan istirahat atau sekedar refreshing dengan bermain bersama kucing kesayangannya.
Untung, kemarin ketika pelajaran IPS ada sedikit bahasan tentang manfaat hutan mangrove bagi kelestarian laut, aku bisa sedikit menyisipkan “pesan”. Awalnya dia tidak mengerti dengan penjelasan yang ada di buku, tapi dengan sedikit bantuan permainan dan “logika” , dia mengerti dengan baik.
Mungkin, aku memang harus bersabar. Termasuk dengan respon orangtuanya yang justru lebih banyak membunuh semangat si anak. Karya tulis mereka, tidak membuat sang ibu terkesan. Sekalinya berkunjung, dia minta padaku untuk menambah jam untuk matematika karena hasil ujian semester yang lalu tidak menggembirakan.
Mereka menginginkan aku setelah diujung waktu. Dan, aku harus mencari sedikit saja celah di otak sang anak dari pengaruh total (doktrin) Sang guru sekolah. Sungguh pekerjaan tak mudah. Setiap saat sang anak berpikir untuk menyelesaikan satu soal dalam waktu satu menit hingga tak menyadari bahwa gaya mengajarnya berbuah ”petaka”:
1.Gayaku yang menuliskan proses menjawab dengan detail sering menuai protes dari muridku, katanya terlalu lama. Karena dia bisa menjawab dengan lebih singkat.
2. Syifa langsung ”defend” dengan mengatakan ”bingung” ketika aku memberikan cara yang berbeda dengan sang guru, meskipun kali ini caraku lebih sederhana,
3. Ketika aku mencoba menerapkan cara sang guru ( 1 menit per 1 soal), banyak jawaban yang salah. Karena mencoba berpikir cepat, proses logisnya tidak terpikirkan dengan baik. Bahkan menghitung penambahan atau perkalian yang sederhana pun jadi salah.
Apa boleh buat, lagi-lagi aku harus bersabar. Setelah aku bandingkan dengan caraku yang lebih detail, tetapi hasilnya justeru benar, Syifa sedikit mengerti maksudku.
Ah, stressnya aku! Kalau begini terus, rasa-rasanya aku jadi lebih panik ketimbang si anak. Dengan sedikit bercanda aku bilang kepada suamiku ”kredibilitasku sedang di pertaruhkan”. Bagaimanapun, orang senang mencari kambing hitam. Mungkin saja, kambingnya kali ini adalah aku.
Ujian kelulusan sang anak sudah makin dekat. Dia harus bekerja keras, aku juga.
Hidup ini indah. Aku percaya kehadiran teman melengkapi, dan renungan menjadi rambu-rambunya. Selamat menikmati hidup!
About Me
- Novi Kuspriyandari
- Bogor, Jawa Barat, Indonesia
- Anda Pengacara? Sama seperti saya. Tapi saya adalah penganggur yang berusaha mencari banyak acara dan cara. Cara bersenang-senang, dan berbuat baik. Gitu, deh...
Jan 7, 2009
Nov 26, 2008
Nasi kucing
Di rumah sedang ada tamu, menginap sejak kemarin. Tak mungkin meninggalkan mereka (sepasang muda-mudi) di rumah tanpa ada si tuan rumah. Akhirnya suamiku yang menawarkan diri belanja sayuran dan lauk-pauk untuk beberapa hari kedepan. Maklumlah, rumahku tak dekat pasar, jadi sekali belanja sekaligus untuk tiga atau empat hari.
Jadilah suamiku berangkat. Tapi dia belanjanya sore hari, karena dari pagi hingga siang harinya dia harus pergi ke suatu tempat yang akan dijadikan lokasi acara ngumpul-ngumpul. Ya, okelah. Toh, untuk makan siang para tamu aku sudah siap dengan sayur dan lauknya.
Sore menjelang maghrib suamiku sudah sampai kembali di rumah. Di tangan sudah tertenteng sekantong belanjaan. Waktu aku periksa, cuma ada sebungkus taoge, sayur asem, dan dua bungkus ikan kecil-kecil yang dipindang. Sebenarnya aku pengen marah, kok dia hanya belanja itu? Tapi, karena di wajahnya membayang keletihan, juga sedikit kesal, aku memilih menyimpan rasa penasaranku dan kutumpahkan disaat yang tepat. Mungkin nanti, kalau para tamu sudah pulang. Tapi kenapa? Bukankah dia yang menawarkan diri belanja?
Duh, ternyata sore itu kekesalanku harus bertambah. Para tamu, menunda kepulangan mereka hingga esok hari. Bukan karena aku tak suka mereka kerasan di rumahku, tapi aku kebingungan karena tidak menyiapkan makan malam. Apalagi suami hanya belanja taoge dan ikan cuwek (sebutan ikan pindang kecil-kecil itu..).Dengan rasa malu, aku menawari mereka nasi goreng, mie instant, dan telur… Terpaksa aku melakukan itu karena waktu makan malam sudah tiba, dan tak ada makanan yang aku buat. Tapi, untungnya mereka menyadari posisi mereka yang bisa jadi merepotkan si tuan rumah. Jadi semuanya berjalan lancar. Ditambah, ada es krim yang jadi penutup di akhir makan malam yang bisa menutupi kekurangan menunya.
Akhirnya, malampun berlalu. Mereka pulang lebih pagi ketimbang suami berangkat kerja. Karena hari minggu kemarin sudah “lembur” suamiku boleh berangkat lebih siang dari biasanya. Di sela waktu itu, suamiku bercerita hal-hal yang seharusnya sudah aku ketahui sejak kemarin.
Sore itu, turun dari kereta suami menuju ke lapak penjual sayur langganan. Sayangnya sudah tutup. Akhirnya dia berpindah ke pedagang di sebelahnya dan mengalihkan perhatian pada setumpuk ikan pindang yang masih dibungkus kotak anyaman dari bamboo. Ikan-ikan itu nampak menggiurkan. Tapi, dia tidak jadi membeli ikan yang berukuran besar karena dia merasa selain harganya yang mahal, jumlahnya terlalu banyak untuk berdua. Selagi memilih-milih ikan, seorang perempuan paruh baya juga memilih ikan yang sama. Tapi perempuan itu memilih yang lebih besar. Setelah memutuskan ikan yang akan dibeli, suami menunjukkan itu ke pedagang agar di bungkus. Dia sudah membayangkan kelezatan ikan itu bila dimakan bersama sayur asem atau bening bayam.
Tiba-tiba si perempuan paruh baya menoleh ke suamiku dan mengatakan sesuatu yang menyakitkan bagi suamiku. “Eh, iya mas, itu mah cukup kalau untuk kasih makan kucing” kata perempuan itu dengan entengnya. Dari wajahnya tak terlihat si ibu berniat menghina makanan pilihan suamiku. Tapi tetap saja dia merasa terhina. Suamiku geram. “Bagaimana mungkin, makanan kesukaanku dikatakan untuk kucing”, katanya sambil mendengus keras.
Mendengar ceritanya, aku sebenarnya pengen tertawa. Tapi kok kasihan lihat eskpresi suamiku. Walaupun keluh kesah yang meluncur dari bibirnya soal ikan itu berhubungan dengan keadaan keuangan yang sedang krisis, entah mengapa makin membuat aku geli.
Sudut bibirku sungguh tak tahan menahan tarikan syaraf geli di dada dan seluruh tubuh.
Akhirnya, pertahananku jebol juga. Dengan penyesalan yang mendalam, aku harus menertawakan “kesialan” suamiku itu. Sungguh, betapa nyata adanya. Sesuatu yang kita sukai ternyata bagi orang lain tak pantas untuk dimakan. Mungkin bahkan untuk kucing yang teramat dicintai.
Ah, kubuang jauh-jauh saja rasa sedihnya. Yang penting kan gizinya, bukan harganya. Lagi pula, dalam empat hari saja berturut-turut makan daging (ayam, sapi atau kambing), dia pasti sudah mengeluh bosan dan minta kembali ke tempe/tahu, ikan asin, pindang dan lain-lain.
Dengan tetap menahan geli dan prihatin, aku mencoba menghiburnya. Aku juga mencoba meyakinkan bahwa pilihannya tidak salah. Untuk itulah kenapa si ikan dinamakan dengan “ikan cuwek”. Karena seseorang, se-ekor, atau sesuatu yang memilihnya untuk jadi santapan, harusnya “cuwek” saja mendengar komentar yang tidak menyenangkan seperti itu. Ikan itu toh bergizi, dan lezat. Mendengar perkataanku, kesal suamiku berangsur mereda. Bahkan sudah bisa tersenyum. Lama-lama dia bisa menerima “hinaan” itu dan menganggapnya sebagai guyonan.
Dan sejak itu, setiap aku memasak ikan cuwek untuk lauk makan, suamiku selalu berkomentar ”mana nasi kucingku..!”
Jadilah suamiku berangkat. Tapi dia belanjanya sore hari, karena dari pagi hingga siang harinya dia harus pergi ke suatu tempat yang akan dijadikan lokasi acara ngumpul-ngumpul. Ya, okelah. Toh, untuk makan siang para tamu aku sudah siap dengan sayur dan lauknya.
Sore menjelang maghrib suamiku sudah sampai kembali di rumah. Di tangan sudah tertenteng sekantong belanjaan. Waktu aku periksa, cuma ada sebungkus taoge, sayur asem, dan dua bungkus ikan kecil-kecil yang dipindang. Sebenarnya aku pengen marah, kok dia hanya belanja itu? Tapi, karena di wajahnya membayang keletihan, juga sedikit kesal, aku memilih menyimpan rasa penasaranku dan kutumpahkan disaat yang tepat. Mungkin nanti, kalau para tamu sudah pulang. Tapi kenapa? Bukankah dia yang menawarkan diri belanja?
Duh, ternyata sore itu kekesalanku harus bertambah. Para tamu, menunda kepulangan mereka hingga esok hari. Bukan karena aku tak suka mereka kerasan di rumahku, tapi aku kebingungan karena tidak menyiapkan makan malam. Apalagi suami hanya belanja taoge dan ikan cuwek (sebutan ikan pindang kecil-kecil itu..).Dengan rasa malu, aku menawari mereka nasi goreng, mie instant, dan telur… Terpaksa aku melakukan itu karena waktu makan malam sudah tiba, dan tak ada makanan yang aku buat. Tapi, untungnya mereka menyadari posisi mereka yang bisa jadi merepotkan si tuan rumah. Jadi semuanya berjalan lancar. Ditambah, ada es krim yang jadi penutup di akhir makan malam yang bisa menutupi kekurangan menunya.
Akhirnya, malampun berlalu. Mereka pulang lebih pagi ketimbang suami berangkat kerja. Karena hari minggu kemarin sudah “lembur” suamiku boleh berangkat lebih siang dari biasanya. Di sela waktu itu, suamiku bercerita hal-hal yang seharusnya sudah aku ketahui sejak kemarin.
Sore itu, turun dari kereta suami menuju ke lapak penjual sayur langganan. Sayangnya sudah tutup. Akhirnya dia berpindah ke pedagang di sebelahnya dan mengalihkan perhatian pada setumpuk ikan pindang yang masih dibungkus kotak anyaman dari bamboo. Ikan-ikan itu nampak menggiurkan. Tapi, dia tidak jadi membeli ikan yang berukuran besar karena dia merasa selain harganya yang mahal, jumlahnya terlalu banyak untuk berdua. Selagi memilih-milih ikan, seorang perempuan paruh baya juga memilih ikan yang sama. Tapi perempuan itu memilih yang lebih besar. Setelah memutuskan ikan yang akan dibeli, suami menunjukkan itu ke pedagang agar di bungkus. Dia sudah membayangkan kelezatan ikan itu bila dimakan bersama sayur asem atau bening bayam.
Tiba-tiba si perempuan paruh baya menoleh ke suamiku dan mengatakan sesuatu yang menyakitkan bagi suamiku. “Eh, iya mas, itu mah cukup kalau untuk kasih makan kucing” kata perempuan itu dengan entengnya. Dari wajahnya tak terlihat si ibu berniat menghina makanan pilihan suamiku. Tapi tetap saja dia merasa terhina. Suamiku geram. “Bagaimana mungkin, makanan kesukaanku dikatakan untuk kucing”, katanya sambil mendengus keras.
Mendengar ceritanya, aku sebenarnya pengen tertawa. Tapi kok kasihan lihat eskpresi suamiku. Walaupun keluh kesah yang meluncur dari bibirnya soal ikan itu berhubungan dengan keadaan keuangan yang sedang krisis, entah mengapa makin membuat aku geli.
Sudut bibirku sungguh tak tahan menahan tarikan syaraf geli di dada dan seluruh tubuh.
Akhirnya, pertahananku jebol juga. Dengan penyesalan yang mendalam, aku harus menertawakan “kesialan” suamiku itu. Sungguh, betapa nyata adanya. Sesuatu yang kita sukai ternyata bagi orang lain tak pantas untuk dimakan. Mungkin bahkan untuk kucing yang teramat dicintai.
Ah, kubuang jauh-jauh saja rasa sedihnya. Yang penting kan gizinya, bukan harganya. Lagi pula, dalam empat hari saja berturut-turut makan daging (ayam, sapi atau kambing), dia pasti sudah mengeluh bosan dan minta kembali ke tempe/tahu, ikan asin, pindang dan lain-lain.
Dengan tetap menahan geli dan prihatin, aku mencoba menghiburnya. Aku juga mencoba meyakinkan bahwa pilihannya tidak salah. Untuk itulah kenapa si ikan dinamakan dengan “ikan cuwek”. Karena seseorang, se-ekor, atau sesuatu yang memilihnya untuk jadi santapan, harusnya “cuwek” saja mendengar komentar yang tidak menyenangkan seperti itu. Ikan itu toh bergizi, dan lezat. Mendengar perkataanku, kesal suamiku berangsur mereda. Bahkan sudah bisa tersenyum. Lama-lama dia bisa menerima “hinaan” itu dan menganggapnya sebagai guyonan.
Dan sejak itu, setiap aku memasak ikan cuwek untuk lauk makan, suamiku selalu berkomentar ”mana nasi kucingku..!”
Nov 4, 2008
Mendadak guru….
Kemarin lusa, saat pagi baru saja menyapa, tetanggaku dengan wajah menahan malu mendatangiku. Dia baru saja mengantar sang putri naik mobil jemputan ke sekolah. Mungkin, itu karena aku yang baru saja hendak menyiram tanaman menatapnya tak berkedip heran. Memang tak biasanya dia menyapaku sedemikian rupa. Dia lebih suka langsung main ke tetanggaku sebelah kiri rumahku lagi untuk ngobrolin entah apa. Yang aku tahu karena memang mereka sudah saling akrab sejak mereka mendadak punya hobi memasak.
Ya udah, itu urusan mereka. Kita lanjut cerita mengapa dia dengan tidak biasa mendatangiku.
Ternyata, dia datang untuk berkeluh kesah tentang materi pelajaran anaknya yang kini menginjak tahun ke-enam di SD. Dia tak sanggup lagi mengajari sendiri sang anak karena menurutnya materi pelajaran SD sekarang sudah sangat beda dengan jamannya dulu. Dia bilang kasihan melihat sang anak selalu gelisah ketika mendapatkan tugas dan si anak tidak bisa mengerjakan, sementara dia tak lagi bisa membantu.
Sampai di sini aku bisa menangkap arah pembicaraannya, dan siap menjawab. Tapi, aku memilih terus menunggu sampai dia bicara sendiri maksudnya mendatangiku. Dan, akhirnya dia bicara juga.
Dia meminta tolong padaku untuk mengajari sang anak, alias dia meminta aku untuk menjadi guru les. Aku sih nggak keberatan, hanya saja aku tidak bisa langsung mengiyakan karena ini bukan tentang aku dan ibunya, tetapi lebih tentang sang anak. Kalau dia tidak keberatan dan mengerti dengan caraku mengajari, oke saja. Semua tergantung pada si anak. Karenanya, aku memintanya lebih dulu bertanya pada sang anak dan melakukan sekali uji coba untuk tahu apakah si anak menyukaiku atau malah pulang dengan kepala makin pusing.
Keesokan sorenya, si anak datang padaku dengan setumpuk PR matematika yang sejujurnya tidak juga mudah buatku. Apalagi, materi matematika itu dulu aku dapatkan di bangku SMP. Di bangku SD aku boleh jago matematika, tapi ketika melewati materi SMP yang lumayan berat bersamaan dengan datangnya masa pancaroba (ABG), semuanya pernah membuat ibuku uring-uringan juga. Meski ibuku berusaha membuatku pintar matematika dengan memintakan les secara khusus pada sang guru, aku lebih suka kabur. “Hangout” ke rumah teman, rujakan atau sekedar bersepeda keliling dari satu rumah ke rumah teman lain.
Hmm, begitulah jadinya. Meski di akhir tahun, ujianku menunjukkan hasil yang lumayan, tetap saja aku tidak bisa berteman dengan matematika. Alias, susyah bangets…!
Tapi, demi membuat otakku yang mulai sering lupa ini tetap terjaga, aku mencoba sekuat tenaga untuk mengerti materi yang ada dan membantu sang anak. Tugas terberat sebenarnya bukan memahami materi, tetapi ada pada mendapatkan cara menjelaskan pada si anaklah hingga membuatnya mengerti.
Matematika katanya tentang logika. Dan, berlogika dengan anak bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi caraku berlogika (menjelaskan rumus), ternyata berbeda dengan sang guru di sekolah. Itupun aku tahu setelah si anak bingung, katanya penjelasanku terlalu panjang. Tapi, waktu aku meminta dia menjelaskan materi yang sudah diberikan oleh sang guru, diapun tidak terlalu paham.
Akhirnya, daripada sama-sama bingung, aku memilih menjelaskan materi dengan caraku. Karena kalau aku saja bingung untuk memahami, bagaimana bisa aku menjelaskan? Untungnya, setelah beberapa kali latihan dengan PR, si anak mengerti juga.
Tugasku, sementara ini berjalan dengan sukses. Aku ikut senang. Setidaknya si anak tidak pulang dengan kepala pusing lagi, bisa tidur dengan tenang untuk mengumpulkan energi. Esok pagi, dia harus berjibaku lagi dengan tugas yang lain.
Melihat si anak pulang dengan semangat baru, si ibu datang kembali dan memintaku untuk terus menjadi guru les. Dia senang karena si anak merasa cocok dengan caraku mengajar sehingga tidak pusing mencari guru les lagi.
Aku sebenarnya melihat ini sebagai peluang fund rising-ku untuk membeli buku-buku baru. Sudah lama aku tidak membeli buku baru, setidaknya satu novel. Apalagi aku juga mendengar kabar, beberapa anak di kompleks ini juga mengalami hal yang sama. Pusing mencari guru les.
Tapi, demi kebaikan semuanya, aku memilih tidak menerima upah dari usahaku membantu sang anak. Bagaimanapun, aku tidak bisa menjanjikan waktuku akan selalu ada. Komitmen membantu aku punya, tapi untuk terikat dengan waktu seperti yang mereka inginkan aku belum bisa. Dan, alasan lain yang amat penting: menghindari konflik horizontal yang sangat mungkin terjadi. Seorang tetangga akan dengan senang hati “menghujat” usaha cari uang yang aku lakukan jika aku menerima upah. Ya, meski upah itu hakku, dan walaupun kedengkian itu bukanlah tanggungjawabku, tetap saja akan sangat menggangguku. Aku tidak punya mental selebritis yang harus menerima kenyataan bahwa hidupnya adalah konsumsi publik. Aku yakin, rejeki datang dalam bentuk lain dan lebih “soft” tanpa menimbulkan “kehebohan”.
Adalah sebuah kenyataan bahwa niat baik seseorang tidak selalu diterima dengan baik pula. Lagipula, aku sedang melakukan apa yang aku suka dan aku mau. Bukan yang mereka suka dan mau. Aku ingin melakukan ini tanpa beban, ataupun takut protes dari sang ibu. Dan, adalah niatku untuk menjadikan ini sebagai ladang kebaikan yang mudah-mudahan menular kepada yang lain. Amin!
Jadi, mendadak guru…tak ada salahnya…!
Ya udah, itu urusan mereka. Kita lanjut cerita mengapa dia dengan tidak biasa mendatangiku.
Ternyata, dia datang untuk berkeluh kesah tentang materi pelajaran anaknya yang kini menginjak tahun ke-enam di SD. Dia tak sanggup lagi mengajari sendiri sang anak karena menurutnya materi pelajaran SD sekarang sudah sangat beda dengan jamannya dulu. Dia bilang kasihan melihat sang anak selalu gelisah ketika mendapatkan tugas dan si anak tidak bisa mengerjakan, sementara dia tak lagi bisa membantu.
Sampai di sini aku bisa menangkap arah pembicaraannya, dan siap menjawab. Tapi, aku memilih terus menunggu sampai dia bicara sendiri maksudnya mendatangiku. Dan, akhirnya dia bicara juga.
Dia meminta tolong padaku untuk mengajari sang anak, alias dia meminta aku untuk menjadi guru les. Aku sih nggak keberatan, hanya saja aku tidak bisa langsung mengiyakan karena ini bukan tentang aku dan ibunya, tetapi lebih tentang sang anak. Kalau dia tidak keberatan dan mengerti dengan caraku mengajari, oke saja. Semua tergantung pada si anak. Karenanya, aku memintanya lebih dulu bertanya pada sang anak dan melakukan sekali uji coba untuk tahu apakah si anak menyukaiku atau malah pulang dengan kepala makin pusing.
Keesokan sorenya, si anak datang padaku dengan setumpuk PR matematika yang sejujurnya tidak juga mudah buatku. Apalagi, materi matematika itu dulu aku dapatkan di bangku SMP. Di bangku SD aku boleh jago matematika, tapi ketika melewati materi SMP yang lumayan berat bersamaan dengan datangnya masa pancaroba (ABG), semuanya pernah membuat ibuku uring-uringan juga. Meski ibuku berusaha membuatku pintar matematika dengan memintakan les secara khusus pada sang guru, aku lebih suka kabur. “Hangout” ke rumah teman, rujakan atau sekedar bersepeda keliling dari satu rumah ke rumah teman lain.
Hmm, begitulah jadinya. Meski di akhir tahun, ujianku menunjukkan hasil yang lumayan, tetap saja aku tidak bisa berteman dengan matematika. Alias, susyah bangets…!
Tapi, demi membuat otakku yang mulai sering lupa ini tetap terjaga, aku mencoba sekuat tenaga untuk mengerti materi yang ada dan membantu sang anak. Tugas terberat sebenarnya bukan memahami materi, tetapi ada pada mendapatkan cara menjelaskan pada si anaklah hingga membuatnya mengerti.
Matematika katanya tentang logika. Dan, berlogika dengan anak bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi caraku berlogika (menjelaskan rumus), ternyata berbeda dengan sang guru di sekolah. Itupun aku tahu setelah si anak bingung, katanya penjelasanku terlalu panjang. Tapi, waktu aku meminta dia menjelaskan materi yang sudah diberikan oleh sang guru, diapun tidak terlalu paham.
Akhirnya, daripada sama-sama bingung, aku memilih menjelaskan materi dengan caraku. Karena kalau aku saja bingung untuk memahami, bagaimana bisa aku menjelaskan? Untungnya, setelah beberapa kali latihan dengan PR, si anak mengerti juga.
Tugasku, sementara ini berjalan dengan sukses. Aku ikut senang. Setidaknya si anak tidak pulang dengan kepala pusing lagi, bisa tidur dengan tenang untuk mengumpulkan energi. Esok pagi, dia harus berjibaku lagi dengan tugas yang lain.
Melihat si anak pulang dengan semangat baru, si ibu datang kembali dan memintaku untuk terus menjadi guru les. Dia senang karena si anak merasa cocok dengan caraku mengajar sehingga tidak pusing mencari guru les lagi.
Aku sebenarnya melihat ini sebagai peluang fund rising-ku untuk membeli buku-buku baru. Sudah lama aku tidak membeli buku baru, setidaknya satu novel. Apalagi aku juga mendengar kabar, beberapa anak di kompleks ini juga mengalami hal yang sama. Pusing mencari guru les.
Tapi, demi kebaikan semuanya, aku memilih tidak menerima upah dari usahaku membantu sang anak. Bagaimanapun, aku tidak bisa menjanjikan waktuku akan selalu ada. Komitmen membantu aku punya, tapi untuk terikat dengan waktu seperti yang mereka inginkan aku belum bisa. Dan, alasan lain yang amat penting: menghindari konflik horizontal yang sangat mungkin terjadi. Seorang tetangga akan dengan senang hati “menghujat” usaha cari uang yang aku lakukan jika aku menerima upah. Ya, meski upah itu hakku, dan walaupun kedengkian itu bukanlah tanggungjawabku, tetap saja akan sangat menggangguku. Aku tidak punya mental selebritis yang harus menerima kenyataan bahwa hidupnya adalah konsumsi publik. Aku yakin, rejeki datang dalam bentuk lain dan lebih “soft” tanpa menimbulkan “kehebohan”.
Adalah sebuah kenyataan bahwa niat baik seseorang tidak selalu diterima dengan baik pula. Lagipula, aku sedang melakukan apa yang aku suka dan aku mau. Bukan yang mereka suka dan mau. Aku ingin melakukan ini tanpa beban, ataupun takut protes dari sang ibu. Dan, adalah niatku untuk menjadikan ini sebagai ladang kebaikan yang mudah-mudahan menular kepada yang lain. Amin!
Jadi, mendadak guru…tak ada salahnya…!
Oct 22, 2008
“…..Ngga’ setuju toh, Kom?”
Dari sana nama itu terlahir.
Ini cerita tentang seorang bibiku dari ibu, tapi beda ibu alias dari istri kakek yang lain. Sebut saja namanya Kokom. Dari sekian adik ibu dari istri kakek yang lain, beliaulah yang paling sering main ke rumah karena rumahnya paling dekat.
Bisa di bilang, dia adalah biangnya keras kepala. Dan, cirri khas lain dari sang bibi adalah kesukaannya berbicara aneh (ngasal). Meski kami sudah terbiasa, tetapi tetap saja kami harus mengerutkan dahi untuk mengerti apa maksudnya.
Meski begitu, Bi Kokom adalah orang yang selalu terlihat bersemangat. Jika main ke rumah, tak henti-hentinya berbenah dapur yang memang selalu terlihat berantakan. Memang, sejak ibu terserang stroke, dan ketiga anaknya menikah dan tidak lagi berada di rumah, urusan dapur jadi sering terbengkalai karena ibu jadi sering merasa cepat lelah. Kehadiran bibi sebenarnya sangat membantu, karena dapur jadi rapi.
Tetapi kerapihan bibiku juga kerap merepotkan ibu. Ketika bibi telah pulang, dan ibu harus menyiapkan makanan untuk bapak dengan memasak, barang-barang yang ibu hafalkan letakknya, tibta-tiba lenyap entah kemana. Akhirnya ibu harus kehilangan banyak waktu karena mencari-cari sekedar bumbu dapur ataupun penggorengan. Padahal ibu sudah bilang, barang-barang yang masih sering (tiap hari) dipakai jangan disimpan dalam lemari, cukup digantung dekat tempat cuci piring atau dekat kompor. Tapi bibiku tidak suka, katanya itu terlihat tidak rapi dan kotor..!
Puncaknya, ketika Ramadhan kemarin sang bibi sengaja “nyantrik” beberapa hari untuk belajar membuat kue yang memang jadi keahlian ibu. Sebagai timbal baliknya, ibu meminta bantuan bibi untuk berbenah dan membersihkan rumah, salah satunya membersihkan kaca jendela. Karena rumah bibi memang (dulu sebelum di renovasi) tidak berjendela kaca, bibi belum bisa membersihkannya dengan benar. Untuk itu, ibu menegur bibi dan memberikan contoh cara yang benar.
Rupanya, “harga diri” sang bibi sedang tinggi. Teguran ibu membangunkan “keengganannya”.
Bibi menunjukkan raut muka tidak senang sambil berteriak “aku nggak setuju, kalau caranya gitu!”
Ibu hanya terbengong kaget.
Entah apa yang tidak disetujui oleh bibi. Cara ibu menunjukkan cara membersihkan jendela, atau cara membersihkan jendelanya? Ini kan bukan diskusi, tetapi lebih seperti “perintah kerja”. Dan membersihkan kaca jendela jika tidak memperhatikan beberapa hal tentu hasilnya tidaklah maksimal.
“O, kamu nggak setuju toh, Kom?”komentar ibu singkat, enggan menanggapi.
Akhirnya ibu mengalah. Ibu membersihkan sendiri kaca jendela, dan bibi diminta kembali ke dapur wilayah favoritnya.
Aku yang mendengar cerita ibu di waktu lebaran, hanya bisa menggelengkan kepala. Aku jadi mengerti mengapa majikan si bibi dulu, di Arab Saudi sering membuat bibi uring-uringan. Katanya segala hal yang dilakukan selalu tidak cocok. Pasti si bibi yang terlebih dulu membuat jengkel sang majikan. Arab dan Jawa pasi banyak perbedaan, dan mungkin itu membuat bibi selalu gusar.
Dan cara si bibi membalas kejengkelan itu sangat konyol. Dia menuangkan garam pada teh, membuat gosong makanan yang sedang di masak. Dan banyak hal lain yang terlalu “nasty” untuk diceritakan. Takut ditiru!
Dan, yah… bisa di tebak bagaimana akhirnya. Si bibi di pulangkan dan tak ada agen lain yang mau mempekerjakan. Pulanglah si bibi dengan tangan hampa, tetapi dengan cerita segudang.
Bi Kokom…Bi Kokom!
Kakak dan adikku yang ikut mendengar kisah ini sering menjadikan ketidaksetujuan seseorang atas sebuah pendapat, pemikiran, atau usul, menjadi lelucon.
Mereka bilang,”oh, kamu masuk golongan ngga setuju toh, kom?”
Tiba-tiba, terlintas di benakku bahwa cerita-cerita unik seputar bibi bisa jadi bahan untuk blog-ku. Spontan aku “menyempurnakan” kalimat itu menjadi: we-we-we.engga’ setuju dotcom!
Ha..ha.. kakak dan adikku tak berhenti tertawa sambil mengangguk setuju.
Bibi, aku akan menjadikanmu ikon yang unik, se-unik pribadimu.
Setuju, nggak?
Oct 9, 2008
Engga setuju adalah...
Menggelengkan kepala..
Mengerutkan dahi...
Mulut menganga...
Mulut mengumpat...
dll...
Banyak cara menungkapkan ketidaksetujuan..
Sambil senyum?
Boleh...
Sambil menulis...?
Boleh bangets.
Meski itu sulit.
Episode sedih harus lewat.
Roda sudah waktunya bergulir.
Tunggu saya di langkah baru....
Mengerutkan dahi...
Mulut menganga...
Mulut mengumpat...
dll...
Banyak cara menungkapkan ketidaksetujuan..
Sambil senyum?
Boleh...
Sambil menulis...?
Boleh bangets.
Meski itu sulit.
Episode sedih harus lewat.
Roda sudah waktunya bergulir.
Tunggu saya di langkah baru....
Nov 30, 2007
A Heartbreaking Gift
Sebuah kado special dan tak akan terlupakan seumur hidup, aku terima tepat di hari ulang tahunku.
Sore kemarin, Dewi adik iparku dengan panic menelpon dan memberi kabar bahwa bapak belum juga pulang. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 wib. Tidak biasanya bapak belum pulang hingga sesore itu. Apalagi beliau pamitan hanya pergi ke puskesmas di Cilebut, yang jaraknya maksimal 30 menit naik angkot. Paling lama akan memakan waktu sampai jam 11 siang. Dan seharusnya tak sampai jam 11 karena bapak sudah berangkat ke puskesmas sejak pukul enam pagi.
Aku ikut merasakan kepanikan Dewi. Bagaimanapun, tinggal bapak satu-satunya orang tua tumpuan kasih sayangnya, setelah belum genap seratus hari emak pergi. Tapi aku tak mau makin membuatnya sedih kalau aku ikutan panic. Walaupun dalam hati dan pikiran aku sangatlah kalut. Biar saja ada yang menyangka aku tak punya hati, melihatku tetap tenang dalam situasi begitu. Aku lebih suka berpikir dulu, mencari setidaknya jawaban untuk pikiranku agar hatiku tak terlalu banyak mendapat porsi perhatianku. Biar saja pikiran kemana-mana, menduga-duga, mengira-ngira segala sesuatu yang masuk akal. Daripada hanya bisa sedih, lalu tak bisa berbuat apa-apa.
Aku tak mengatakan bahwa aku sebenarnya sangat takut adanya kemungkinan terburuk akan tiba. Bapak sudah tua, umurnya sudah 85 tahun. Banyak sebab yang bisa membuat bapak terluka. Selain penglihatan yang mulai rabun, bapak mulai kehilangan pendengaran. Pikiranku mengatakan, bisa saja bapak terluka atau bahkan sesuatu yang lebih gawat saat menyeberang rel kereta karena “keisengannya” berbelanja makanan kesukaannya di pasar dekat stasiun.
Karenanya, saat naik angkot dan kereta ke bojong, aku pasang telinga baik-baik. Mungkin saja aku bisa mendapatkan sebuah informasi, jika ada sebuah peristiwa terjadi antara Bojong gede – Cilebut.
Aku tahu bapak belum pikun, karena selalu tahu jalan pulang. Jadi, sekuat apapun pikiranku mencoba mengelak dengan berbagai pikiran”manis”, aku semakin terseret dalam kekhawatiran. Hati kecilku terus berteriak: pasti ada sesuatu yang terjadi dengan bapak. Tapi jika harus mencari, kemana kaki harus kulangkahkan? Ke puskesmas? Tidak mungkin, jam 12 siang mereka sudah tutup, dan jika ada sesuatu mereka pasti sudah menghubungi keluarga karena bapak selalu membawa KTP saat berobat. Bagaimana jika bapak pergi ke Bogor selesai berobat? Jika ada sesuatu di sana, bagaimana harus menemukannya? Perang batin ramai berkecamuk. Pikiran buruk dan doa saling berkejaran.
Lalu ditambah dengan rasa berdosa karena aku sebagai anak merasa gagal menyenangkan orang tua. Padahal itu jadi misi utamaku sejak emak pergi dan aku merasa belum pernah membahagiakan hatinya. Mungkin juga pernah menyakitinya tanpa sempat termaafkan.
Tapi aku terus berusaha selalu berharap yang terbaik, karena itu tak pernah salah, dan karena itu adalah doa. Siapa pula manusia yang mengharapkan sesuatu yang buruk terjadi pada diri atau keluarga sendiri? Kecuali dia sudah sinting!
Tapi jika itu harus terjadi, benarkah aku telah siap?
Ternyata tidak! Semakin larut, mulutku semakin rajin menggumamkan kekesalan, pengharapan, doa, dan kesedihan. Kesal pada bapak yang teramat keras kepala, selalu merasa masih bertubuh kuat seperti masa muda dulu. Segala sesuatunya ingin dikerjakan sendiri, malu jika meminta bantuan. Tapi lebih kesal lagi pada diri sendiri yang kurang keras kemauan untuk menemani bapak. Yang menyakitkan hati adalah, aku hanya bisa berdoa mengharapkan yang terbaik. Dan sedih yang ku rasakan karena sebenarnya hari ini aku dan suami plus beberapa teman dan murid ingin membuat bapak senang dengan acara bakar ayam di rumah bapak. Kalau biasanya di Cilebut, dan kali ini memilih di Bojong, semata-mata karena ingin berbagi kegembiraan.
Tapi, memang kali ini menjadi sebuah penanda bagiku. Aku mendapatkan teguran dari Allah, karena kemarin aku merasa segalanya “aman-aman” saja. Ternyata, masih banyak kekurangan pada diriku. Aku harus lebih baik, lebih perhatian pada keluarga, lebih segalanya.
Setelah menunggu tanpa kepastian, menjelang pukul sembilan malam, kabar itu datang. Bapak ditemukan di sebuah tempat yang bukan merupakan jalur bapak biasa pulang pergi (cukup jauh dari rumah dan stasiun). Bapak, ditemukan orang tercebur ke dalam sungai yang “untungnya” sedang surut. Itupun jika tak ada tetangga bapak yang kebetulan lewat di tempat kejadian, tak seorangpun mengenal bapak. Dan jarak waktu terjatuh dan ditemukan tetangga setidaknya tiga jam.
Bapak pulang dengan tubuh menggigil dan membiru. Luka terbuka di sekujur tubuh dan perban teramat lebar di kepala sungguh mengejutkan dan memilukan. Saat Bapak pergi, tak sedikitpun luka di tubuhnya. Baju yang dipakainyapun bukan kemeja bapak lagi. Katanya itu dipinjamkan oleh seorang ibu yang menolong dan iba kepadanya.
Apa yang telah terjadi pada bapak?
Bapak pulang dengan trauma di wajahnya. Pertolongan yang kami berikan selalu ditepisnya. Gerakan tangannya menggapai seperti hendak berteriak minta tolong. Dan suara-suara yang keluar dari mulutnya tak bisa kami mengerti. Mungkin mengaduh, atau ingin mengadu. Kami hanya bisa tergopoh bertanya apa yang sakit dan apa yang terjadi.
Bapak pulang, dengan tanpa mengenali kami lagi. Tubuhnya limbung, dan sinar matanya linglung. Dewi dan Kakak tak bisa membendung air matanya. Aku? Sebenarnya aku ingin menangis meraung-raung, ingin mencaci siapa pun orang yang tega melakukan ini pada bapak. Aku ingin dia merasakan apa yang bapak rasakan. Aku ingin meneriakkan di teliganya: “bapak sudah tua, kenapa kamu tega melakukannya?”
Beberapa orang “pahlawan” kami hari itu juga bertutur, saksi mata kejadian itu sempat melihat bapak berdiam lama di bawah pohon dekat jembatan sebelum akhirnya berjalan menyeberang jembatan. Bahkan mereka berpikir bapak bukan orang waras, karena bajunya berangkap empat, dua diantaranya baju seragam anak SD. Bapak juga terlihat menenteng dua bungkusan, yang setelah terjatuhnya bapak, bungkusan itu tak terlihat lagi.
Mereka juga bilang, terkaget-kaget waktu menyaksikan tubuh bapak sudah penuh luka saat diangkat dari sungai. Malah bapak sempat menolak diangkat dari sungai. Bapak lebih memilih berjalan perlahan sambil berpegangan sempadan kali, melewati bawah jembatan.
Ya, Tuhan! Betapa perih dan sakitnya hatiku. Tak terbayang betapa menderitanya bapak melalui semua itu. Dengan tubuh penuh luka, limbung, lalu bapak pulang sendiri tanpa seorangpun menemani. Dengan baju bertumpuk-tumpuk, berdiam di bawah pohon karena (mungkin, menurutku) bapak merasa pusing dan sakit kepala, malah disangka orang gila. Yang membuatku semakin sakit, kata mereka bapak masih tergolong beruntung karena sungainya waktu itu sedang surut. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi, mungkin selamanya kami akan mencari.
Dengan menguatkan hati, kami berusaha memberikan yang terbaik saat itu. Kami menyelimutinya rapat-rapat, agar dingin yang menyekap tubuhnya segera pergi. Tapi luka-luka di kepala dan di tangannya, membuat kami tak berhenti menduga-duga apa yang telah terjadi?
Jika luka itu akibat pukulan penganiayaan, tak ada lebam lain di sekujur tubuhnya. Jika orang itu bermaksud jahat pada bapak, untuk apa bapak diobati? Beberapa orang lain mengatakan bapak sempat terlihat di bawa oleh dua orang berkendara sepeda motor ke sebuah klinik. Mungkinkah bapak korban tabrak lari, dan diantar berobat oleh penolongnya?
Bungkusan kantong plastic yang dibawa pulang, adalah empat baju yang dipakainya sekaligus dan basah karena terjatuh di sungai. Di saku celana, tak ada lagi dompet bapak.
Dan, kemana baju bapak? Apakah dua kantong yang ditentengnya itu adalah baju bapak? Kenapa bapak ada di tempat itu? Kemana saja sebenarnya bapak pergi?
Setelah di telusuri ke lokasi bapak terjatuh, dan warung tempat bapak di tolong, makin banyak keterangan yang membingungkan. Ada yang mengatakan sempat melihat bapak di stasiun Bojonggede, bahkan ada pula yang melihat bapak hampir tertabrak sedan. Tetapi sebuah petunjuk datang saat mendatangi tempat bapak berdiam, ada beberapa bungkus obat yang menurut saksi itu punya bapak. Tapi benarkah ini semua obat yang diminum oleh bapak? Sebanyak ini?
Tak lama Pak Mantri datang memeriksa. Melihat kondisi bapak, beliau menyarankan untuk di bawa ke rumah sakit sesegera mungkin. Takut luka di kepala itu akibat benturan. Apalagi lukanya berada di bagian kepala belakang yang biasanya menimbulkan cedera (gegar) otak. Dan setelah ditunjukkan obat-obat yang ditemukan, beliau makin yakin itu obat yang diberikan setelah kejadian karena ada penghilang mual, penahan sakit, dan antibiotic.
Kami termangu sampai Pak Mantri pulang…
Tiba-tiba aku tertarik bungkusan obat penahan sakit yang sudah “hilang” enam buah kapsulnya. Aku jadi berpikir, jangan-jangan kejadianya pagi hari saat bapak pergi ke puskemas atau setelahnya. Karena, jika dosis yang diberikan adalah 3 x 2 kapsul/hari, dan bapak sudah meminum 6 tablet/kapsul, berarti jatah untuk sehari telah terpenuhi.
Apalagi yang bisa membuat kami bisa membela diri sebagai anak yang baik? Dari pagi hingga malam, kami “membiarkan” bapak terkapar sendirian tanpa seorangpun menyadari. Kami semua sibuk urusan sendiri! Padahal dulu, bapak bekerja untuk kami. Semua hal tentang kami bapak peduli.
Hari ini aku menangis pilu. Waktu itu aku juga menangis, merasakan kepedihan kehilangan kasih sayang ibu yang pergi karena sakit. Tapi ternyata, tangis penyesalan jauh lebih menyakitkan daripada sakit karena kehilangan. Kata “Andai saja, waktu itu....” menjadi sembilu yang mengiris hati, lebih pedih ketimbang kata “selamat tinggal…”
Aku benar-benar menangis. Biar saja orang mengatakan, semua sudah terjadi tak perlu di sesali. Aku tak peduli. Sesal yang menyesaki dada ini adalah milikku. Aku yang merasakan. Di mataku pula bayangan bapak yang kesakitan dan menderita terus menghantui. Ku biarkan saja kata “andai saja..” itu terus mengganggu pikiran dan hatiku. Tak apa-apa. Itu hukuman yang pantas untukku. Jika itu bisa membuat bapak kembali sehat, aku rela. Aku akan “menikmati” sesal ini sampai kerelung jiwa agar aku tetap mengerti rasanya. Agar nanti aku tak mengulang lagi, dan menemukan sesal yang sama.
Tuhan, ampunkan hamba yang lalai menjaga bapak….. kami tak pantas mengaku cinta pada bapak dan Engkau. Berikan kami ajaran ayat-ayat cintaMu, agar kami bisa belajar mencintai dengan lebih tulus dan ikhlas. Terimakasih atas teguranMu, bagi kami ini wujud cintaMU.
Sekarang, ijinkan kami merawat bapak sebaik-baiknya. Berikan kami kesempatan untuk membahagiakan bapak. Jangan biarkan kepala kami menggeleng untuk bapak, jangan biarkan mata kami tertutup untuk bapak. Biarkan tangan kami terus menggandeng dan menjaganya. Tolong sembuhkan bapak. Biarkan Bapak kembali melihat wajah kami yang akan terus tersenyum untuknya.
Tuhan….berikan bapak kesembuhan, dan kekuatan. Hanya dia pemersatu kami saat ini. Kami akan terus menyayanginya. Kami akan selalu datang untuknya. Kami ingin bapak hadir di tengah-tengah kami. Tertawa bahagia, seperti dan lebih baik dari hari-hari sebelumnya.
Tuhan, kuatkanlah juga hati kami. Agar bapak kami tak lagi mendapatkan kesedihan karena kami, anak-anaknya yang dicintai.
Amien Ya Rabbal Alamien…..!
Minggu, 25 November 2007
Sore kemarin, Dewi adik iparku dengan panic menelpon dan memberi kabar bahwa bapak belum juga pulang. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 wib. Tidak biasanya bapak belum pulang hingga sesore itu. Apalagi beliau pamitan hanya pergi ke puskesmas di Cilebut, yang jaraknya maksimal 30 menit naik angkot. Paling lama akan memakan waktu sampai jam 11 siang. Dan seharusnya tak sampai jam 11 karena bapak sudah berangkat ke puskesmas sejak pukul enam pagi.
Aku ikut merasakan kepanikan Dewi. Bagaimanapun, tinggal bapak satu-satunya orang tua tumpuan kasih sayangnya, setelah belum genap seratus hari emak pergi. Tapi aku tak mau makin membuatnya sedih kalau aku ikutan panic. Walaupun dalam hati dan pikiran aku sangatlah kalut. Biar saja ada yang menyangka aku tak punya hati, melihatku tetap tenang dalam situasi begitu. Aku lebih suka berpikir dulu, mencari setidaknya jawaban untuk pikiranku agar hatiku tak terlalu banyak mendapat porsi perhatianku. Biar saja pikiran kemana-mana, menduga-duga, mengira-ngira segala sesuatu yang masuk akal. Daripada hanya bisa sedih, lalu tak bisa berbuat apa-apa.
Aku tak mengatakan bahwa aku sebenarnya sangat takut adanya kemungkinan terburuk akan tiba. Bapak sudah tua, umurnya sudah 85 tahun. Banyak sebab yang bisa membuat bapak terluka. Selain penglihatan yang mulai rabun, bapak mulai kehilangan pendengaran. Pikiranku mengatakan, bisa saja bapak terluka atau bahkan sesuatu yang lebih gawat saat menyeberang rel kereta karena “keisengannya” berbelanja makanan kesukaannya di pasar dekat stasiun.
Karenanya, saat naik angkot dan kereta ke bojong, aku pasang telinga baik-baik. Mungkin saja aku bisa mendapatkan sebuah informasi, jika ada sebuah peristiwa terjadi antara Bojong gede – Cilebut.
Aku tahu bapak belum pikun, karena selalu tahu jalan pulang. Jadi, sekuat apapun pikiranku mencoba mengelak dengan berbagai pikiran”manis”, aku semakin terseret dalam kekhawatiran. Hati kecilku terus berteriak: pasti ada sesuatu yang terjadi dengan bapak. Tapi jika harus mencari, kemana kaki harus kulangkahkan? Ke puskesmas? Tidak mungkin, jam 12 siang mereka sudah tutup, dan jika ada sesuatu mereka pasti sudah menghubungi keluarga karena bapak selalu membawa KTP saat berobat. Bagaimana jika bapak pergi ke Bogor selesai berobat? Jika ada sesuatu di sana, bagaimana harus menemukannya? Perang batin ramai berkecamuk. Pikiran buruk dan doa saling berkejaran.
Lalu ditambah dengan rasa berdosa karena aku sebagai anak merasa gagal menyenangkan orang tua. Padahal itu jadi misi utamaku sejak emak pergi dan aku merasa belum pernah membahagiakan hatinya. Mungkin juga pernah menyakitinya tanpa sempat termaafkan.
Tapi aku terus berusaha selalu berharap yang terbaik, karena itu tak pernah salah, dan karena itu adalah doa. Siapa pula manusia yang mengharapkan sesuatu yang buruk terjadi pada diri atau keluarga sendiri? Kecuali dia sudah sinting!
Tapi jika itu harus terjadi, benarkah aku telah siap?
Ternyata tidak! Semakin larut, mulutku semakin rajin menggumamkan kekesalan, pengharapan, doa, dan kesedihan. Kesal pada bapak yang teramat keras kepala, selalu merasa masih bertubuh kuat seperti masa muda dulu. Segala sesuatunya ingin dikerjakan sendiri, malu jika meminta bantuan. Tapi lebih kesal lagi pada diri sendiri yang kurang keras kemauan untuk menemani bapak. Yang menyakitkan hati adalah, aku hanya bisa berdoa mengharapkan yang terbaik. Dan sedih yang ku rasakan karena sebenarnya hari ini aku dan suami plus beberapa teman dan murid ingin membuat bapak senang dengan acara bakar ayam di rumah bapak. Kalau biasanya di Cilebut, dan kali ini memilih di Bojong, semata-mata karena ingin berbagi kegembiraan.
Tapi, memang kali ini menjadi sebuah penanda bagiku. Aku mendapatkan teguran dari Allah, karena kemarin aku merasa segalanya “aman-aman” saja. Ternyata, masih banyak kekurangan pada diriku. Aku harus lebih baik, lebih perhatian pada keluarga, lebih segalanya.
Setelah menunggu tanpa kepastian, menjelang pukul sembilan malam, kabar itu datang. Bapak ditemukan di sebuah tempat yang bukan merupakan jalur bapak biasa pulang pergi (cukup jauh dari rumah dan stasiun). Bapak, ditemukan orang tercebur ke dalam sungai yang “untungnya” sedang surut. Itupun jika tak ada tetangga bapak yang kebetulan lewat di tempat kejadian, tak seorangpun mengenal bapak. Dan jarak waktu terjatuh dan ditemukan tetangga setidaknya tiga jam.
Bapak pulang dengan tubuh menggigil dan membiru. Luka terbuka di sekujur tubuh dan perban teramat lebar di kepala sungguh mengejutkan dan memilukan. Saat Bapak pergi, tak sedikitpun luka di tubuhnya. Baju yang dipakainyapun bukan kemeja bapak lagi. Katanya itu dipinjamkan oleh seorang ibu yang menolong dan iba kepadanya.
Apa yang telah terjadi pada bapak?
Bapak pulang dengan trauma di wajahnya. Pertolongan yang kami berikan selalu ditepisnya. Gerakan tangannya menggapai seperti hendak berteriak minta tolong. Dan suara-suara yang keluar dari mulutnya tak bisa kami mengerti. Mungkin mengaduh, atau ingin mengadu. Kami hanya bisa tergopoh bertanya apa yang sakit dan apa yang terjadi.
Bapak pulang, dengan tanpa mengenali kami lagi. Tubuhnya limbung, dan sinar matanya linglung. Dewi dan Kakak tak bisa membendung air matanya. Aku? Sebenarnya aku ingin menangis meraung-raung, ingin mencaci siapa pun orang yang tega melakukan ini pada bapak. Aku ingin dia merasakan apa yang bapak rasakan. Aku ingin meneriakkan di teliganya: “bapak sudah tua, kenapa kamu tega melakukannya?”
Beberapa orang “pahlawan” kami hari itu juga bertutur, saksi mata kejadian itu sempat melihat bapak berdiam lama di bawah pohon dekat jembatan sebelum akhirnya berjalan menyeberang jembatan. Bahkan mereka berpikir bapak bukan orang waras, karena bajunya berangkap empat, dua diantaranya baju seragam anak SD. Bapak juga terlihat menenteng dua bungkusan, yang setelah terjatuhnya bapak, bungkusan itu tak terlihat lagi.
Mereka juga bilang, terkaget-kaget waktu menyaksikan tubuh bapak sudah penuh luka saat diangkat dari sungai. Malah bapak sempat menolak diangkat dari sungai. Bapak lebih memilih berjalan perlahan sambil berpegangan sempadan kali, melewati bawah jembatan.
Ya, Tuhan! Betapa perih dan sakitnya hatiku. Tak terbayang betapa menderitanya bapak melalui semua itu. Dengan tubuh penuh luka, limbung, lalu bapak pulang sendiri tanpa seorangpun menemani. Dengan baju bertumpuk-tumpuk, berdiam di bawah pohon karena (mungkin, menurutku) bapak merasa pusing dan sakit kepala, malah disangka orang gila. Yang membuatku semakin sakit, kata mereka bapak masih tergolong beruntung karena sungainya waktu itu sedang surut. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi, mungkin selamanya kami akan mencari.
Dengan menguatkan hati, kami berusaha memberikan yang terbaik saat itu. Kami menyelimutinya rapat-rapat, agar dingin yang menyekap tubuhnya segera pergi. Tapi luka-luka di kepala dan di tangannya, membuat kami tak berhenti menduga-duga apa yang telah terjadi?
Jika luka itu akibat pukulan penganiayaan, tak ada lebam lain di sekujur tubuhnya. Jika orang itu bermaksud jahat pada bapak, untuk apa bapak diobati? Beberapa orang lain mengatakan bapak sempat terlihat di bawa oleh dua orang berkendara sepeda motor ke sebuah klinik. Mungkinkah bapak korban tabrak lari, dan diantar berobat oleh penolongnya?
Bungkusan kantong plastic yang dibawa pulang, adalah empat baju yang dipakainya sekaligus dan basah karena terjatuh di sungai. Di saku celana, tak ada lagi dompet bapak.
Dan, kemana baju bapak? Apakah dua kantong yang ditentengnya itu adalah baju bapak? Kenapa bapak ada di tempat itu? Kemana saja sebenarnya bapak pergi?
Setelah di telusuri ke lokasi bapak terjatuh, dan warung tempat bapak di tolong, makin banyak keterangan yang membingungkan. Ada yang mengatakan sempat melihat bapak di stasiun Bojonggede, bahkan ada pula yang melihat bapak hampir tertabrak sedan. Tetapi sebuah petunjuk datang saat mendatangi tempat bapak berdiam, ada beberapa bungkus obat yang menurut saksi itu punya bapak. Tapi benarkah ini semua obat yang diminum oleh bapak? Sebanyak ini?
Tak lama Pak Mantri datang memeriksa. Melihat kondisi bapak, beliau menyarankan untuk di bawa ke rumah sakit sesegera mungkin. Takut luka di kepala itu akibat benturan. Apalagi lukanya berada di bagian kepala belakang yang biasanya menimbulkan cedera (gegar) otak. Dan setelah ditunjukkan obat-obat yang ditemukan, beliau makin yakin itu obat yang diberikan setelah kejadian karena ada penghilang mual, penahan sakit, dan antibiotic.
Kami termangu sampai Pak Mantri pulang…
Tiba-tiba aku tertarik bungkusan obat penahan sakit yang sudah “hilang” enam buah kapsulnya. Aku jadi berpikir, jangan-jangan kejadianya pagi hari saat bapak pergi ke puskemas atau setelahnya. Karena, jika dosis yang diberikan adalah 3 x 2 kapsul/hari, dan bapak sudah meminum 6 tablet/kapsul, berarti jatah untuk sehari telah terpenuhi.
Apalagi yang bisa membuat kami bisa membela diri sebagai anak yang baik? Dari pagi hingga malam, kami “membiarkan” bapak terkapar sendirian tanpa seorangpun menyadari. Kami semua sibuk urusan sendiri! Padahal dulu, bapak bekerja untuk kami. Semua hal tentang kami bapak peduli.
Hari ini aku menangis pilu. Waktu itu aku juga menangis, merasakan kepedihan kehilangan kasih sayang ibu yang pergi karena sakit. Tapi ternyata, tangis penyesalan jauh lebih menyakitkan daripada sakit karena kehilangan. Kata “Andai saja, waktu itu....” menjadi sembilu yang mengiris hati, lebih pedih ketimbang kata “selamat tinggal…”
Aku benar-benar menangis. Biar saja orang mengatakan, semua sudah terjadi tak perlu di sesali. Aku tak peduli. Sesal yang menyesaki dada ini adalah milikku. Aku yang merasakan. Di mataku pula bayangan bapak yang kesakitan dan menderita terus menghantui. Ku biarkan saja kata “andai saja..” itu terus mengganggu pikiran dan hatiku. Tak apa-apa. Itu hukuman yang pantas untukku. Jika itu bisa membuat bapak kembali sehat, aku rela. Aku akan “menikmati” sesal ini sampai kerelung jiwa agar aku tetap mengerti rasanya. Agar nanti aku tak mengulang lagi, dan menemukan sesal yang sama.
Tuhan, ampunkan hamba yang lalai menjaga bapak….. kami tak pantas mengaku cinta pada bapak dan Engkau. Berikan kami ajaran ayat-ayat cintaMu, agar kami bisa belajar mencintai dengan lebih tulus dan ikhlas. Terimakasih atas teguranMu, bagi kami ini wujud cintaMU.
Sekarang, ijinkan kami merawat bapak sebaik-baiknya. Berikan kami kesempatan untuk membahagiakan bapak. Jangan biarkan kepala kami menggeleng untuk bapak, jangan biarkan mata kami tertutup untuk bapak. Biarkan tangan kami terus menggandeng dan menjaganya. Tolong sembuhkan bapak. Biarkan Bapak kembali melihat wajah kami yang akan terus tersenyum untuknya.
Tuhan….berikan bapak kesembuhan, dan kekuatan. Hanya dia pemersatu kami saat ini. Kami akan terus menyayanginya. Kami akan selalu datang untuknya. Kami ingin bapak hadir di tengah-tengah kami. Tertawa bahagia, seperti dan lebih baik dari hari-hari sebelumnya.
Tuhan, kuatkanlah juga hati kami. Agar bapak kami tak lagi mendapatkan kesedihan karena kami, anak-anaknya yang dicintai.
Amien Ya Rabbal Alamien…..!
Minggu, 25 November 2007
Nov 16, 2007
Aku si Gerobak...
Aku masih saja teronggok di depan sebuah markas militer. Di sebelahku ada juga temanku. Bukan, bukan karena terkena razia lalu dilarang berjualan. Aku terpaksa begini karena sedang menunggu pemilikku datang. Sudah lebih dari setahun dia tak pernah menegokku. Yang aku dengar dari gerobak warung kopi sebelah-yang sering nguping dari pemiliknya, dia kini kerap di dera sakit. Tubuhnya semakin renta hingga si Angin begitu mudah mengoyak dan menembus kulitnya.
Ah, memang jahat si angin itu! Aku juga tak suka kepadanya.
Setiap melewatiku, tubuhku selalu di goncang-goncang seperti berharap kerudung dan kepalaku lepas. Setelah aku benar-benar menderita, si angin berlalu begitu saja.
Sebenarnya aku sangat berharap pemilikku akan membersihkan aku dari debu yang makin tebal menutupiku. Aku ingin bersolek lagi dan menemani gelak canda para pembeli yang cerewet. Aku rindu sapaan anak-anak muda yang sering lewat dan menyapa pemilikku dengan raungan motornya. Tapi aku juga sering merasa sebal dengan tingkah para anak muda itu yang sering memprotes minuman racikan pemilikku. Katanya kurang manis, atau esnya kurang banyak! Atau ketika mereka mengurangi hitungan satu botol, membuat si kakek, pemilikku merugi.
Kemana ya, si kakek? Bapak tentara teman ngobrolnya pun sering bertanya-tanya. Mungkin dia butuh semangat dari kakek. Atau dia kesepian karena tak ada lagi yang menemaninya berjaga. Kemarin lusa, dia mengunjungiku lagi berharap kakek muncul. Aku suka pada si bapak tentara ini, dia begitu menghormati si kakek meskipun kakek bukan seorang jenderal. Baginya, si kakek melebihi seorang jenderal. Seorang pejuang, adalah cikal bakal tentara, jadi wajib di hormati. Bahkan rasa hormat itu becampur kagum, dan haru karena ternyata perjuangannya tidak terhenti ketika Indonesia merdeka. Bahkan perjuangan yang makin berat ada dihadapannya. Di tahun-tahun berikutnya, si kakek berjuang sendiri untuk hidup keluarganya. Berjualan es menjadi pilihannya. Entah bagaimana mulanya.
Lalu, lahirlah aku! Aku seumur anaknya yang pertama. Akulah yang menjadi saksi perjuangan si kakek. Aku menemaninya melayani pembeli yang terus mengerubutiku. Ah, aku sering kewalahan melayani mereka. Tapi capekku menjadi hilang waktu si kakek (yang waktu itu masih muda) pulang dengan senyum bahagia. Hari itu, sepuluh anaknya bisa makan.
Dulu, kakek juga punya becak. Tapi Pak Gubernur membuatnya harus berpikir lagi dan berusaha lagi dari nol. Becak-becak itu tidak bisa dia selamatkan atau setidaknya dibawa pergi ke Tegal tempat nenek moyangnya.
Apa Pak Gubernur waktu itu hanya peduli mobil? Sampai-sampai becak-becak itu harus menjadi penghuni dasar laut?
Kasihan si kakek…
Aku tak boleh dan tak pernah mengeluh. Bahkan saat kakiku patah aku tak berhenti menemani berjualan. Aku tak pernah merasakan kesal, kakek perhatian sekali padaku. Selesai tugasku menemaninya, kakek akan membersihkan ku, seperti memandikan anak sendiri. Merapikan aku kembali sebelum beranjak pulang. Aku tidak takut ditinggal sendirian, karena esok pagi-pagi sekali kakek akan menjumpaiku lagi.
Tak terasa waktu telah berjalan berpuluh tahun. Di sebelahku telah berjajar penjual-penjual lain yang membawa teman lebih cantik dariku. Benda-benda penghiasnya juga cantik-cantik. Kadang aku sebal dengan mereka, ngiri juga mungkin. Mereka bilang kakek kuno, berjualan es masih pakai gelas kaca dan itu membuatku terlalu berat untuk di bawa-bawa. Sedangkan mereka selalu diajak berjalan-jalan di sepanjang gerbong kereta atau sekedar nongkrong di peron.
Tapi, apa benar itu yang membuat warung kakek semakin sepi?
Kata mereka lagi, minuman kakek juga kuno, warnanya cuma ada merah yang rasanya entah apa namanya. Kalau pemilik mereka, selalu menyediakan minuman yang berwarna-warni, rasa yang enak-enak dan nggak perlu ditunggui. Selesai minum, buang saja wadahnya.
Tapi kakek tetap maunya bikin sirop sendiri, dia nggak suka manis dari gula biang. Ah, dia memang peduli dengan pembelinya. Tapi apa, pembelinya nggak peduli tuh! Mereka bilang minuman kakek nggak praktis! Nggak bisa diminum sambil jalan. Lho, bukanya makan atau minum sambil jalan itu pamali? Tapi, memang pembeli sukanya begitu.
Makin sepilah warung kakek. Apalagi sejak kakek pindah ke Bogor. Selain bukanya jadi agak siang, kakek segera berbegas pulang begitu Ashar menjelang. Padahal kan, kakek pulang barengan orang-orang pulang dari kerja yang sangat mungkin butuh minum dan istirahat. Tempatku berdiri kan bagus, di bawah pohon rindang, dan nggak terlalu ramai kendaraan lalu lalang.
Tapi Kakek bilang, kalau kesorean, kereta akan terlalu penuh dan kakek tak kuat lagi berdesakan. Baiklah, aku mengerti. Lebih baik begitu daripada hari ini pulang terlalu malam, tapi keesokan harinya kakek tak datang.
Hari-hari kini semakin jarang kakek mengunjungi. Aku jadi semakin rindu masa-masa dulu sewaktu aku masih sering di dandani. Seorang bapak tentara betah menemani kakek bercengkrama berlama-lama. Kisah-kisah perjuangan kakek semasa perang kemerdekaan dulu kerap menjadi penyemangat si bapak tentara. Dia juga kerap membantu kakek ketika aku di guncang angin, atau membenahiku saat hujan mengguyur. Kakek memang masih sayang padaku.
Kemanakah gerangan kakek sekarang?
Tiba-tiba aku melihat kelebat anak lelaki si kakek. Dia menyapa bapak tentara yang kebetulan juga sedang menengok keadaanku. Entah mengapa, aku merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Aku lihat raut wajah si bapak tentara terlihat kaget lalu sedih. Sejenak kemudian dia menyalami si anak kakek erat-erat. Anak lelaki kakek menengok sejenak ke arahku, lalu beranjak pergi dengan kepala tertunduk.
Aku jadi berpikiran buruk. Tidak…jangan…! Janganlah itu berarti sesuatu yang membuatku sedih. Apakah kakek…. pergi untuk selamanya? Tidak…..!
Si bapak tentara tiba-tiba bergegas berlari ke arahku. Dia mencoba membenahi kerudung di kepalaku yang akan lepas. Dia heran, padahal angin tak sedang lewat. Seorang teman datang membantu, dan bertanya-tanya kenapa tiba-tiba kerudungku akan lepas.
Si bapak tentara cuma bisa menggelengkan kepala. Lalu dengan sedikit bercanda dia mengatakan mungkin aku sedang bersedih.
Memangnya kenapa, pak? Tanya teman si bapak itu lagi.
Karena isteri si kakek kemarin meninggal…..jawabnya. Si teman mengangguk-angguk seakan mengiyakan jawaban si bapak tentara.
Oh, itulah sebabnya. Aku ikut sedih untuk kakek. Setahuku kakek sangat mencintai isteri yang memberinya sepuluh anak itu. Kata kakek, isterinya itu sangat jujur dan pendiam. Dia juga isteri yang iklhas. Ah, pasti kakek merasa sangat kehilangan. Jangan kuatir kek, aku akan selalu ada untukmu. Janganlah lama-lama bersedih.
Tapi, apakah kakek akan tetap berjualan? Entahlah. Mudah-mudahan saja. Kakek tak pernah bisa berdiam lama. Mudah-mudahan kakek cepat pulih dari kesedihan, dan bersama-samaku lagi mengisi waktu.
Tapi, mungkin saja kakek takkan berjualan lagi dan berniat menjualku? Kalau demikian adanya, akulah yang akan merasa kesepian. Aku juga takut pemilikku yang baru tidak merawatku dengan baik.
Kek, kalau boleh memilih, aku ingin tetap bersama kakek. Semangat hidup kakek membuatku selalu gembira bersama kakek.
Tapi kalau kakek menginginkanku pergi, tak apa. Aku akan tetap mengenang kakek sebagai orang terhebat. Meski seumur hidup tak pernah diakui sebagai pejuang kemerdekaan, akulah yang mengakuimu sebagai pejuang terhebat. Anak-anakmu yang tumbuh menjadi generasi penerus yang penuh semangat, akan menjadi trophy penghargaanmu yang terbaik.
Ah, memang jahat si angin itu! Aku juga tak suka kepadanya.
Setiap melewatiku, tubuhku selalu di goncang-goncang seperti berharap kerudung dan kepalaku lepas. Setelah aku benar-benar menderita, si angin berlalu begitu saja.
Sebenarnya aku sangat berharap pemilikku akan membersihkan aku dari debu yang makin tebal menutupiku. Aku ingin bersolek lagi dan menemani gelak canda para pembeli yang cerewet. Aku rindu sapaan anak-anak muda yang sering lewat dan menyapa pemilikku dengan raungan motornya. Tapi aku juga sering merasa sebal dengan tingkah para anak muda itu yang sering memprotes minuman racikan pemilikku. Katanya kurang manis, atau esnya kurang banyak! Atau ketika mereka mengurangi hitungan satu botol, membuat si kakek, pemilikku merugi.
Kemana ya, si kakek? Bapak tentara teman ngobrolnya pun sering bertanya-tanya. Mungkin dia butuh semangat dari kakek. Atau dia kesepian karena tak ada lagi yang menemaninya berjaga. Kemarin lusa, dia mengunjungiku lagi berharap kakek muncul. Aku suka pada si bapak tentara ini, dia begitu menghormati si kakek meskipun kakek bukan seorang jenderal. Baginya, si kakek melebihi seorang jenderal. Seorang pejuang, adalah cikal bakal tentara, jadi wajib di hormati. Bahkan rasa hormat itu becampur kagum, dan haru karena ternyata perjuangannya tidak terhenti ketika Indonesia merdeka. Bahkan perjuangan yang makin berat ada dihadapannya. Di tahun-tahun berikutnya, si kakek berjuang sendiri untuk hidup keluarganya. Berjualan es menjadi pilihannya. Entah bagaimana mulanya.
Lalu, lahirlah aku! Aku seumur anaknya yang pertama. Akulah yang menjadi saksi perjuangan si kakek. Aku menemaninya melayani pembeli yang terus mengerubutiku. Ah, aku sering kewalahan melayani mereka. Tapi capekku menjadi hilang waktu si kakek (yang waktu itu masih muda) pulang dengan senyum bahagia. Hari itu, sepuluh anaknya bisa makan.
Dulu, kakek juga punya becak. Tapi Pak Gubernur membuatnya harus berpikir lagi dan berusaha lagi dari nol. Becak-becak itu tidak bisa dia selamatkan atau setidaknya dibawa pergi ke Tegal tempat nenek moyangnya.
Apa Pak Gubernur waktu itu hanya peduli mobil? Sampai-sampai becak-becak itu harus menjadi penghuni dasar laut?
Kasihan si kakek…
Aku tak boleh dan tak pernah mengeluh. Bahkan saat kakiku patah aku tak berhenti menemani berjualan. Aku tak pernah merasakan kesal, kakek perhatian sekali padaku. Selesai tugasku menemaninya, kakek akan membersihkan ku, seperti memandikan anak sendiri. Merapikan aku kembali sebelum beranjak pulang. Aku tidak takut ditinggal sendirian, karena esok pagi-pagi sekali kakek akan menjumpaiku lagi.
Tak terasa waktu telah berjalan berpuluh tahun. Di sebelahku telah berjajar penjual-penjual lain yang membawa teman lebih cantik dariku. Benda-benda penghiasnya juga cantik-cantik. Kadang aku sebal dengan mereka, ngiri juga mungkin. Mereka bilang kakek kuno, berjualan es masih pakai gelas kaca dan itu membuatku terlalu berat untuk di bawa-bawa. Sedangkan mereka selalu diajak berjalan-jalan di sepanjang gerbong kereta atau sekedar nongkrong di peron.
Tapi, apa benar itu yang membuat warung kakek semakin sepi?
Kata mereka lagi, minuman kakek juga kuno, warnanya cuma ada merah yang rasanya entah apa namanya. Kalau pemilik mereka, selalu menyediakan minuman yang berwarna-warni, rasa yang enak-enak dan nggak perlu ditunggui. Selesai minum, buang saja wadahnya.
Tapi kakek tetap maunya bikin sirop sendiri, dia nggak suka manis dari gula biang. Ah, dia memang peduli dengan pembelinya. Tapi apa, pembelinya nggak peduli tuh! Mereka bilang minuman kakek nggak praktis! Nggak bisa diminum sambil jalan. Lho, bukanya makan atau minum sambil jalan itu pamali? Tapi, memang pembeli sukanya begitu.
Makin sepilah warung kakek. Apalagi sejak kakek pindah ke Bogor. Selain bukanya jadi agak siang, kakek segera berbegas pulang begitu Ashar menjelang. Padahal kan, kakek pulang barengan orang-orang pulang dari kerja yang sangat mungkin butuh minum dan istirahat. Tempatku berdiri kan bagus, di bawah pohon rindang, dan nggak terlalu ramai kendaraan lalu lalang.
Tapi Kakek bilang, kalau kesorean, kereta akan terlalu penuh dan kakek tak kuat lagi berdesakan. Baiklah, aku mengerti. Lebih baik begitu daripada hari ini pulang terlalu malam, tapi keesokan harinya kakek tak datang.
Hari-hari kini semakin jarang kakek mengunjungi. Aku jadi semakin rindu masa-masa dulu sewaktu aku masih sering di dandani. Seorang bapak tentara betah menemani kakek bercengkrama berlama-lama. Kisah-kisah perjuangan kakek semasa perang kemerdekaan dulu kerap menjadi penyemangat si bapak tentara. Dia juga kerap membantu kakek ketika aku di guncang angin, atau membenahiku saat hujan mengguyur. Kakek memang masih sayang padaku.
Kemanakah gerangan kakek sekarang?
Tiba-tiba aku melihat kelebat anak lelaki si kakek. Dia menyapa bapak tentara yang kebetulan juga sedang menengok keadaanku. Entah mengapa, aku merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Aku lihat raut wajah si bapak tentara terlihat kaget lalu sedih. Sejenak kemudian dia menyalami si anak kakek erat-erat. Anak lelaki kakek menengok sejenak ke arahku, lalu beranjak pergi dengan kepala tertunduk.
Aku jadi berpikiran buruk. Tidak…jangan…! Janganlah itu berarti sesuatu yang membuatku sedih. Apakah kakek…. pergi untuk selamanya? Tidak…..!
Si bapak tentara tiba-tiba bergegas berlari ke arahku. Dia mencoba membenahi kerudung di kepalaku yang akan lepas. Dia heran, padahal angin tak sedang lewat. Seorang teman datang membantu, dan bertanya-tanya kenapa tiba-tiba kerudungku akan lepas.
Si bapak tentara cuma bisa menggelengkan kepala. Lalu dengan sedikit bercanda dia mengatakan mungkin aku sedang bersedih.
Memangnya kenapa, pak? Tanya teman si bapak itu lagi.
Karena isteri si kakek kemarin meninggal…..jawabnya. Si teman mengangguk-angguk seakan mengiyakan jawaban si bapak tentara.
Oh, itulah sebabnya. Aku ikut sedih untuk kakek. Setahuku kakek sangat mencintai isteri yang memberinya sepuluh anak itu. Kata kakek, isterinya itu sangat jujur dan pendiam. Dia juga isteri yang iklhas. Ah, pasti kakek merasa sangat kehilangan. Jangan kuatir kek, aku akan selalu ada untukmu. Janganlah lama-lama bersedih.
Tapi, apakah kakek akan tetap berjualan? Entahlah. Mudah-mudahan saja. Kakek tak pernah bisa berdiam lama. Mudah-mudahan kakek cepat pulih dari kesedihan, dan bersama-samaku lagi mengisi waktu.
Tapi, mungkin saja kakek takkan berjualan lagi dan berniat menjualku? Kalau demikian adanya, akulah yang akan merasa kesepian. Aku juga takut pemilikku yang baru tidak merawatku dengan baik.
Kek, kalau boleh memilih, aku ingin tetap bersama kakek. Semangat hidup kakek membuatku selalu gembira bersama kakek.
Tapi kalau kakek menginginkanku pergi, tak apa. Aku akan tetap mengenang kakek sebagai orang terhebat. Meski seumur hidup tak pernah diakui sebagai pejuang kemerdekaan, akulah yang mengakuimu sebagai pejuang terhebat. Anak-anakmu yang tumbuh menjadi generasi penerus yang penuh semangat, akan menjadi trophy penghargaanmu yang terbaik.
Subscribe to:
Posts (Atom)