Jan 7, 2009

Tha D-day (puisi)

Tiga murid lamaku (Syfa, Icha dan Sherly) dengan bangga menunjukkan hasil karyanya. Masing-masing telah siap dengan tiga puisi. Yang paling antusias membacakan puisi karyanya tentu Syfa. Selain bermodal puisi yang bagus (menurutnya), dia memang sering terlihat ingin menjadi contoh bagi yang lain. Meskipun, itu selalu dibarengi dengan ledekan pada sang adik. Untungnya, Sherly tak pernah sakit hati. Malah dengan tangkas membalas ledekan sang kakak. Dua kakak beradik ini, selalu berebut siapa yang maju lebih dulu. Sementara Icha, masih membutuhkan dorongan. Tapi, lama-lama dia terprovokasi juga.

Sementara tiga murid lamaku bersaingan menulis puisi, dua murid baruku lebih banyak diam. Mungkin mereka berpikir keras untuk membuat puisi, atau malah tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sesekali mereka bertanya padaku apa tema yang boleh di tulis? Atau, beradu mulut karena merasa ide atau tema pusinya di curi. Saat Icha menulis puisi tentang boneka, tiba-tiba Sherly ”membacakan” puisi dikepalanya yang muncul tiba-tiba setelah membaca judul puisi Icha. Tentu tingkahnya mengundang protes, karena menurut Icha sangat mengganggu.

Sherly memang spontaitasnya tinggi. Apa yang dia pikirkan, itulah yag dia katakan.

Lucunya, mereka menuliskan puisi yang kata-katanya menurut mereka ”logis/nyata”. Misalnya kalimat yang di tulis Sherly ”kupu-kupu berterbangan di malam hari”, kakaknya langsung membantahnya dengan mengatakan ”mana ada kupu-kupu terbang malam?”.

Demi menengahi perdebatan itu, aku terpaksa ”melogiskan” kalimat itu dengan memberitahukan tentang kupu-kupu yang terbang malam yaitu ngengat. Yang membuat jantungku sedikit berdebar adalah aku ”takut” bahwa ternyata mereka telah mengetahui makna simbolis dari kupu-kupu malam. Ah, bisa panjang nanti urusan. Maksudku, apa yang harus aku katakan jika sebuah pertanyaan muncul tentang kupu-kupu malam ala anak-anak (polos dan sulit menjawabnya)?

Tapi, yang paling membuat takjub, tak terasa mereka telah dengan senang hati mencoba menuangkan semua ide-ide tentang banyak hal di sekeliling mereka sepanjang dua jam.

Karena begitu banyak puisi yang mereka tulis, aku menyalin beberapa saja yang sore itu aku puji sebagai yang terbaik, dan terfavorit.

Ini dia puisi-puisi itu...

1. Karya Sherly
(Sebelum membaca puisi, Sherly meminta audience/teman-temannya menjawab pertanyaan yang terlontar- di baris ke-3)

Jangan Takut Gelap

Kau tak boleh takut gelap,
Di dunia tidak ada yang namanya setan.
Memang kalau ada setan di dunia, kalian takut?
Kalau kalian takut, berarti kalian tak takut Allah.

Cerita di balik puisi:
Sebelum mereka menuliskan puisi, mereka punya ritual buang air kecil di toilet bebarengan (sekali masuk 2-3 anak). Karena toilet rumahku kecil, mereka menggunakannya dengan dua kloter. Kebetulan Icha tak bersama Sherly. Ketika Sherly dengan iseng mematikan lampu toilet, Icha menjerit ketakutan. Jerit Icha ternyata menjadi inspirasi buat Sherly.


Jangan menyerah Tata!

Tata...
Kau jangan menyerah!
Aku tidak suka kau menyerah.
Apalagi merasa malas untuk hal yang berguna.
Janganlah kau menyerah Tata.
Maju terus Tata.
Hiduplah Tata!

Cerita di balik puisi:
Puisi ini muncul ketika Sherly telah membacakan puisinya beberapa kali, sementara Tata belum sekalipun. Sherly terlihat kesal, meskipun dia juga tetap memberi semangat dengan ”omelan” dan komentar nakalnya. Tiba-tiba, omelan-omelannya pada Tata menjadi inspirasi untuknya, apalagi setelah beberapa puisinya (dengan tema bunga, sepeda, dan hujan) gagal tersusun. Dengan semangat dia menuliskan puisinya. Dan jadilah...puisi favoritku!


2. Karya Syfa

Ayah

Ayah...
Ku tahu kau lelah
Bekerja untuk keluarga
Bagimu, tiada yang berarti selain keluarga

Tanganmu,
Kakimu,
Matamu,
Bekerja untuk kami.

Terima kasih ayah....


Secangkir kopi untukmu Ayah

Ku tahu kau lelah,
Dari caramu menghela napas

Namun, harus kuhargai jasamu

Secangkir kopi untukmu
Itulah tanda baktiku untukmu

Terimakasih atas usahamu
Aku berjanji
Aku akan menggapai cita-cita setinggi langit
Demi mu, Ayah....


3. Karya Icha

Rumah

Dindingnya berwarna biru
Terbuat dari bambu
Rumah....kau adalah istanaku

Tempat aku berteduh,
Tempat aku berbagi cerita
Dan, tempat aku tinggal

Rumah, oh...rumahku

4. Karya Prita

Boneka

Aku senang bermain boneka dengan temanku
Bonekaku cantik, dan aku dandani

Tapi sayang, bonekaku rusak
Di rusak oleh temanku
Dan aku menangis,
Aku marah padanya....

5. Karya Tata

Ayam

Ayam yang berkokok di pagi hari,
Suara itu nyaring da kencang sekali,
Pasti itu tanda kalau sudah pagi.

hari ini, aku telah menepati janjiku pada murid-muirdku bahwa aku akan menyimpan karya mereka dan memberi tahu semua orang bahwa mereka telah berkarya.

Mendadak Guru 3

Entah memang si anak butuh, atau sekedar pengen karena teman-teman sebayanya les privat di rumahku, dia sampai menangis mengiba pada ibunya minta turut serta.

Aku ingin tersanjung, tapi tak jadi. Aku yang selalu terlihat menganggur di mata tetanggaku, dan karenanya aku di kecam (karena tidak pernah main ke tetangga), pasti akan makin kehilangan waktu untuk menyalurkan hobi menonton TV. Sepertinya memang ini resiko yang harus aku ambil. Tapi, sepadan nggak ya? He he he maklum, penganggur memang sering berteman TV.

Dan benar saja, sore itu muncul empat anak yang datang bersamaan. Mereka Syifa (kelas 6), Icha (kelas 5), Sherly adik Syfa (kelas 3) dan, Prita (kelas 4). Prita ini yang menangis minta les. Lima belas menit ”kelas” dimulai, ada seorang anak yang mengintip dibalik pagar. Dia Tata teman sekelas Prita. Karena mendengar semua temannya pergi untuk les, dia mendatangi rumahku. Ketika aku panggil, dia terlihat gembira. Apalagi teman-temannya meneriakinya agar masuk..
”Les apa, sih?” tanya Tata.
”Apa aja...!” teman-temannya serentak menjawab.

Tak bertanya lebih banyak, Tata berlari pulang ke rumahnya dan mengambil buku. Tak sampai lima menit dia sudah sampai kembali. Napasnya memburu. Dia terlihat kehausan. Ah iya, Aku harus menambah dua gelas lagi untuk Prita dan Tata. Seperti yang biasa aku sediakan untuk murid les-ku yang sebelumnya.

Rumahku jadi penuh, dan berisik. Mereka membicarakan ujian yang baru lewat, dan soal-soal yang keluar dalam ujian. Apalagi mereka berbeda sekolah.

Untuk sedikit menenangkan suasana, aku bertanya:”sekarang mau les apa?”
Ah, sebuah pertanyaan yang kemudian aku sesali.
Mengapa?

Karena:
Syfa dan Sherly, menjawab Bahasa Indonesia. Icha menjawab IPA, dan Prita serta Tata menjawab matematika.

Astaga....! Otakku bisa pecah nanti.... Tidak mungkin aku bisa mengatasi serbuan pertanyaan mereka. Aku bukan gurunya Toto-chan (meskipun aku sedang berusaha menirunya), dan terlebih karena semua anak punya tugas dan keinginan berbeda.

Tugas? Ya, tugas. Tidak perlu heran, meskipun telah memasuki masa jeda (menjelang penerimaan raport dan libur), sang guru belum lelah memberikan tugas. Misalnya berupa PR matimatika, merangkum materi IPS, dll. Terutama untuk kelas 6. Katanya itu sekaligus untuk remedial (ujian ulangan), plus persiapan menjelang ujian nasional.

Setengah menghiba aku menatap wajah mereka satu persatu. Mereka terlihat bersemangat. Sementara aku kewalahan menampung seluruh energi itu.
Aku ternyata tidak siap....!

Untung Syfa mengingatkan aku semalam mereka punya ”pe-er” dariku yaitu membuat puisi. Sebenarnya sih itu bukan pe-er, sebenar-benarnya pe-er. Awalnya, karena telah jenuh dengan tugas IPA dan matematika, mereka minta kesempatan untuk refreshing.

Tentu aku dengan senang hati memberikannya, karena aku juga membutuhkannya.

Aku menawarkan buku-buku cerita untuk di baca, untuk kemudian mereka menceritakan kembali isi buku itu. Tapi mereka malah menginginkan sesuatu yang belum terpikir olehku, yaitu membuat puisi. Ya sudah, aku sepakat saja. Tapi, karena waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 dan mereka harus mengaji, aku meminta mereka membuat puisinya di rumah saja. Besok (hari ini), puisi mereka akan dibacakan.

Mendadak Guru 2

Assalaamualaikum….!

Suara melengking dari seorang bocah sudah amat aku kenal. Sudah hampir tiga bulan ini dia jadi muridku. Aku yang hampir tertidur di depan televisi sedikit kaget. O iya, aku hampir lupa! Sekarang kan hari rabu, jadwalku memberikan les. Mata pelajaran yang akan di bahas bisa apa saja, jadi aku tak mempersiapkan diri secara khusus. Kalau selasa kemarin sang murid minta les IPS dan Bahasa Inggris, hari ini pun mungkin tak beda. Sudah beberapa kali dia mengeluhkan IPS dan Bahasa Inggris yang selalu banyak tugas. Saking banyaknya, dia selalu datang dengan wajah panic. Sampai-sampai kamus yang seharusnya selalu dibawa untuk belajar selalu tertinggal di rumah. Begitu juga dengan peta dunia yang harus sering dia pelototi untuk menemukan sebuah selat atau pulau yang aku sendiri jarang atau tak pernah mendengarnya.

Syifa, muridku, sudah berdiri di depan pagar, menunggu aku persilakan masuk. Dia anak yang sopan, tidak pernah mau masuk sebelum aku membukakan pintu. Tapi itu juga karena dia tidak mau kucing peliharaannya ikutan masuk.

Pernah suatu ketika dia belajar dan si kucing ikutan masuk ke ruang tengah tempat belajar. Mungkin si kucing mengira diajak bermain ke tempat baru sehingga terus-terusan keluar masuk kamarku yang kebetulan terbuka...Aku jadi tak bisa konsentrasi karena khawatir barang-barangku berjatuhan. Sebentar-sebentar harus memburu si kucing untuk ditangkap dan di keluarkan. Aku tidak mungkin menutup pintu karena ruangan akan jadi pengap. Maklum, rumahku kecil.

Hari ini dia membawa tugas (PR) yang lagi-lagi teramat banyak. IPS dan bahasa Inggris lagi! Yang mengejutkanku, mata pelajaran IPS ini membahas peta dunia berserta Negara-negara yang ada di lima benua, pembagian wilayah Negara menjadi beberapa propinsi, batas territorial, Zona Ekonomi Eksklusif dan banyak lagi seperti tentang pemilu dengan tahap-tahapnya, fungsi tahapan dan lain-lain. Dan, sedikit sisipan tentang pelestarian kekayaan hayati (yang lagi-lagi tidak dimengerti artinya). Aku jadi tidak mengerti, untuk apa anak sekolah dasar harus mempelajari ini semua? Sementara pulau-pulau di Indonesia sudah teramat banyak untuk dipelajari. Belum lagi istilah-istilah yang terlalu banyak untuk dihafalkan. Dihafalkan? Ya, karena hal ini muridku jadi sering stress, dan uring-uringan. Rupanya sang guru tidak memberitahukan makna dari istilah-istilah itu, atau tidak sempat karena begitu banyaknya materi yang harus diberikan sebelum mereka menghadapi ujian nasional yang bersistem multiple choice.

Contohnya: pemilu terdiri atas beberapa tahap. Tahap pertama adalah pemilu legislatif. Apa itu legislative? Syifa hanya menggeleng. Katanya itu tidak pernah di bahas sama bu guru! Kenapa? Kata bu guru itu untuk dihafalkan saja.

Selesai? Mungkin selesai untuk tugas bu guru (di sekolah), tetapi sebuah perjuangan panjang untuk sang murid untuk mengerti tentang hal-hal yang diajarkan. Dengan dorongan semangat yang tak boleh berhenti, akhirnya tugas Syifa selesai. Untuk hari ini…besok? Tak tahu lagi…

Beralih ke bahasa Inggris. Entah aku yang terlalu bodoh, atau pembuat soalnya (soal latihan) yang terlalu canggih, beberapa kali aku sempat kesulitan menemukan jawaban dari soal multiple choice. Jika dalam bab-bab sebelumnya telah diajarkan grammar tentang present tense, past tense, dan banyak lagi, dalam soal latihan hal tersebut tidak bisa sepenuhnya di terapkan. Menurutku, soal-soal latihan itu terlalu disederhanakan sehingga menjadi ambigu.

Apalagi ketika minggu berikutnya Syifa datang dengan PR baru, tetapi PR yang sebelumnya belum di bahas. Aku jadi sering kesal sendiri.

Tapi, sebagai guru (les) yang bijak, maklum harus membesarkan harapanku sendiri, aku tidak mau menunjukkan kekesalanku. Aku berusaha mengeluarkan kata-kata yang positif yang bisa memompa semangatnya belajar. Bagaimanapun, tugasnya di masa kini adalah belajar. Tetapi, dengan beban yang teramat banyak, lingkungan yang dia miliki harus pula memberi dukungan yang maksimal.

Padahal, sesekali aku ingin memberikan materi lain seperti perilaku yang positif terhadap lingkungan tanpa harus membuatnya terbebani. Tapi, niatku sering aku urungkan. Setelah seharian dia belajar (catatan: dia juga mendapatkan pelajaran tambahan sepulang sekolah selain hari selasa dan rabu), tentu membutuhkan istirahat atau sekedar refreshing dengan bermain bersama kucing kesayangannya.

Untung, kemarin ketika pelajaran IPS ada sedikit bahasan tentang manfaat hutan mangrove bagi kelestarian laut, aku bisa sedikit menyisipkan “pesan”. Awalnya dia tidak mengerti dengan penjelasan yang ada di buku, tapi dengan sedikit bantuan permainan dan “logika” , dia mengerti dengan baik.

Mungkin, aku memang harus bersabar. Termasuk dengan respon orangtuanya yang justru lebih banyak membunuh semangat si anak. Karya tulis mereka, tidak membuat sang ibu terkesan. Sekalinya berkunjung, dia minta padaku untuk menambah jam untuk matematika karena hasil ujian semester yang lalu tidak menggembirakan.

Mereka menginginkan aku setelah diujung waktu. Dan, aku harus mencari sedikit saja celah di otak sang anak dari pengaruh total (doktrin) Sang guru sekolah. Sungguh pekerjaan tak mudah. Setiap saat sang anak berpikir untuk menyelesaikan satu soal dalam waktu satu menit hingga tak menyadari bahwa gaya mengajarnya berbuah ”petaka”:

1.Gayaku yang menuliskan proses menjawab dengan detail sering menuai protes dari muridku, katanya terlalu lama. Karena dia bisa menjawab dengan lebih singkat.

2. Syifa langsung ”defend” dengan mengatakan ”bingung” ketika aku memberikan cara yang berbeda dengan sang guru, meskipun kali ini caraku lebih sederhana,

3. Ketika aku mencoba menerapkan cara sang guru ( 1 menit per 1 soal), banyak jawaban yang salah. Karena mencoba berpikir cepat, proses logisnya tidak terpikirkan dengan baik. Bahkan menghitung penambahan atau perkalian yang sederhana pun jadi salah.

Apa boleh buat, lagi-lagi aku harus bersabar. Setelah aku bandingkan dengan caraku yang lebih detail, tetapi hasilnya justeru benar, Syifa sedikit mengerti maksudku.

Ah, stressnya aku! Kalau begini terus, rasa-rasanya aku jadi lebih panik ketimbang si anak. Dengan sedikit bercanda aku bilang kepada suamiku ”kredibilitasku sedang di pertaruhkan”. Bagaimanapun, orang senang mencari kambing hitam. Mungkin saja, kambingnya kali ini adalah aku.

Ujian kelulusan sang anak sudah makin dekat. Dia harus bekerja keras, aku juga.

Nov 26, 2008

Nasi kucing

Di rumah sedang ada tamu, menginap sejak kemarin. Tak mungkin meninggalkan mereka (sepasang muda-mudi) di rumah tanpa ada si tuan rumah. Akhirnya suamiku yang menawarkan diri belanja sayuran dan lauk-pauk untuk beberapa hari kedepan. Maklumlah, rumahku tak dekat pasar, jadi sekali belanja sekaligus untuk tiga atau empat hari.

Jadilah suamiku berangkat. Tapi dia belanjanya sore hari, karena dari pagi hingga siang harinya dia harus pergi ke suatu tempat yang akan dijadikan lokasi acara ngumpul-ngumpul. Ya, okelah. Toh, untuk makan siang para tamu aku sudah siap dengan sayur dan lauknya.

Sore menjelang maghrib suamiku sudah sampai kembali di rumah. Di tangan sudah tertenteng sekantong belanjaan. Waktu aku periksa, cuma ada sebungkus taoge, sayur asem, dan dua bungkus ikan kecil-kecil yang dipindang. Sebenarnya aku pengen marah, kok dia hanya belanja itu? Tapi, karena di wajahnya membayang keletihan, juga sedikit kesal, aku memilih menyimpan rasa penasaranku dan kutumpahkan disaat yang tepat. Mungkin nanti, kalau para tamu sudah pulang. Tapi kenapa? Bukankah dia yang menawarkan diri belanja?

Duh, ternyata sore itu kekesalanku harus bertambah. Para tamu, menunda kepulangan mereka hingga esok hari. Bukan karena aku tak suka mereka kerasan di rumahku, tapi aku kebingungan karena tidak menyiapkan makan malam. Apalagi suami hanya belanja taoge dan ikan cuwek (sebutan ikan pindang kecil-kecil itu..).Dengan rasa malu, aku menawari mereka nasi goreng, mie instant, dan telur… Terpaksa aku melakukan itu karena waktu makan malam sudah tiba, dan tak ada makanan yang aku buat. Tapi, untungnya mereka menyadari posisi mereka yang bisa jadi merepotkan si tuan rumah. Jadi semuanya berjalan lancar. Ditambah, ada es krim yang jadi penutup di akhir makan malam yang bisa menutupi kekurangan menunya.

Akhirnya, malampun berlalu. Mereka pulang lebih pagi ketimbang suami berangkat kerja. Karena hari minggu kemarin sudah “lembur” suamiku boleh berangkat lebih siang dari biasanya. Di sela waktu itu, suamiku bercerita hal-hal yang seharusnya sudah aku ketahui sejak kemarin.
Sore itu, turun dari kereta suami menuju ke lapak penjual sayur langganan. Sayangnya sudah tutup. Akhirnya dia berpindah ke pedagang di sebelahnya dan mengalihkan perhatian pada setumpuk ikan pindang yang masih dibungkus kotak anyaman dari bamboo. Ikan-ikan itu nampak menggiurkan. Tapi, dia tidak jadi membeli ikan yang berukuran besar karena dia merasa selain harganya yang mahal, jumlahnya terlalu banyak untuk berdua. Selagi memilih-milih ikan, seorang perempuan paruh baya juga memilih ikan yang sama. Tapi perempuan itu memilih yang lebih besar. Setelah memutuskan ikan yang akan dibeli, suami menunjukkan itu ke pedagang agar di bungkus. Dia sudah membayangkan kelezatan ikan itu bila dimakan bersama sayur asem atau bening bayam.

Tiba-tiba si perempuan paruh baya menoleh ke suamiku dan mengatakan sesuatu yang menyakitkan bagi suamiku. “Eh, iya mas, itu mah cukup kalau untuk kasih makan kucing” kata perempuan itu dengan entengnya. Dari wajahnya tak terlihat si ibu berniat menghina makanan pilihan suamiku. Tapi tetap saja dia merasa terhina. Suamiku geram. “Bagaimana mungkin, makanan kesukaanku dikatakan untuk kucing”, katanya sambil mendengus keras.

Mendengar ceritanya, aku sebenarnya pengen tertawa. Tapi kok kasihan lihat eskpresi suamiku. Walaupun keluh kesah yang meluncur dari bibirnya soal ikan itu berhubungan dengan keadaan keuangan yang sedang krisis, entah mengapa makin membuat aku geli.
Sudut bibirku sungguh tak tahan menahan tarikan syaraf geli di dada dan seluruh tubuh.

Akhirnya, pertahananku jebol juga. Dengan penyesalan yang mendalam, aku harus menertawakan “kesialan” suamiku itu. Sungguh, betapa nyata adanya. Sesuatu yang kita sukai ternyata bagi orang lain tak pantas untuk dimakan. Mungkin bahkan untuk kucing yang teramat dicintai.

Ah, kubuang jauh-jauh saja rasa sedihnya. Yang penting kan gizinya, bukan harganya. Lagi pula, dalam empat hari saja berturut-turut makan daging (ayam, sapi atau kambing), dia pasti sudah mengeluh bosan dan minta kembali ke tempe/tahu, ikan asin, pindang dan lain-lain.
Dengan tetap menahan geli dan prihatin, aku mencoba menghiburnya. Aku juga mencoba meyakinkan bahwa pilihannya tidak salah. Untuk itulah kenapa si ikan dinamakan dengan “ikan cuwek”. Karena seseorang, se-ekor, atau sesuatu yang memilihnya untuk jadi santapan, harusnya “cuwek” saja mendengar komentar yang tidak menyenangkan seperti itu. Ikan itu toh bergizi, dan lezat. Mendengar perkataanku, kesal suamiku berangsur mereda. Bahkan sudah bisa tersenyum. Lama-lama dia bisa menerima “hinaan” itu dan menganggapnya sebagai guyonan.

Dan sejak itu, setiap aku memasak ikan cuwek untuk lauk makan, suamiku selalu berkomentar ”mana nasi kucingku..!”

Nov 4, 2008

Mendadak guru….

Kemarin lusa, saat pagi baru saja menyapa, tetanggaku dengan wajah menahan malu mendatangiku. Dia baru saja mengantar sang putri naik mobil jemputan ke sekolah. Mungkin, itu karena aku yang baru saja hendak menyiram tanaman menatapnya tak berkedip heran. Memang tak biasanya dia menyapaku sedemikian rupa. Dia lebih suka langsung main ke tetanggaku sebelah kiri rumahku lagi untuk ngobrolin entah apa. Yang aku tahu karena memang mereka sudah saling akrab sejak mereka mendadak punya hobi memasak.

Ya udah, itu urusan mereka. Kita lanjut cerita mengapa dia dengan tidak biasa mendatangiku.

Ternyata, dia datang untuk berkeluh kesah tentang materi pelajaran anaknya yang kini menginjak tahun ke-enam di SD. Dia tak sanggup lagi mengajari sendiri sang anak karena menurutnya materi pelajaran SD sekarang sudah sangat beda dengan jamannya dulu. Dia bilang kasihan melihat sang anak selalu gelisah ketika mendapatkan tugas dan si anak tidak bisa mengerjakan, sementara dia tak lagi bisa membantu.

Sampai di sini aku bisa menangkap arah pembicaraannya, dan siap menjawab. Tapi, aku memilih terus menunggu sampai dia bicara sendiri maksudnya mendatangiku. Dan, akhirnya dia bicara juga.

Dia meminta tolong padaku untuk mengajari sang anak, alias dia meminta aku untuk menjadi guru les. Aku sih nggak keberatan, hanya saja aku tidak bisa langsung mengiyakan karena ini bukan tentang aku dan ibunya, tetapi lebih tentang sang anak. Kalau dia tidak keberatan dan mengerti dengan caraku mengajari, oke saja. Semua tergantung pada si anak. Karenanya, aku memintanya lebih dulu bertanya pada sang anak dan melakukan sekali uji coba untuk tahu apakah si anak menyukaiku atau malah pulang dengan kepala makin pusing.

Keesokan sorenya, si anak datang padaku dengan setumpuk PR matematika yang sejujurnya tidak juga mudah buatku. Apalagi, materi matematika itu dulu aku dapatkan di bangku SMP. Di bangku SD aku boleh jago matematika, tapi ketika melewati materi SMP yang lumayan berat bersamaan dengan datangnya masa pancaroba (ABG), semuanya pernah membuat ibuku uring-uringan juga. Meski ibuku berusaha membuatku pintar matematika dengan memintakan les secara khusus pada sang guru, aku lebih suka kabur. “Hangout” ke rumah teman, rujakan atau sekedar bersepeda keliling dari satu rumah ke rumah teman lain.

Hmm, begitulah jadinya. Meski di akhir tahun, ujianku menunjukkan hasil yang lumayan, tetap saja aku tidak bisa berteman dengan matematika. Alias, susyah bangets…!

Tapi, demi membuat otakku yang mulai sering lupa ini tetap terjaga, aku mencoba sekuat tenaga untuk mengerti materi yang ada dan membantu sang anak. Tugas terberat sebenarnya bukan memahami materi, tetapi ada pada mendapatkan cara menjelaskan pada si anaklah hingga membuatnya mengerti.

Matematika katanya tentang logika. Dan, berlogika dengan anak bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi caraku berlogika (menjelaskan rumus), ternyata berbeda dengan sang guru di sekolah. Itupun aku tahu setelah si anak bingung, katanya penjelasanku terlalu panjang. Tapi, waktu aku meminta dia menjelaskan materi yang sudah diberikan oleh sang guru, diapun tidak terlalu paham.

Akhirnya, daripada sama-sama bingung, aku memilih menjelaskan materi dengan caraku. Karena kalau aku saja bingung untuk memahami, bagaimana bisa aku menjelaskan? Untungnya, setelah beberapa kali latihan dengan PR, si anak mengerti juga.

Tugasku, sementara ini berjalan dengan sukses. Aku ikut senang. Setidaknya si anak tidak pulang dengan kepala pusing lagi, bisa tidur dengan tenang untuk mengumpulkan energi. Esok pagi, dia harus berjibaku lagi dengan tugas yang lain.

Melihat si anak pulang dengan semangat baru, si ibu datang kembali dan memintaku untuk terus menjadi guru les. Dia senang karena si anak merasa cocok dengan caraku mengajar sehingga tidak pusing mencari guru les lagi.

Aku sebenarnya melihat ini sebagai peluang fund rising-ku untuk membeli buku-buku baru. Sudah lama aku tidak membeli buku baru, setidaknya satu novel. Apalagi aku juga mendengar kabar, beberapa anak di kompleks ini juga mengalami hal yang sama. Pusing mencari guru les.

Tapi, demi kebaikan semuanya, aku memilih tidak menerima upah dari usahaku membantu sang anak. Bagaimanapun, aku tidak bisa menjanjikan waktuku akan selalu ada. Komitmen membantu aku punya, tapi untuk terikat dengan waktu seperti yang mereka inginkan aku belum bisa. Dan, alasan lain yang amat penting: menghindari konflik horizontal yang sangat mungkin terjadi. Seorang tetangga akan dengan senang hati “menghujat” usaha cari uang yang aku lakukan jika aku menerima upah. Ya, meski upah itu hakku, dan walaupun kedengkian itu bukanlah tanggungjawabku, tetap saja akan sangat menggangguku. Aku tidak punya mental selebritis yang harus menerima kenyataan bahwa hidupnya adalah konsumsi publik. Aku yakin, rejeki datang dalam bentuk lain dan lebih “soft” tanpa menimbulkan “kehebohan”.

Adalah sebuah kenyataan bahwa niat baik seseorang tidak selalu diterima dengan baik pula. Lagipula, aku sedang melakukan apa yang aku suka dan aku mau. Bukan yang mereka suka dan mau. Aku ingin melakukan ini tanpa beban, ataupun takut protes dari sang ibu. Dan, adalah niatku untuk menjadikan ini sebagai ladang kebaikan yang mudah-mudahan menular kepada yang lain. Amin!

Jadi, mendadak guru…tak ada salahnya…!

Oct 22, 2008

“…..Ngga’ setuju toh, Kom?”


Dari sana nama itu terlahir.

Ini cerita tentang seorang bibiku dari ibu, tapi beda ibu alias dari istri kakek yang lain. Sebut saja namanya Kokom. Dari sekian adik ibu dari istri kakek yang lain, beliaulah yang paling sering main ke rumah karena rumahnya paling dekat.

Bisa di bilang, dia adalah biangnya keras kepala. Dan, cirri khas lain dari sang bibi adalah kesukaannya berbicara aneh (ngasal). Meski kami sudah terbiasa, tetapi tetap saja kami harus mengerutkan dahi untuk mengerti apa maksudnya.

Meski begitu, Bi Kokom adalah orang yang selalu terlihat bersemangat. Jika main ke rumah, tak henti-hentinya berbenah dapur yang memang selalu terlihat berantakan. Memang, sejak ibu terserang stroke, dan ketiga anaknya menikah dan tidak lagi berada di rumah, urusan dapur jadi sering terbengkalai karena ibu jadi sering merasa cepat lelah. Kehadiran bibi sebenarnya sangat membantu, karena dapur jadi rapi.

Tetapi kerapihan bibiku juga kerap merepotkan ibu. Ketika bibi telah pulang, dan ibu harus menyiapkan makanan untuk bapak dengan memasak, barang-barang yang ibu hafalkan letakknya, tibta-tiba lenyap entah kemana. Akhirnya ibu harus kehilangan banyak waktu karena mencari-cari sekedar bumbu dapur ataupun penggorengan. Padahal ibu sudah bilang, barang-barang yang masih sering (tiap hari) dipakai jangan disimpan dalam lemari, cukup digantung dekat tempat cuci piring atau dekat kompor. Tapi bibiku tidak suka, katanya itu terlihat tidak rapi dan kotor..!

Puncaknya, ketika Ramadhan kemarin sang bibi sengaja “nyantrik” beberapa hari untuk belajar membuat kue yang memang jadi keahlian ibu. Sebagai timbal baliknya, ibu meminta bantuan bibi untuk berbenah dan membersihkan rumah, salah satunya membersihkan kaca jendela. Karena rumah bibi memang (dulu sebelum di renovasi) tidak berjendela kaca, bibi belum bisa membersihkannya dengan benar. Untuk itu, ibu menegur bibi dan memberikan contoh cara yang benar.

Rupanya, “harga diri” sang bibi sedang tinggi. Teguran ibu membangunkan “keengganannya”.
Bibi menunjukkan raut muka tidak senang sambil berteriak “aku nggak setuju, kalau caranya gitu!”
Ibu hanya terbengong kaget.
Entah apa yang tidak disetujui oleh bibi. Cara ibu menunjukkan cara membersihkan jendela, atau cara membersihkan jendelanya? Ini kan bukan diskusi, tetapi lebih seperti “perintah kerja”. Dan membersihkan kaca jendela jika tidak memperhatikan beberapa hal tentu hasilnya tidaklah maksimal.
“O, kamu nggak setuju toh, Kom?”komentar ibu singkat, enggan menanggapi.
Akhirnya ibu mengalah. Ibu membersihkan sendiri kaca jendela, dan bibi diminta kembali ke dapur wilayah favoritnya.

Aku yang mendengar cerita ibu di waktu lebaran, hanya bisa menggelengkan kepala. Aku jadi mengerti mengapa majikan si bibi dulu, di Arab Saudi sering membuat bibi uring-uringan. Katanya segala hal yang dilakukan selalu tidak cocok. Pasti si bibi yang terlebih dulu membuat jengkel sang majikan. Arab dan Jawa pasi banyak perbedaan, dan mungkin itu membuat bibi selalu gusar.
Dan cara si bibi membalas kejengkelan itu sangat konyol. Dia menuangkan garam pada teh, membuat gosong makanan yang sedang di masak. Dan banyak hal lain yang terlalu “nasty” untuk diceritakan. Takut ditiru!

Dan, yah… bisa di tebak bagaimana akhirnya. Si bibi di pulangkan dan tak ada agen lain yang mau mempekerjakan. Pulanglah si bibi dengan tangan hampa, tetapi dengan cerita segudang.

Bi Kokom…Bi Kokom!

Kakak dan adikku yang ikut mendengar kisah ini sering menjadikan ketidaksetujuan seseorang atas sebuah pendapat, pemikiran, atau usul, menjadi lelucon.
Mereka bilang,”oh, kamu masuk golongan ngga setuju toh, kom?”
Tiba-tiba, terlintas di benakku bahwa cerita-cerita unik seputar bibi bisa jadi bahan untuk blog-ku. Spontan aku “menyempurnakan” kalimat itu menjadi: we-we-we.engga’ setuju dotcom!

Ha..ha.. kakak dan adikku tak berhenti tertawa sambil mengangguk setuju.
Bibi, aku akan menjadikanmu ikon yang unik, se-unik pribadimu.

Setuju, nggak?

Oct 9, 2008

Engga setuju adalah...

Menggelengkan kepala..
Mengerutkan dahi...
Mulut menganga...
Mulut mengumpat...
dll...

Banyak cara menungkapkan ketidaksetujuan..
Sambil senyum?
Boleh...
Sambil menulis...?
Boleh bangets.
Meski itu sulit.

Episode sedih harus lewat.
Roda sudah waktunya bergulir.
Tunggu saya di langkah baru....