Jun 22, 2007

Apa Enaknya?

Aku selalu bertanya pada temanku yang merokok, apa enaknya? Ada yang bilang, tidak bisa berpikir kalau tidak ada rokok. Bagiku yang tidak merokok, jawaban itu membuat ku harus berpikir keras sekaligus merasa lucu, seakan otak kita benar-benar bergantung pada sebatang rokok. Apakah itu berarti, begitu sebatang rokok habis, habis juga pikiran kita? Dan, untuk bisa berpikir lagi, harus ada sebatang rokok lagi. Begitu kah? Padahal bagiku justeru terbalik. Begitu ada rokok, buyar seketika konsentrasiku.

Kalau aku tanya apa tidak mikir bahayanya? Mereka bilang, mikir! Tapi, mereka lalu buru-buru menambah: karena sudah terlanjur (ketagihan) ya diteruskan aja. Enak sih…., begitu selalu kata mereka.

Saking enaknya merokok, mereka lebih memilih tidak makan daripada tidak merokok. Apa iya? Aku tidak yakin dengan pernyataan itu. Coba kita pikir. Jika setiap hari (selama sebulan) mereka hanya punya uang lima ribu rupiah, apa benar mereka akan memilih membeli rokok ketimbang makan? Pasti perut yang melilit membuat otak akan sedikit gila. Rokok tidak akan membuat perut keroncongan jadi kenyang. Dan, apakah mereka akan tetap memiliki pikiran yang jernih tanpa asupan energi dari makanan?

Aku selalu berpikir itu hanya alasan yang dibuat-buat, supaya orang yang tidak suka merokok berhenti mengganggu. Tapi, bukankah semakin dia berusaha “defence” dengan “membualkan” segala kenikmatan merokok, semakin menunjukkan bahwa sebenarnya dia tidak yakin dengan “manfaat” rokok itu sendiri?

Ada alasan lain: beberapa orang merokok untuk menjaga berat badan agar tidak melar. Kenapa bisa begitu? Karena, merokok bisa menggantikan kebiasaan ngemil. Kalau yang ini, aku bisa bilang: oke, it makes sense! Tapi bukan tidak mungkin, selain kurus karena tidak ngemil, pasti karena dalam tubuh ada sakit yang telah menggerogoti. Di sadari atau tidak, di akui atau tidak, itulah “kerjaan” rokok. Kalau masih muda, memang lebih gampang mengelak dengan berbagai alasan. Apalagi tubuh memang masih terlihat bugar. Tapi lihat beberapa tahun lagi. Andai saja dada manusia dibuat transparan, pasti paru-paru yang menghitam langsung terlihat. Batuk pun datang menyambangi saban malam. Setelah itu, berbagai macam pil atau kapsul pun harus mengisi perut yang berisi zat untuk mencuci tubuh d pembuluh darah dari banyak kotoran.

Kalau mengaku waras, kenapa tidak memilih untuk mengganti cemilan dengan selain rokok? Ada banyak cara jika mau, yang lebih sehat tentunya.

Tapi, mungkin aku tidak akan pernah bisa memahami pilihan para perokok. Walaupun bagiku, mereka lebih nampak sebagai orang yang hidup dengan mitos dan sugesti.
Mitos itu berasal dari sebuah anggapan bahwa, tidak merokok sama saja dengan banci. Nggak jantan! Lalu, karena takut dianggap tidak jantan, serta merta mereka tersugesti untuk terus mengkonsumsi barang berbahaya itu. Lucu, ya…selalu saja mitos itu di luncurkan untuk melawan keadaan sebenarnya.

Kalau dipikir-pikir, mitos-mitos yang beredar di kalangan lelaki memang sering menyesatkan. Bukankah laki-laki atau tidak sebenarnya tidaklah ditentukan dari sebuah sebutan? Dan laki-laki, katanya, selalu mengendepankan pikiran, alias ber-otak, bukan main perasaan seperti perempuan. Tapi lihat faktanya! Memikirkan soal rokok saja, keadaan sudah jungkir balik. Perasaan jadi yang terdepan begitu di usik soal unsur kejantanan ini. Gara-gara iklan, pikiran jadi termakan. Kalau para lelaki itu bisa mikir, atau minimal bisa baca-lah.., pasti mereka tahu rokok lebih banyak bahayanya dari pada manfaatnya. Bahkan lambang kejantanan ini bisa membuat kejantanan yang sebenarnya seperti asap rokok yang tertiup angin. Ada tapi tak nyata. Tanpa itu, lelaki lebih tak berharga bukan?

Entah apa yang ada dibenak manusia. Kedengarannya sia-sia manusia diberikan otak untuk berpikir. Bagaimana tidak, mereka sudah tahu betapa rokok itu tidak ada manfaat sama sekali, bahkan untuk orang sekitarnya. Tapi, tetap saja mereka merokok. Bahkan, saking buruknya pengaruh nikotin, saran yang mereka berikan untuk non perokokpun sama sekali tak masuk akal. Pasti banyak orang telah mendengar saran ini:
“kan perokok pasif lebih banyak dapat racunnya, jadi mendingan jadi perokok aktif”

Menurutku mereka sudah gila. Tidak hanya berani menunjukkan kebodohan mereka, tapi juga sama sekali tidak menghargai keberadaan orang lain yang berhak atas udara tanpa tambahan pencemar.

Tapi, mungkin memang lebih enak bersikap begitu. Masa bodoh. Dianggap bodoh terserah, dianggap pinter juga alhamdulillah... karena kalau dianggap bodoh, mereka tidak terbebani lagi tanggungjawab untuk menjadikan diri lebih pinter bersikap atau berpikir. Aku kan bodoh, jadi ya terserah orang lain mau kena asap rokok atau tidak.... salah sendiri dekat perokok! Sana pergi ke tempat lain yang tidak ada perokoknya....

Duh, gemesnya...! Mana ada sih, di Indonesia ini tempat umum yang tidak ada asap rokoknya? Dari perkantoran sampai WC umum tidak pernah lepas dari asap rokok. Bahkan bapak-bapak menggendong bayipun tidak mau melepaskan rokok di mulutnya.
Kalau diingetin, marah duluan yang datang. Bikin kesal kan? Kesannya aku ini bawel aja, orang lain nggak ada yang protes kok!

Padahal aku yakin bukan hanya aku yang protes. Cuma seringkali, mereka lebih kalah ngotot dengan si perokok. Jadi perokoknya yang menang. Ya kuncinya itu tadi, masa bodoh. Senang aja kalau yang memprotesnya pergi menyingkir. Si pengganggu sudah pergi. Bebas....!

Ya, tapi kalau aku harus adil memang masih ada perokok yang tidak (masa) bodoh. Mereka masih mau berpikir untuk memilih dirinya saja yang sakit karena rokok, tidak usah mengajak orang lain sakit. Kan memang ada tempat yang diperuntukkan khusus bagi mereka. Puas-puasin deh merokok di tempat itu.

Ada lagi yang protes: ah, loe nggak ngerokok sakit. Gue ngerokok nggak kenapa-napa?
Wah, untuk yang satu ini aku cuma bisa bilang: yakin loe nggak sakit? Menurut gue sih, loe tinggal tunggu tanggal mainnya aja! Gue nggak ngerokok aja sakit, apalagi ngerokok! Kalau loe bisa mikir, pikir deh...apa sebutan untuk orang yang dengan suka rela memasukkan racun ke dalam tubuh sendiri?

Jika untuk urusan di atas (mikirin diri sendiri) saja mereka tak bisa mikir, apalagi mikir-in orang lain yang juga kena dampaknya? Boro-boro, deh….

Selamat Hari Tanpa Tembakau Sedunia....(kapan ya, aku lupa! Tapi memang sebaiknya setiap hari aja).
Sebentar lagi adalah Hari Anti Narkoba (harusnya setiap hari juga). Waspada aja, karena merokok itu jembatan emas menuju pada kelas yang lebih gawat. Itu tuh, Narkoba!

Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia juga (yang ini wajib setiap detik, menit, jam dan hari). Udara sudah terpolusi tanpa asap rokok, jangan nambah-nambahin. Medingan itu uang rokok untuk beli premi asuransi kesehatan, biar kalau sakit nggak repot. Sehat itu mahal. Sakit juga nggak ada enaknya. Obat murah sudah habis di borong spekulan. Mereka bukan orang sakit, Cuma nurani nya aja yang sakit. Di negara ini sudah begitu banyak orang sakit dan bodoh, jadi nggak usahlah bergabung dengan mereka.

Setuju? Itu yang diharapkan!

2 comments:

  1. Menurut survey, sebagian besar laki-laki Indonesia adalah perokok. Tapi kayaknya bukan semua dari perokok itu penikmat rokok. Rokok memang jadi simbol kedewasaan dan kemudian jadi semacam identitas (maksudnya membedakan dari perempuan, meskipun ada juga perempuan yang merokok). Begitu katanya. Coba kita lihat anak-anak tanggung di SMP, merek abanyak yang mulai coba-coba merokok. Bukan karena mereka suka rokok. Tapi mereka coba mengidentifikasikan dirinya sebagai lelaki dewasa. Karena rokok dianggap mewakili identitas lelaki dewasa, maka rokoklah yang dipilih. Dengan merokok mereka sudah merasa jadi lelaki dewasa. Memang aneh fenomenanya. Tapi begitulah bangsa kita. Itulah Indonesia!

    ReplyDelete
  2. hidup perokok Indonesia..! Meski anak sakit karena kurang gizi, tetap saja sebgaian bapak menghabiskan uang untuk rokok si lambang kejantanan yang bisa bikin tak jantan!

    ReplyDelete