Nov 17, 2011

Apa kabar?


Sekedar mengobati rindu. Lintangku sudah tertarik pada gadget, meski duduk pun masih suka terguling. Sayang, tulisan yang terperam belum bisa dikemas. Emak Lintang masih keberatan punggung dan mata karena beraktifitas seharian bersamanya. Mungkin besok, atau lusa.

Zzzz.....zzzz...!

Jul 3, 2011

Berhenti Sejenak


Karena dia, anak pertamaku aktifitas "keluh kesah" ini harus berenti sejenak. Bukan karena telah ke ain hati, tetapi belum bisa berbagi waktu. Tak apa, meski.telah banyak cerita di benak, kuperam saja dulu. Tak rugi sama sekali. Apalagi melihat senyum yang begitu menggemaskan. Rayi Lintang Prayoga namanya. Terus sehat ya, nak...biar dunia juga melihatmu tersenyum dan kembali tersenyum untukmu.

Jun 5, 2011

Apa Yang Kau Cari?

Setiap mendengar, melihat, dan membaca berita tentang korupsi, apalagi yang dilakukan oleh penegak hukum, selalu ada satu pertanyaan yang terus berputar di kepalaku: APA YANG KAU CARI dalam hidupmu di dunia ini?
Jika tak tahan dengan profesi sebagai hakim yang mungkin jauh dari harapan tentang UANG, mengapa tak kau lepaskan? Lalu beralih menjadi pengusaha yang memang berorientasi pada profit? Ah, kurasa aku akan menemukan jawaban klise. Atau, alasan panjang dan berbelit tentang sebuah keadaan yang membuatmu terjepit, lalu berpaling.
Atau, ini soal ketenaran? Aha..! Kini sudah kau dapatkan itu. Kau hanya memikirkan ketenarann kan, bukan soal apa yang membuatmu tenar? Toh, kau tak sendirian. Lalu kau tak perlu merasa malu. Sudah umum...di negeri ini! Untuk apa di herankan? Kalau tak begitu, matilah kita..! Begitu kan pikirmu?

Ah...! Sudahlah! Omong kosong di negeri ini memang lebih laku ketimbang kejujuran. Makan tuh, jujur! Lalu hidupmu akan sengsara. Sekolah tak bisa, sakit pun tak beroleh obat. Yang jujur, pasti miskin! Yang jujur pasti hancur..!

KehadiratMU Ya Allaah...hamba berserah. Tolong pegang hati hamba, dan pikiran hamba agar tetap di jalanMU. Amin.

Jun 3, 2011

Penghuni Halaman Rumahku

Dia hanya muncul di malam hari. Mungkin karena dia amat pemalu. Katak, aku suka kok kamu ada di halaman rumahku. Gunakan saja seluruh pohon dan tanaman untuk rumahmu. Aku tak akan mengganggu.

Menatap Indahnya Indonesia

Akhir bulan Mei 2011, di tutup dengan memori indah. Bisa di katakan sedang beruntung. Beberapa waktu lalu, Bromo sedang terbatuk, memuntahkan debu vulkanik dan menjadikan penyedia jasa mobil dan kuda harus berhenti mencari nafkah. Tetapi, saat kami tiba cuaca sedang cerah dan Bromo sedang ramah. Kami bisa menatapnya dari jauh, lalu mendekat hingga ke kaki kawah. Belum didaki kembali memang. Selain masih dalam status siaga, jalur menuju bibir kawah tertutup abu sehingga tak mungkin di lalui.

Dan, inilah yang bisa aku abadikan dalam kamera. Tuhan Maha Indah, sehingga ciptaanNya pun sungguh memesona.
                                                                      Pukul 06.00 pagi.

                                                                        Sepasang kekasih




                                                                         Bromo dari dekat

 
                                                      Pasukan kuda yang siap mengantar anda


                                                                   Kabut pagi hari

Rasanya, ingin segera ke sana lagi. Menatap lebih banyak keindahan!

Apr 27, 2011

Tak berhak kecewa..

Awalnya, fesbuklah yang mempertemukan kami. Saling bertukar kabar, foto, dan celotehan di komentar status, rupanya ada perasaan tak puas. Kami ingin bertemu, lalu bersepakat bertemu di rumah teman yang terdekat. Mungkin bukan yang terdekat, tetapi dia yang mengundang lebih dulu, kami menghormatinya. Mumpung seorang dari kami yang sebenarnya tinggal di luar Jawa sedang bersekolah belum mendekati masa akhir. Begitulah akhirnya, setelah sekitar sepuluh tahun tak bertemu selepas kuliah, kami bertemu untuk melepas rindu. Tak ada perjamuan  istimewa. Hanya perasaan senang setelah penasaran akan rupa kami masing-masing terjawab.

Celoteh lucu kami disaksikan anak-anak dari kawanku. Mungkin ada perasaan jengah dari anak-anak mereka, kok emak-emakku rame sekali, ya? hehehe..

Tak sampai satu jam kami pamit pulang. Ini lantaran satu dari kawanku (yang dari dulu tetep mungil tetapi anaknya telah 5!), adalah business woman, sehingga waktu sangatlah penting. Banyak deal yang harus dilakukan. Dengan perut buncit (waktu itu masih mengandung anak ke-5), setiap hari dia mondar-mandir Bekasi-Jakarta, bahkan sampai Bandung. Wuah..salut berat aku jadinya.

Satu kawanku, yang sedang menempuh pendidikan S2 membookingku untuk menjadi fotografernya saat wisuda nanti. Mudah-mudahan aku bisa. Maklum, kameraku masih apa adanya. Dan, meski sebagian teman memuji hasil jepretanku, aku masih belum pede benar. Kami berpisah di jalan, dan berjanji bertemu kembali suatu hari di toko baju anak milik temanku yang pebisnis itu. Diam-diam, aku kepincut juga dengan tawaran kerjasama (menjual baju branded) dengannya. Apa salahnya aku coba.

Ketika sampai dirumah, aku tiba-tiba teringat kembali akan percakapanku dengan kawan-kawan lamaku itu. Ada dunia yang sedang terbalik. Aku dulu mengagumi teman yang rumahnya jadi tempat reuni kilat itu. Di angkatanku, dialah dulu yang paling cemerlang. Cantik, pandai pula. Indeks prestasinya tak pernah mengecewakan. Berbeda denganku yang apa adanya, segala-galanya. Ku pikir, betapa cerah masa depannya. Dia akan menjadi wanita karier yang sukses. Tetapi, ada rasa kecewa di sutu hati. Yang kujumpai adalah berbeda seratus delapan puluh derajat dengan apa yang kubyangkan. Apa pasal? Pertama, dia tidak bertahan di tempat kerja hanya karena konflik kecil, dan dia tidak terlibat langsung di dalamnya. Dua, ketika hendak melanjutkan kuliah ke jenjang S2 dia memutuskan tidak melanjutkannya karena harus melakukan penelitian di hutan. Tiga, memilih menjadi ibu rumah tangga tanpa ingin beraktifitas lain yang mengayakan dirinya. Setiap kali ku baca statusnya atau komentarnya di fesbuk, semakin kecewa ku rasakan. Kemanakah kepandaiannya masa lalu?

Dan, aku tak sendiri. Temanku yang berjumpa dengannya pun demikian. Dengan rasa menyesal akhirnya kami mengakui, bahwa kepandaian di sekolah formal dengan nilai mata pelajaran yang bagus tidaklah menjadi ukuran mutlak kesuksesan masa depan. Tapi, apa sebenarnya ukuran sukses? Jika dia merasa baik-baik saja dengan hidupnya, kurasa dia telah merasa sukses. Sukses membesarkan anak-anaknya.

Bagaimanapun, itu adalah keputusannya sendiri. Dibuatnya secara sadar. Dan, dia nampak bahagia dengan keputusannya itu. Kenapa kami yang begitu keberatan? Seakan tak rela kepandaiannya hilang lenyap. Tapi, mungkin saja kami keliru. Bisa saja kepandaiannya itu hanya berubah bentuk. Yang lebih baik, lebih mulia. Kami cuma tak tahu saja.Lagi pula, aku juga memilih hal yang sama, menjadi ibu rumah tangga. Tentu saja aku tak boleh kecewa. Seperti halnya pada dirinya.

Apr 21, 2011

Hari Kartini dan Hari Bumi

Hari ini diperingati sebagai Hari Kartini.
Ikon pejuang para wanita.

Pejuang hebat di jamannya.
Sayang, harus pergi di usia muda karena melahirkan anaknya.
Pergi karenanya perannya sebagai BUMI, yang menerima benih untuk di semai
Lalu di tuai.

Besok, harinya BUMI.
Yang kurasa, sangat di tentukan nasibnya oleh wanita juga.
Di sakiti atau di sayangi, pilihannya terserah anda.
Tapi, bumi yang kita butuhkan pun masih sering kita sakiti.Dengan membuang sampah sembarangan.
Atau, memproduksi sampah semaunya. Sedikit-sedikit, pakai plastik. Sedikit-sedikit, pakai styrofoam.
Plastik, dan styrofoam, makin jadi andalan. Dari usaha restoran, hingga penjaja makanan jalanan.

Hmm..sebaiknya kita tahu, plastik dan styrofoam adalah jenis sampah yang paling sulit terurai jika dibuang begitu saja ke tanah, bisa smapai ribuan tahun. Jika pun diurai oleh waktu, zat-zat yang tertinggal sangatlah beracun. Bisa mencemari air dan tanah tempat minum dan makan kita berasal.
Ahli bilang bisa menimbulkan banyak sekali penyakit degeneratif.

Kalau di pikir-pikir, pakai rantang seperti jaman dulu lebih aman.
Memang sedikit tidak nyaman karena tidak praktis untuk dibawa bepergian.
Tapi, model rantang jaman sekarang bermacam-macam.
Tidak bisa pakai yang lama (kaleng), bisa pakai yang ringan semacam Tu****ware.
Selain praktis, juga ringan.

Untuk sampah yang organik, bisa kita proses menjadi kompos yang jelas berguna untuk tanaman, disukai bumi (alam). Selain itu, jika diolah dan tidak dibuang ke sungai, pencemaran sungai (air) juga bisa dihindari.
Sungai sangatlah vital. Di kota besar air sungai digunakan sebagai bahan baku air minum (PDAM). Jadi, kenapa kita mengotorinya?
Kalau kita benar mkahluk berpikir, mengapa masih mencemari apa yang kita minum atau makan?
Kan, itu berarti menyakiti diri sendiri?
Iya, kan? 

Nah, mulai dari sekarang...
Yuk, kurangi plastik dan styrofoam dalam kehidupan keseharian.
Juga, mengolah sampah organik menjadi pupuk. Selain bermanfaat untuk bumi, juga bisa dijual. Bermanfaat pula untuk kita kan? hehehe..

Selamat Hari Kartini, dan Hari Bumi

                                                     Komposter dari bekas wadah cat 25 kg

Apr 19, 2011

Blog untuk berbagi dan berkawan

Nge-blog = curhat?
Bisa-bisa saja, alias boleh-boleh saja.
 
Sejak awal memiliki blog, memang diniatkan sebagai ajang tumpahan uneg-uneg layaknya diary (atau tempat sampah?). Entahlah! Setiap orang punya maksud tersendiri. Yang jelas, bagiku yang namanya uneg-uneg biasanya tak menyenangkan, apalagi jika disimpan berlama-lama. Seperti bahan organik yang menumpuk dalam wadah tertutup, lama-lama dia akan membusuk dan mengeluarkan gas rumah kaca (NH4). Selain berbau busuk, gas ini sungguh tak baik untuk daya tahan bumi terhadap gempuran sinar matahari. Panas matahari akan lebih banyak tersimpan dalam atmosfir ketimbang dipantulkan kembali ke luar angkasa. Akibatnya, bumi semakin panas, meradang. Cuaca jadi tak menentu. Kadang panas berkepanjangan, kadang hujan keterusan. Jadi, kalau tidak kekeringan, ya kebanjiran.

Beda jika tumpukan “sampah” organik itu di kelola dengan baik, di udara terbuka. Dia akan menjadi pupuk (kompos), pun tak menyebabkan timbulnya gas berbahaya untuk ozon itu.

Nah, nge-blog ini bisa jadi bagian pengelolaan hati. Di blog ini hati di buka, biar kena angin. Ibarat bumi adalah tubuh kita, hati yang terus menerus menyimpan panas menyebabkan kita bisa “panas dalam”. Lihat tabiat kita, seperti apa jadinya? Tak tentu juga kan, “cuacanya”? Kalau nggak murung bae, ya nangis melulu. Bahasa gaulnya: nge-bete-in!

Curhat kan juga tak melulu soal pribadi. Banyak hal yang menjadi perhatian kita bisa kita bagi. Misalnya soal kemiskinan di sekitar kita. (Ini bahas kemiskinan harta aja ya? Karena kalau soal kemiskinan yang lain, jangan-jangan aku termasuk di dalamnya? Hehehe....)

Karena melihat sekeliling kita itulah, ada hal-hal memprihatinkan yang sangat mungkin kita bisa berbuat untuk itu. Alhamdulillah, dengan membuka mata (dan mata hati) sudah dua kali Ramadhan, aku dan dibantu banyak kawan menyelenggarakan kegiatan Bazaar Amal Ramadhan. Awalnya sih, banyak keraguan mengganggu pikiran. Tetapi kemudian, dengan prinsip: untuk kebaikan tak boleh mundur, terjadilah kegiatan itu (Baca Bazaar Amal Ramadhan 2011).

Berbagi hal yang menyenangkan, apalagi..! Pasti sangat boleh. Dari kejadian lucu, foto-foto cantik, resep makanan favorit, syukuran kawan yang telah menerbitkan dua novel, berbagi ceria dengan para pengungsi di Yogya (baca: Berbagi Ceria) dan Garut (tapi kayaknya ini belum masuk blog-ku, deh..hehehe..), dan lain-lain.

Lebih dari itu, nge-blog membuat orang saling mengenal melalui tulisan, atau sharing ide/ gagasan. Minimal, mereka membaca apa yang akan atau ingin kita lakukan, lalu memberikan support. Apapun bentuknya, akan membuat berbagi semakin menyenangkan. Bisa jadi, hal yang menurut kita kecil, bisa berarti banyak untuk orang lain. Pengalaman terbaikku adalah bersama Kegiatan Bazaar Ramadhan. Karena orang yang belum mengenalku (secara pribadi) sekalipun, mau memberikan dukungan. Dan, kelihatannya berbagi pakain bekas layak pakai sesuatu yang sepele. Kita bisa jadi menganggapnya sepele, seperti membuang sampah semata. Namun, bagi orang lain ternyata bisa memberikan kegembiraan yang amat sangat. Rasa syukur itu membuatku ingin melakukannya kembali. Terus...dan, terusss..! Juga berharap, tulisan pengalamanku bisa membuat orang lain terdorong untuk melakukan hal yang sama.

Informasinya bisa kita sebar via link FB, twitter, dan e-mail. Bahkan melalui pesan pendek.

Pendek kata: blog tempat asyik untuk berbagi, dan berkawan.
Stay connected!



Blogger Return Contest

denaihati.com

Apr 6, 2011

Ilalang..ilalang....!



Ilalang.
Sumber inspirasi. Apapun.
Terdekat, terekat.
Love it.

Apr 2, 2011

Antara Dongeng, Kisah, dan Cerita

Ini yang ku dapat dari buku The Power of Storytelling oleh Kak Mal.

Mendongeng, berbeda dengan bercerita atau dalam bahasa Arab Qashash (kisah).

Bercerita adalah suatu seni dalam menyampaikan ilmu, pesan, nasihat, kepada orang lain baik anak-anak, remaja, maupun orang tua. Sebagian besar, bahannya berdasarkan fakta, dengan bahasa yang datar, dan baku.

Sedangkan mendongeng lebih banyak disisipi khayalan yang dikembangkan dengan menarik. Cerita dan dongeng, punya tunjaun yang sama yaitu menyampaikan pesan moral tanpa terkesan menggurui atau memaksakan pendapat.

Itu dulu deh, lain kali di sambung lagi.

Apr 1, 2011

Tamu tak diundang..

Bahasa jawa: Keluwing
Bahasa Indonesia: kaki seribu (meski belum pernah di hitung)
Itu saja yang aku tahu. Panjang diameter (saat melingkar) hampir 4 cm.
Saat menyambangi rumahku, aku sedang menelisik suara aneh yang menghampiri telinga.
Ternyata, ketika asyik menguping itu si kaki seribu menyenggol jariku.
Terpaksa deh, menjerit.

Ada- ada aja kamu keluwing!
Salam dulu kek, kalau mau masuk.
Bikin jantungan, tahu nggak?
Yo wis, kali ini kamu ku maafkan.
Lain kali, kamu tak kasih ayam, lho?
Hiks..

Sedang getol berburu...

.....pernak-pernik baby.

Aih, dibilang norak ya biarin!
Maklum lah, seperti jatuh cinta semasa jadi "monyet" (kan cintanya cinta monyet..hehehe..) dulu. Apa-apa untuk dia. Bangun tidur ingat dia. Lihat barang bagus, ingat dia.
Ah..pendek kata, hepi lah.....!
Sudah tidak sabar melihat dia mengenakan apapun yang kita belikan untuknya. Ya..mungkin bukan yang terbaik, tetapii aku telah mencarikan dan mendapatkan yang paling baik dari yangaku coba.
Baju..., sudah.
Alat mandi, dkk...sudah.
Buku cerita (soft book)..., sedang pesan.
Cloth diapers, sedang dipesan juga.
Apa yang belum?

Hiks...babynya belum ada!
Dia masih di sana, bersama ibunya.
Padahal aku sudah KANGEEENNN...!

Dua sisi mata koin


Dia, Panji ponakanku, masih sering salah.
Berlari mengejarku, lalu memelukku dari belakang.
Ups..ketika aku menoleh padanya, dia jadi malu.
Tapi, tetep memelukku.
"Lho, ibu mana budhe?"tanyanya malu-malu setelah tahu dia salah mengira aku ibunya.
"Itu, sama adik, lagi mimik..,"jawabku.
Aku dan adikku sekilas memang bersosok mirip, bahkan juga suara kami.
Dulu, ketika Panji sakit atau ibunya sedang lelah, dia hanya mau aku gendong.
Mungkin karena kemiripan itu pula, teman-teman adikku juga sering salah.
Padahal, sebenarnya mukaku jauh berbeda, dan usiaku terpaut tujuh tahun.

Dia, Panji sebenarnya anak cerdas dan aktif.
Tapi, sering tak mendapatkan jalan atau ekspresi yang benar.
Kesepian mungkin membuatnya sering menjahili adiknya yang masih bayi.
Ingin segera bermain dengannya, sehingga sering membuat adiknya terbangun dari tidur.

Ketika dia sangat nakal, seperti mecubit adiknya atau menggigit temannya,
kami sangat jengkel, sehingga kadang bertindak berlebihan termasuk mencubitnya.
Tetapi kemudian, kami sangat menyesalinya.
Wajahnya yang lucu, bermata memelas, membuat kami sangat merasa bersalah.
Cerdas, aktif, keras, sering kami artikan nakal.

Maafkan kami ya, nak.
Kami hanya harus membagi perhatian, tidak hanya padamu.
Sehingga kami tak sungguh memahamimu.

Tapi, kami tetap menyayangimu kok.
Buktinya, kalau budhe sudha di Bogor, kamu di Jember,
sering...sekali kangen sama kamu.
Panji kangen budhe nggak?

Waktu ibumu bilang, "nanti adik Lintang mau ikut budhe ke Bogor, lho? Panji di sini saja ya, sama ibu?"
Kamu malah menjawab:"Panji ikut..!"
Budhe senang, Panji juga sayang sama budhe.
Tapi, kalau Panji juga ikut budhe, kasihan ibu.
Jadi, Panji temenin ibu aja ya?
Nanti budhe akan sering berkunjung. Oke?

Love you..!

Mar 30, 2011

Permen Buah Pidada

Bahan:

- Daging buah dari 10 buah pidada
- 1/2 kg gula pasir
- 1 bungkus agar-agar

Cara membuat:
- daging buah pidada, gula, dan agar-agar dicampur dan di masak sambil di aduk-aduk sampai mengental.
- biarkan dingin, dan cetak sesuai selera.
- bungkus dengan kertas minyak

Selamta mencoba!

Tanam bakau, yuk..!


Menyelamatkan hutan bakau (mangrove) akan menjamin masa depan makanan kita terutama dalam hal ketersediaan protein dari ikan dan kawan-kawannya. So, jangan hanya memanfaatkan, yuk kita lestarikan. Yang gundul, kita tanami lagi. Okeh?

Foto ini diambil saat aksi penanaman bakau di Suaka Margasatwa Pulau Rambut, Kepulauan Seribu, bulan Juni 2010, dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup.

Sirup Buah Pidada- Sonneria caseolaris, S. alba (tanaman bakau)



Bahan:
300 g daging buah pidada
500 g gula pasir
garam secukupnya
1 liter air

Cara membuat:
Masak semua bahan sampai warnanya agak kekuningan dan airnya menyusut menjadi 1/2 liter.

Cara menyajikan:
Campur dengan air matang secukupnya. Lebih segar disajikan dingin. Rasanya yang asam manis, segar di minum siang hari. Selamat mencoba.

Sumber: Green Community Universitas Indonesia

Hujan di pagi hari..


Hujan di pagi hari,
Udara dingin menusuk kulit.
Tapi, tetap harus semangat memulai hari dengan beraktifitas
Yang positif.
Semangat Pagi!

Mar 29, 2011

Spageti..!


Meski tidak menggunakan bumbu lengkap (oregano, dkk), kalau suamiku bilang enak, aku jadi yakin memang enak. Resepnya sih, biasa saja. Mungkin ,yang membuat spageti ini terasa istimewa, adalah saus tomatnya yang buatan sendiri. Jadi sangat fresh!

Bahan:
- 200 g Daging sapi giling/cincang
- 2 buah Bawang Bombay
- 2 siung bawang putih
- 1 sdm Mentega/margarin untuk menumis
- 200 ml Kaldu sapi
- 4 buah Tomat segar
- 5 sdm saus tomat (kalau bisa buatan sendiri)
- gula pasir secukupnya
- keju parut

Cara masak:
- cincang bawang bombay, dan bawang putih. Tumis dengan margarin/mentega. Masukkan daging giling, aduk hingga tercampur dengan bumbu. Bubuhi garam, dan tuangi kaldu. Biarkan sebentar hingga daging berubah warna.
- masukkan tomat segar yang telah dicincang halus (buangg kulitnya terlebih dahulu), dan saus tomat. Jika suka boleh ditambakan sayur seperti jagung manis dan kacang polong.
- terakhir, masukkan keju parut.
- hidangkan selagi hangat.

(Foto itu diambil ketika sedang tak punya stok keju cheddar, jadinya pakai yang single. Tapi, tetep enakk kok...hehehe...!)

Selamat mencoba!

Mar 25, 2011

Badak Bule


 Pandangan Rosa, si badak sumatera betina yang berkulit warna abu-abu itu, mencoba menerobos pagar pembatas yang ada di depannya. Sayang, hewan jenis badak sepertinya tidak dikaruniai pandangan yang terang. Padahal sedari tadi sudah terganggu dengan suara gaduh. Nampaknya ada penghuni baru di kandang sebelah. Hanya telinga dan daya penciuman yang kuat membuat Rosa yakin ada badak baru masuk dikandang sebelahnya yang sudah lama kosong.

Rosa menajamkan lagi pendengarannya. Tapi, telinganya menangkap pembicaraan yang pernah didengar, tapi itu sudah lama sekali. Waktu itu masih ada Pak Bule yang selalu mengunjunginya setiap pagi.

“Wow..ease..ease..! Come, Andalas..don’t be afraid of me..!”teriak seorang manusia.

Ah, suara manusia itu sangat aku kenal. Itu suara Pak Dokter Hewan yang selalu merawat penghuni suaka ini dengan baik. Termasuk sangat baik pada Rosa yang waktu itu baru datang dari berkelana. Yah..ini kan gara-gara Rosa suka jajan sembarangan. Makanan dari pinggir jalan yang tidak ditutupi dengan baik, dan makan dengan tangan yang kotor, Rosa jadi cacingan deh. Untung, Pak Dokter hewan itu merawatnya dengan telaten, sampai tak lagi cacingan. Terus, diberi vitamin juga agar tetap sehat. Rosa sangat suka padanya.

Tapi, kenapa suara Pak Dokter terdengar gusar ya? Pasti itu ulah si pendatang baru. Hmm..jadi penasaran...!

Rosa makin mendekat pada pembatas kandang. Tapi, belum juga bisa melihat dengan jelas. Sampai suatu hari, dua penjaga Rosa yang biasa memberi makan dan memandikannya setiap hari membicarakan kedatangan badak baru. Namanya Andalas, seekor badak jantan. Katanya dia datang dari negeri yang jauh...sekali! Naik kapalnya aja bisa berminggu-minggu. Dan, Si Andalas ini tak bisa berbahasa Indonesia. Karena lahir dan besar di Amerika, kalau berbicara dengan Andalas harus dengan bahasa Inggris. Oh, jadi Pak Dokter kemarin itu berbicara dengan Andalas, gumam Rosa. Dan, bahasa yang digunakan Pak Dokter itu namanya bahasa inggris ya? Bukan bahasa bule? Wah..aku juga mau belajar ah, biar bisa berteman dengan Andalas. Tapi, siapa ya..yang bisa mengajariku? Pak Dokter? Ah, Pak dokter kan sibuk?

Tiba-tiba, Rosa ingat sesuatu. O..iya, minta tolong Ratu saja. Dia kan punya laptop dan internet, jadi pasti bisa membantu.

Keesokan harinya, setelah mandi dan makan buah-buahan dan sayuran segar, Rosa mengunjungi kandang Ratu. Rosa ingin mengajak Ratu belajar bahasa Inggris.

“Rosa, kamu ingin belajar bahasa inggris karena ingin berteman dengan Andalas juga ya?”tanya Ratu, sesaat setelah Rosa tiba.

“Iya. Kok, kamu tahu? Siapa yang bilang?”jawab Rosa heran.

“Tidak perlu heran, Ros. Teman-teman yang lain juga, kok! Kita kan cuma berempat saja, jadi kalau ada pendatang baru pasti tahu. Dan kita semua senang ada teman baru. Biar suaka di hutan yang luas ini tidak sepi. Iya, kan?”

Rosa mengangguk senang. Ternyata, teman-teman yang lain juga ingin belajar bahasa inggris sepertinya. Jadi tambah semangat, deh!

“Teman-teman yang lain mana?” Rosa celingukan mencari Torgamba, dan Bina.

“Oh, sebentar lagi datang,”jawab Ratu sambil membuka laptop-nya. Setelah tersambung dengan internet, Ratu membuka Google.

Rosa mengamati apa yang dilakukan Ratu.

“Eh, kamu ngapain?”

“Ini adalah Google, semacam mesin pencari yang pintar. Kita juga bisa belajar bahasa inggris di sini,”jelas Ratu.”Tapi, karena kita juga harus belajar cara mengucapkannya, kita tetap butuh guru untuk mengajari.”

“Siapa, dong?”tanya Rosa penasaran. Setahu dia tak ada yang bisa bahasa inggris, tuh?

“Torgamba,”sahut Ratu singkat.

“Dia?”tanya Rosa tak percaya.

“Iya, Torgamba. Dia itu pernah tinggal lama lho, di Los Angeles, yang juga di Amerika sana. Jadi dia pasti bisa berbahasa Inggris juga,”tambah Ratu lugas.

Duh, Rosa jadi malu. Sudah lama berteman dengan Torgamba tapi tak tahu kalau dia ternyata pandai bahasa inggris. Rosa, sih... terlalu sibuk membangga-banggakan diri yang sudah berkelana dari satu hutan, ke hutan lain. Dari satu kampung ke kampung lain, tapi gaptek-gaptek juga! Sementara Torgamba sangat pendiam, tapi ternyata pandai. Oh..malunya!

Tak berapa lama kemudian, Bina dan Torgamba datang. Mereka juga terlihat rapi dan segar. Memang, kalau mau belajar lebih nyaman mandi dan sarapan dulu. Biar bisa konsentrasi, tak terganggu gatal, bau badan, dan perut yang lapar.

“Sudah siap teman-teman?”kata Ratu menyambut kedatangan mereka.

“Pasti, dong...!”sahut mereka serempak, sambil mengacungkan dua cula mereka yang bersih berkilau. Cling!

“Sipp, deh..! O ya, sebaiknya kita mulai dari mana Torgamba?”tanya Ratu sambil memindahkan laptopnya ke hadapan Torgamba.

“Kita mulai dari kata-kata yang biasa atau sering digunakan sehari-hari ya? Setelah itu baru kita belajar membuat kalimat. Dengan bantuan terjemahan dan alat bahasa dari Google ini, pasti pelajaran kita akan lebih mudah,”kata Torgamba pejantan "jebolan" Amerika itu memulai pelajaran bahasa inggrisnya.

Hari demi hari, mereka semakin mengerti bahasa inggris meski belum pandai betul. Setidaknya jika bertemu Andalas, mereka bisa saling sapa. Sementara mereka mendengar Andalas, si badak pendatang baru itu masih juga sering berulah. Sering mengamuk. Apalagi jika yang datang mendekat tidak dikenalnya.

Akhirnya, para penjaga, sepakat mulai mengenalkan Andalas pada kawan-kawan mereka di suaka. Mereka berharap dengan Andalas bertemu kawan-kawannya di suaka ini, bisa sedikit menenangkannya. Setidaknya dia tidak kesepian. Tetapi, mereka harus tetap di pisah dengan pagar. Para penjaga dan Pak Dokter, tak mau badak lain terluka karena amukan Andalas.

Rosa, Ratu, Bina dan Torgamba, deg-degan. Ini kali pertama mereka akan menyapa Andalas dengan bahasa inggris. Mudah-mudahan Andalas mau berteman dengan kami, gumam mereka.

Ketika Andalas telah di hadapan mereka, meski masih terhalang pagar kandang, mereka bisa melihat dengan jelas. Wow...menakjubkan! Andalas memiliki rambut yang lebat sekali di sekujur tubuhnya. Rambut di punggungnya panjang berwarna kecoklatan, nampak mirip penyanyi rock n roll! Berbeda dengan mereka yang lebih pendek dan tidak terlalu lebat, padahal sama-sama berjenis badak sumatera yang memiliki ciri khas berambut di seluruh tubuh. 

Kata Pak Dokter, karena Andalas tidak lahir di hutan tropis yang  hangat terus seperti mereka berempat, melainkan di negara yang memiliki empat musim, secara alami rambut Andalas lebih lebat. Itu berfungsi sebagai penghangat saat musim dingin. Wah..wah...mereka berempat jadi melongo, tuh!

“Selamat datang, Andalas!” kata Rosa spontan. Rasa penasarannya tak tertahankan lagi.

Andalas menoleh, sambil mendengus. Kelihatannya tidak suka.

“Yah, Rosa..pakai bahasa inggris, dong..?”tegur Bina. Makin deg-degan melihat sikap Andalas yang tak ramah.

“O, iya..lupa!”Rosa nyengir.“Welcome, Andalas. My name is Rosa. And these are my friends: Bina, Ratu, and Torgamba.” 

Andalas yang sebelumnya nampak curiga, perlahan berubah sikap. Dia mulai mendekati empat sekawan itu.

Tiba-tiba suasana berubah menjadi tegang. Para penjaga dan Pak Dokter bersiap jika Andalas mengamuk lagi.

“Hmmm..! How do you know my name?”balas Andalas tak ramah.

Nah, sampai di situ, Rosa mundur tidak mau melanjutkan sapaanya. Bukan lantara takut sama Andalas, tapi takut gak ngerti apa yang dibicarakan! Kan, bahasa inggrisnya belum lancar-lancar amat! Mendingan mundur deh, daripada tengsin dan bikin suasana makin kacau. Begitu pikir Rosa. Hihihi...Rosa..Rosa!

Akhirnya, Torgamba yang mengambil alih pembicaraan. Setelah beberapa lama, Torgamba memanggil ketiga temannya untuk mendekat. Tak ada ketegangan di raut wajah Torgamba. Sementara Andalas, malah nampa sedih. Ada apa ya?

“Kawan-kawan, kemarilah....! Andalas senang kok, bertemu kita. Hanya saja dia rindu sama ibunya, dan merasa kesepian. Karena itu dia sering mengamuk karena kesal tak boleh keluar kandang, dan bertemu ibunya. Padahal ibunya di Amerika. Jauh sekali kan? Apa yang bisa kita bantu untuknya?”

“Ratu, internet bisa di pakai untuk ngobrol sampai Amerika, nggak? Kali aja, benda kesayanganmu itu bisa secanggih itu..,”ledek Rosa sambil cengar-cengir. Sementara Bina melotot ke arah Rosa, memintanya diam.
Eh, ternyata Ratu malah tersenyum.

“Ya bisalah..! Kan, bisa pakai webcam. Nanti Andalas dan Ibunya bisa saling melihat melalui kamera yang terhubung dengan internet. Canggih, kan? Laptopku gitu lho? ”cetus Ratu, gantian meledek Rosa.

“Ya sudah, kita coba menghubungi Ibu Andalas dengan laptopmu,”kata Torgamba menengahi.” What do you think, Andalas?”

Mata Andalas jadi berbinar-binar, saking bahagianya.

“You do that for me?” tanya Andalas tak percaya.

Empat sekawan itu mengangguk serempak.

”Thank you so much for your kindness, my new friends....,”mata Andalas jadi berkaca-kaca.”Now I can talk to my mother everytime I miss her.”

Melihat kelima badak sumatera itu nampak rukun, para penjaga dan Pak Dokter jadi terheran-heran, tapi juga senang. Mereka takkan direpotkan lagi untuk menghindari dua cula yang selalu mengancam mereka saat Andalas mengamuk.

Setelah itu, suaka di hutan yang luas itu jadi tempat yang menyenangkan untuk Andalas. Dan, dengan bantuan teman-temannya, Andalas mulai belajar bahasa Indonesia, seperti bahasa ibunya yang lahir di sumatera, Indonesia.

*Untuk mengenang Emi, ibu Andalas, badak sumatera betina yang di bawa ke kebun binatang di Cincinnati, Amerika Serikat, dan mati disana. Andalas punya ayah bernama Ipuh, dan dua adik dengan nama Suci dan Harapan*

Sumber: 
Forum Badak Indonesia: http://forumbadak.wordpress.com/

Mar 20, 2011

Hmm...sebegitu parahkah?


Pagi, dari deretan pedagang di depan PEMDA Kabupaten Bogor di Cibinong, tulisan/spanduk ini terlihat mencolok mata. Hampir kulewatkan begitu saja. Sejenak berhenti untuk mengabadikan, beberapa penjual yang berada di bawah spanduk berteriak,"mending jualan, daripada pacaran!"

Aku tertawa, sambil mengacungkan jempol.

Tapi, sebenarnya aku juga sedang berpikir, kalau spanduk ini ada berarti memang banyak yang melakukannya. Dan, beberapa orang yang aku kenal juga mengatakan hal yang sama. Sungguh mengerikan! Begitu laporan mereka. Bukan lantara yang pacaran ganas karena kurang makan seperti korban bencana, tetapi ganas karena mereka dengan terbuai nafsu sedang menghancurkan masa depan mereka sendiri.

Hmm...sudah sebegitu parahkah? Pengen tahu, sih. Tapi, aku malas pergi ke tempat ini malam-malam. Jauh pula dari rumah. dan, rasa ingin tahuku bukan untuk menikmati kegilaan, tetapi seperti riset semata. Maklum, dulu aku sempat menjadi aktifis untuk pendidikan seks untuk remaja. Mau tidak mau, ini menjadi konsern tersendiri buatku. Sedih, khawatir, cemas, dan lain-lain. Membayangkan apa yang di rasakan oleh orang tua mereka.

Kecemasan orang tua jaman sekarang sungguh berlipat ganda. Banyak jalan yang membuat remaja mereka tersesat. Ditambah dengan pengawasan oleh masyarakat banyak juga semakin kendor. Malah cenderung masa bodoh!

Ah, mudah-mudahan aku mampu mendidik anakku kelak. Agar tak terseret arus modern yang tak baik. Amin.

Mar 16, 2011

Listrik Vs Game


Lintang kesal, sedang asyik bermain game di komputer, tiba-tiba listrik mati. Keasyikan Lintang jadi terganggu. Ibu sih, gak mau belikan Lintang laptop kayak punya Fitri teman sekelasku. Coba aku punya laptop, aku masih bisa main game meski listrik mati, gerutu Lintang. 

Saat sedang melamun, terdengar ibu memanggilnya. Kedengarannya dari dapur. Lintang menengok jam dinding di kamar, sudah jam empat sore. Pasti ibu lagi sibuk masak makan malam.

“Lintang..., tolong ke dapur nak, bantu Ibu!” teriak Ibu sekali lagi.

Dengan malas, Lintang pergi ke dapur. Tapi, melihat Ibu kerepotan menyiapkan makan malam Lintang merasa iba dan bersalah. Kasihan ibu, aku harusnya sudah sejak tadi membantu menyiapkan makan malam.

 “Apa yang bisa Lintang bantu, bu?”tanya Lintang sambil duduk dekat ibu yang sedang menyiapkan bumbu dapur.

“Tolong kupas bawang merah, dan bawang putih ya? Habis itu, buang tangkai cabai merahnya dan kumpulkan di wadah ini. Hati-hati dengan pisaunya, jangan sampai kena jarimu. Ibu mau menanak nasi dulu,”jelas ibu singkat. 

Lintang hanya mengangguk. Lalu meraih pisau dari tangan ibu, dan mulai mengupas bawang merah dan putih.
Sambil mengerjakan perintah Ibu, Lintang mengamati gerak-gerik Ibu yang cekatan. Semua di kerjakan tanpa banyak bicara, dan tak ada keraguan sedikitpun. Satu per satu pekerjaan di dapur telah selesai. Tinggal menunggu nasi di kukusan matang, dan meletakkan ayam yang telah dibumbui ke atas tungku untuk di bakar. 

Hmm...tak sabar rasanya ingin segera menikmati ayam bakar kesukaan Lintang.
Tapi, wah...peralatan masak yang harus di cuci jadi banyak! Mana pompa air juga mati karena listrik belum nyala.

Huh, repotnya hidup tanpa listrik!Harusnya bumbu ayam bakar kesukaan Lintang bisa di blender, tapi karena ada pemadaman, terpaksa harus di uleg. Nasi yang harusnya bisa matang dengan sekali colok saja, harus diaroni dulu baru di kukus. Sekarang, Lintang tak boleh boros menggunakan air untuk mandi. Harus bebagi dengan Ayah, Ibu, dan peralatan masak yang belum dicuci.

Kenapa sih, listrik harus sering mati? pikir Lintang penuh rasa ingin tahu.

“Lintang, kok bengong? Ayo, cepetan mandi. Sudah sore, nanti keburu Ayah pulang. Lintang gak mau Ayah marah kan? Jangan lupa, hemat air!”kata Ibu.

Bergegas Lintang mandi, tak mau kena marah Ayah. Lagi pula, sehabis membantu Ibu di dapur, badan Lintang terasa lengket oleh keringat. Sehabis mandi, badan terasa segar!

Untunglah, menjelang Maghrib listrik menyala kembali. Pompa air menyala, dan drum penyimpan air (toren) bisa terisi air kembali. Dan, Ibu bisa menyiapkan makan malam dengan lebih leluasa.

Selesai makan malam, Lintang duduk di samping Ayah yang sedang membaca koran sore. Lintang penasaran sekali, kenapa sering terjadi pemadaman listrik?

“Yah, tadi listrik padam lagi. Lintang jadi gak bisa main game di komputer,”rajuk Lintang.”kenapa sih, listrik padam melulu?”

Mendengar pertanyaan Lintang, Ayah menutup koran yang tengah di baca dan melipatnya kembali. Ayah memperhatikan wajah Lintang yang nampak serius. Lalu Ayah tersenyum.

“Kenapa tidak tanya Ibu?” kata ayah sambil melirik Ibu yang nampak asyik membaca ensiklopedi ilmu pengetahuan alam.

“Ah, ayah..Lintang kan nanya-nya sama Ayah..!”protes Lintang.

“Hahaha...kan, sama saja?”elak Ayah lagi.

“Ibu kan capek, yah..habis masak. Lintang cuma bisa bantuin mengupas bawang aja, habis belum bisa menggunakan cobek dan uleg! Listrik pakai mati segala sih, jadi ibu gak bisa pakai blender..”jelas Lintang panjang lebar.

“Memangnya Lintang tahu, blender itu apa?”tanya Ayah lagi.

“Tahu, dong? Itu tuh, yang suka dipakai ibu untuk menghaluskan bumbu ayam bakar kesukaanku!” jawab Lintang cepat.

Ibu yang menguping pembicaraan Ayah dan Lintang, tersenyum. Dalam hati, Ibu bangga punya anak yang cerdas seperti Lintang.

“Ibu juga tahu, kenapa listrik sering mati..?”sahut ibu menyela pembicaraan Lintang dengan Ayah.

Serempak ayah dan Lintang menoleh ke arah Ibu. Lalu Ibu membaca keras-keras tulisan yang ada di buku: “Listrik sering padam akhir-akhir ini karena Lintang terlalu sering bermain game di komputer..”

Hah? Lintang kaget sekali. Apa benar tulisan itu ada di buku ensiklopedi yang di baca ibu? Lalu Lintang menoleh ke Ayah yang senyum-senyum simpul.

Karena sangat ingin tahu, Lintang berlari mendekati Ibu lalu mencari-cari kalimat yang tadi dibaca oleh Ibu.

“Ibu bohongin Lintang, ya?”tanya Lintang setelah tidak menemukan kalimat yang di maksud.

“Tidak,”jawab ibu singkat. “Sini Ibu jelaskan.”

Lalu Ibu membuka halaman dari sebuah buku dengan judul “Listrik untuk Rumah Kita”. Dalam buku itu terdapat gambar yang menjelaskan bagaimana listrik di buat. Ibu menunjuk gambar yang berbentuk tabung besar, dan mengeluarkan asap di ujungnya.

“Ini namanya pembangkit listrik. Dari sinilah listrik yang kita gunakan di rumah kita ini, dan rumah-rumah yang lain, berasal. Pembangkit listrik yang besar bisa mencukupi kebutuhan ribuan rumah. Umumnya, pembangkit listrik menghasilkan listrik dari dari pembakaran batu bara, atau minyak bumi.  Tetapi, ada juga yang menggunakan pembangkit listrik tenaga air, angin, panas bumi, dan matahari. Bahkan nuklir !

"Nuklir? Seperti bom yang di Nagasaki dan Hiroshima ya, bu?"

Ibu tersenyum.

"Bukan bom, sayang..! Tapi, pembangkit listrik tenaga atom, atau nuklir. Sama bahannya, tapi beda kegunaannya. Tetapi, banyak negara tidak mau menggunakan pembangkit listrik tenaga nuklir karena banyak resikonya. Seperti yang sekarang terjadi di Jepang, tepatnya di Fukushima. Betul kan, Yah?"

"Betul, sekarang malah menjadi bencana yang lebih membahayakan setelah gempa dan tsunaminya karena radiasinya sangat berbahaya,"tambah Ayah, sambil menunjukkan gambar yang ada di koran.

"Radiasi?" tanya Lintang. Ayah dan ibu diam terpaku, lalu saling berpandangan.

" Radiasi, adalah sesuatu energi yang memancar dan nantinya akan di serap benda lain,"ibu berhenti menjelaskan. Memandangi Lintang yang terdiam. Mereka khawatir jika menjelaskan lebih lanjut Lintang makin tak mengerti.

"Nah, dari pusat pembangkit ini, listrik dialirkan melalui jaringan kabel hingga sampai ke rumah kita,”jelas Ibu memecah keheningan.

“Terus, apa hubungannya dengan main game dan mati listrik bu?”tanya Lintang dengan mata yang berkedip-kedip. Pasti sedang sangat ingin tahu.

Huft...ibu lega. Lintang tidak bertanya lagi tentang radiasi.

“Nah, itu karena umumnya pembangkit listrik di negera kita menggunakan baru bara dan minyak bumi yang keberadaannya di alam sudah semakin berkurang. Sehingga listrik yang dihasilkan juga berkurang. Jadi, listrik yang di bagi-bagi ke banyak rumah juga ikut dikurangi. Kalau tidak berhemat, akhirnya tetap tidak cukup juga, jadilah listriknya dipadamkan. Sama seperti air yang sedikit tapi harus di bagi-bagi untuk Lintang, Ibu dan Ayah. Kalau tidak berhemat menggunakannya, ya tetap tidak cukup. Akhirnya, tidak mandi, deh..! Atau, terpaksa bergantian. Hari ini Lintang, besok Ibu, dan lusa Ayah. Hmmm..kebayang, deh baunya! Betul kan, Yah?”

Ayah mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.

"Betulll...!"

“Tapi, masa Lintang gak boleh main game sama sekali?”protes Lintang sambil merengut.

Ayah, dan Ibu saling berpandangan sekali lagi. Mereka tak langsung menjawab.

“Boleh,"jawab Ayah, akhirnya. "Tapi..., dengan syarat, harus mengerjakan PR dulu, baru boleh main game. Dan, tidak boleh lama-lama, nanti Lintang tak punya waktu bermain bersama teman."

“Tapi, Ibu senang listrik padam. Lintang tidak bisa main game, dan akhirnya bantu Ibu di dapur, deh..hehehe..! Terimakasih ya, sayang...,”tambah Ibu.

Lintang tersenyum senang, masih boleh main game di komputer. Tapi, Lintang juga berjanji tak akan bermain game lama-lama. Biar listrik tidak sering padam. Juga agar bisa membantu Ibu. Kalau Ibu terlalu capek, nanti tidak bisa dampingi Lintang belajar.

PR? O, iya..tadi ada PR dari Ibu Guru. Lintang segera berlari ke kamar dan membuka buku tulisnya. Ternyata, PR-nya adalah menuliskan tentang teknologi yang bermanfaat untuk manusia, dan mengapa memilih teknologi tersebut?

Ah, sekarang Lintang tahu! Lintang akan menuliskan tentang listrik, dan mengapa Lintang memilih listrik sebagai teknologi yang bermanfaat untuk manusia. Lintang senang jika listrik tak padam. Suatu saat nanti, Lintang akan membuat pembangkit listrik yang tidak menggunakan bahan bakar yang cepat habis. Supaya semakin banyak orang merasakan manfaat listrik. Amin!

Sumber referensi:
1. Ardley, N., Cara bekerjanya Listrik, PT Mandira Jaya Abadi, Semarang, 2000
2. Wikipedia, Ensiklpedia bebas.



Mar 7, 2011

Kelinci Koci dan Kura-kura Kori


Si Koci Kelinci hebat! Seantero hutan lindung sudah tahu itu. Kata mereka, tak ada yang bisa menandingi kecepatannya berlari. Seluruh penghuni hutan yang menurut Koci larinya cepat seperti harimau dan banteng, sudah ditantangnya dan tak ada yang bisa mengalahkannya.
Burung kutilang bilang,”kalau lomba lari dengannya, jangan berkedip. Nanti kamu pasti tertinggal jauh di belakangnya. Tahu-tahu, Kelinci sudah sampai garis finish”.

“Iya, aku saja yang berlari lurus ke depan tak bisa menandingi kecepatannya...grok..grok..!,” tambah babi hutan sambil mendengus.

Kadal, tokek, cicak, dan belalang yang sedang nemplok di pohon cuma manggut-manggut. Wah, apalagi kita ya? Bisanya merambat di pohon atau di semak-semak. Begitu gumam mereka dalam hati. Hanya lebah dan kupu-kupu yang masa bodoh dengan lomba itu. Mereka selalu sibuk mengumpulkan madu untuk anak-anak mereka.

Tapi mereka juga tahu, Koci sangat sombong. Setiap melihat hewan lain berlari, dia selalu menertawainya. Apalagi jika yang berlari itu bebek.

“Ah, cuma segitu saja kemampuanmu kaki pendek?”ejek Koci.

Walaupun kesal, bebek tak bisa berbuat apa-apa.

Sementara, di pinggir sebuah danau tak jauh dari lapangan tempat lomba biasanya diadakan, hidup seekor kura-kura pemalu. Si Kori namanya. Kori tak punya banyak teman, hanya Kodi, kodok hijau saja yang berteman dengannya. Itu pun karena Kodi juga malu sering diejek karena kulitnya yang buruk. Kori senang menyepi dan membaca buku, dan Kodi senang menghibur kawannya ini dengan menyanyi. Meski suaranya tak bagus-bagus amat, tapi Kodi tetap bernyanyi..!

Suatu hari, Koci yang bosan menanti lawan bertanding memilih berjalan-jalan untuk mengisi harinya. Lalu, sampailah dia di tepi danau tempat Kori bermain bersama Kodi. Melihat mereka berdua yang nampak buruk rupa, Koci tertawa terbahak-bahak. Apalagi saat melihat mereka berjalan. Koci tertawa sampai berguling-guling.

“Kalau seperti ini cara berjalanmu, mana bisa kau mengalahkan aku berlari..ha.ha.ha..!?” kata Koci sambil menirukan cara berjalan Kori yang sangat lambat.

Aih, gerakan Koci sungguh lebay! Kori dan Kodi sebal dibuatnya. Kori juga merasa sangat malu dan sedih.
Ya, dengan kaki pendek dan tempurung besar di punggungnya, seekor kura-kura macam aku ini takkan bisa menang melawan kelinci yang punya kaki yang kuat, keluh Kori.

Tapi, Kodi menghibur Kori. Mengapa harus terus bersedih? Tidak punya otot, ya pakai otak lah...! Dan..aha! Kodi melihat di kepala Kori muncul cahaya kuning terang. Cahaya itu mirip bola yang menyala di rumah-rumah manusia. Kori dan Kodi tersenyum, wajah mereka berseri-seri.

Di temani Kodi, Kori sibuk bereksperimen. Dia ingin menciptakan alat yang bisa membuatnya berlari dengan sedikit menggerakkan kakinya yang pendek.

Hari demi hari berganti. Koci si Kelinci makin sombong. Tak ada lagi yang menantangnya berlari. Lapangan di pinggir hutan itu, juga makin sepi. Para binatang lebih suka berkumpul di rumah kelinci untuk mendengarkan kisah-kisah-nya yang hebat saat mengalahkan harimau, dan banteng. Yah, walaupun mereka tahu cerita itu di lebih-lebihkan alias membual, mereka tak mau Koci menjauh dan tak menganggap mereka teman. Masuk sebagai geng-nya Koci, kan keren! Begitu pikir mereka.

Setiap hari mereka berkumpul di rumahkelinci sambil membawa makanan yang berlemak, dan manis-manis seperti permen dan coklat, serta minuman bersoda. Koci juga senang makan gorengan. Semakin hari semakin melupakan latihan lari dan kebiasaan baiknya dulu yaitu makan buah-buahan, wortel, sayur-sayuran, dan susu. Akibatnya, Koci jadi gendut dan tak lincah lagi. Apalagi kini tak ada lagi yang berani menantangnya berlari. Kerjanya setiap hari hanya makan dan tidur saja.

Berbeda dengan Kori yang rajin dan tekun bereksperimen. Setelah didapatkan hasil yang bagus, Kori berlatih menggunakan alat yang telah di rakitnya itu. Dengan bantuan Kodi, Kori berhasil menggunakan alat itu dengan baik. Meski begitu, setiap hari terus saja berlatih untuk menjaga keseimbangan dan teknik pengendalian alat yang sempurna.

Akhirnya, dengan mengumpulkan keberanian, Kori menantang Koci bertanding lari. Di hari yang telah di tentukan, mereka telah siap di lapangan. Penonton telah memenuhi pinggir lapangan. Mereka bersorak-sorai untuk Koci. Meski meragukan kemampuan Koci yang sekarang jadi gendut, tetapi mereka juga tahu Kori jalannya sangat lambat. Tak mungkin mengalahkan Koci. Hanya Kodi yang terus memberi Kori semangat.
“Ayo, Kori... jangan takut! Kamu pasti bisa..!” teriak Kodi dari pinggir lapangan.

Para monyet yang biasanya hanya kongkow-kongkow di atas pohon, ikut-ikutan menonton. Bertepuk tangan riuh. Tapi, mereka tak membela siapapun. Mereka cuma senang menertawai yang kalah, dan menyanjung yang menang.

Hanya banteng, dan harimau yang diam-diam berdoa untuk kemenangan Kori. Mereka masih kesal karena pernah dikalahkan Koci. Tapi tak mau meneriakkannya keras-keras, takut dibilang pecundang. Malu dong?
Perlombaan segera di mulai. Koci dan Kori telah bersiap. Kali ini, wasitnya adalah Pak Burhan (Burung Hantu) yang terkenal bijaksana.

Pak Burhan mulai menghitung,“Ingat, tak boleh curang ya? Bersiap....satu..dua..ti...”

“Sebentar, Pak..!” teriak Kori tiba-tiba menyela. Seluruh penonton terkejut, lalu berbisik-bisik. Mengira Kori hendak membatalkan perlombaan karena takut.

“Ada apa Kori?” tanya Pak Burhan.

“Maaf pak, karena tubuh saya kan pendek, saya tak bisa melihat ke depan sepeti Koci. Dan, karena tempurung saya yang berat ini menempel di punggung, saya tak bisa berdiri tegak seperti Koci. Itu mempengaruhi kemampuan saya berlari pak.”jelas Kori.

“Ah...bilang saja kamu takut, Kori!”sahut Koci,”pakai alasan segala..!”

“Ssttt...! Diam dulu Koci,”sergah Pak Burhan sambi menempelkan sayapnya di mulut.

“Lalu, maunya apa Kori?”lanjut Pak Burhan.

“Ehm, supaya adil, ijinkan saya menggunakan alat yang bisa meninggikan badan saya, dan menahan tempurung agar tidak memberatkan selama lomba. Juga pengganjal kaki, agar kaki saya panjang dan kuat seperti Koci,”lanjut Kori.

Mendengar dirinya di sanjung, Koci sangat senang. Dadanya membusung, hidungnya kembang-kempis.
“Begitu ya? Bagaimana Koci, apakah Kori boleh menggunakan alat peninggi badan dan kaki?”tanya Pak Burhan pada Koci.

“Silahkan saja,”kata Koci tak acuh. Dirinya sudah yakin menang. Buat apa risau dengan alat peninggi badan buatan Koci yang tak berguna itu? Repot amat! Koci terus menggerutu.

Kori gembira. Dengan segera dia menyiapkan alat yang akan membuatnya lebih tinggi, dan kaki yang lebih panjang dan kuat untuk berlari.

Begitu alat itu sampai di hadapan wasit dan penonton, semua ternyata menertawakan Kori.

“Ha.ha.ha...apa alat yang lucu itu yang bisa membuat Kori berlari lebih cepat?”begitu ejekan para penonton.
Apalagi para monyet! Mereka bilang,”wah..lucu..lucu! Tapi kok, kayaknya kenal ya..dengan alat itu?” sambil menggaruk-garuk kepala, sibuk berpikir. Tapi tak lama mikirnya, lalu mereka bertepuk tangan sambil memakai topeng-topengan. Pakai musik juga..!

Pak Burhan tersenyum. Beliau tahu, pernah baca di buku yang ada di perpustakaan sekolahnya dulu. Alat yang digunakan oleh Kori adalah sepeda roda tiga. Kori pintar. Kalau roda dua, jalannya tidak akan seimbang. Dan dengan kaki yag pendek itu dia tidak bisa menahan agar tidak jatuh kesamping. Dengan roda tiga, Kori hanya perlu mengharmoniskan kayuhan dan keseimbangan (berat) badannya.

Koci hanya melongo melihat alat yang di gunakan oleh Kori. Tiba-tiba nyalinya menciut. Koci segera menyesali ijin yang diberikan pada Kori untuk menggunakan alat itu. Sekarang Koci bisa melihat, alat itu memang bisa membuat Kori lebih tinggi, dan dia bisa melihat jauh ke depan. Satu roda di depan, disambungkan pada dua roda di belakang. Di antara roda ada alat yang berputar yang menyambung kaki Kori dengan roda. Punggungnya yang berat oleh tempurung telah menemukan sandaran yang empuk. Kori nampak sangat percaya diri. Tapi, Koci tak sempat mengamatinya lama-lama, karena Pak Burhan telah memberi aba-aba. Koci dan Kori harus segera bersiap.

“Siap..! Satu, dua, tiga..!”

Koci segera melompat tinggi-tinggi, dan secepatnya agar tak kalah oleh Kori. Gemuruh tepuk tangan yang meneriakkan nama Koci melenyapkan rasa khawatirnya, dan yakin bisa menang. Sekilas Koci menoleh kebelakang, Kori masih tertinggal jauh.

Ah, Koci jadi lega. Apa yang musti di khawatirkan? Toh, alat itu tak membuatnya lebih cepat dariku. Gumam Koci pongah. Lalu Koci mengurangi kecepatan lompatannya. Napasnya sudah terengah-engah. Koci merasa semakin sulit berlari. Tubuhnya terasa berat.

Sementara di belakang, dengan kaki-kakinya yang pendek, Kori tetap berusaha mengayuh. Pelan tapi pasti, roda-roda yang di kayuh Kori semakin berjalan cepat. Sedikit lagi pasti bisa melewati Koci yang masih berlari santai.

Ketika menyadari Kori telah dekat, Koci menambah kecepatan larinya. Dia tidak menyangka Kori bisa mengejarnya. Terjadilah kejar-mengejar yang sangat ketat. Ketika Koci mengira Kori sudah jauh, dia melambat. Namun ketika Kori terus mendekat, Koci kembali berlari dengan cepat.

Garis akhir sudah terlihat.

Kori semakin bersemangat mengayuh, dan Koci terus berlari. Sorak sorai penonton semakin bergemuruh.
Namun, beberapa depan menjelang garis finish, tiba-tiba Koci terjatuh. Kori yang terfokus pada perlombaan, tak menyadarinya dan terus mengayuh dengan cepat. Dan, akhirnya Kori sampai di garis finish terlebih dulu.

“Hore....! Kori menang...!” teriak Kodi, harimau dan banteng keras-keras. Monyet-monyet di atas pohon ikut-ikutan menyanjung Kori, padahal tadi menyanjung Koci.
Kori sangat senang. Kerja kerasnya berbuah manis. Meski tak mudah, namun akhirnya sangat membuat bangga.

Menyadari Koci tak sampai garis finish, bergegas dia mencari Koci. Awalnya Kori diam saja melihat Koci tergeletak dengan hajah pucat pasi, toh nanti pendukungnya akan segera menolongnya. Tetapi, perkiraan Kori salah! Tak ada satu pun yang menolong Koci. Malah mereka menyukuri kekalahan Koci, dan segera berlalu.
Kori merasa iba pada Koci. Kori segera membawa Koci ke rumah sakit. Dengan sepedanya, Kori sampai di rumah sakit lebih cepat. Pun tak perlu menggendong badan Koci yang gendut, cukup memboncengnya. Huh..untunglah, kata pak dokter Koci tak apa-apa.

Setelah perlombaan itu, Kori menjadi terkenal. Tidak karena hanya kepandaiannya membuat sepeda, tetapi juga kebaikan hatinya. Meskipun telah mengalahkan Koci, Kori tidak sombong. Malah sekarang mereka berteman. Kori sering mendampingi Koci berlatih lari dengan mengayuh sepeda. Mereka tengah sibuk mempersiapkan lomba lari antar hutan lindung, dan Koci danKori sebagai wakil dari hutan mereka.

Wah...selamat berlatih ya? Bersahabat dan menjadi satu tim yang kompak itu memang lebih menyenangkan daripada bermusuhan. Betul tidak?

Mar 3, 2011

Banjir Tomat




Berbagai aksi penjual tomat di seputar Stasiun Cilebut, dan dalam kereta. Dengan Rp. 2000 per kantong, laba yang di dapat tak seberapa. Pembeli pun tak banyak. Sekarang beli sekantong, mungkin seminggu kemudian baru beli lagi. Mungkin pasar telah jenuh.

Tetapi, dengan sedikit kreasi, tomat bisa berbentuk lain (salah satunya saus tomat), yang bisa diawetkan dan digunakan lain hari ketika harga tomat telah kembali normal atau bahkan mahal.

Kalau tomat bisa diolah, setidaknya daya serap menjadi tinggi dan harga bisa lebih baik. Pedagang untung, Petani pun tak merugi lagi.

36 Jam di Yogya

Pagi buta

Hari masih begitu dini. Dengan dua taxi yang kami (aku, suamiku, dan dua orang teman) pesan semalam, menyusuri jalanan dan tol menuju Bandara Soekarno Hatta. Pesawat yang membawa kami ke Yogya akan berangkat pukul 8 pagi. Sedang perjalanan Bogor hingga Bandara Soekarno Hatta akan memakan waktu sekitar dua jam. Dengan pemandangan yang membosankan, kami memilih tidur, lumayan untuk melanjutkan mimpi yang terpenggal.



Di bandara, kami bertemu dengan dua teman lain Mbak Manda dan Mbak Mora yang akan menjadi host kami selama di Yogya. Sebenarnya Yogya bukanlah tempat yang asing lagi. Sangat mungkin jika ada waktu kami akan menyempatkan waktu berplesiran tanpa sang host. Tapi karena mereka membeli jasa kami, jadwal tentu mereka yang punya dan kami harus siap kapanpun mereka memerlukan.

Tapi tak apa. Mereka takkan mengikat kami seperti bocah yang sedang dihukum. Malah, seringkali mereka yang menawarkan kami untuk memilih kemana kami ingin pergi.
Pukul 9 pagi kami sampai di Bandara Adi Sucipto. Masih ada waktu tiga jam lagi untuk bertemu sang klien. Waktu luang ini tentu tak boleh disia-siakan. Besok selepas Ashar kami sudah harus kembali ke Jakarta. Sementara pagi hingga siang hari kami harus menjadi fasilitator kegiatan pembelajaran sains di sekolah yang akan kami kunjungi jam 12 nanti.

Jet lag? No way..!

Dan pucuk dicinta, ulam pun tiba. Alih-alih menuju hotel untuk check in, host kami mengajak langsung menuju Malioboro untuk mencari oleh-oleh. Kebayang kan, betapa waktu begitu berharga? Kami baru saja tiba dari Jakarta, bahkan baru saja kami tinggalkan satu jam yang lalu. Sekarang, kami berburu oleh-oleh untuk di bawa pulang! Seperti tidak ada waktu lagi? Memang! Kami tak ingin melewatkan waktu yang cuma beberapa waktu dengan berdiam diri di hotel. Rugi banget!

Selesai belanja pernak-pernik unik di Mirota, aku dan suamiku mengalihkan perhatian ke Pasar Beringharjo. Berharap mendapatkan baju batik murah untuk oleh-oleh. Tapi, baru sampai di pintu gerbang, kami tertarik dengan jejeran penjual pecel. Sayuran hijau nan segar itu menyihir mata dan mempengaruhi otak yang mengirim sinyal lapar ke perut. Tak ingin mendengar perut yang berisik, kami segera mencari bangku yang kosong dan memesan dua porsi pecel dengan lontong dan teh manis hangat. Hmmm…yummy!

Pecel depan Pasar Beringharjo. Yummy!

Anda pasti berpikir, pecel di mana-mana ya sama! Anda benar, tapi juga salah! Bumbu boleh sama, tapi yang membedakan pecel Beringharjo dengan yang lainnya itu adalah sayurnya. Tidak kurang dari tujuh jenis sayuran siap menggoyang lidah. Ada bunga turi, selada air, kecipir, kenikir, daun singkong, kacang panjang dan kecambah (tauge pendek). Ditambah dengan pilihan lauk yang beragam. Ada tahu dan tempe bacem, ayam goreng, dan berbagai macam gorengan lain. Hanya dengan Rp. 7500, kami hampir tak kuat lagi berjalan karena kekenyangan. Akhirnya hanya sedikit waktu yang dapat kami luangkan untuk memburu baju batik. Dan, tak satupun baju kami dapatkan karena harus tawar menawar dan ngantri lama. Sementara dua host kami telah selesai belanja dan mengajak kami untuk segera bertemu dengan kepala sekolah, sang klien kami.

Dengan perut kenyang, percaya diri kembali menjulang. Bahkan tak terpikir di benak kami bahwa dua host kami ternyata kelaparan karena terlalu asyik bebelanja. Keegoisan kami langsung tertohok ketika setelah selesai urusan dengan klien mereka mengajak kami makan di warung gudheg yang amat terkenal di seputaran wilayah Kampus UGM. Lho, kok? Bagaimana tidak, mereka saja tidak segan mengajak makan lagi meski mereka tahu kita telah kenyang.




Tapi, tetap saja keserakahan berkuasa. Meski perut kenyang, kami tetap mau makan meski dengan separo porsi. Yang ini, tak kalah enak. Pantas, warungnya begitu ramai. Apalagi, di balik jendela kami bisa menikmati alunan lagu keroncong mendayu-dayu.
Ah kantuk, janganlah kau terlalu cepat datang! Momen ini terlalu sayang untuk dilewatkan.Tapi sungguh, kantuk begitu ganas menyerang. Karenanya, kami segera menuju hotel dan beristirahat sebentar.

Prambanan

Sebentar? Yup! Karena dua jam kemudian kami sudah berada di jalan menuju Candi Prambanan. Kami hendak menjemput malam di sana. Meski sebagian rusak karena gempa beberapa waktu lalu, dengan bermandi cahaya temaram keemasan, sore di candi Prambanan sangat eksotis.




Di gerbang keluar, banyak gadis menawarkan souvenir berupa gelang-gelang cantik dari kulit dan sangat murah. Tak ada tempat lain yang menawarkan souvenir dengan harga seribu bahkan kurang, selain di Yogya.

Dan, perjalanan yang asyik menjadi sempurna ketika petualangan hari ini di tutup dengan makan malam di Warung Cak Koting. Emm…seperti bukan panggilan nama orang Yogya, ya? Tapi tak apalah, ayam bakarnya memang enak. Sambalnya membuat kami seperti naga yang siap menyemburkan api dari mulut. Pedas!

Baiklah, sekarang tiba giliran tubuh mendapatkan istirahat dan kesegaran. Besok, masih ada tugas menunggu. Dan, juga petualangan lainnya…!

Tamansari

Hari telah berganti. Pukul delapan pagi kami bertugas hingga pukul satu siang. Lagi-lagi, demi menghemat waktu, kami langsung membawa seluruh barang yang kami punya ke dalam mobil. Kami tak perlu lagi membuang waktu kembali ke hotel, karena sisa waktu yang kami punya harus kami manfaatkan dengan baik. Kemana lagi sebaiknya pergi? Pukul 4 sore nanti, pesawat yang membawa kami ke Jakarta akan lepas landas.

Yang harus dipikirkan adalah, kami tak boleh memilih lokasi wisata yang jauh hingga membuang waktu di jalan. Akhirnya, pilihan kami jatuh pada Taman Sari yang masih dalam lingkup keraton.

Semangat! Meski Yogya panas menyengat, kami coba menikmati perjalanan ini. Menyusuri lorong-lorong yang pernah dinikmati oleh raja-raja di tanah Yogya ratusan tahun lalu. Membayangkan menjadi puteri yang cantik jelita, bersanding dengan pangeran yang gagah perkasa. Menikmati kesejukan kolam indah dengan air jernih mengalir deras. Membasuh dan membasahi kaki yang penat, mendinginkan kepala yang terpapar panas mentari. Di bagian lain, para seniman telah siap menyuguhkan tarian yang indah.





Ah, pandai sekali sang pemandu kami bertutur. Indah rangkaian katanya, mengukir imajinasi. Begitu cantikkah di masa lalu?

Yogya nan mempesona. Rasa-rasanya, berkali-kali pun kita kunjungi, Yogya tetap memikat. Mengikat hati untuk berjanji bahwa lain kali kita akan bersua kembali.

Pukul 16.30 (karena pesawat di delay) kami kembali ke Jakarta, untuk selanjutnya langsung ke Bogor.

36 jam di Yogya, seperti gerilya singkat sebuah perjuangan membuka gerbang kejayaan masa lalu. Tak mungkin kita kembali ke masa lalu. Tapi, tawaran mengecap sisa-sisa keindahan itu bukanlah sia-sia, karena akan terus membekas dalam ingatan.

Mar 1, 2011

Tomat Lagi..!


Warna saus tomat asli, tak semerah atau sepucat yang di jual buatan pabrik.
Looks so yummy!

Feb 28, 2011

Mie Ayam


Menyambung masakan dengan bahan saus tomat, kali ini pengen berbagi masakan populer bernama Mie Ayam. Meski saus tomat-nya tidak menjadi bumbu utama, tapi kehadiran saus tomat yang segar menambah lezat rasanya!

Bahan:
- mie telor basah (bisa beli di pasar atau super market)
- daging ayam
- Jamur merang, potong-potong sesuai selera.
- Sawi hijau
- Bakso sapi atau ayam

Bumbu ayam:
- lada
- bawang putih
- saus tomat
- saus tiram
- garam
- minyak wijen

Bumbu Kuah:
- Bawang putih
- Lada
- Sedikit jahe
- Garam

Cara masak ayam:
- rebus ayam sampai empuk. Suwir-suwir daging, sisihkan airnya untuk kuah.
- haluskan lada dan bwang putih, tumis dengan sedikit minyak wijen. Masukkan bumbu-bumbu lain, dan ayam.
- beri sedikit kaldu (air rebusan ayam).
- masukkan jamur.
- kentalkan dengan sedikit terigu/maizena yang dicampur dengan air terlebih dahulu.

Masak kuah:
- haluskan bawang putih dan lada, tumis sampai harum dengan sedikit minyak. Keprek jahe, dan masukkan ke dalam kuah bersama bumbu yang ditumis. Bubuhkan sedikit garam.
- jika menginginkan, bakso bisa direbus bersamaan dengan kuah.

Cara menyajikan:
- rebus mie sampai terlihat mengkilat (bening). Angkat.
- masukkan dalam mngkok yang didalamnya berisi: sedikit minyak wijen, dan kecap asin.
- aduk-aduk mie agar tercampur dengan bumbu dan tidak lengket.
- rebus sebentar sawi hijau, letakkan di atas mie bersama ayam.
- siapkan kuah di wadah lain bersama bakso.
- beri taburan daun bawang dan bawang goreng.
- sajikan hangat

Feb 27, 2011

Asinan Buah dan Sayur Bogor ala Koe



Asinan buah dan sayur Bogor ini sangat menyegarkan. Paduan rasa kesegaran buah dengan kuah yang manis, asin, asem, dan pedas sangat cocok untuk menemani siang yang panas. Buah-buahan yang digunakan juga relatif mudah ditemukan. Paduannya pun terserah kita. Pilihannya sangat banyak. Dari buah lokal sampai import pun jadi.

Nah, supaya murah meriah tetapi tetap segar dan bergizi, kita pilih saja buah lokal. Seperti pepaya, nanas, bengkuang, kedondong, dan lain-lain yang hampir selalu ada. Dijamin tanpa bahan pengawet pula.

Bahan
Isi (buah):
- Pepaya mengkal
- Jambu air
- Kedondong
- Nanas
- Ubi merah
- Timun

Sayur:
- wortel di iris menyerupai batang korek api/serut
- tauge di cuci bersih

Tambahan lain:
- Tahu kukus
- Kacang goreng
- Kerupuk mi

Kuah:
- Air
- Gula pasir
- Cabai merah
- Cabai rawit
- Cuka
- Terasi udang/ebi sangrai atau bakar
- Garam

(Beberapa resep menambahkan air jeruk nipis/lemon, atau asam jawa dalam kuah).

Cara membuat kuah:
- rebus air dalam panci (kalau bisa non alumunium), masukkan gula pasir, garam, cabai rawit dan merah yang telah dihaluskan, dan terasi. Masak sampai bumbu menyatu.
- biarkan dingin.
- masukkan cuka sedikit demi sedikit. Sesuaikan rasa asam dengan selera anda.


Cara menyajikan:
- kupas buah, cuci bersih dan potong-potong sesuai selera.
- susun buah dalam mangkok, siram dengan kuah.
- sajikan. Lebih segar jika dingin dan dibiarkan bumbu meresap setidaknya satu jam.

Selamat Menikmati!

Catatan:
saya memang tak pernah membuat takaran khusus untuk membuat kuah asinan. Tapi, biasanya untuk membuat satu mangkok asinan buah dibutuhkan sekitar 350-400 ml air. Dan, karena beberapa merk cuka memiliki kadar asam yang beda sehingga harus menambahkan cuka dengan hati-hati. Kecuali, anda sudah terbiasa dengan merek tertentu.

Bazaar Ramadhan 2011


Alhamdulillah...dengan respon yang didapat dalam bazaar sebelumnya yang luar biasa, tahun 2011 ini kami berupaya untuk menyelenggarakan kembali Bazaar Amal Ramadhan.

KONDISI TERKINI

Tahun 2011 ini adalah tahun ke tiga Bazaar Amal Ramadhan diselenggarakan. Di seluruh lokasi hasil yang diperoleh cukup memuaskan. Namun, jika di tahun sebelumnya, bazaar di selenggarakan di empat tempat yaitu Cilebut, Bojonggede, Parung, dan Pulau Untung Jawa, dengan berbagai pertimbangan, kami akan menghapus dua lokasi yaitu Bojonggede, dan Pulau Untung Jawa. Kedua lokasi tersebut akan di gantikan dengan satu lokasi di daerah di wilayah Kabupaten Jember. Tepatnya di Dusun Krangkongan, D esa Tegalwangi, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Sehingga akan terdapat tiga lokasi bazaar, antara lain:
- Cilebut, Bogor
- Parung, Bogor
- Tegalwangi, Jember
(Tetapi tidak menutup kemungkinan di buka di lokasi lain tergantung ketersediaan barang dan dana opersional).

TUJUAN BAZAAR AMAL 2011

- Menyambut dan mengisi Ramadhan dengan berbagi
- Peduli pada pendidikan

SASARAN KEGIATAN

1. Di Cilebut dan Parung, kami masih memprioritaskan dana yang diperoleh disumbangkan pada anak yatim dan keluarga miskin lain.
2. Sedangkan di Jember kami akan menyumbangkan untuk kegiatan pendidikan anak usia dini (PAUD)

Pemilihan lokasi di Desa Tegalwangi, Jember adalah dengan mempertimbangan faktor kemanfaatan yang lebih berfek jangka panjang. Di Dusun Krangkongan, Tegalwangi ini terdapat sebuah lembaga PAUD yang secara swadaya di dirikan oleh sekelompok orang yang peduli pendidikan. PAUD ini masih menumpang di sebuah rumah yang memiliki pendopo dengan fasilitas seadanya. Kami berharap, uang hasil bazaar setidaknya dapat digunakan untuk membeli beberapa perlengkapan atau fasilitas belajar mengajar, bahkan dukungan gaji untuk para guru yang masih minim.

Selain itu, di lokasi ini (Jember), kontak person kami telah bersedia membantu menyelenggarakan bazaar amal Ramadhan.

JENIS BARANG BAZAAR:

Berdasarkan pengalaman bazaar sebelumnya, kami menerima dan mengelola sumbangan pakaian dan barang bekas layak pakai antara lain:
- Pakaian dewasa (celana, baju muslim, baju koko, dll)
- Pakaian anak dan bayi,
- Selimut,
- Sarung,
- Mukena,
- Kerudung/jilbab
- Kain batik (jawa: jarit),
- Kebaya/ abaya
- Sprei (atau bed cover),
- Tas
- Sepatu
- Sandal
- Boneka,
- mainan anak-anak edukatif, dll

Catatan:
Selain barang tersebut di atas, kami juga menerima dan menyalurkan bantuan uang tunai dan SEMBAKO di lokasi bazaar.

URUTAN KEGIATAN
1. Periode penerimaan sumbangan: Sekarang – Ramadhan minggu ke-2
2. Sortir pakaian, termasuk didalamnya pengelompokkan berdasarkan jenis pakaian, kualitas, dan pelabelan harga.
3. Pembagian barang menjadi tiga (sesuai jumlah lokasi)
4. Packing dan pengiriman (ke Jember)
5. Penjualan – pengumpulan dana (hari H bazaar)
6. Penyerahan sumbangan (melalui amil zakat atau RT setempat)
7. Kepada penyumbang (melalui email, telpon, atau facebook) kami akan laporkan:
• Jumlah uang yang diperoleh dari penjualan per lokasi,
• Jumlah dan/atau jenis sumbangan
• Situasi dan kondisi selama bazaar

RINCIAN SUMBANGAN YANG DIPERLUKAN:
- Transportasi barang dari posko ke lokasi, dan sebaliknya
- Tenda dan perlengkapannya
- Dana untuk Ijin lokasi
- Dana untu PIC di lapangan, sorting pakaian dan SPG
- Konsumsi untuk panitia
- Cetak kupon dan flyer

KONTAK:

Jika ada yang hendak diketahui lebih lanjut, silahkan menghubungi kami :

Sudarno
Phone: 0815 8438 7292
Email: korpusfk3i@yahoo.co.id
Face book : pdrhinos@yahoo.co.id

Novi Kuspriyandari
Phone: 0251-8430767/ 08164290395
Email: novik24@yahoo.com
Facebook: novik24@yahoo.com

Terimakasih


CATATAN:
- Kami hanya menerima sumbangan yang tidak mengikat. Dalam arti, sumbangan yang kami terima diserahkan sepenuhnya untuk kelola seperti yang telah kami sampaikan di atas.
- Karena kami tak memiliki biaya operasional (transportasi), kami berharap dermawan mengirimkan barang sumbangan langsung ke alamat di bawah ini:
Perum Cilebut Bumi Pertiwi Blok AN 26 RT/RW 04/02 Cilebut Timur, Sukaraja, Kab. Bogor.
- Kecuali masih dalam jangkauan dan kemampuan kami untuk menjemput sumbangan dengan motor.

FAQ (FREQUENTLY ASKED QUESTION):

1. Q: Mengapa uang yang terkumpul tidak untuk membeli pakaian baru saja? Lebih menggembirakan jika yang kita berikan pakaian baru.
A: sudah dipikirkan. Saat itu pilihannya adalah: harga murah dengan kualitas buruk tetapi dapat banyak, atau kualitas lumayan tetapi jumlahnya sedikit? Setelah dihitung dan di konversikan dengan target yang kami beri sumbangan, ternyata tidak dapat meng-cover jumlah target.

2. Q: data penerima?
A: terus terang, pengelolaan bazaar I dan II memang masih apa adanya, karena kami hanya berpikir bagaimana bisa memberi sesuatu kepada orang lain sedangkan kami tidak memiliki banyak harta atau benda untuk dibagikan. Waktu itu, siapapun yang nampak butuh bantuan, langsung kami beri paket sembako atau uang.

3. Q: Coba kasih tahu kami sejak jauh hari...! Insyaallah lebih banyak lagi yang membantu.
A: benar, itulah yang hendak kami lakukan. Di bazaar sebelumnya, kami bahkan tidak menyangka akan direspon secepat itu sehingga persiapan kami apa adanya. Apalagi bazaar di gelar mendekati lebaran, sehingga banyak orang yang hendak kami mintakan bantuan telah memiliki kesibukan sendiri.

Feb 24, 2011

Uler, Ular, Ula, dan Ulat

Sebenarnya cerita ini sudah terjadi tahun lalu. Tapi, karena status teman yang terkecoh oleh teriakan seorang ibu yang meneriakkan "ularr..!" padahal cuma ulat, aku jadi ingat cerita ini lagi. Kurang lebih sama.

Begini ceritanya:

Sepulang dari bepergian (ke Malang kalau tidak salah), aku dan suami dapat laporan dari tetangga bahwa tanaman di halaman kami jadi sarang ular.

Wow..! Mendapat laporan itu, tentu seketika membuat kami tak enak hati. Apalagi yang engeluhkan itu punya anak kecil yang suka bermain di sekitar tanaman itu.

Tanaman yang dimaksud adalah kembang sepatu yang daunnya memang sedang rimbun. Meski berat hati, kami harus "mengurus" tanaman itu agar tak jadi sarang ular. Meski, sebenarnya kami belum pernah lihat ada ular di tanaman perdu itu. Kalau di pohon jambu malah pernah. Bahkan sampai masuk ke dalam rumah.

Ya sudah, kami mengalah. Tanaman kami babat habis, biar tak ada korban.

Selepas itu, hening..tak ada kabar apapun. Sampai...suamiku yang tengah merawat tanaman di sapa oleh kerabat tetangga yang dari logatnya kami tahu dia dari jawa.

Suami menyempatkan berbincang dengannya.

"Kemarin banyak deh, pak..ularnya!" kata tetangga.

Banyak? Suamiku langsung disergap rasa tak nyaman. Tetapi, suamiku juga penasaran, apa iya banyak ular di tanaman itu (yang sudah di babat habis)?

"Gede-gede bu, ularnya?" suamiku menimpali.

"Iya..segini nih..!"sahut tetangga sambil menunjukkan jari telunjuknya.

"Panjangnya kira-kira semana?"tanya suamiku lagi antusias. Mengingat kami juga pernah menemukan ular sebesar telunjuk dan panjang 25 cm-an melilit di dahan pohon jambu. Mungkin itu sama jenis dan ukurannya.

"Kira-kira segini lah, pak..!" jelas tetangga sambil menunjukkan lagi telunjuknya.

Dahi suamiku langsung berkerut. Ular kok ukurannya segitu? Bantet amat?

"Ah,masa ular segitu ukurannya?"tanya suamiku tak percaya.

"Iya, pak...wong dia gede banget, item, terus jalannya begini.." sahutnya lagi sambil memperagakan telunjuknya.

Dari gerakannya itu suami melihat ada yang tak cocok.

"Kepalanya gimana, bu?"

"Kepalanya ada sungutnya. Hii..geli, deh ngeliatnya..!"

Kepalanya ada sungutnya? Waduh...jangan-jangan....?

"Ulat kali bu, itu..bukan ular..!"sahut suamiku setelah membuat kesimpulan. Dulu, ketika masih banyak tanaman pacar air banyak sekali ulat hitam yang besar dan ayam pun tak mau memakannya.

"Ular..! itu ular..!" tegas tetangga."kalau ula sih, saya tahu..! kalau ini bisa bikin gatel-gatel gitu lho, pak..!"

Oh...! Jadi tahu deh sekarang. Sambil tersenyum kecut, suamiku pamit masuk ke rumah. Sampai di depanku, suami menumpahkan uneg2nya padaku.

"Vi, yang diributkan sama tetangga soal ular kemarin itu ternyata ulat! Bukan ular..!"

"Kok, bisa gitu?" tanyaku heran. Lalu suamiku menjelaskan soal perbincangan tadi.

Jadi, mungkin yang terjadi adalah kesalahan penggunaan dan penerjemahan dari bahasa jawa ke bahasa Indonesia.

Orang Jawa menyebut "ulat" adalah "uler", mungkin oleh si tetangga tadi "uler" di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi "ular". Dan, bahasa Jawa-nya "ular" adalah "ulo" yang diterjemahkan-nya menjadi "ula". Sama saja dengan bahasa Jawa "gulo" menjadi "gula".

Huft, hantam kromo ini bikin PUSING!

Ayam bakar bumbu tomat


Bahan:
- 1 ekor/kg ayam, potong sesuai selera (lebih enak ayam kampung/buras)
- 5 sdm saus tomat
- 4 siung bawang putih
- 6 siung bawang merah
- 6 biji cabai merah
- 1 sdm saus teriyaki
- 1 sdm kecap asin
- 2 sdt cabe bubuk
- 1/4 sdt kunyit bubuk
- 2 sdm minyak goreng
- 300 ml air (boleh ditambah jika ayam kampung)

Cara buat:
- cincang halus bawang merah, bawang putih, dan cabai merah (lebih baik jika dihaluskan)
- tumis bumbu sampai harum, masukkan kunyit bubuk, saus tomat, saus teriyaki, kecap asin dan cabe bubuk.
- masukkan ayam, dan tambahkan air.
- masak sampai air menyusut. Jika kurang asin, boleh ditambah garam.
- bakar di atas bara api atau oven sampai kecoklatan.

Yummy!
Silahkan mencoba.

Serba Tomat

Menyedihkan.

Seringkali seperti itu nasib petani di negeriku Indonesia ini. Setelah tak lama menikmati harga tomat yang sedikit lumayan (di pedagang sayur keliling Rp. 500 perbuah), sekarang harganya anjlok sampai hampir tak berharga. Rp. 200/kg! Dari mana petani bisa menghidupi keluarganya dengan penghasilan yang jauh...sekali dari layak? Sementara, pemerintah sepertinya tak bisa memberikan solusi apapun. Semuanya di serahkan pada mekanisme pasar.

Ah, malangnya petani kecil.

Terisnpirasi dari kerja keras petani, dan melimpahnya tomat, aku membuat masakan dan makanan serba tomat. Supaya tomat laku dipasaran, dan harganya tidak terlalu murah. Entah usaha ini berdampak baik atau tidak pada petani (walau jelas pada pedagangnya), setidaknya tomat bisa diolah menjadi saus yang bisa diawetkan. Dampaknya masih tetap baik untuk keuanganku.

Bayangkan saja, dari 1/2 kg tomat segar bisa jadi 250ml saus yang jika dibeli di pasar harganya jauh lebih mahal. Apalagi saus buatan sendiri sudah pasti lebih segar, dan enak! Dijamin tanpa bahan pengawet kimia pula. Dari saus ini, bisa dibuat berbagai macam bumbu. Mulai dari bumbu ayam bakar, sampai spaghetti. Hmm...yummy!

Yuk, berkreasi makanan dari tomat? Tak perlu khawatir bosan. Banyak pilihan yang bisa di buat. Kita buat bahan utamanya dulu: SAUS TOMAT

SAUS TOMAT

Bahan:
- Tomat segar
- Gula
- Garam
- Jeruk nipis/ lemon

Cara membuat:
- rebus tomat sampai merekah (kira-kira 5 menit).
- buang kulit tomat, lalu blender sampai halus. Saring.
- rebus kembali tomat yang sudah di saring sampai mengental. Kekentalan bisa disesuaikan dengan selera. Jika ingin lebih kental bisa di beri satu sendok makan maizena yang dilarutkan dengan air.
- jangan lupa selama merebus berikan gula, dan garam secukupnya, serta air jeruk lemon/nipis. selain membantu mengawetkan, ari jeruk membuat rasa saus lebih segar.

Jika ingin sedikit berbumbu, boleh ditambahkan bawang putih bubuk, dan lada.

Selamat mencoba!