Jan 16, 2011

Awas Tertipu Penampilan!


"Iso masak tah, sampean?"

Tanya seseorang padaku, ketika melihatku sibuk menyiapkan kompor dan peralatan masak lain yang kupinjam dari teman se-kamar. (Dulu, untuk menghemat uang kost, aku memilih mengisi satu kamar dengan teman yang juga baru jadi mahasiswi. Jadi uang sewa di tanggung berdua).

Suaranya yang melengking dengan logat jawa timuran yang kental, mau-tak mau membuatku berpaling padanya. Sekilas, ku tangkap matanya menyelidik dari ujung kakiku hingga ujung rambut. Ah, padangan macam itu sudah sering menimpaku. Sebel, sih..tapi sudah terbiasa. Dan, nampaknya aku juga harus terbiasa bertemu dengannya karena dia teman kost-ku, tapi bisa dikatakan senior, karena aku baru masuk, dan dia telah menjelang skripsi. Justeru, aku akan punya waktu untuk menjawab pertanyaannya itu.

Aku sadar, penampilanku memang apa adanya. Celana jins, kaos oblong, dan rambut pendek. Plus badan yang sedikit kekar. Ku coba memahami apa yang ada dipikirannya, dan meredam kesal. Mungkin dia bermaksud bercanda, kataku sendiri dalam hati. Dan, ku lupakan saja hari itu. Tak ada waktu untuk memikirkan lagi. Hari-hari sibuk menjadi mahasiswa baru sangat menyita waktu dan perhatian. Maklum, banyak sekali hal-hal yang harus di sesuaikan. Dari kebiasaan bersekolah yang masuk dan pulang secara teratur, hingga belajar mandiri dalam segala hal. Beberapa kali masak menu biasa saja, sesempatnya. Selain harus belajar ngirit, belajar pula mengatur waktu. Dan Si Mbak yang mau skripsi, tak memperhatikan lagi apakah aku bisa masak atau tidak? Jangan-jangan, aku-nya saja yang pendendam....

Waktu terus bergulir. Buatku kuliah berjalan dengan menyenangkan. Banyak hal mengejutkan, tapi segera bisa menyesuaikan diri. Aku juga mulai banyak teman dan kegiatan di luar kampus.

Setelah beberapa waktu berlalu...

Dengan uang bulanan yang sangat pas-pasan, aku tak sempat memperhatikan perlengkapan untuk kamar tidur. Aku dan kawan se kamar masing-masing hanya puya satu. Termasuk sprei dan sarung bantalnya. Aku tak berpikir untuk mencari atau membeli sprei baru hingga suatu waktu aku menyadari, spreiku satu-satunya itu robek. Ah, apa hendak di kata. Untuk meminta ibu mengirimkan sprei baru, terlalu tanggung waktunya. Seminggu lagi aku akan pulang kampung. Nanti saja, saat aku pulang skalian ku bawa. Nah, supaya robeknya tak makin melebar, aku harus menjahit atau setidaknya menyulami dengan benang. Untung, ibu selalu mengingatkan aku untuk selalu menyiapkannya. Ku simpan rapi di laci dalam lemari pakaian.

Ketika sedang asyik mengulur benang, tiba-tiba kakak yang hendak skripsi masuk ke kamarku hendak menawari oleh-oleh dari kota asalnya.

"Buat apa, dik?" tanya si kakak melihatku mengulur benang.

"Buat jahit itu lho, mbak...spreiku robek" sahutku sambil menunjukkan sprei yang robek padanya.

"Oh...gitu? Kok bisa robek, sih?"

"Hehehe..iya, mbak..keseringan di cuci dan pakai kali...jadi kainnya aus"sahutku setengah malu.
"Terus, sekarang mau di jahit tangan?"

Aku mengangguk.

"
Iso tah?"

Deg!. Pertanyaan itu lagi?


"Hehehe..ya di coba, mbak. Kenapa memangnya?"tanyaku, mencoba menengahi kesalku yang mulai timbul.


"
Halah..sampean iku kan tomboy, iso tah nyulam?"

Aku memandang langsung ke wajahnya, ingin tahu mengapa dia terus-terusan menanyakan itu. Tapi dia lebih asyik memperhatikan spreiku yang robek.


"Sini, aku bantu jahitin...nanti kalau sampean yang jahit malah gak karuan...!"katanya lagi, sambil mengambil jarum yang sudah 'berisi" benang dari tanganku. Tanpa memperhatikan lagi mukaku yang mulai manyun.


Untuk menghilangkan kesal, aku memilih ke dapur, mengambil air minum. Sekembalinya dari minum, ternyata, Si Mbak sudah selesai menjahit spreiku. Cepat sekali!


Aku perhatikan jahitannya lumayan rapi. Si Mbak pergi ke kamarnya sendiri, sambil bilang," itu kuenya, jangan lupa di makan."


"Ya, mbak. Terimakasih,"jawabku singkat.


Hari itu, aku menerima pertanyaan yang cukup menyengat harga diri, tetapi aku mencoba menerima maksud baiknya. Ku pikir-pikir, mungkin saja Si Mbak memang hanya ketakutan aku tak bisa masak lalu kelaparan (meski warung makanan murah juga banyak), dan tak ingin aku direpotkan hal-hal yang membuatku tak nyaman sementara dia bisa membereskannya dalam sekejap!


Kejadian hari itu, kubiarkan saja berlalu lagi. Buat apa diingat, toh aku beruntung telah dibantu. Sampai suatu hari, aku berganti pasangan (teman sekamar) yang tak begitu pintar memasak tetapi karena tuntutan keuangan harus sering memasak. Beda dengan teman sekamarku sebelumnya yang lebih suka membeli makanan di warung atau di kampus. Akhirnya, kami sepakat untuk bergantian atau bersama-sama memasak makanan yang kami sepakati jenisnya. Karena berbeda asal daerah, selera kami sering berbeda. Tetapi, justeru karena itu kami sering bereksperimen. Memadukan masing-masing karakter. Karakter pengennya makanan asal jadi (asal enak, gak perlu jenis macam2), dan karakter jenis terbatas (karena jangkauan keuangan yang terbatas pula) tetapi ingin menu makanan yang bervariasi.

Akhirnya, terjadi sebuah "keajaiban" ketika hendak memasak ayam goreng ala kentucky (waktu itu ayam goreng jenis ini baru nge-trend), memutuskan untuk bereksperimen (walaupun alasan sebenarnya gak tahu cara yang benar), dan berhasil! Ya..dikatakan berhasil itu ketika enampuluh persen penampilan mirip, dan tujuh puluh lima persen rasa sama. Bangganya luar biasa...! Dan, imbas dari itu adalah Si Mbak tak lagi bertanya:"iso masak tah?"

Tapi pertanyaan si Mbak gak penting lagi, yang paling penting adalah menemukan resep kebanggaan kami berdua. Ketika teman lain bertanya apa resepnya, dengan senang hati kami membaginya. Tak tahu apa itu hak cipta atau paten, dan sebagainya. Senang adalah nomor satu!

Setelah keberhasilan resep itu, keesokan harinya aku pulang ke kampung halaman. Sekitar empat jam perjalanan dari tempat kost-ku. Ketika di rumah, aku sempatkan mencari wadah surat gantung yang aku buat sewaktu SMP. Wadah itu sengaja aku bawa karena membutuhkan wadah untuk surat atau pesan yang di tempat kostku biasa di gantungkan depan pintu kamar. Maksudnya, tak perlu menunggu aku pulang baru surat akan disampaikan. Cukup dimasukkan dalam kotak surat, dan nati aku akan mengetahuinya sepulang kuliah atau bepergian. Kecuali, ketika teman sekamarku ada.

Tak lupa kuceritakan kisahku di tempat kost pada ibu. Dan ibu hanya tersenyum, beliau tahu kok anaknya pandai masak. Sejak SD aku sudah diajari ibu membuat kue. Dan aku juga senang bereksperimen dengan bahan yang ada.

Keesokan harinya aku sudah harus kembali ke kost. Sesampainya di sana, aku langsung membuka oleh-oleh dan membaginya ke seluruh kamar. Ritual itu tak boleh terlewat, karena adalah kesempatan mencicipi makanan khas dari banyak daerah. Kalau di pikir-pikir, anak kost justeru kaya pengalaman kuliner ya?

Selesai membongkar oleh-oleh, aku langsung memasang wadah surat di depan pintu kamar, dan istirahat karena sudah malam. Keesokan paginya, Si Mbak ada di depan kamar sedang mempertahikan wadah suratku.

"Bagus, tuh wadah suratnya. Beli ya, dik?"tanya si Mbak.

"Enggak, mbak. Aku sendiri yang buat ketika SMP," jawabku santai.

"O, ya?" tanyanya balik, terlihat tak percaya.

Yah..mulai lagi, deh..keluhku dalam hati.

"Dik Novi yang menyulam?"tanya si mbak masih tak percaya.

"Iya, mbak. Ibuku yang ngajari aku nyulam. Belum banyak sih, teknik yang aku kuasai, belum sampai belajar teknik menyulam dengan dua jarum atau lebih".

Si Mbak terdiam. Tapi, karena ku lihat Si Mbak tak melepaskan pandangannya dari wadah suratku, aku juga jadi memperhatikan wadah suratku.

Wadah itu hanya berupa selembar kain katun warna hitam yang dilipat dan dijahit sedemikian rupa sehingga menyerupai amplop. Bagian depannya berhiaskan sulaman dengan beberapa teknik, dan berbagai warna dan bentuk bunga. Cantik.

Ouw! Aku jadi mengerti sekarang. Kenapa Si Mbak tak percaya. Sepertinya kejadian sprei robek itu....
Ah, supaya tak terjebak dalam perasaan tak enak, aku bergegas pamit hendak ke kamar mandi, bersiap pergi ke kampus. Hari ini, aku akan pakai baju kotak bahan flanel, dan celana lapangan hijauku. tak lupa topi dan buku catatan kecil telah berada di tas ransel. Karena aku mau pergi ke Taman Hutan Rakyat Suryo di kaki Gunung Arjuno. Belajar teknik pengamatan burung.

(Eh, apa mauku cerita ngalor-ngidul begini? Simpulkan sendiri aja, deh..ya??)

2 comments:

  1. apakah kesimpulannya "meremehkan"?

    kunjungan perdana,salam kenal
    btw tag blognya mirip :)

    ReplyDelete
  2. mungkin..meski kadang kepikir kalau dugaan itu muncul karena "penampilan" yang memang tak mencerminkan..hehe

    ow..iya yah? tinggal diterjemahin aja..

    ReplyDelete