Aku masih saja teronggok di depan sebuah markas militer. Di sebelahku ada juga temanku. Bukan, bukan karena terkena razia lalu dilarang berjualan. Aku terpaksa begini karena sedang menunggu pemilikku datang. Sudah lebih dari setahun dia tak pernah menegokku. Yang aku dengar dari gerobak warung kopi sebelah-yang sering nguping dari pemiliknya, dia kini kerap di dera sakit. Tubuhnya semakin renta hingga si Angin begitu mudah mengoyak dan menembus kulitnya.
Ah, memang jahat si angin itu! Aku juga tak suka kepadanya.
Setiap melewatiku, tubuhku selalu di goncang-goncang seperti berharap kerudung dan kepalaku lepas. Setelah aku benar-benar menderita, si angin berlalu begitu saja.
Sebenarnya aku sangat berharap pemilikku akan membersihkan aku dari debu yang makin tebal menutupiku. Aku ingin bersolek lagi dan menemani gelak canda para pembeli yang cerewet. Aku rindu sapaan anak-anak muda yang sering lewat dan menyapa pemilikku dengan raungan motornya. Tapi aku juga sering merasa sebal dengan tingkah para anak muda itu yang sering memprotes minuman racikan pemilikku. Katanya kurang manis, atau esnya kurang banyak! Atau ketika mereka mengurangi hitungan satu botol, membuat si kakek, pemilikku merugi.
Kemana ya, si kakek? Bapak tentara teman ngobrolnya pun sering bertanya-tanya. Mungkin dia butuh semangat dari kakek. Atau dia kesepian karena tak ada lagi yang menemaninya berjaga. Kemarin lusa, dia mengunjungiku lagi berharap kakek muncul. Aku suka pada si bapak tentara ini, dia begitu menghormati si kakek meskipun kakek bukan seorang jenderal. Baginya, si kakek melebihi seorang jenderal. Seorang pejuang, adalah cikal bakal tentara, jadi wajib di hormati. Bahkan rasa hormat itu becampur kagum, dan haru karena ternyata perjuangannya tidak terhenti ketika Indonesia merdeka. Bahkan perjuangan yang makin berat ada dihadapannya. Di tahun-tahun berikutnya, si kakek berjuang sendiri untuk hidup keluarganya. Berjualan es menjadi pilihannya. Entah bagaimana mulanya.
Lalu, lahirlah aku! Aku seumur anaknya yang pertama. Akulah yang menjadi saksi perjuangan si kakek. Aku menemaninya melayani pembeli yang terus mengerubutiku. Ah, aku sering kewalahan melayani mereka. Tapi capekku menjadi hilang waktu si kakek (yang waktu itu masih muda) pulang dengan senyum bahagia. Hari itu, sepuluh anaknya bisa makan.
Dulu, kakek juga punya becak. Tapi Pak Gubernur membuatnya harus berpikir lagi dan berusaha lagi dari nol. Becak-becak itu tidak bisa dia selamatkan atau setidaknya dibawa pergi ke Tegal tempat nenek moyangnya.
Apa Pak Gubernur waktu itu hanya peduli mobil? Sampai-sampai becak-becak itu harus menjadi penghuni dasar laut?
Kasihan si kakek…
Aku tak boleh dan tak pernah mengeluh. Bahkan saat kakiku patah aku tak berhenti menemani berjualan. Aku tak pernah merasakan kesal, kakek perhatian sekali padaku. Selesai tugasku menemaninya, kakek akan membersihkan ku, seperti memandikan anak sendiri. Merapikan aku kembali sebelum beranjak pulang. Aku tidak takut ditinggal sendirian, karena esok pagi-pagi sekali kakek akan menjumpaiku lagi.
Tak terasa waktu telah berjalan berpuluh tahun. Di sebelahku telah berjajar penjual-penjual lain yang membawa teman lebih cantik dariku. Benda-benda penghiasnya juga cantik-cantik. Kadang aku sebal dengan mereka, ngiri juga mungkin. Mereka bilang kakek kuno, berjualan es masih pakai gelas kaca dan itu membuatku terlalu berat untuk di bawa-bawa. Sedangkan mereka selalu diajak berjalan-jalan di sepanjang gerbong kereta atau sekedar nongkrong di peron.
Tapi, apa benar itu yang membuat warung kakek semakin sepi?
Kata mereka lagi, minuman kakek juga kuno, warnanya cuma ada merah yang rasanya entah apa namanya. Kalau pemilik mereka, selalu menyediakan minuman yang berwarna-warni, rasa yang enak-enak dan nggak perlu ditunggui. Selesai minum, buang saja wadahnya.
Tapi kakek tetap maunya bikin sirop sendiri, dia nggak suka manis dari gula biang. Ah, dia memang peduli dengan pembelinya. Tapi apa, pembelinya nggak peduli tuh! Mereka bilang minuman kakek nggak praktis! Nggak bisa diminum sambil jalan. Lho, bukanya makan atau minum sambil jalan itu pamali? Tapi, memang pembeli sukanya begitu.
Makin sepilah warung kakek. Apalagi sejak kakek pindah ke Bogor. Selain bukanya jadi agak siang, kakek segera berbegas pulang begitu Ashar menjelang. Padahal kan, kakek pulang barengan orang-orang pulang dari kerja yang sangat mungkin butuh minum dan istirahat. Tempatku berdiri kan bagus, di bawah pohon rindang, dan nggak terlalu ramai kendaraan lalu lalang.
Tapi Kakek bilang, kalau kesorean, kereta akan terlalu penuh dan kakek tak kuat lagi berdesakan. Baiklah, aku mengerti. Lebih baik begitu daripada hari ini pulang terlalu malam, tapi keesokan harinya kakek tak datang.
Hari-hari kini semakin jarang kakek mengunjungi. Aku jadi semakin rindu masa-masa dulu sewaktu aku masih sering di dandani. Seorang bapak tentara betah menemani kakek bercengkrama berlama-lama. Kisah-kisah perjuangan kakek semasa perang kemerdekaan dulu kerap menjadi penyemangat si bapak tentara. Dia juga kerap membantu kakek ketika aku di guncang angin, atau membenahiku saat hujan mengguyur. Kakek memang masih sayang padaku.
Kemanakah gerangan kakek sekarang?
Tiba-tiba aku melihat kelebat anak lelaki si kakek. Dia menyapa bapak tentara yang kebetulan juga sedang menengok keadaanku. Entah mengapa, aku merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Aku lihat raut wajah si bapak tentara terlihat kaget lalu sedih. Sejenak kemudian dia menyalami si anak kakek erat-erat. Anak lelaki kakek menengok sejenak ke arahku, lalu beranjak pergi dengan kepala tertunduk.
Aku jadi berpikiran buruk. Tidak…jangan…! Janganlah itu berarti sesuatu yang membuatku sedih. Apakah kakek…. pergi untuk selamanya? Tidak…..!
Si bapak tentara tiba-tiba bergegas berlari ke arahku. Dia mencoba membenahi kerudung di kepalaku yang akan lepas. Dia heran, padahal angin tak sedang lewat. Seorang teman datang membantu, dan bertanya-tanya kenapa tiba-tiba kerudungku akan lepas.
Si bapak tentara cuma bisa menggelengkan kepala. Lalu dengan sedikit bercanda dia mengatakan mungkin aku sedang bersedih.
Memangnya kenapa, pak? Tanya teman si bapak itu lagi.
Karena isteri si kakek kemarin meninggal…..jawabnya. Si teman mengangguk-angguk seakan mengiyakan jawaban si bapak tentara.
Oh, itulah sebabnya. Aku ikut sedih untuk kakek. Setahuku kakek sangat mencintai isteri yang memberinya sepuluh anak itu. Kata kakek, isterinya itu sangat jujur dan pendiam. Dia juga isteri yang iklhas. Ah, pasti kakek merasa sangat kehilangan. Jangan kuatir kek, aku akan selalu ada untukmu. Janganlah lama-lama bersedih.
Tapi, apakah kakek akan tetap berjualan? Entahlah. Mudah-mudahan saja. Kakek tak pernah bisa berdiam lama. Mudah-mudahan kakek cepat pulih dari kesedihan, dan bersama-samaku lagi mengisi waktu.
Tapi, mungkin saja kakek takkan berjualan lagi dan berniat menjualku? Kalau demikian adanya, akulah yang akan merasa kesepian. Aku juga takut pemilikku yang baru tidak merawatku dengan baik.
Kek, kalau boleh memilih, aku ingin tetap bersama kakek. Semangat hidup kakek membuatku selalu gembira bersama kakek.
Tapi kalau kakek menginginkanku pergi, tak apa. Aku akan tetap mengenang kakek sebagai orang terhebat. Meski seumur hidup tak pernah diakui sebagai pejuang kemerdekaan, akulah yang mengakuimu sebagai pejuang terhebat. Anak-anakmu yang tumbuh menjadi generasi penerus yang penuh semangat, akan menjadi trophy penghargaanmu yang terbaik.
Hidup ini indah. Aku percaya kehadiran teman melengkapi, dan renungan menjadi rambu-rambunya. Selamat menikmati hidup!
About Me
- Novi Kuspriyandari
- Bogor, Jawa Barat, Indonesia
- Anda Pengacara? Sama seperti saya. Tapi saya adalah penganggur yang berusaha mencari banyak acara dan cara. Cara bersenang-senang, dan berbuat baik. Gitu, deh...
Nov 16, 2007
Sep 15, 2007
Emak...
Meski napasmu telah terhenti,
Meski ragamu tak lagi menemani,
Meski senyummu tak lagi menghiasi hari.
Kasihmu,
Selamanya akan menghangatkan hati.
Emak....,
Ketika kami rindu hadirmu,
Jika kami dahaga belaimu,
Kami hanya bisa berdoa,
Semoga Tuhan memberimu tempat terbaik.
Karena,
Engkau
Ibu terbaik yang selalu pandai menyimpan duka sendiri,
Tuturmu yang lembut namun tegas,
Tak pernah membuat kami ragu,
Betapa kau selalu ada dalam naungan lindunganmu.
Selamat jalan Emak...
Kami akan selalu merindukanmu.
Meski ragamu tak lagi menemani,
Meski senyummu tak lagi menghiasi hari.
Kasihmu,
Selamanya akan menghangatkan hati.
Emak....,
Ketika kami rindu hadirmu,
Jika kami dahaga belaimu,
Kami hanya bisa berdoa,
Semoga Tuhan memberimu tempat terbaik.
Karena,
Engkau
Ibu terbaik yang selalu pandai menyimpan duka sendiri,
Tuturmu yang lembut namun tegas,
Tak pernah membuat kami ragu,
Betapa kau selalu ada dalam naungan lindunganmu.
Selamat jalan Emak...
Kami akan selalu merindukanmu.
Bogor, 7 September 2007
Sep 4, 2007
sedang cuti panjang....
kangen menulis. apa daya tangan dan badan hanya satu pasang. sekarang sedang cuti panjang, karena memilih menulisi batin dengan sebuah pelajaran baru dari perjalanan tersulit dalam hidup. doakan saya bisa melewati yang satu ini.
Jun 22, 2007
Apa Enaknya?
Aku selalu bertanya pada temanku yang merokok, apa enaknya? Ada yang bilang, tidak bisa berpikir kalau tidak ada rokok. Bagiku yang tidak merokok, jawaban itu membuat ku harus berpikir keras sekaligus merasa lucu, seakan otak kita benar-benar bergantung pada sebatang rokok. Apakah itu berarti, begitu sebatang rokok habis, habis juga pikiran kita? Dan, untuk bisa berpikir lagi, harus ada sebatang rokok lagi. Begitu kah? Padahal bagiku justeru terbalik. Begitu ada rokok, buyar seketika konsentrasiku.
Kalau aku tanya apa tidak mikir bahayanya? Mereka bilang, mikir! Tapi, mereka lalu buru-buru menambah: karena sudah terlanjur (ketagihan) ya diteruskan aja. Enak sih…., begitu selalu kata mereka.
Saking enaknya merokok, mereka lebih memilih tidak makan daripada tidak merokok. Apa iya? Aku tidak yakin dengan pernyataan itu. Coba kita pikir. Jika setiap hari (selama sebulan) mereka hanya punya uang lima ribu rupiah, apa benar mereka akan memilih membeli rokok ketimbang makan? Pasti perut yang melilit membuat otak akan sedikit gila. Rokok tidak akan membuat perut keroncongan jadi kenyang. Dan, apakah mereka akan tetap memiliki pikiran yang jernih tanpa asupan energi dari makanan?
Aku selalu berpikir itu hanya alasan yang dibuat-buat, supaya orang yang tidak suka merokok berhenti mengganggu. Tapi, bukankah semakin dia berusaha “defence” dengan “membualkan” segala kenikmatan merokok, semakin menunjukkan bahwa sebenarnya dia tidak yakin dengan “manfaat” rokok itu sendiri?
Ada alasan lain: beberapa orang merokok untuk menjaga berat badan agar tidak melar. Kenapa bisa begitu? Karena, merokok bisa menggantikan kebiasaan ngemil. Kalau yang ini, aku bisa bilang: oke, it makes sense! Tapi bukan tidak mungkin, selain kurus karena tidak ngemil, pasti karena dalam tubuh ada sakit yang telah menggerogoti. Di sadari atau tidak, di akui atau tidak, itulah “kerjaan” rokok. Kalau masih muda, memang lebih gampang mengelak dengan berbagai alasan. Apalagi tubuh memang masih terlihat bugar. Tapi lihat beberapa tahun lagi. Andai saja dada manusia dibuat transparan, pasti paru-paru yang menghitam langsung terlihat. Batuk pun datang menyambangi saban malam. Setelah itu, berbagai macam pil atau kapsul pun harus mengisi perut yang berisi zat untuk mencuci tubuh d pembuluh darah dari banyak kotoran.
Kalau mengaku waras, kenapa tidak memilih untuk mengganti cemilan dengan selain rokok? Ada banyak cara jika mau, yang lebih sehat tentunya.
Tapi, mungkin aku tidak akan pernah bisa memahami pilihan para perokok. Walaupun bagiku, mereka lebih nampak sebagai orang yang hidup dengan mitos dan sugesti.
Mitos itu berasal dari sebuah anggapan bahwa, tidak merokok sama saja dengan banci. Nggak jantan! Lalu, karena takut dianggap tidak jantan, serta merta mereka tersugesti untuk terus mengkonsumsi barang berbahaya itu. Lucu, ya…selalu saja mitos itu di luncurkan untuk melawan keadaan sebenarnya.
Kalau dipikir-pikir, mitos-mitos yang beredar di kalangan lelaki memang sering menyesatkan. Bukankah laki-laki atau tidak sebenarnya tidaklah ditentukan dari sebuah sebutan? Dan laki-laki, katanya, selalu mengendepankan pikiran, alias ber-otak, bukan main perasaan seperti perempuan. Tapi lihat faktanya! Memikirkan soal rokok saja, keadaan sudah jungkir balik. Perasaan jadi yang terdepan begitu di usik soal unsur kejantanan ini. Gara-gara iklan, pikiran jadi termakan. Kalau para lelaki itu bisa mikir, atau minimal bisa baca-lah.., pasti mereka tahu rokok lebih banyak bahayanya dari pada manfaatnya. Bahkan lambang kejantanan ini bisa membuat kejantanan yang sebenarnya seperti asap rokok yang tertiup angin. Ada tapi tak nyata. Tanpa itu, lelaki lebih tak berharga bukan?
Entah apa yang ada dibenak manusia. Kedengarannya sia-sia manusia diberikan otak untuk berpikir. Bagaimana tidak, mereka sudah tahu betapa rokok itu tidak ada manfaat sama sekali, bahkan untuk orang sekitarnya. Tapi, tetap saja mereka merokok. Bahkan, saking buruknya pengaruh nikotin, saran yang mereka berikan untuk non perokokpun sama sekali tak masuk akal. Pasti banyak orang telah mendengar saran ini:
“kan perokok pasif lebih banyak dapat racunnya, jadi mendingan jadi perokok aktif”
Menurutku mereka sudah gila. Tidak hanya berani menunjukkan kebodohan mereka, tapi juga sama sekali tidak menghargai keberadaan orang lain yang berhak atas udara tanpa tambahan pencemar.
Tapi, mungkin memang lebih enak bersikap begitu. Masa bodoh. Dianggap bodoh terserah, dianggap pinter juga alhamdulillah... karena kalau dianggap bodoh, mereka tidak terbebani lagi tanggungjawab untuk menjadikan diri lebih pinter bersikap atau berpikir. Aku kan bodoh, jadi ya terserah orang lain mau kena asap rokok atau tidak.... salah sendiri dekat perokok! Sana pergi ke tempat lain yang tidak ada perokoknya....
Duh, gemesnya...! Mana ada sih, di Indonesia ini tempat umum yang tidak ada asap rokoknya? Dari perkantoran sampai WC umum tidak pernah lepas dari asap rokok. Bahkan bapak-bapak menggendong bayipun tidak mau melepaskan rokok di mulutnya.
Kalau diingetin, marah duluan yang datang. Bikin kesal kan? Kesannya aku ini bawel aja, orang lain nggak ada yang protes kok!
Padahal aku yakin bukan hanya aku yang protes. Cuma seringkali, mereka lebih kalah ngotot dengan si perokok. Jadi perokoknya yang menang. Ya kuncinya itu tadi, masa bodoh. Senang aja kalau yang memprotesnya pergi menyingkir. Si pengganggu sudah pergi. Bebas....!
Ya, tapi kalau aku harus adil memang masih ada perokok yang tidak (masa) bodoh. Mereka masih mau berpikir untuk memilih dirinya saja yang sakit karena rokok, tidak usah mengajak orang lain sakit. Kan memang ada tempat yang diperuntukkan khusus bagi mereka. Puas-puasin deh merokok di tempat itu.
Ada lagi yang protes: ah, loe nggak ngerokok sakit. Gue ngerokok nggak kenapa-napa?
Wah, untuk yang satu ini aku cuma bisa bilang: yakin loe nggak sakit? Menurut gue sih, loe tinggal tunggu tanggal mainnya aja! Gue nggak ngerokok aja sakit, apalagi ngerokok! Kalau loe bisa mikir, pikir deh...apa sebutan untuk orang yang dengan suka rela memasukkan racun ke dalam tubuh sendiri?
Jika untuk urusan di atas (mikirin diri sendiri) saja mereka tak bisa mikir, apalagi mikir-in orang lain yang juga kena dampaknya? Boro-boro, deh….
Selamat Hari Tanpa Tembakau Sedunia....(kapan ya, aku lupa! Tapi memang sebaiknya setiap hari aja).
Sebentar lagi adalah Hari Anti Narkoba (harusnya setiap hari juga). Waspada aja, karena merokok itu jembatan emas menuju pada kelas yang lebih gawat. Itu tuh, Narkoba!
Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia juga (yang ini wajib setiap detik, menit, jam dan hari). Udara sudah terpolusi tanpa asap rokok, jangan nambah-nambahin. Medingan itu uang rokok untuk beli premi asuransi kesehatan, biar kalau sakit nggak repot. Sehat itu mahal. Sakit juga nggak ada enaknya. Obat murah sudah habis di borong spekulan. Mereka bukan orang sakit, Cuma nurani nya aja yang sakit. Di negara ini sudah begitu banyak orang sakit dan bodoh, jadi nggak usahlah bergabung dengan mereka.
Setuju? Itu yang diharapkan!
Kalau aku tanya apa tidak mikir bahayanya? Mereka bilang, mikir! Tapi, mereka lalu buru-buru menambah: karena sudah terlanjur (ketagihan) ya diteruskan aja. Enak sih…., begitu selalu kata mereka.
Saking enaknya merokok, mereka lebih memilih tidak makan daripada tidak merokok. Apa iya? Aku tidak yakin dengan pernyataan itu. Coba kita pikir. Jika setiap hari (selama sebulan) mereka hanya punya uang lima ribu rupiah, apa benar mereka akan memilih membeli rokok ketimbang makan? Pasti perut yang melilit membuat otak akan sedikit gila. Rokok tidak akan membuat perut keroncongan jadi kenyang. Dan, apakah mereka akan tetap memiliki pikiran yang jernih tanpa asupan energi dari makanan?
Aku selalu berpikir itu hanya alasan yang dibuat-buat, supaya orang yang tidak suka merokok berhenti mengganggu. Tapi, bukankah semakin dia berusaha “defence” dengan “membualkan” segala kenikmatan merokok, semakin menunjukkan bahwa sebenarnya dia tidak yakin dengan “manfaat” rokok itu sendiri?
Ada alasan lain: beberapa orang merokok untuk menjaga berat badan agar tidak melar. Kenapa bisa begitu? Karena, merokok bisa menggantikan kebiasaan ngemil. Kalau yang ini, aku bisa bilang: oke, it makes sense! Tapi bukan tidak mungkin, selain kurus karena tidak ngemil, pasti karena dalam tubuh ada sakit yang telah menggerogoti. Di sadari atau tidak, di akui atau tidak, itulah “kerjaan” rokok. Kalau masih muda, memang lebih gampang mengelak dengan berbagai alasan. Apalagi tubuh memang masih terlihat bugar. Tapi lihat beberapa tahun lagi. Andai saja dada manusia dibuat transparan, pasti paru-paru yang menghitam langsung terlihat. Batuk pun datang menyambangi saban malam. Setelah itu, berbagai macam pil atau kapsul pun harus mengisi perut yang berisi zat untuk mencuci tubuh d pembuluh darah dari banyak kotoran.
Kalau mengaku waras, kenapa tidak memilih untuk mengganti cemilan dengan selain rokok? Ada banyak cara jika mau, yang lebih sehat tentunya.
Tapi, mungkin aku tidak akan pernah bisa memahami pilihan para perokok. Walaupun bagiku, mereka lebih nampak sebagai orang yang hidup dengan mitos dan sugesti.
Mitos itu berasal dari sebuah anggapan bahwa, tidak merokok sama saja dengan banci. Nggak jantan! Lalu, karena takut dianggap tidak jantan, serta merta mereka tersugesti untuk terus mengkonsumsi barang berbahaya itu. Lucu, ya…selalu saja mitos itu di luncurkan untuk melawan keadaan sebenarnya.
Kalau dipikir-pikir, mitos-mitos yang beredar di kalangan lelaki memang sering menyesatkan. Bukankah laki-laki atau tidak sebenarnya tidaklah ditentukan dari sebuah sebutan? Dan laki-laki, katanya, selalu mengendepankan pikiran, alias ber-otak, bukan main perasaan seperti perempuan. Tapi lihat faktanya! Memikirkan soal rokok saja, keadaan sudah jungkir balik. Perasaan jadi yang terdepan begitu di usik soal unsur kejantanan ini. Gara-gara iklan, pikiran jadi termakan. Kalau para lelaki itu bisa mikir, atau minimal bisa baca-lah.., pasti mereka tahu rokok lebih banyak bahayanya dari pada manfaatnya. Bahkan lambang kejantanan ini bisa membuat kejantanan yang sebenarnya seperti asap rokok yang tertiup angin. Ada tapi tak nyata. Tanpa itu, lelaki lebih tak berharga bukan?
Entah apa yang ada dibenak manusia. Kedengarannya sia-sia manusia diberikan otak untuk berpikir. Bagaimana tidak, mereka sudah tahu betapa rokok itu tidak ada manfaat sama sekali, bahkan untuk orang sekitarnya. Tapi, tetap saja mereka merokok. Bahkan, saking buruknya pengaruh nikotin, saran yang mereka berikan untuk non perokokpun sama sekali tak masuk akal. Pasti banyak orang telah mendengar saran ini:
“kan perokok pasif lebih banyak dapat racunnya, jadi mendingan jadi perokok aktif”
Menurutku mereka sudah gila. Tidak hanya berani menunjukkan kebodohan mereka, tapi juga sama sekali tidak menghargai keberadaan orang lain yang berhak atas udara tanpa tambahan pencemar.
Tapi, mungkin memang lebih enak bersikap begitu. Masa bodoh. Dianggap bodoh terserah, dianggap pinter juga alhamdulillah... karena kalau dianggap bodoh, mereka tidak terbebani lagi tanggungjawab untuk menjadikan diri lebih pinter bersikap atau berpikir. Aku kan bodoh, jadi ya terserah orang lain mau kena asap rokok atau tidak.... salah sendiri dekat perokok! Sana pergi ke tempat lain yang tidak ada perokoknya....
Duh, gemesnya...! Mana ada sih, di Indonesia ini tempat umum yang tidak ada asap rokoknya? Dari perkantoran sampai WC umum tidak pernah lepas dari asap rokok. Bahkan bapak-bapak menggendong bayipun tidak mau melepaskan rokok di mulutnya.
Kalau diingetin, marah duluan yang datang. Bikin kesal kan? Kesannya aku ini bawel aja, orang lain nggak ada yang protes kok!
Padahal aku yakin bukan hanya aku yang protes. Cuma seringkali, mereka lebih kalah ngotot dengan si perokok. Jadi perokoknya yang menang. Ya kuncinya itu tadi, masa bodoh. Senang aja kalau yang memprotesnya pergi menyingkir. Si pengganggu sudah pergi. Bebas....!
Ya, tapi kalau aku harus adil memang masih ada perokok yang tidak (masa) bodoh. Mereka masih mau berpikir untuk memilih dirinya saja yang sakit karena rokok, tidak usah mengajak orang lain sakit. Kan memang ada tempat yang diperuntukkan khusus bagi mereka. Puas-puasin deh merokok di tempat itu.
Ada lagi yang protes: ah, loe nggak ngerokok sakit. Gue ngerokok nggak kenapa-napa?
Wah, untuk yang satu ini aku cuma bisa bilang: yakin loe nggak sakit? Menurut gue sih, loe tinggal tunggu tanggal mainnya aja! Gue nggak ngerokok aja sakit, apalagi ngerokok! Kalau loe bisa mikir, pikir deh...apa sebutan untuk orang yang dengan suka rela memasukkan racun ke dalam tubuh sendiri?
Jika untuk urusan di atas (mikirin diri sendiri) saja mereka tak bisa mikir, apalagi mikir-in orang lain yang juga kena dampaknya? Boro-boro, deh….
Selamat Hari Tanpa Tembakau Sedunia....(kapan ya, aku lupa! Tapi memang sebaiknya setiap hari aja).
Sebentar lagi adalah Hari Anti Narkoba (harusnya setiap hari juga). Waspada aja, karena merokok itu jembatan emas menuju pada kelas yang lebih gawat. Itu tuh, Narkoba!
Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia juga (yang ini wajib setiap detik, menit, jam dan hari). Udara sudah terpolusi tanpa asap rokok, jangan nambah-nambahin. Medingan itu uang rokok untuk beli premi asuransi kesehatan, biar kalau sakit nggak repot. Sehat itu mahal. Sakit juga nggak ada enaknya. Obat murah sudah habis di borong spekulan. Mereka bukan orang sakit, Cuma nurani nya aja yang sakit. Di negara ini sudah begitu banyak orang sakit dan bodoh, jadi nggak usahlah bergabung dengan mereka.
Setuju? Itu yang diharapkan!
May 12, 2007
Seni (ber) Suara...
Aku tak hendak menjadi ahli seni suara apalagi mengajarkan bagaimana berseni suara. Suaraku sendiri, wah..jauh…dari apa yang di sebut berseni. Aku hanya ingin sekedar menyuarakan suaraku. Mumpung aku lagi sadar aku punya suara dan pengen menyuarakannya. Kemarin sih sebenarnya sudah sadar, tapi, kadang aku di buat nggak sadar oleh sesuatu. Itu lho, yang biasa kita bilang bungkam atau membisu seribu bahasa. Meski membisu kadang sama sekali tidak menyenangkan, nggak mudah dan nggak murah. Tapi, sesekali itu perlu.
Membungkam suara itu jelas tidak mudah, wong dari kecil kita diajari bersuara dan bicara! Lha, sekarang sudah bisa bersuara (pinter malah), kok sering disuruh diam.
Belum lagi saat kita dipaksa diam, kita mendengar suara-suara lain dengan lantang menantang. Mulut jadi gatal ingin menyemburkan semua suara yang sudah kita pelajari. Kuping panas, darah mendidih, kepala mau meledak, mata melotot, dan semua gejala mengkhawatirkan langsung muncul... jika tak terkendali, bisa ditebak segala sesuatu nya akan segera meledak! Dan, sebagaimana diketahui, yang namanya ledakan, pasti membuat kehancuran. Sudah suara tidak didengar, hancur lagi semuanya...
Akibat pem-bungkam-an itu, kita jadi makin miskin kesempatan, akal budi bahkan nurani. Semuanya sudah terkikis kemarahan yang semakin deras mengalir dalam darah. Makanya, diam itu membutuhkan kebesaran hati. Kalau enggak, suara yang pengen di keluarkan dari paru-paru nggak bakalan ketampung dan bisa jadi pembunuh diam-diam. Gawat kan?
Bungkam itu nggak murah karena sudah jadi fitrah manusia untuk bersuara, berkoloni dan berkomunikasi. Jika hal itu dihalangi, energi itu pasti mencari celah untuk keluar dari kebungkaman. Beruntung jika energinya tersalur menjadi sesuatu yang positif, bagaimana jika kebungkaman itu mengubur jutaan manusia dalam liang kenistaaan? Apakah jadi terhitung murah, jika kebungkaman membuat jutaan orang sengsara bahkan mati dalam kebisuan?
Setelah sekian lama bungkam, kran suara itu kini mulai terbuka. Seperti air yang sudah lama terbendung, semburan air membuncah dan menerjang apapun yang ada didepannya. Semua berebut bersuara. Saling berteriak keras mencoba mendapatkan perhatian dari siapapun yang berkuasa atau bahkan mulai menunjukkan kuasa. Tapi celakanya, sang penguasa pun sibuk bersuara, meskipun seringkali “fals” mereka ingin terus didengar. Mereka sibuk mengisi celah suara yang masih terlihat lowong dengan siapapun yang bisa bersuara, bagus atau sekedar me-ngeong kepada sang tuan, bahkan yang hanya bisa mencicit seperti tikus. Suara-suara itu saling bersahutan, berisik dan memekakkan telinga. Nggak nyeni gitu, apa yang bisa dinikmati..!
Jika sudah nggak tahan dengan ketidak-nyeni-an seperti ini, apa yang akan terjadi? Seseorang harus menyadarkan mereka dan berteriak “diaaammm...!!” Tapi jika seseorang ini bersuara kecil, siapa yang mendengar perintahnya? Mungkin lebih efektif jika calon pemimpin itu memulainya dengan diam, lalu berpikir untuk sesuatu yang lebih maju dari sekedar bersuara. Atau, berpikir untuk berbuat sesuatu yang berbeda dari sekedar bersuara. Jika sudah dapat, silahkan berbuat...!
Ada satu usulan, di tanah Jawa, ada satu suara yang dianggap sakral dan kebetulan suaranya keras sekali, pun beda dibanding yang lain. Di jamin, semua yang mendengar suara itu pasti diam bahkan tak lagi saling berteriak. Malah mungkin juga bertepuk tangan.
Nah, suara itu berasal dari sebuah benda yang disebut GONG! Bunyi benda itu menggelegar, keras dan bergema. Sekali pukul, mudah-mudahan itu cukup membuat teriakan yang tak beraturan menjadi terhenti.
Tapi, benda ini juga punya reputasi buruk dikalangan masyarakat Jawa. Karena benda ini bisa jadi bukan sebagai penghenti tetapi malah jadi pertanda dimulainya kegiatan atau penambah “panas” suasana. Pernah dengar kan istilah nge-GONG-i? Kalau tidak salah, itu artinya mengiyakan/membenarkan sesuatu atau kabar yang belum jelas, bisa juga diartikan mengobarkan sesuatu yang mulai panas. Biasanya dilakukan pada suatu masalah yang terkait gossip, biar makin HOT! Maklum, semakin panas suasana, makin menderita seseorang, kita makin senang. Kita seperti makin dibukakan kesempatan bersuara, bahkan mencaci maki sesuatu yang tidak kita senangi. Iya kan?
Tapi, sebenarnya untuk apa sih kita berusaha agar mereka diam? Sebelumnya kan sudah dibahas, membungkam orang agar diam kan sia-sia... Apa karena kita pingin di dengar dan menjadi satu-satunya orang yang didengar? Wah, balik lagi dong, ke jaman ke-bungkam-an?
Dalam benak saya, kita semua menginginkan suara-suara itu tak lagi hanya sekedar keluar dari mulut tanpa pikir, alias asal njeplak! Kita ingin suara-suara itu terdengar merdu ditelinga, dalam irama yang harmonis atau dinamis. Sudah pasti tidak mudah. Tidak setiap orang mau melakukannya. Suara yang terlanjur besar dan lantang, pasti sulit untuk menurunkan suaranya. Lah, wong suara itu membuatnya berkuasa! Sedangkan yang sudah lama tidak bersuara, pasti juga butuh latihan dan dorongan untuk bisa bersuara. Sudah lama tidak bersuara, jelas tidak sehat bagi jiwa. Mereka mungkin takut suaranya tidak di dengar karena tidak menarik, atau malah jadi suara baru yang menarik tapi membuatnya tidak nyaman karena jadi sorotan bahkan ancaman untuk hidupnya. Yah, bersuara saja masih harus belajar (lagi). Tenggorokannya mungkin sudah mengering karena sudah lama tak tersentuh ludah yang biasanya muncrat saat kita bersuara. Mungkin juga karena bersuara butuh keberanian. Jika tak punya keberanian, dada dan perutmu tentu tak pernah terisi udara hingga kempis. Berbeda dengan yang biasa berkoar, perut dan dadanya pasti penuh udara kebanggaan hingga membusung. Setiap saat, udara dalam kantong perut dan dada itu siap dimuntahkan dengan suara menggelegar. Gimana bisa (mau) harmonis? Toleransi saja kita malas... Padahal agar menjadi harmonis, kita memang harus penuh toleransi. Itu suara jangan sampai ada yang terlalu keras, atau terlalu kecil. Iramanya juga harus teratur.
Tapi, kalau semua orang sudah berani bersuara dengan dada membusung, keharmonisan jadi terasa kurang menggairahkan.
Kalau begitu, kita harus menuju level berikutnya yaitu dinamis. Untuk ke level ini, suara suara itu tidak dituntut untuk berirama senada atau sama, tapi bersuara untuk mengekspresi diri sendiri. Dengan satu syarat, ekspresi suara itu tidak boleh membuat suara lain terdengar buruk. Itu berarti, satu suara dengan suara lain harus saling memahami bagaimana cara untuk saling melengkapi suara yang sudah ada agar menjadi indah tanpa membuat suara lain tenggelam. Makin susah ya? Tapi, katanya itulah yang dinamakan demokrasi…
Betul nggak, ya? Mudah-mudahan suaraku ini bukan suara yang asal njeplak, wong mikirnya aja nggak cukup seharian….
Membungkam suara itu jelas tidak mudah, wong dari kecil kita diajari bersuara dan bicara! Lha, sekarang sudah bisa bersuara (pinter malah), kok sering disuruh diam.
Belum lagi saat kita dipaksa diam, kita mendengar suara-suara lain dengan lantang menantang. Mulut jadi gatal ingin menyemburkan semua suara yang sudah kita pelajari. Kuping panas, darah mendidih, kepala mau meledak, mata melotot, dan semua gejala mengkhawatirkan langsung muncul... jika tak terkendali, bisa ditebak segala sesuatu nya akan segera meledak! Dan, sebagaimana diketahui, yang namanya ledakan, pasti membuat kehancuran. Sudah suara tidak didengar, hancur lagi semuanya...
Akibat pem-bungkam-an itu, kita jadi makin miskin kesempatan, akal budi bahkan nurani. Semuanya sudah terkikis kemarahan yang semakin deras mengalir dalam darah. Makanya, diam itu membutuhkan kebesaran hati. Kalau enggak, suara yang pengen di keluarkan dari paru-paru nggak bakalan ketampung dan bisa jadi pembunuh diam-diam. Gawat kan?
Bungkam itu nggak murah karena sudah jadi fitrah manusia untuk bersuara, berkoloni dan berkomunikasi. Jika hal itu dihalangi, energi itu pasti mencari celah untuk keluar dari kebungkaman. Beruntung jika energinya tersalur menjadi sesuatu yang positif, bagaimana jika kebungkaman itu mengubur jutaan manusia dalam liang kenistaaan? Apakah jadi terhitung murah, jika kebungkaman membuat jutaan orang sengsara bahkan mati dalam kebisuan?
Setelah sekian lama bungkam, kran suara itu kini mulai terbuka. Seperti air yang sudah lama terbendung, semburan air membuncah dan menerjang apapun yang ada didepannya. Semua berebut bersuara. Saling berteriak keras mencoba mendapatkan perhatian dari siapapun yang berkuasa atau bahkan mulai menunjukkan kuasa. Tapi celakanya, sang penguasa pun sibuk bersuara, meskipun seringkali “fals” mereka ingin terus didengar. Mereka sibuk mengisi celah suara yang masih terlihat lowong dengan siapapun yang bisa bersuara, bagus atau sekedar me-ngeong kepada sang tuan, bahkan yang hanya bisa mencicit seperti tikus. Suara-suara itu saling bersahutan, berisik dan memekakkan telinga. Nggak nyeni gitu, apa yang bisa dinikmati..!
Jika sudah nggak tahan dengan ketidak-nyeni-an seperti ini, apa yang akan terjadi? Seseorang harus menyadarkan mereka dan berteriak “diaaammm...!!” Tapi jika seseorang ini bersuara kecil, siapa yang mendengar perintahnya? Mungkin lebih efektif jika calon pemimpin itu memulainya dengan diam, lalu berpikir untuk sesuatu yang lebih maju dari sekedar bersuara. Atau, berpikir untuk berbuat sesuatu yang berbeda dari sekedar bersuara. Jika sudah dapat, silahkan berbuat...!
Ada satu usulan, di tanah Jawa, ada satu suara yang dianggap sakral dan kebetulan suaranya keras sekali, pun beda dibanding yang lain. Di jamin, semua yang mendengar suara itu pasti diam bahkan tak lagi saling berteriak. Malah mungkin juga bertepuk tangan.
Nah, suara itu berasal dari sebuah benda yang disebut GONG! Bunyi benda itu menggelegar, keras dan bergema. Sekali pukul, mudah-mudahan itu cukup membuat teriakan yang tak beraturan menjadi terhenti.
Tapi, benda ini juga punya reputasi buruk dikalangan masyarakat Jawa. Karena benda ini bisa jadi bukan sebagai penghenti tetapi malah jadi pertanda dimulainya kegiatan atau penambah “panas” suasana. Pernah dengar kan istilah nge-GONG-i? Kalau tidak salah, itu artinya mengiyakan/membenarkan sesuatu atau kabar yang belum jelas, bisa juga diartikan mengobarkan sesuatu yang mulai panas. Biasanya dilakukan pada suatu masalah yang terkait gossip, biar makin HOT! Maklum, semakin panas suasana, makin menderita seseorang, kita makin senang. Kita seperti makin dibukakan kesempatan bersuara, bahkan mencaci maki sesuatu yang tidak kita senangi. Iya kan?
Tapi, sebenarnya untuk apa sih kita berusaha agar mereka diam? Sebelumnya kan sudah dibahas, membungkam orang agar diam kan sia-sia... Apa karena kita pingin di dengar dan menjadi satu-satunya orang yang didengar? Wah, balik lagi dong, ke jaman ke-bungkam-an?
Dalam benak saya, kita semua menginginkan suara-suara itu tak lagi hanya sekedar keluar dari mulut tanpa pikir, alias asal njeplak! Kita ingin suara-suara itu terdengar merdu ditelinga, dalam irama yang harmonis atau dinamis. Sudah pasti tidak mudah. Tidak setiap orang mau melakukannya. Suara yang terlanjur besar dan lantang, pasti sulit untuk menurunkan suaranya. Lah, wong suara itu membuatnya berkuasa! Sedangkan yang sudah lama tidak bersuara, pasti juga butuh latihan dan dorongan untuk bisa bersuara. Sudah lama tidak bersuara, jelas tidak sehat bagi jiwa. Mereka mungkin takut suaranya tidak di dengar karena tidak menarik, atau malah jadi suara baru yang menarik tapi membuatnya tidak nyaman karena jadi sorotan bahkan ancaman untuk hidupnya. Yah, bersuara saja masih harus belajar (lagi). Tenggorokannya mungkin sudah mengering karena sudah lama tak tersentuh ludah yang biasanya muncrat saat kita bersuara. Mungkin juga karena bersuara butuh keberanian. Jika tak punya keberanian, dada dan perutmu tentu tak pernah terisi udara hingga kempis. Berbeda dengan yang biasa berkoar, perut dan dadanya pasti penuh udara kebanggaan hingga membusung. Setiap saat, udara dalam kantong perut dan dada itu siap dimuntahkan dengan suara menggelegar. Gimana bisa (mau) harmonis? Toleransi saja kita malas... Padahal agar menjadi harmonis, kita memang harus penuh toleransi. Itu suara jangan sampai ada yang terlalu keras, atau terlalu kecil. Iramanya juga harus teratur.
Tapi, kalau semua orang sudah berani bersuara dengan dada membusung, keharmonisan jadi terasa kurang menggairahkan.
Kalau begitu, kita harus menuju level berikutnya yaitu dinamis. Untuk ke level ini, suara suara itu tidak dituntut untuk berirama senada atau sama, tapi bersuara untuk mengekspresi diri sendiri. Dengan satu syarat, ekspresi suara itu tidak boleh membuat suara lain terdengar buruk. Itu berarti, satu suara dengan suara lain harus saling memahami bagaimana cara untuk saling melengkapi suara yang sudah ada agar menjadi indah tanpa membuat suara lain tenggelam. Makin susah ya? Tapi, katanya itulah yang dinamakan demokrasi…
Betul nggak, ya? Mudah-mudahan suaraku ini bukan suara yang asal njeplak, wong mikirnya aja nggak cukup seharian….
May 2, 2007
Spongebob temanku.....
Aku pernah menawari temanku untuk menjadikan dia sebagai subyek tulisanku. Kebetulan dia juga mau. Waktu aku tanya mau nama asli atau samaran, dia bilang jika dia jadi subyek protagonis dia bilang gak perlu nama samaran, tapi kalau antagonis atau teraniaya dia maunya nama samaran. Dan untuk itu dia memilih nama samaran Rooz.
Entah kenapa aku mau menuliskan sosok seorang teman. Padahal bagiku itu seperti “bunuh diri”. Bagaimana tidak, jujur saja, sebenarnya aku kurang paham tentang si Rooz ini. Dulu, pertama kali diperkenalkan, kami sama-sama orang baru di kantor itu. Kesan pertama yang aku dapat, gayanya mahasiswa banget! Bisa dimaklumi sih, dia memang fresh graduate dari sebuah universitas. Jadi, biarpun memasuki dunia “kerja”, gayanya masih belum berubah. Mungkin nanti.
Tetapi, ternyata, ada sesuatu yang membuat dia berbeda. Perbedaan ini sangat mencuri perhatian. Kalau dibilang kejutan, ya mungkin ini suatu kejutan meski seharusnya hari gini untuk yang satu ini tidak perlu terkejut. Banyak kok, orang lain yang melakukan “hal“ yang sama.
Kejutannya berawal di suatu hari, saat pertama kali makan siang bareng di kantor. Meski dari awal memang dia terlihat pe-de, dan tidak terlihat sungkan meski baru kenal, tapi begitu dia tanpa malu dan ragu mengambil makanan, aku mulai mengakui dia memang beda! Soal keterkejutan itu aku tidak sendiri, beberapa teman lain juga berpikir sama. Padahal, untukku sendiri, menu makanan siang itu sebenarnya tidak terlalu sreg. Tapi ketimbang beli, ya oke lah...!
Aku harus mengakui, dia lebih berani. Menyenangkan juga punya teman doyan makan. Sudah lama aku tidak mengagumi sesuatu dan sekarang aku punya. Aku yakin dia suka punya teman seperti aku, karena aku sendiri senang memanjakan orang-orang seperti itu. Tentu dengan membawa makanan ke kantor, walau ala kadarnya.
Setelah sekian lama bekerjasama, aku mulai mendapatkan gambaran bahwa seorang Rooz sangatlah mirip dengan Si Kuning dari Bikini Bottom. Kalau ditanya apanya, aku akan langsung menyebutkan sifat yang ini: ceria! Dimanapun, kemanapun (kadang kalau kita lagi bareng jalan lagi tugas ataupun pulang), aku tak pernah menemukan wajah yang mendung! (Jiee..).
Memang nggak semua sifatnya sama persis seperti Spongebob. Karena Sponge Bob pinter masak, tapi Rooz enggak (dia ngaku sendiri lho...!). Tapi, Spongebob punya binatang piaraan, Rooz juga. Sama-sama kucing lagi! Terus, satu hal yang tidak bisa dilupakan, keceriaannya kadang membuat orang lain be-te! Kesannya dia itu innosence gitu lho...!
Dia boleh dibilang cerdas, tapi tidak jika sedang senang (seperti yang aku bilang, keceriaannya kadang membuat orang lain be-te). Pengalaman hampir terkunci dalam mobilnya (saat pulang bareng dari satu tugas dan dia dijemput sang suami) setidaknya membuktikan itu. Meski maklum, aku dan satu temanku sempat kaget juga. Sempat terpikir aku akan terprangkap di pengapnya mobil. Rooz bilang itu nggak disengaja, maklum selama ini hampir tak pernah ada orang lain dalam mobil itu selain mereka berdua. Jadi, saat kita numpang untuk balik ke kantor, dia lupa ada aku dan satu teman lagi di mobil. Duh, mentang-mentang Pengantin baru.... masih merasa di dunia hanya ada mereka.
Dan seiring semakin jelas karakter tokoh itu dipikiranku, tiba-tiba muncul sosok lain pada teman-teman kerja yang aku pikir juga mirip dengan teman-teman si Spongebob. Ada yang menjadi tokoh naif (kalau tidak mau dikatakan bodoh atau lugu), serius, ketus, narsis, lincah, dan bahkan pelit. Aku tidak akan menunjuk siapa si tokoh serius, ketus dan pelit. Yang jelas, Si Spongebob temanku ini selain ceria dia juga bisa dibilang narsis. Padahal ini setahuku sifatnya si Mr Tentakle ya? Setiap foto selalu ada dia, dan dengan gayanya yang khas! Setiap jepretan, dia akan siap mengacungkan dua jarinya ke depan...peace!
Sekarang, aku nggak tahu lagi perkembangan spektakuler lain. Sudah lama aku tidak kontak sejak aku tak lagi beraktifitas di sana. Terakhir aku bertemu sehabis dia melahirkan putri pertamanya.
Spongebob temanku sudah berbiak....aku ikut senang meski aku juga sempat dibuat khawatir dengan tingkahnya yang tetap berlompatan di stasiun untuk mengejar kereta. Dengan perut gendut itu...aduh, aku gak kebayang beratnya!
Spongebob temanku, dia sekarang sudah sibuk dengan anak dan suaminya. Mudah-mudahan dia tidak kehilangan keceriaannya meski kadang SMS yang sampai padaku adalah tentang kepusingannya mengatur keuangan. Aku tidak pernah bisa menjawab itu, karena aku sendiri sedang mencari solusinya...
Spongebob temanku yang selalu lapar...Aku tak habis khawatir, mungkinkah kamu masih memikirkan praline kesukaanmu (dan ku) sedangkan sang putri sedang menangis minta susu?
Rooz si Spongebob. Si mahasiswa yang dulu selalu leluasa menikmati hidup, kini harus berpusing untuk menata hidup. Tapi, inilah yang disebut hidup baru. Meski hidupmu tak selalu berbeda, tapi kini setiap hari, hidupmu harus mulai dengan alasan yang tak lagi sama.
Tetap semangat ya....!
Entah kenapa aku mau menuliskan sosok seorang teman. Padahal bagiku itu seperti “bunuh diri”. Bagaimana tidak, jujur saja, sebenarnya aku kurang paham tentang si Rooz ini. Dulu, pertama kali diperkenalkan, kami sama-sama orang baru di kantor itu. Kesan pertama yang aku dapat, gayanya mahasiswa banget! Bisa dimaklumi sih, dia memang fresh graduate dari sebuah universitas. Jadi, biarpun memasuki dunia “kerja”, gayanya masih belum berubah. Mungkin nanti.
Tetapi, ternyata, ada sesuatu yang membuat dia berbeda. Perbedaan ini sangat mencuri perhatian. Kalau dibilang kejutan, ya mungkin ini suatu kejutan meski seharusnya hari gini untuk yang satu ini tidak perlu terkejut. Banyak kok, orang lain yang melakukan “hal“ yang sama.
Kejutannya berawal di suatu hari, saat pertama kali makan siang bareng di kantor. Meski dari awal memang dia terlihat pe-de, dan tidak terlihat sungkan meski baru kenal, tapi begitu dia tanpa malu dan ragu mengambil makanan, aku mulai mengakui dia memang beda! Soal keterkejutan itu aku tidak sendiri, beberapa teman lain juga berpikir sama. Padahal, untukku sendiri, menu makanan siang itu sebenarnya tidak terlalu sreg. Tapi ketimbang beli, ya oke lah...!
Aku harus mengakui, dia lebih berani. Menyenangkan juga punya teman doyan makan. Sudah lama aku tidak mengagumi sesuatu dan sekarang aku punya. Aku yakin dia suka punya teman seperti aku, karena aku sendiri senang memanjakan orang-orang seperti itu. Tentu dengan membawa makanan ke kantor, walau ala kadarnya.
Setelah sekian lama bekerjasama, aku mulai mendapatkan gambaran bahwa seorang Rooz sangatlah mirip dengan Si Kuning dari Bikini Bottom. Kalau ditanya apanya, aku akan langsung menyebutkan sifat yang ini: ceria! Dimanapun, kemanapun (kadang kalau kita lagi bareng jalan lagi tugas ataupun pulang), aku tak pernah menemukan wajah yang mendung! (Jiee..).
Memang nggak semua sifatnya sama persis seperti Spongebob. Karena Sponge Bob pinter masak, tapi Rooz enggak (dia ngaku sendiri lho...!). Tapi, Spongebob punya binatang piaraan, Rooz juga. Sama-sama kucing lagi! Terus, satu hal yang tidak bisa dilupakan, keceriaannya kadang membuat orang lain be-te! Kesannya dia itu innosence gitu lho...!
Dia boleh dibilang cerdas, tapi tidak jika sedang senang (seperti yang aku bilang, keceriaannya kadang membuat orang lain be-te). Pengalaman hampir terkunci dalam mobilnya (saat pulang bareng dari satu tugas dan dia dijemput sang suami) setidaknya membuktikan itu. Meski maklum, aku dan satu temanku sempat kaget juga. Sempat terpikir aku akan terprangkap di pengapnya mobil. Rooz bilang itu nggak disengaja, maklum selama ini hampir tak pernah ada orang lain dalam mobil itu selain mereka berdua. Jadi, saat kita numpang untuk balik ke kantor, dia lupa ada aku dan satu teman lagi di mobil. Duh, mentang-mentang Pengantin baru.... masih merasa di dunia hanya ada mereka.
Dan seiring semakin jelas karakter tokoh itu dipikiranku, tiba-tiba muncul sosok lain pada teman-teman kerja yang aku pikir juga mirip dengan teman-teman si Spongebob. Ada yang menjadi tokoh naif (kalau tidak mau dikatakan bodoh atau lugu), serius, ketus, narsis, lincah, dan bahkan pelit. Aku tidak akan menunjuk siapa si tokoh serius, ketus dan pelit. Yang jelas, Si Spongebob temanku ini selain ceria dia juga bisa dibilang narsis. Padahal ini setahuku sifatnya si Mr Tentakle ya? Setiap foto selalu ada dia, dan dengan gayanya yang khas! Setiap jepretan, dia akan siap mengacungkan dua jarinya ke depan...peace!
Sekarang, aku nggak tahu lagi perkembangan spektakuler lain. Sudah lama aku tidak kontak sejak aku tak lagi beraktifitas di sana. Terakhir aku bertemu sehabis dia melahirkan putri pertamanya.
Spongebob temanku sudah berbiak....aku ikut senang meski aku juga sempat dibuat khawatir dengan tingkahnya yang tetap berlompatan di stasiun untuk mengejar kereta. Dengan perut gendut itu...aduh, aku gak kebayang beratnya!
Spongebob temanku, dia sekarang sudah sibuk dengan anak dan suaminya. Mudah-mudahan dia tidak kehilangan keceriaannya meski kadang SMS yang sampai padaku adalah tentang kepusingannya mengatur keuangan. Aku tidak pernah bisa menjawab itu, karena aku sendiri sedang mencari solusinya...
Spongebob temanku yang selalu lapar...Aku tak habis khawatir, mungkinkah kamu masih memikirkan praline kesukaanmu (dan ku) sedangkan sang putri sedang menangis minta susu?
Rooz si Spongebob. Si mahasiswa yang dulu selalu leluasa menikmati hidup, kini harus berpusing untuk menata hidup. Tapi, inilah yang disebut hidup baru. Meski hidupmu tak selalu berbeda, tapi kini setiap hari, hidupmu harus mulai dengan alasan yang tak lagi sama.
Tetap semangat ya....!
Manusia (Jangan) Pernah Ber-Evolusi
Yap, tulisan ini dibilang bercanda boleh….., tetapi dianggap serius juga pasti sangat diharapkan.
Dalam evolusi (sekian juta tahun) perkembangan pikiran manusia “mungkin” boleh dikatakan sudah berbeda dan berubah hingga dikatakan modern. Itu bisa kita lihat dari peradaban yang bisa kita lihat. Teknologi salah satunya. Manusia bangga sekali dengan apa yang dihasilkan dari buah pikiran manusia modern. Gedung tinggi, robot, komunikasi tanpa kabel dan sebagainya. Semua dilakukan demi kesejahteraan manusia juga. Yang, meskipun dalam hal sejahtera setiap orang di muka bumi ini punya kriteria sendiri. Umpamanya: Pemerintah Indonesia, mengukur sejahtera dari adanya beras, bukan ketersediaan makanan bergizi (yang harusnya tidak selalu berarti beras). Orang Bule, mungkin (karena saya bukan bule dan tidak tahu ukuran kesejahteraan mereka), adanya daging. Dan seterusnya....
Tapi, apa sih sebenarnya hasil (akibat) dari ke-modern-an itu?
Sejahterakah manusia?
Seorang profesor dari Jepang dengan pen name High Moon, pernah mengambarkan dalam Cartoon GOMIC Part 3-nya yang terbit tahun 1996, hasil dari ke-modern-nan manusia hanyalah sampah yang semakin bertambah. Sampah ini tak hanya berupa fisik seperti plastik dll, juga sampah-sampah yang tidak terlihat oleh mata yang sangat berbahaya. Sampah-sampah dari manusia modern, sesungguhnya tidak membuat manusia sejahtera. Banyak barang tersedia, manusia makin terpicu dan terpacu untuk memilikinya (meski sebenarnya tak butuh). Semakin banyak barang, ternyata manusia tidaklah semakin nyaman. Semakin manusia modern, semakin “modern” juga penyakit yang timbul. Sampai-sampai, sang profesor menggambarkan manusia bakal menjadi makhluk yang punah karena tak bisa mengelola lingkungan termasuk sampah.
Lalu apa arti ke-modern-an manusia? Jadi terasa sia-sia bukan? Susah-susah berpikir modern, nyatanya malah mati karena tak becus mengelola hidupnya (lingkungan hidupnya) sendiri.
Tapi memang, kalau manusia tak menjadi modern, aku tidak bisa mengetik tulisan ini dengan cepat. Meskipun sadar tubuhku juga harus membayarnya dengan terpapar radiasi setidaknya satu jam sehari.
Tapi, lagi-lagi siapa pula yang mengacaukan siklus alam ini hingga terjadi banyak bencana? Sudah pasti Manusia! Kenapa? Karena semua hal dan makhluk di muka bumi selain manusia, punya siklus hidup yang membuat mereka selalu lestari. Mereka adala mekhluk “profesional”. Tanpa manusia mereka takkan celaka.
Tapi tidak dengan manusia. Manusia adalah makhluk yang paling tidak profesional. Manusia butuh alam untuk dirinya, tapi manusia juga yang merusaknya. Semakin cepat manusia me-modern-kan diri, semakin rusak bumi ini dan sulit kembali. Belakangan, jika kita sadar, siklus hujan dan kemarau sangatlah kacau. Belum lagi banyak badai yang sebelumnya tidak pernah menyambangi kawasan tropis sekarang makin rajin menyapa? Petani dan nelayan yang menjadi produsen dalam rantai makanan semakin sulit memanen. Lalu, apakah itu tidak berarti makanan akan semakin berkurang?
Jutaan tahun tanpa menjadi “modern”, alam bisa hidup lestari: tanpa polusi, tanpa depresi, dan tanpa penyakit modern lain. Sekarang, dalam hitungan ribuan tahun saja manusia sudah menuai banyak kerugian.
Jangan-jangan, kita harus mulai untuk mendefinisikan kembali arti sejahtera dan modern?
Mungkin sejahtera yang mutakhir, haruslah tanpa stress atau depresi akibat kehidupan itu sendiri. Karena, sebanyak apapun uang yang kita punya kalau depresi lalu menjadi sakit parah atau bahkan gila, bukankah semua jadi percuma? Tak bisa menikmati semua hal yang telah susah payah diperjuangkan. Apa itu yang dinamakan sejahtera? Secara materi kita melimpah, tapi secara batin kita merana…apa ini yang dinamakan sejahtera?
Dan modern yang paling modern, adalah jika sesuatu yang kita lakukan -apapun itu- tidak menjadikan alam sebagai korban. Kita sudah mulai bisa merasakan sendiri kini, tak ada lagi tempat yang tanpa polusi karena “ke-modern-an” kita teramat mengabaikan alam. Seakan manusia modern tak pernah tergantung pada alam (bumi). Bukankah sebuah kebodohan modern? Bohong banget kan kalau kita berpikir bahwa sekecil apapun perbuatan kita tak pernah “berakibat”? itu kan namanya manusia modern yang bodoh… (tapi mungkin bukan ini yang di sebut modern kali ya..?)
Tapi, mungkin akulah yang tidak pernah berevolusi! Nyatanya, aku tak pernah berhenti berharap perubahan akan terjadi. Tidak seperti sekarang, hanya jargon saja yang di dengungkan. Tapi alam tetap nestapa dan teraniaya.
Selamat hari bumi! Bumiku sayang, bumiku malang…..
Dalam evolusi (sekian juta tahun) perkembangan pikiran manusia “mungkin” boleh dikatakan sudah berbeda dan berubah hingga dikatakan modern. Itu bisa kita lihat dari peradaban yang bisa kita lihat. Teknologi salah satunya. Manusia bangga sekali dengan apa yang dihasilkan dari buah pikiran manusia modern. Gedung tinggi, robot, komunikasi tanpa kabel dan sebagainya. Semua dilakukan demi kesejahteraan manusia juga. Yang, meskipun dalam hal sejahtera setiap orang di muka bumi ini punya kriteria sendiri. Umpamanya: Pemerintah Indonesia, mengukur sejahtera dari adanya beras, bukan ketersediaan makanan bergizi (yang harusnya tidak selalu berarti beras). Orang Bule, mungkin (karena saya bukan bule dan tidak tahu ukuran kesejahteraan mereka), adanya daging. Dan seterusnya....
Tapi, apa sih sebenarnya hasil (akibat) dari ke-modern-an itu?
Sejahterakah manusia?
Seorang profesor dari Jepang dengan pen name High Moon, pernah mengambarkan dalam Cartoon GOMIC Part 3-nya yang terbit tahun 1996, hasil dari ke-modern-nan manusia hanyalah sampah yang semakin bertambah. Sampah ini tak hanya berupa fisik seperti plastik dll, juga sampah-sampah yang tidak terlihat oleh mata yang sangat berbahaya. Sampah-sampah dari manusia modern, sesungguhnya tidak membuat manusia sejahtera. Banyak barang tersedia, manusia makin terpicu dan terpacu untuk memilikinya (meski sebenarnya tak butuh). Semakin banyak barang, ternyata manusia tidaklah semakin nyaman. Semakin manusia modern, semakin “modern” juga penyakit yang timbul. Sampai-sampai, sang profesor menggambarkan manusia bakal menjadi makhluk yang punah karena tak bisa mengelola lingkungan termasuk sampah.
Lalu apa arti ke-modern-an manusia? Jadi terasa sia-sia bukan? Susah-susah berpikir modern, nyatanya malah mati karena tak becus mengelola hidupnya (lingkungan hidupnya) sendiri.
Tapi memang, kalau manusia tak menjadi modern, aku tidak bisa mengetik tulisan ini dengan cepat. Meskipun sadar tubuhku juga harus membayarnya dengan terpapar radiasi setidaknya satu jam sehari.
Tapi, lagi-lagi siapa pula yang mengacaukan siklus alam ini hingga terjadi banyak bencana? Sudah pasti Manusia! Kenapa? Karena semua hal dan makhluk di muka bumi selain manusia, punya siklus hidup yang membuat mereka selalu lestari. Mereka adala mekhluk “profesional”. Tanpa manusia mereka takkan celaka.
Tapi tidak dengan manusia. Manusia adalah makhluk yang paling tidak profesional. Manusia butuh alam untuk dirinya, tapi manusia juga yang merusaknya. Semakin cepat manusia me-modern-kan diri, semakin rusak bumi ini dan sulit kembali. Belakangan, jika kita sadar, siklus hujan dan kemarau sangatlah kacau. Belum lagi banyak badai yang sebelumnya tidak pernah menyambangi kawasan tropis sekarang makin rajin menyapa? Petani dan nelayan yang menjadi produsen dalam rantai makanan semakin sulit memanen. Lalu, apakah itu tidak berarti makanan akan semakin berkurang?
Jutaan tahun tanpa menjadi “modern”, alam bisa hidup lestari: tanpa polusi, tanpa depresi, dan tanpa penyakit modern lain. Sekarang, dalam hitungan ribuan tahun saja manusia sudah menuai banyak kerugian.
Jangan-jangan, kita harus mulai untuk mendefinisikan kembali arti sejahtera dan modern?
Mungkin sejahtera yang mutakhir, haruslah tanpa stress atau depresi akibat kehidupan itu sendiri. Karena, sebanyak apapun uang yang kita punya kalau depresi lalu menjadi sakit parah atau bahkan gila, bukankah semua jadi percuma? Tak bisa menikmati semua hal yang telah susah payah diperjuangkan. Apa itu yang dinamakan sejahtera? Secara materi kita melimpah, tapi secara batin kita merana…apa ini yang dinamakan sejahtera?
Dan modern yang paling modern, adalah jika sesuatu yang kita lakukan -apapun itu- tidak menjadikan alam sebagai korban. Kita sudah mulai bisa merasakan sendiri kini, tak ada lagi tempat yang tanpa polusi karena “ke-modern-an” kita teramat mengabaikan alam. Seakan manusia modern tak pernah tergantung pada alam (bumi). Bukankah sebuah kebodohan modern? Bohong banget kan kalau kita berpikir bahwa sekecil apapun perbuatan kita tak pernah “berakibat”? itu kan namanya manusia modern yang bodoh… (tapi mungkin bukan ini yang di sebut modern kali ya..?)
Tapi, mungkin akulah yang tidak pernah berevolusi! Nyatanya, aku tak pernah berhenti berharap perubahan akan terjadi. Tidak seperti sekarang, hanya jargon saja yang di dengungkan. Tapi alam tetap nestapa dan teraniaya.
Selamat hari bumi! Bumiku sayang, bumiku malang…..
Subscribe to:
Posts (Atom)